Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN YANG BERNAFAS
Udara di dalam bunker rahasia di bawah toko loak itu terasa seperti beton cair berat, dan menyesakkan. Elara sedang bergelut dengan kabel kabel optik yang melintang seperti usus mekanis, wajahnya penuh keringat karena sistem pendingin server mereka hampir menyerah melawan panasnya data satelit yang diproses secara paksa.
Di pojok ruangan, Valeria berdiri mematung. Matanya tidak lepas dari sosok yang berdiri di tengah ruangan, sosok yang tidak memiliki detak jantung.
Itu adalah Sato. Atau setidaknya, sisa sisa dari pria Jepang yang sombong itu.
Kini, Sato bukan lagi manusia. Dia adalah gumpalan energi hitam pekat yang dibalut zirah obsidian retak. Matanya hanya berupa lubang cahaya biru yang dingin, dan di tangannya, dua katana bayangan mengeluarkan asap ungu yang seolah bisa membekukan jiwa siapa pun yang menatapnya.
"Bos... lo beneran ya bikin dia jadi boneka?" suara Valeria pecah, ada ngeri yang nggak bisa dia tutupin di balik nada bicaranya.
Kenzo, yang lagi duduk di kursi besi sambil muter muter Kristal Origin di tangannya, cuma ngelirik lewat balik Mask of The Nameless. "Bukan boneka, Val. Dia itu efisiensi. Dia nggak butuh gaji, nggak bakal ngeluh, dan yang paling penting... dia nggak bakal pernah bisa nusuk gue dari belakang."
Kenzo ngelambaiin tangannya santai. "Sato, balik lo ke kandang."
Seketika, ksatria bayangan itu mencair, berubah jadi genangan tinta hitam di lantai sebelum akhirnya meresap masuk ke dalam bayangan Kenzo.
“Rekan, kau baru saja mendapatkan mainan baru yang sangat penurut. Tapi jujur saja, melihatmu mengoleksi mayat pria membuatku mempertanyakan seleramu. Kenapa tidak membangkitkan wanita cantik saja untuk menemanimu tidur?” suara sistem bergema di kepala Kenzo, penuh ejekan.
“Diem lo, mesin bangsat. Fokus ke target selanjutnya,” batin Kenzo.
"Kenzo mesum, simpen dulu pamer hantu lo!" sela Elara sambil muter kursinya dengan kasar. "Ada tamu di atas. Sensor Mana di pintu toko barang bekas kita lagi teriak teriak noh. Ini bukan Hunter Asosiasi, sinyalnya beda. Terenkripsi protokol militer Jerman. Dan dia nggak nyoba sembunyi... dia sengaja minta perhatian."
Kenzo berdiri, ngerasain pedang hitamnya bergetar di punggung. "Valeria, jaga Elara. Kalau ada yang berani dobrak, lo tau apa yang harus lo lakuin kan?."
"Beres, Bos. Bakal gue bikin jadi sosis," jawab Valeria sambil ngasah belatirnya.
Kenzo keluar lewat pintu rahasia yang tembus ke gang sempit di balik toko. Hujan sisa semalam bikin aspal bau oli dan sampah basah. Di bawah lampu jalan yang mati-hidup, seorang cewek jangkung berdiri dengan tenang. Rambut pirang platinumnya dikuncir kuda tinggi, kontras banget sama jaket kulit merahnya yang basah kuyup. Dia nenteng koper besi gede yang kelihatan berat banget.
"Lo jauh-jauh dari Jerman cuma buat numpang neduh di gang kumuh gue?" suara Kenzo dingin, dia tetep di dalam kegelapan bayangan tembok.
Cewek itu, Freya, berbalik perlahan. Mukanya cantik, tipikal Eropa, tapi matanya biru kosong kayak orang yang udah liat neraka berkali kali.
Dia nggak basa-basi. Dia langsung narik resleting jaketnya, bukan buat ngegoda, tapi buat nunjukin bekas jahitan operasi yang masih kemerahan dan bercahaya ungu busuk di sekitar jantungnya.
"Silver Aegis... mereka nyoba nyuntikin Mana monster langsung ke jantung gue," suara Freya parau, kena pengaruh suhu malam Jakarta yang lembap. "Gue produk gagal yang mau mereka musnahin karena jantung gue nolak eksperimen itu. Gue kabur ke sini karena gue denger 'The Nameless Sovereign' nggak takut sama siapa pun."
Freya naruh koper besinya ke tanah dengan bunyi dentang yang berat. Pas dibuka, tekanan Mana yang luar biasa meledak dari dalemnya. Sebuah tombak perak yang patah di tengah Gungnir’s Fragment.
"Gue kasih ini sebagai tiket masuk. Ini kunci buat buka Dungeon tingkat bencana di Laut Jawa yang lagi diincer klan klan dunia. Kasih gue perlindungan, atau bunuh gue sekarang dan ambil tombak ini," tantang Freya, matanya natap lurus ke arah kegelapan tempat Kenzo berdiri.
“Rekan, jangan percaya pada wanita pirang ini begitu saja. Tapi koper itu... baunya sangat lezat. Bau Mana Rank S yang murni. Ambil dia, jadikan dia budakmu, atau aku akan terus merongrong kepalamu!” bisik sistem dengan nada haus.
