NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Pagi datang membawa sunyi. Tidak terdengar nyaring ayam berkokok, tidak ada sapaan hangat kicauan burung. Hanya cahaya pucat yang merayap masuk lewat celah jendela, menyentuh wajah Senja yang terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa lemas.

Mual tipis menggulung lambung sejak matanya terbuka. Rasanya bukan seperti masuk angin, bukan pula seperti kelelahan biasa. Rasanya mengambang, tidak nyaman, tapi tidak juga terlalu sakit.

Tubuhnya seolah sedang menyimpan rahasia yang belum terungkap, rahasia yang terlahir dari malam terlarang di gunung waktu itu.

Senja bangkit perlahan dari kasur tipisnya. Setiap gerakan membuat kepalanya sedikit berkunang-kunang. Dunia terasa berputar. Tangannya meraba dinding untuk menahan pijakan kaki. Ia menarik napas, lalu melangkah ke kamar mandi.

Selesai mandi Senja menuju dapur, tapi meja makan sudah berantakan. Piring-piring kosong. Sambal yang tinggal jejak. Tulang ikan dan ayam berserakan, bersih, licin, seperti sudah disedot habis inti sarinya.

Tidak ada nasi. Tidak ada lauk. Tidak ada sayur. Meja makan benar-benar hampa, seperti tak bernyawa. Senja berdiri lama di sana, menatap meja itu dengan pandangan kosong. Perutnya keroncongan, bukan hanya karena lapar, tapi karena perasaan pilu yang sudah terlalu sering datang, perasaan tidak dianggap.

"Ibu…?" panggilnya pelan.

Winarti muncul dari kamar, rambut disanggul seadanya. "Apa lagi?"

"Makanannya… nggak disisa'in?" Suara Senja hampir berbisik.

Ibunya mendengus. "Ya habis. Kamu bangunnya siang."

"Aku lagi nggak enak badan. Lagian sekarang masih jam enam, Bu." Senja memberanikan diri. "Aku mau kerja. Aku butuh makan dulu."

Winarti menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. Tatapan yang menilai anak perempuannya itu sebagai beban keluarga.

"Cari sendiri. Masa semua harus disiapin buat kamu?"

"Bu, uang dapur---" Senja menelan ludah. "Sebagian besar dari gaji aku juga." Kalimat itu seperti bensin yang disiram di atas emosi, emosi si ibu tentunya.

"Kurang ajar!" Suara Winarti meninggi. "Kamu mau itung-itungan sama orang tua?!"

Ayahnya--Pandi-- keluar dengan sepuntung rokok menyelip di ujung bibirnya, tangan hampir menyalakan korek tapi terjeda. Sementara adik lelakinya--Riyan-- tampak santai duduk di kursi ruang tengah, mulutnya berminyak, masih mengunyah. Tangannya terlihat memegang satu paha ayam goreng yang hampir tinggal tulang, lauk terakhir yang tak dibiarkan tersisa di meja makan, padahal perutnya sudah membuncit karena kekenyangan.

Rakus!

"Kenapa ribut pagi-pagi?" Pandi bertanya datar sembari berlalu menuju kursi ruang tengah.

"Anakmu ini loh Pak protes soal makanan. Kok bisa kata-kata itu keluar dari mulutnya." Ibu Senja menjawab sinis. "Gaji nggak seberapa tapi sudah merasa paling berjasa."

Ayahnya hanya melirik Senja sekilas. "Sudah. Jangan banyak komentar. Kamu kerja saja yang bener."

Riyan melempar tulang ayam ke tempat sampah tanpa beranjak dari duduknya, seperti seorang atlit basket melempar bola ke net keranjang tapi meleset sembilan puluh derajat, gagal sok keren.

"Aku masih laper banget, Bu. Nggak ada lauk lagi apa?" cerocos Riyan.

"Iya, masih sisa satu di rak dapur. Kamu makan saja, nggak apa-apa," jawab ibunya cepat. "Biar kenyang. Kamu kan harus kuat."

"Bu---" Kalimat Senja tercekat.

"Kalau nggak puas, nggak usah makan di sini!" bentak ibunya. "Biarin adikmu makan yang layak. Dia itu anak cowok, masa depan keluarga!"

