Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24: Bayangan dari Benua Hitam
Tiga bulan telah berlalu sejak mahkota perak itu diletakkan di atas kepala Elara. Ibu Kota Aurora telah berubah; jalanan yang dulunya dipenuhi oleh penjaga ordo Matahari yang angkuh kini dijaga oleh pasukan gabungan ksatria Avalon dan Ravenhurst yang disiplin. Namun, di balik kemegahan pesta penobatan dan pembangunan kembali Menara Matahari, Elara jarang bisa tidur nyenyak.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali ke momen di mana ia menyerap energi penghancur milik mantan Kaisar. Di dalam kekosongan energi itu, ia melihat ribuan kapal dengan layar berwarna hitam pekat bergerak membelah samudera menuju pesisir Aurora. Kapal-kapal itu tidak membawa manusia, melainkan sesuatu yang terasa jauh lebih kuno dan haus darah.
Kesunyian di Ruang Kerja Empress
Malam itu, ruangan kerja Elara hanya diterangi oleh beberapa batang lilin aromaterapi yang membantu menenangkan syarafnya. Di atas meja mahoni besar, tumpukan dokumen negara bersaing dengan peta navigasi samudera yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
Alaric masuk tanpa suara, membawakan mantel bulu hangat untuk disampirkan ke bahu Elara yang terbuka. "Kau masih terjaga, Empress-ku? Rakyatmu sudah bermimpi indah, tapi penguasa mereka tampak seperti sedang memikirkan kiamat."
Elara bersandar pada kursi takhtanya, memijat pelipisnya. "Aku baru saja menerima laporan dari intelijen laut kita di Kepulauan Avalon, Alaric. Mereka menemukan sisa-sisa kayu kapal yang tidak dikenal terdampar di pantai luar. Kayu itu tidak membusuk oleh air laut, melainkan memancarkan energi korosi yang mematikan."
Alaric mengambil potongan kayu kecil yang terbungkus kain perak di atas meja. Ia merasakannya dengan sihir Ravenhurst-nya dan seketika menarik tangannya kembali. "Energi ini... ini bukan sihir hitam biasa. Ini adalah Malediction. Hanya klan penyihir dari Benua Zandaria yang bisa menghasilkan sesuatu seperti ini."
"Zandaria," Elara mengulang nama itu dengan nada getir. "Benua yang menurut buku sejarah kita telah tenggelam seribu tahun lalu. Jika mereka masih ada, berarti selama ini kekaisaran kita hanyalah sebuah taman kecil yang dipagari, sementara di luar sana, monster yang sebenarnya sedang menunggu pagar itu runtuh."
Tamu Tak Diundang
Tiba-tiba, suasana di dalam istana menjadi sangat dingin. Lilin-lilin di ruangan Elara berkedip-kedip sebelum akhirnya padam secara serentak, menyisakan kegelapan total kecuali cahaya rembulan yang masuk dari jendela.
Alaric segera berdiri di depan Elara, pedang Duskbringer sudah terhunus, mengeluarkan pendaran ungu yang waspada. "Siapa di sana? Tunjukkan dirimu sebelum kutebas bayanganmu!"
Dari sudut ruangan yang paling gelap, kabut hitam mulai berkumpul, membentuk sosok seorang pria tinggi dengan jubah yang seolah terbuat dari asap. Wajahnya tertutup topeng perunggu berbentuk wajah yang menangis.
"Jangan menyerang, Grand Duke," suara pria itu terdengar seperti bisikan ribuan jiwa yang tersiksa. "Aku bukan bagian dari Solis Invicta yang remeh itu. Aku datang membawa peringatan bagi wanita yang telah menipu kematian dua kali."
Elara berdiri dari kursinya, tangannya memegang relik Lane yang mulai berpendar hangat. "Siapa kau? Dan apa yang kau inginkan dari takhtaku?"
"Namaku tidak penting di dunia ini," sosok itu membungkuk dengan gaya kuno yang berlebihan. "Sebut saja aku Sang Pembawa Pesan dari Abyss. Kalian baru saja mematikan lampu mercusuar yang menjaga dunia ini tetap stabil. Dengan jatuhnya Kaisar lama dan hancurnya segel di Pelabuhan Utara, Aurora kini tampak seperti mercusuar yang menyala di tengah malam bagi mereka yang lapar di seberang samudera."
"Katakan apa maumu, atau pergilah!" geram Alaric, mulai melangkah maju.
"Mereka sudah berangkat, Empress Elara," sosok itu mengabaikan Alaric dan menatap langsung ke mata Elara. "Armada Great Shadow telah mencium aroma darah Lane yang murni. Dalam enam bulan, mereka akan sampai di sini. Pilihlah: menyerahkan Cawan Keabadian yang asli, atau melihat Aurora menjadi kuburan massal yang baru."
Setelah mengucapkan kalimat itu, sosok tersebut meledak menjadi ribuan kupu-kupu malam hitam yang terbang keluar jendela dan menghilang di kegelapan langit malam.
Persiapan yang Tak Terhindarkan
Elara terengah-engah, merasakan aura dingin yang ditinggalkan tamu misterius itu. Ia menoleh ke arah Alaric yang wajahnya tampak sangat pucat.
"Alaric, kita tidak punya waktu untuk sekadar merayakan kemenangan," Elara berkata dengan suara yang penuh determinasi. "Kita harus menyatukan seluruh benua ini. Bukan hanya Aurora, tapi juga kerajaan-kerajaan kecil di Timur dan suku-suku liar di Selatan. Kita butuh aliansi yang belum pernah ada sebelumnya."
"Itu berarti kau harus melakukan perjalanan diplomatik yang berbahaya," Alaric menyarungkan pedangnya, matanya menatap Elara dengan kekhawatiran yang mendalam. "Kau baru saja menjadi Empress. Meninggalkan ibu kota sekarang adalah risiko besar."
"Aku tidak akan pergi sebagai Empress yang memohon," Elara tersenyum, namun senyumnya kali ini mengandung kelicikan yang tajam. "Aku akan pergi sebagai Empress yang membawa tawaran yang tidak bisa mereka tolak. Alaric, siapkan kapal tercepat kita. Kita akan menuju Kerajaan Logam di Timur, tempat di mana mesin perang terbaik dibuat. Jika kita harus menghadapi bayangan, kita akan menghadapinya dengan api dan baja yang belum pernah mereka lihat."
Malam itu, di bawah cahaya bintang, Elara Lane menyadari bahwa takdirnya tidak berakhir dengan kematian musuh-musuhnya. Ia telah ditarik ke dalam permainan catur yang jauh lebih besar, di mana taruhannya bukan lagi nyawanya sendiri, melainkan eksistensi seluruh dunianya.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