Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Christian melangkah dengan napas memburu menyusuri koridor gedung dosen.
Amarahnya memuncak melihat sikap dingin Akhsan tadi.
Tanpa ragu, ia mengetuk pintu ruangan kerja Akhsan dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk,"
Akhsan sedang duduk tenang di balik meja kerjanya, menyesap kopi hitamnya sembari menatap layar laptop seolah dunia di luar sana baik-baik saja.
Ia mendongak, menatap Christian dengan pandangan datar yang mengintimidasi.
"Ada apa?" tanya Akhsan.
"Pak, Zahra pingsan di halaman. Dia demam tinggi sekali, badannya panas seperti terbakar," jawab Christian dengan suara bergetar karena panik dan lelah setelah membopong Zahra.
Bukannya terkejut atau segera berdiri, Akhsan justru terdiam sejenak. Lalu, sebuah suara tawa keluar dari bibirnya.
Akhsan tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar dan mengerikan di telinga Christian.
"Dia sedang sandiwara, Christian. Biarkan saja dia disana," ucap Akhsan setelah tawanya mereda, matanya kini kembali menatap tajam mahasiswa di depannya.
"Dia hanya ingin menarik perhatian. Kalau bisa, biarkan dia mati sekalian di sana. Itu bukan urusanku."
Christian terpaku di ambang pintu saat mendengar perkataan dari Akhsan.
Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kalimat yang keluar dari mulut seorang kakak.
"Astaghfirullah, Pak! Zahra itu adik Anda! Darah daging Anda sendiri!" teriak Christian, tidak peduli lagi pada sopan santun terhadap dosennya.
"Bagaimana bisa Anda bicara sekejam itu saat dia sedang bertaruh nyawa di bawah sana?"
Akhsan tersenyum dan hanya menarik napas panjang.
Kemudian ia kembali duduk dengan tenang di kursinya.
Ia kembali memfokuskan matanya pada dokumen-dokumen di depannya, mengabaikan keberadaan Christian seolah-olah pria muda itu hanyalah angin lalu.
"Keluar. Dan tutup pintunya," ucap Akhsan dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Christian mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.
Ia ingin sekali menarik kerah baju pria itu dan memaksanya melihat kondisi Zahra, namun ia sadar bahwa itu hanya akan membuang waktu.
Dengan rasa jijik yang luar biasa, Christian membanting pintu ruangan itu dan berlari kembali menuju klinik kampus.
Di dalam ruangan, Akhsan meremas pulpen di tangannya hingga nyaris patah.
Kalimat Christian tentang "darah daging" terasa seperti ejekan di telinganya.
"Darah daging? Dia hanya orang asing yang mencuri hidupku dan membunuh cintaku."
Sementara itu di klinik, Zahra mulai mengigau dalam pingsannya. Air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam rapat.
"M-mas Akhsan, jangan tinggalin Zahra di jalan..." igau Zahra lirih.
Indri yang duduk di samping ranjang mengernyitkan dahi.
Ia mendengar igauan itu dengan jelas. Ia menatap lutut Zahra yang diperban dan wajah sahabatnya yang dipenuhi penderitaan.
"Di jalan? Maksud kamu apa, Ra?" bisik Indri penuh tanda tanya.
Christian berdiri terpaku di koridor klinik dengan napas yang memburu.
Penolakan Akhsan yang begitu biadab membuatnya gemetar, namun ia masih menaruh harapan pada orang tua Zahra.
Dengan tangan gemetar, ia mencari nomor telepon Papa Hermawan di buku telepon ponsel Zahra yang ia pegang.
"Halo, Om? Ini Christian, teman kuliah Zahra. Maaf mengganggu, Om. Zahra pingsan di kampus. Demamnya sangat tinggi dan lukanya infeksi. Kami butuh bantuan keluarga karena Pak Akhsan tidak mau menolong," ucap Christian dan berharap ada nada kepanikan dari seberang telepon.
Hening sejenak, lalu terdengar suara Papa Hermawan yang berat dan datar.
"Chris, biarkan saja dia. Saya sedang ada meeting penting dengan investor asing, dan ini jauh lebih penting daripada mengurusi anak itu. Taruh saja dia di klinik, nanti juga bangun sendiri," jawab Papa Hermawan tanpa beban, sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak.
Tut... tut... tut...
Christian menatap layar ponsel itu dengan tatapan tidak percaya.
"Sialan! Keluarga macam apa ini?"
