NovelToon NovelToon
BENANG HAMPIR PUTUS

BENANG HAMPIR PUTUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Pengganti / CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi yang Sesak

Minggu pertama setelah malam pesta itu berlalu seperti film bisu. Rumah besar yang biasanya memiliki sedikit sisa kehangatan dari aroma masakan Arini atau sapaan lembutnya di pagi hari, kini mendadak terasa seperti galeri seni yang megah namun tak berpenghuni. Arini benar-benar membuktikan ucapannya. Ia memindahkan seluruh barang pribadinya ke kamar tamu di ujung lorong lantai dua, sebuah tindakan yang bukan sekadar perpindahan barang, melainkan penegasan jarak antara dua hati yang sudah retak.

​Pagi itu, Aris turun ke lantai bawah dengan langkah yang biasanya tegas, namun kali ini ada keraguan yang menggelayuti kakinya. Ia terbiasa melihat meja makan sudah tertata rapi; kopi hitam tanpa gula yang mengepulkan asap tipis dan dua tangkup roti gandum panggang kesukaannya. Namun, pagi ini meja itu kosong melompong. Hanya ada vas kristal dengan mawar yang kelopak-kelopaknya mulai menghitam dan layu—sisa dari perhatian Arini yang kini juga telah layu.

​Aris berdiri mematung di depan meja makan yang dingin. Keheningan di ruangan itu terasa begitu memekak telinga, seolah-olah kesunyian itu sendiri sedang berteriak padanya. Ia mencoba mencari sosok Arini di dapur, namun yang ia temukan hanyalah Bi Ijah yang sedang sibuk mengelap lantai.

​"Arini mana, Bi?" tanya Aris. Suaranya terdengar asing dan serak, seolah ia sudah lama tidak menggunakan pita suaranya untuk sekadar bertanya.

​"Nyonya Arini sudah berangkat sejak jam tujuh tadi, Den," jawab Bi Ijah tanpa berani mengangkat wajahnya. "Katanya ada urusan pekerjaan di luar. Beliau berpesan, kalau Den Aris butuh apa-apa, Bibi yang siapkan."

​Aris mengerutkan kening, rasa heran mulai menjalar. "Pekerjaan?" Setahunya, Arini tidak memiliki kesibukan apa pun selain mengurus rumah dan menghadiri acara yayasan. Ia baru teringat beberapa hari lalu melihat istrinya itu begitu fokus menatap layar laptop hingga larut. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya, semacam kecemasan yang tak ia pahami. Arini yang dulu selalu ada di rumah, yang hidupnya seolah hanya berputar di orbit Aris, kini mendadak memiliki dunianya sendiri yang sama sekali tidak melibatkan dirinya.

​Aris duduk di kursi kebesarannya, namun kopi yang dibuatkan Bi Ijah terasa hambar, seolah lidahnya telah kehilangan selera. Ia menatap kursi kosong di hadapannya, tempat di mana Arini biasanya duduk dan mencoba mengajaknya bicara—ajakan bicara yang dulu selalu ia tanggapi dengan gumaman dingin atau tatapan sinis. Sekarang, setelah ia mendapatkan ketenangan yang selama ini ia tuntut, kenapa rasanya justru seperti ia sedang tercekik oleh kesunyian itu?

​Sepanjang siang, Aris merasa seperti orang asing di kantornya sendiri. Fokusnya buyar berkali-kali saat sedang meninjau laporan keuangan. Setiap kali pintu ruang kerjanya terbuka, ia berharap asistennya membawa kabar—bukan tentang pergerakan saham atau proyek baru di Kalimantan, melainkan tentang apa sebenarnya yang sedang dilakukan istrinya di luar sana. Ego Aris masih terlalu tinggi untuk sekadar mengirim pesan singkat. Ia tidak ingin terlihat kalah, namun rasa penasaran itu membakar lubuk hatinya.

​Saat jam makan siang tiba, Aris melakukan hal yang di luar kebiasaannya. Ia memutuskan untuk pulang lebih awal dengan alasan sakit kepala yang mendadak. Padahal, ia hanya ingin memastikan apakah mobil istrinya sudah kembali ke rumah. Namun, sesampainya di rumah, garasi itu masih kosong. Arini belum kembali.

​Langkah kaki Aris membawanya menuju lantai dua, berhenti tepat di depan kamar tamu. Tempat yang sekarang menjadi wilayah kekuasaan Arini. Ia ragu sejenak, tangannya menggantung di depan kenop pintu. Setelah menghela napas panjang untuk mengumpulkan keberanian yang aneh, Aris memutar kenop pintu itu.

​Kamar itu tertata sangat rapi, sangat mencerminkan kepribadian Arini yang teratur. Di atas meja kerja kecil di sudut kamar, ada beberapa tumpukan kertas dokumen hukum dan naskah buku dalam bahasa Inggris. Aris mengambil salah satunya; sebuah draf terjemahan novel romansa yang dipenuhi dengan coretan revisi di pinggirannya.

​"Penerjemah lepas?" gumam Aris lirih. Ia baru menyadari bahwa selama ini Arini memiliki bakat dan kemampuan intelektual yang tidak pernah ia beri ruang untuk tumbuh. Di sudut meja, ada sebuah catatan kecil yang ditulis tangan dengan rapi: "Tabungan Kemandirian - Bulan ke-1".