Kenzo melangkah keluar dari bayangan, cahaya lampu jalan yang redup mantul di topeng hitamnya. "Di sini nggak ada yang gratis, Pirang. Kalau lo ikut gue, lo bukan lagi warga Jerman. Lo cuma bayangan gue. Lo hidup dan mati sesuai kata kata gue. Paham kaga lo?"
Freya langsung berlutut di aspal yang basah. "Gue lebih suka jadi anjing lo daripada jadi bangkai di laboratorium mereka."
Kenzo baru mau buka mulut pas Dragon’s Sense nya tiba tiba teriak. Ada delapan titik merah laser yang nempel di badan mereka berdua. Dari atap-atap gedung tua di sekitar gang, delapan orang Hunter dengan zirah berteknologi tinggi muncul. The Hound Unit. Tim pembantai dari Silver Aegis.
"Subjek 0-14, Freya. Protokol pemusnahan diaktifkan. Balik ke kandang atau kita ratain gang ini beserta penduduk lokal yang sok jago ini," suara dari megaphone kedengeran sombong banget, pake aksen Jerman yang kaku.
Kenzo cuma nyengir di balik topengnya. Dia nepuk bahu Freya yang mulai gemeteran. "Lo pilih orang yang bener, Pirang. Di duniaku, nggak ada orang luar yang boleh berisik di jam tidur gue."
"Bangkit, Sato! Makan mereka semua!"
Asap hitam pekat meledak dari bayangan kaki Kenzo. Sato muncul, ksatria bayangan itu langsung melesat ke atas tembok dengan kecepatan yang nggak masuk akal. Suara tembakan energi Mana pecah, dibarengi sama suara teriakan orang-orang Jerman yang zirahnya dibelah-belah kayak kerupuk oleh katana bayangan Sato.
Darah mulai netes dari atap gedung, nyampur sama air hujan yang turun lagi. Satu per satu, Hunter elit Jerman itu jatuh ke aspal dengan kondisi badan yang udah nggak utuh. Sato bener-bener mesin pembunuh yang nggak punya perasaan. Dia motong kepala, mutusin tangan, dan ngerobek zirah baja tanpa suara, cuma suara desisan hampa yang keluar dari mulut bayangannya.
Kenzo jalan pelan ke arah mayat pemimpin tim mereka yang jatuh paling terakhir. Dia nunduk sebentar, ngerasain energi yang masih tersisa di tubuh itu.
"Ekstraksi."gumam Kenzo.
“PROSES DIMULAI... MENYEDOT JIWA PARA PECUNDANG... SELESAI! REKAN, KAU BARU SAJA MENDAPATKAN DELAPAN KACUNG BARU. MEREKA TIDAK SEKUAT SATO, TAPI LUMAYAN UNTUK JADI TUKANG PARKIR DI MARKASMU.”
[Ding! Anda mendapatkan 8 Prajurit Bayangan Baru (Grade: Soldier).]
[Slot Bayangan: 9 / 10]
Kenzo balik badan, ngelihat Freya yang masih melongo liat gimana tim elit yang dia takuti selama ini diabisin dalam waktu kurang dari tiga menit oleh satu hantu.
"Selamat datang di kegelapan, Freya," kata Kenzo sambil nyalain rokok dengan santai. "Elara bakal bersihin pelacak di punggung lo. Sekarang, bawa koper itu masuk. Kita punya kerjaan gede di Laut Jawa."
Freya berdiri, kakinya masih agak lemes, tapi ada harapan baru di matanya. Dia ngelihat delapan bayangan prajurit yang sekarang berlutut di belakang Kenzo, nunduk hormat sama tuan baru mereka.
"Makasih... Bos," bisik Freya.
Kenzo ngelihat ke arah langit Jakarta yang makin gelap. Dia bisa ngerasain kekuatan di dalem dirinya makin gila. Setiap kali dia bunuh orang, dia ngerasa makin deket sama sesuatu yang lebih gede daripada sekadar Hunter Rank S.
“Rekan, levelmu naik lagi. Kau sekarang berada di level 48. Satu langkah lagi menuju evolusi selanjutnya. Tapi jujur saja, jas tuxedo mu kemarin jauh lebih keren daripada hoodie kotor ini,” goda sistem.
“Berisik lo. Elara, hapus semua rekaman satelit di gang ini. Jangan sampe ada satu batu pun yang ketinggalan,” perintah Kenzo lewat comms.
Kenzo, Freya, dan pasukan bayangannya jalan masuk ke dalam toko loak, ninggalin gang yang sekarang udah bersih dari bukti bukti pertempuran karena hujan deras langsung nyapu sisa darah di aspal. Faksi Bayangan sekarang udah punya otak (Elara), tameng (Valeria), dan artileri (Freya).
Klan klan dunia mungkin ngerasa mereka yang berkuasa, tapi mereka lupa satu hal: Di bawah tanah Jakarta, ada monster yang lagi laper, dan dia baru aja dapet menu utama yang sangat nikmat.
[Ding! Level Anda: 48]
[Membuka Dungeon Eksklusif: 'Shadow Realm']
[Tujuan Selanjutnya: Ekspedisi Laut Jawa.]
"Perang yang sebenernya baru aja dimulai, Val," kata Kenzo pas dia masuk ke dalem bunker. "Dan kali ini, kita nggak bakal main petak umpet lagi."