NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Titik Nol

Jakarta tak pernah berubah. Macet di mana-mana, panas menyengat di siang hari, dan angin malam yang dingin menemani para pengais rezeki yang masih setia berkeliling.

Arman kembali menjadi bagian dari mereka. Jaket hijau yang dulu sempat ia gantung rapi di lemari, kini kembali menemani setiap harinya. Hanya saja, kali ini jaket itu terasa lebih longgar. Badannya memang semakin kurus.

Kos-kosan itu masih sama. Kamar berukuran 3x4 meter dengan satu jendela kecil menghadap tembok tetangga. Kasur tipis, lemari plastik, dan gantungan baju dari kawat.

Dulu, saat pertama kali tinggal di sini, ia bermimpi bisa keluar dan punya kehidupan lebih baik. Sekarang, ia kembali, dengan mimpi yang hancur berkeping-keping.

Pagi itu, Arman bangun kesiangan. Ia tidak punya target setoran lagi, tidak ada yang menunggu. Ia hanya bangun karena sinar matahari masuk melalui celah tirai. Ia meregangkan badan, lalu meraih ponsel.

Seperti biasa, tidak ada pesan dari Nadia. Hanya pesan singkat dari Rani semalam—foto Aldi sedang tidur, tanpa teks. Ia tersenyum getir.

Sejak meninggalkan rumah Nadia, komunikasi mereka renggang. Arman masih sesekali mengunjunginya—sekadar mampir, ngobrol sebentar, lalu pulang. Seperti tamu.

Ia sudah tidak bekerja untuk Nadia lagi. Gaji bulanan tentu berhenti. Sesekali Nadia masih memberinya uang "bantuan", tapi Arman selalu menolak. Harga dirinya sudah cukup hancur; ia tak perlu menambahnya dengan menerima sedekah.

Uang dari hasil narik ojol hanya cukup untuk kebutuhan sendiri dan kiriman pas-pasan untuk Rani. Ia sudah berhenti pulang pergi kampung. Ongkos mahal, dan Rani pun tak pernah memintanya datang. Aldi hanya bisa ia lihat lewat video call seminggu sekali, itupun kalau Rani sempat mengangkat.

Hidupnya kembali seperti dulu. Tapi lebih sepi.

---

Siang itu, setelah mengantar penumpang ke Blok M, Arman memutuskan mampir ke tempat nongkrong lama. Di emperan toko besi yang sudah tutup, beberapa motor berjejer rapi. Juki, Bayu, dan Dimas sedang duduk santai sambil ngopi.

"Wah, Arman! Jarang kelihatan!" sambut Juki, melambai.

Arman mendekat, duduk di kardus bekas yang disediakan. "Lama nggak ngopi bareng, nih."

"Lo kemana aja, Man? Katanya dapet kerjaan enak, jadi supir pribadi?" tanya Bayu, mengunyah kacang.

Arman tersenyum pahit. "Udah beres. Sekarang balik lagi kayak dulu."

"Beres gimana? Ceritanya gimana?" Dimas penasaran.

Arman menghela napas. Ia bercerita. Tentang Nadia, tentang pernikahan siri, tentang Rani yang pergi ke kampung, tentang hidup yang semakin rumit. Tidak semua detail, tapi cukup untuk membuat teman-temannya ternganga.

"Astaga, Man. Berat banget hidup lo," gumam Juki.

"Gue dulu bilang apa?" Bayu menggeleng. "Istri lo itu emas, Man. Bukan yang di tangannya, tapi yang di dapur itu. Yang mau tempur sama lo walau cuma berdua."

Arman diam. Kata-kata Bayu mengingatkannya pada sesuatu.

"Lo inget nggak, dulu waktu pertama kali lo cerita mau poligami, gue cuma bisa diem?" sambung Juki.

"Sebab gue nggak tahu harus ngomong apa. Tapi sekarang, setelah lo alami sendiri, gue bisa bilang: poligami itu bukan buat orang kebanyakan, Man. Apalagi buat kita yang ekonominya pas-pasan."