Putus asa namun belum menyerah, Christian beralih menghubungi Mama Zahra.
Ia yakin, naluri seorang ibu tidak akan mungkin setega itu.
Begitu telepon diangkat, suara riuh tawa dan denting gelas kristal terdengar dari latar belakang.
"Halo, Tante? Zahra kritis di kampus, Tante. Dia pingsan dan demam tinggi sekali. Mohon Tante segera ke sini," pinta Christian memohon.
Namun, jawaban yang diterima Christian justru lebih menyakitkan.
Mama Zahra tertawa terbahak-bahak, suara tawanya melengking di sela-sela obrolan dengan rekan-rekannya.
"Aduh Christian, kamu ini terlalu berlebihan. Di sana kan sudah ada dokter kampus, biarkan mereka yang urus. Saya ini sedang menemani tamu-tamu sosialita, tidak enak kalau ditinggalkan hanya karena Zahra mengeluh sakit," ucap Mama dengan nada meremehkan.
"Dia itu kuat, Chris. Jangan terlalu dimanjakan. Sudah ya, saya sibuk!"
Klik!
Christian perlahan menurunkan tangannya sambil menatap Zahra yang terbaring lemah di ranjang klinik dengan selang infus yang baru saja terpasang.
Di ruangan itu hanya ada dia dan Indri, sementara keluarga kandung Zahra sama sekali tidak peduli jika gadis ini bernapas atau tidak.
"Chris, bagaimana?" tanya Indri dengan mata berkaca-kaca.
Christian menggeleng lemah, matanya menyala karena amarah yang tertahan.
"Mereka monster, Ndri. Semuanya. Akhsan, ayahnya, ibunya. Mereka membiarkan Zahra mati sendirian di sini."
Christian berjalan mendekati ranjang Zahra, ia menggenggam tangan Zahra yang terasa sangat panas.
"Kalau mereka nggak mau jagain kamu, biar aku yang jagain kamu, Ra. Aku nggak akan biarkan mereka sakiti kamu lagi."
Tepat saat itu, Zahra melenguh kecil. Bibirnya yang pecah-pecah bergerak, menggumamkan sesuatu yang membuat Christian dan Indri membeku.
"Sakit... Mas Akhsan... maafin Zahra... jangan buang Zahra lagi di jalan..."
Indri menutup mulutnya saat mendengar perkataan Zahra yang sedang mengigau.
"Dibuang di jalan? Chris, apa yang sebenarnya terjadi sama Zahra di rumah itu?"
Christian segera membopong tubuh Zahra yang terkulai lemas menuju parkiran, sementara Indri berlari di sampingnya dengan wajah penuh kecemasan.
Mereka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat, tak memedulikan apa pun lagi selain keselamatan Zahra.
Di ambang jendela ruang dosen, Akhsan berdiri mematung.
Matanya menatap tajam ke arah mobil Christian yang meninggalkan area kampus.
Ada gejolak aneh di dadanya saat melihat istrinya dibawa pergi oleh pria lain, namun ego dan dendamnya segera menekan perasaan itu.
"Biarkan saja. Dia memang butuh panggung untuk dramanya," desis Akhsan dingin.
Namun, ketenangan Akhsan terusik saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk.
Seorang wanita dengan pakaian bermerek dan riasan tebal melangkah masuk dengan penuh percaya diri.
"Mas Akhsan!" seru wanita itu dengan nada manja.
Akhsan mengernyitkan keningnya saat melihat Sisil adik Gea ada di kampusnya.
"Sisil? Sedang apa kamu di sini?"
Sisili mendekat dan langsung duduk di kursi depan meja kerja Akhsan.
Berbeda dengan Gea yang lembut, Sisil adalah sosok yang ambisius dan licik.
Sejak lama, ia menyimpan perasaan pada Akhsan, bukan karena cinta, melainkan karena ia haus akan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki keluarga Hermawan.
"Aku cuma mau menjenguk mantan kakak iparku yang tampan ini."
Sisil tersenyum miring, menatap Akhsan dengan tatapan menggoda.
Ia mengelus pinggiran meja kerja Akhsan, matanya berkilat penuh rencana busuk.
Ia tahu betul posisi Zahra sedang di ujung tanduk, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja.
'Aku harus bisa menyingkirkan Zahra. Aku akan membuat Mas Akhsan menceraikanmu, Zahra. Posisi Nyonya Akhsan seharusnya milikku, bukan milik adik pungut sepertimu' batin Sisilia penuh kebencian.