Riyan terkekeh kecil, lalu mengambil sisa lauk terakhir tanpa rasa empati. "Emang enak kelaperan," cibirnya, berlalu melewati Senja sambil menggigit daging ayam.

Kata-kata adiknya itu jatuh pelan, tapi menghantam keras. Senja menunduk menahan pilu di rongga dada. Tidak ada yang memandangnya. Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Ia menahan napas, menelan perih yang sudah jadi kebiasaan sehari-hari.

"Aku berangkat," katanya lirih.

Tidak ada jawaban.

Senja keluar dengan perutnya kosong, menahan perih yang memelintir lambung. Kepalanya berdenyut. Di dadanya, ada sesuatu yang terasa seperti retak kecil, retak yang semakin melebar setiap hari.

Di tempat kerja sudah ramai pelanggan. Senja berdiri di belakang meja kasir, menata uang kembalian dengan rapi seperti biasa. Senyum tipis terpasang di wajahnya, senyum aman yang sudah bertahun-tahun ia pakai agar tidak menimbulkan masalah.

Tiga puluh menit pertama ia masih bertahan. Namun ketika aroma minyak panas dari dapur bercampur dengan bau kopi instan, perutnya mendadak bergejolak.

Ia menelan ludah. Sekali, dua kali, masih mencoba bertahan. Tangannya basah oleh berkeringat.

"Senja, yang ini dua puluh ribu ya," pinta si pelanggan.

"I-iya, Mbak," jawabnya, suara sedikit bergetar, sesuatu hampir menerobos lorong tenggorokannya.

Namun, baru saja ia menerima uang, rasa mual itu melonjak tanpa ampun. Senja menutup mulut, menunduk cepat, lalu berbalik hampir berlari menuju kamar mandi kecil di belakang.

Tubuhnya membungkuk di depan wastafel Sesuatu yang pahit naik dari tenggorokan. Ia muntah sampai matanya berair.

Senja terduduk di lantai, napasnya terengah. Tangannya gemetar. Namun, mualnya kembali menyerang.

Muntahnya bukan sekali. Tapi berkali-kali, sampai perutnya perih dan tenggorokannya terasa terbakar. Senja bertumpu pada wastafel, menatap bayangan wajahnya di cermin buram. Wajahnya tampak pucat, mata cekung, bibir kering.

"Kenapa belakangan aku begini…?" bisiknya lirih.

Ini bukan hari pertama.

Sudah hampir dua minggu tubuhnya terasa aneh. Mudah lelah dan kepala sering berdenyut pusing. Bau-bauan tertentu membuatnya ingin menangis. Dan satu hal yang terus ia dorong jauh-jauh dari pikirannya, haid yang tak kunjung datang.

"Sen, kamu nggak apa-apa?" Suara jelita yang memang satu tempat kerjaan dengan Senja terdengar dari luar.

"I-iya," jawabnya cepat, meski suaranya bergetar. "Masuk angin."

Ia membasuh wajah. Air dingin tidak banyak membantu. Wajahnya tetap pucat, bibirnya kering.

Saat kembali bekerja, langkahnya goyah. Dunia terasa berputar pelan, seperti berdiri di atas perahu yang oleng.

Muntah itu datang lagi. Dan lagi.

Akhirnya, si bos mendekat.

"Kamu kelihatan nggak sehat. Pulang saja."

"Maaf, Bu," Senja menunduk. "Saya izin."

Ia berjalan keluar dengan kepala tertunduk.

Di halte, Senja duduk, memeluk tasnya. Napasnya belum kembali normal. Di kepalanya, potongan-potongan malam terlarang itu berkelebat, gelap, dingin, emergency blanket, sentuhan, rasa bersalah yang bahkan belum sempat ia beri nama.

Sebuah pikiran menakutkan menyelinap. Dia hampir kesulitan bernapas. Sesak serasa mengikat saluran paru-parunya.

Tidak.

Senja menggeleng pelan. "Tidak mungkin."

Ia mencoba mengelak, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong.

Bus kota datang. Orang-orang masuk bergantian. Harusnya Senja juga masuk, tapi tubuhnya justru mematung di kursi halte. Kendaraan transportasi umum itu akhirnya kembali melaju.