"Iya," sahut Dimas. "Gue baca-baca artikel, poligami itu sunnahnya Nabi, tapi syaratnya berat. Harus adil. Dan adil itu nggak cuma materi, tapi juga perasaan, waktu, perhatian. Yang mampu siapa?"

Arman tersenyum getir. "Lo semua bener. Gue baru sadar sekarang."

Bayu menepuk pundaknya. "Yang penting lo masih hidup. Masih bisa narik. Masih bisa kirim uang buat anak lo. Itu udah lebih dari cukup buat awal."

Arman mengangguk, tapi di dalam hatinya, ia tahu ini bukan sekadar masalah uang. Ini tentang kehilangan. Kehilangan Rani secara emosional, kehilangan Nadia secara fisik, dan kehilangan momen-momen bersama Aldi yang tak akan pernah kembali.

---

Sore harinya, saat nongkrong hampir bubar, ponsel Arman berdering. Video call dari Rani. Ia cepat mengangkat.

"Halo, Pak!" suara ceria Aldi terdengar dari layar. Wajah bulatnya memenuhi layar, gigi ompong di depan tersenyum lebar.

"Aldi! Lagi apa, Nak?"

"Lagi main layangan sama Om. Tadi Aldi lihat ular di sawah, gede!"

Arman tertawa, meskipun ada perih di dada. "Seru, ya? Bapak kangen."

"Aldi juga kangen. Kapan Bapak ke sini? Aldi mau main layangan sama Bapak."

Arman menelan ludah. "Nanti, Nak. Bapak lagi sibuk cari uang. Doain Bapak dapet rezeki banyak, ya?"

"Iya, Pak. Aldi doain. Bapak sehat."

"Aamiin. Aldi jagain Mama, ya. Jangan nakal."

"Aldi nggak nakal! Aldi anak baik!"

Mereka tertawa bersama. Di balik Aldi, terlihat bayangan Rani yang lewat. Ia tersenyum tipis pada Arman—bukan senyum mesra, tapi senyum basa-basi, seperti pada kenalan jauh. Lalu ia pergi.

Panggilan berakhir. Arman menatap layar ponsel yang kembali gelap. Di sekelilingnya, teman-temannya sudah mulai beranjak pulang. Sore berganti senja, dan Jakarta mulai meredup.

---

Malam itu, Arman tidak langsung pulang ke kos. Ia duduk di pinggir jalan, di dekat motor tuanya, menyalakan sebatang rokok. Pikirannya melayang ke masa lalu, ke saat-saat ia masih bersama Rani di rumah kecil Bekasi, dengan Aldi yang masih balita, dengan warung kecil yang jadi tumpuan. Hidup sederhana, pas-pasan, tapi hangat.

Lalu ia teringat kata-kata Mira sang apoteker, waktu itu di motor, saat ia masih sibuk mencari pembenaran untuk poligaminya.

"Poligami itu bukan solusi, Mas. Itu justru masalah baru. Masak iya, masalah nafkah buat satu keluarga aja belum kelar, mau nambah beban lagi? Itu namanya bunuh diri finansial. Dan perasaan istri pertama... percayalah, Mas. Sakitnya bukan main."

Arman menunduk. Asap rokok mengepul, membumbung tinggi lalu hilang ditelan malam. Ia tersenyum pahit.

Mira benar. Sakitnya bukan main.

Ia juga teringat Ibu Sari, penumpang yang mengajaknya ngobrol tentang kajian poligami.

"Jangan sampai keluarga yang sudah dibangun, rusak karena mengejar bayangan kebahagiaan."

Bayangan kebahagiaan. Itu yang ia kejar selama ini. Bayangan kebahagiaan ala Budi, dengan dua istri harmonis dan bisnis lancar.

Tapi ia lupa, Budi sudah mapan sebelum berpoligami. Sementara ia? Ia hanya seorang driver ojol dengan KPR yang masih 15 tahun lagi.

Arman membuang puntung rokok, lalu menyalakan motor. Ia melaju pelan, menikmati angin malam yang dingin. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah masjid.

Dari dalam, terdengar suara pengajian malam. Ia berhenti, mematikan mesin, dan duduk di pinggir jalan.

Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang bodoh ini. Yang tergoda oleh fatamorgana dunia, yang lupa pada nikmat sederhana yang sudah Engkau berikan. Yang menyakiti istri sendiri, yang mengecewakan anak sendiri, yang menjual kebahagiaan demi mimpi palsu.

Air matanya jatuh, tanpa bisa ditahan. Di dalam masjid, suara imam membaca ayat tentang kesabaran. Arman mendengarkan, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa sedikit lega. Seperti ada beban yang terangkat, meski hanya sedikit.

---

Pagi harinya, Arman kembali ke tempat nongkrong. Juki sudah ada di sana, dengan kopi bungkus dan senyum khasnya.

"Man, lo liat muka lo sendiri? Kayak orang habis kiamat," ledeknya.

Arman tersenyum. "Iya, Ki. Kiamat kecil."

"Tapi lo masih hidup. Itu yang penting." Juki menyodorkan kopi. "Nih, minum. Gue traktir."

"Makasih, Ki."

Mereka duduk bersebelahan, menatap lalu lalang kendaraan di depan. Bayu dan Dimas belum datang. Suasana pagi masih sejuk, belum terlalu panas.

"Man," panggil Juki tiba-tiba.

"Apa?"

"Gue nggak tahu harus ngomong apa. Tapi gue pengen lo tahu, lo punya teman di sini. Kapan lo butuh cerita, butuh pinjeman, butuh apa aja, lo kabarin."

Arman menatap Juki. Temannya itu tersenyum tulus. Sederhana, tapi menghangatkan.

"Makasih, Ki. Gue apresiasi."

Mereka bersalaman, lalu kembali menatap jalanan. Motor-motor berlalu lalang, orang-orang bergegas mengejar waktu. Di kejauhan, langit Jakarta mulai kelabu. Mungkin akan hujan.

Tapi Arman tidak peduli. Hari ini, di tempat nongkrong ini, bersama teman-teman lamanya, ia merasa sedikit lebih utuh. Bukan bahagia, bukan tenang. Tapi setidaknya, ia tidak sendiri.

Hidupnya kembali ke titik nol. Ia kembali menjadi driver ojol dengan jaket hijau, kos-kosan sempit, dan mimpi-mimpi yang sudah usang.

Tapi kali ini, ada yang berbeda. Ada luka di dada yang tak akan pernah sembuh total, tapi juga ada pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan.

Poligami bukan surga dunia. Kadang, ia adalah neraka yang kita ciptakan sendiri.

Arman menyeruput kopinya, yang mulai dingin. Pahit, seperti hidupnya. Tapi ia sudah terbiasa. Dan seperti biasa, ia akan terus bertahan, demi Aldi, demi masa depan, dan demi dirinya sendiri.

Di sela-sela hiruk pikuk Jakarta, di antara deru kendaraan dan debu jalanan, seorang pria dengan jaket hijau terus melaju. Mencari rezeki, mencari arti, mencari jalan pulang—entah ke mana.

1
Lee Mbaa Young
bu CEO jablay plus arman laki murah an gampang mau ma wanita asal berlobang dan ngasih uang banyak. pasangan Klop.
tinggal nunggu karma semoga kena penyakit
Lee Mbaa Young
Lihat bu CEO dah mulai gatal, lama gk di garuk mkne sama sopir ae PDKT curhat curhat. si laki juga asal si wanita punya lobang dan ngasih uang mau an. wes pasangan Klop.
Bp. Juenk: 💪 thanks supportnya kaka
total 1 replies
La Rue
Ayo Arman buktikan bahwa kamu bisa menjadi Ayah yang baik bagi Aldi dan suami yang bertanggungjawab untuk Rani. tapi hati² jangan mengulang kesalahan yang sama🤭🤭🤭
Suhainah Haris
kita lihat apakah ibu CEO ini sama dengan Nadia,misalkan sama apakah Arman akan kembali tergoda untuk poligami seandainya ibu CEO ternyata wanita single
Bp. Juenk: 🤭🤭 soon ya
total 1 replies
falea sezi
enak bgt si arman g dpet karma nya bkin crrai lah trs buat hancur males liat laki. model. kayak arman gini
Bp. Juenk: tpi banyak kan ya Ka laki model begini 🤭
total 1 replies
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!