Senja berdiri dengan tatapan setengah kosong. Ia membawa langkahnya ke tempat lain.

Dengan tangan gemetar, Senja masuk ke apotek kecil pinggir jalan. Ia membeli satu benda mungil yang terasa berat di genggaman. Satu alat tes kehamilan. Harganya murah, tapi ia tidak sanggup membeli lebih karena itu uang terakhir di dompetnya. Kemudian ia menyelipkannya ke tas tanpa berani menatap lama.

Di kamar mandi umum pom bensin yang sempit, ia menunggu. Detik terasa seperti menit. Jantungnya berdetak terlalu keras.

Satu garis... lalu dua. Waktu seketika berhenti. Dunia serasa gelap.

Senja tidak langsung menangis. Ia hanya tertegun dan menatapnya lama, seperti sedang membaca hukuman yang ditulis dengan tinta permanen. Hukuman untuk perbuatan lepas kendalinya.

Lalu perlahan Senja duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding dingin. Tangannya menutup mulut, menahan isak yang hampir pecah.

Hamil.

Kata itu berdengung di kepalanya, memantul tanpa arah. Ia bukan bodoh. Ia tahu risikonya. Ia tahu apa yang terjadi malam itu. Tapi mengetahui dan menerima adalah dua hal berbeda.

Air mata jatuh satu persatu. Senja menatap perutnya yang masih rata, masih tidak menunjukkan apa-apa. Tapi di dalamnya, ada kehidupan lain. Kehidupan yang datang dari malam yang tidak pernah ia rencanakan.

"Enggak…," bisiknya. "Ini salah. Pasti salah."

Lagi-lagi hatinya ingin berdusta. Namun, tubuhnya tidak pernah pandai berdusta.

Sagara.

Nama itu muncul pertama kali secara otomatis. Senja meraih ponsel. Menelepon, tapi tidak aktif.

Senja mencoba lagi, dan masih sama.

Pesan sebelumnya masih ada. Satu pesan terakhir dari Sagara berhari-hari lalu.

Aku akan datang. Tunggu aku.

Senja menatap kalimat itu lama, penuh harapan besar.

Hari pertama ia menunggu.

Hari kedua.

Hari ketiga.

Setiap kali ia menelepon, yang ia dapat hanya nada tak tersambung. Setiap malam, ia memeluk ponsel, berharap layar itu menyala dengan namanya.

Namum, masih sama. Tidak ada.

Kecemasan berubah menjadi takut. Takut berubah menjadi marah. Marah berubah menjadi perih yang menekan dada.

"Om… kamu di mana?" bisiknya pelan di kamar.

Ia tidak tahu alamat Sagara. Tidak tahu tempat kerjanya. Tidak tahu siapa pun selain nomor itu.

Nomor yang kini sunyi.

Di rumah, tubuhnya semakin lemah. Mual datang setiap pagi. Bau nasi membuat kepalanya pusing. Ibunya mengomel, ayahnya diam, adiknya makan dengan lahap.

"Kamu makin males aja. Kerja dikit-dikit izin." Ibunya mencibir.

Senja tidak menjawab. Ia menyimpan rahasia itu sendirian, di perutnya, di dadanya, di kepalanya yang penuh.

Setiap malam, ia menatap pesan terakhir dari Sagara. Harapan dan sakit berkelahi tanpa pemenang.

Mungkin… mungkin Sagara benar-benar pergi. Mungkin ia salah sudah percaya.

Mungkin malam itu hanya berarti bagi satu pihak.

Air mata Senja jatuh lagi, membasahi layar ponsel. Dadanya sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya perlahan.

"Aku nggak minta banyak," bisiknya, nyaris tak bersuara. "Aku cuma butuh kamu jelasin. Jangan ninggalin aku gini…"

Di luar, hujan turun pelan. Senja meringkuk di kasur tipis, memeluk perutnya dengan tangan gemetar.

Untuk pertama kalinya sejak malam itu, ia merasa benar-benar sendirian. Dan di dalam kesunyian itu, satu pikiran pahit, menyakitkan, menyelinap tanpa izin, dan tidak bisa diusir.

Jika Sagara tidak datang… maka ia harus menghadapi semuanya sendiri.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!