​Hati Aris mencelos saat membaca tulisan itu. Kalimat sederhana itu terasa lebih menyakitkan daripada makian mana pun yang pernah ia terima. Arini sedang mempersiapkan diri untuk pergi. Ia sedang membangun fondasi agar tidak perlu lagi bergantung pada satu sen pun uang Aris saat kontrak pernikahan mereka berakhir. Aris terduduk di tepi ranjang tamu yang dingin. Ia baru menyadari betapa jahatnya ia selama ini; ia terlalu sibuk menjaga hatinya dari bayang-bayang Clara, hingga ia lupa bahwa ada hati yang hidup di sampingnya yang sedang ia hancurkan secara perlahan setiap harinya.

​Malam harinya, Arini baru pulang saat jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Ia tampak sangat lelah, ada kantung mata tipis yang mulai terlihat, namun matanya berbinar—sebuah binar kehidupan yang sudah lama tidak Aris lihat. Arini membawa sebuah tas belanja kecil berisi bahan makanan organik. Ia terkejut melihat Aris sedang duduk di ruang tengah yang remang-remang, hanya diterangi cahaya televisi yang menampilkan berita tanpa suara.

​"Mas? Kamu sudah pulang?" tanya Arini tenang. Suaranya tetap formal, namun hampa, tanpa ada lagi nada hangat yang dulu selalu terselip di sana.

​"Dari mana saja kamu?" tanya Aris, mencoba menjaga suaranya agar tidak terdengar seperti sedang menginterogasi, meski ia gagal total.

​"Aku ada pertemuan dengan klien di kafe daerah Jakarta Selatan. Lalu mampir belanja sebentar," jawab Arini sambil terus berjalan menuju dapur. Ia tidak bertanya apakah Aris sudah makan, ia tidak menawarkan diri untuk membuatkan teh—hal yang biasanya menjadi ritual pertama yang ia lakukan saat Aris pulang.

​Aris bangkit dan mengikuti Arini ke dapur. Ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan istrinya yang sedang menata buah ke dalam keranjang dengan gerakan yang efisien. "Kamu tidak perlu bekerja, Arini. Aku sudah memberikan tunjangan yang lebih dari cukup untukmu dan keluargamu."

​Arini menghentikan gerakannya seketika. Ia berbalik dan menatap Aris dengan tatapan yang sangat jernih, seolah ia bisa melihat menembus segala kemunafikan suaminya. "Tunjangan itu adalah bagian dari kontrak untuk peranku sebagai istrimu di depan publik, Mas. Tapi pekerjaan ini... ini adalah soal harga diriku. Aku ingin memiliki sesuatu yang murni milikku sendiri, yang tidak bisa kamu ungkit-ungkit sebagai utang budi di masa depan."

​Aris merasa wajahnya seperti ditampar dengan keras. "Aku tidak bermaksud mengungkit—"

​"Tapi kamu melakukannya setiap hari dengan sikapmu, Mas," potong Arini lembut namun sangat tajam. "Sekarang, jika kamu tidak keberatan, aku ingin mandi dan segera istirahat. Hari ini cukup melelahkan untukku."

​Keesokan harinya, Aris melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan dalam hidupnya yang kaku. Ia memesan sebuah buket besar bunga lili putih—bunga kesukaan Arini yang pernah wanita itu sebutkan sekilas setahun lalu saat mereka masih dalam tahap perjodohan kaku. Ia juga membuat reservasi di sebuah restoran mewah yang sangat privat, berharap suasana di sana bisa mencairkan ketegangan di antara mereka.

​Saat sore hari tiba, Aris pulang lebih cepat dengan membawa bunga tersebut. Ia menemukan Arini sedang duduk di taman belakang, membaca buku dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya. Aris mendekat dengan langkah yang sangat ragu, seolah ia adalah seorang remaja yang sedang memulai kencan pertamanya.

​"Untukmu," ucap Aris singkat sambil menyodorkan buket bunga itu.

​Arini menatap bunga itu, lalu beralih menatap mata Aris. Tidak ada rona merah di pipinya, tidak ada binar bahagia yang meledak. Ia hanya menerima bunga itu dengan senyum tipis yang sopan, seperti menerima pemberian dari seorang kolega bisnis. "Terima kasih, Mas. Bagus sekali bunganya. Ada acara apa?"

​"Aku... aku ingin mengajakmu makan malam. Ada hal yang ingin aku bicarakan," ujar Aris, nada bicaranya terdengar sedikit memohon.

​Arini terdiam sejenak, menatap bunga di tangannya, lalu menggeleng pelan. "Maaf, Mas. Malam ini aku ada deadline terjemahan yang harus selesai besok pagi. Dan lagipula, bukankah kita sudah sepakat untuk saling memberi ruang? Kamu bisa pergi sendiri, atau mungkin mengajak... teman lamamu."

​Nama Clara tidak disebutkan secara gamblang, namun kehadirannya terasa begitu nyata di antara mereka, seperti kabut tebal yang tak kunjung hilang. Aris merasa buket bunga itu mendadak jadi seberat beton. Ia melihat Arini kembali fokus pada bukunya, seolah kehadiran Aris di sana tidak lebih penting dari selembar kertas yang sedang ia baca. Aris menyadari bahwa meruntuhkan dinding yang dibangun oleh rasa sakit jauh lebih sulit daripada sekadar membangun dinding karena rasa benci.

​Malam itu, Aris tidak pergi ke restoran. Ia tetap di rumah, duduk sendirian di meja makan yang besar dan sunyi. Ia mendengar suara ketikan yang ritmis dari arah kamar tamu di lantai atas. Suara itu terus terdengar, menembus hening malam hingga larut.

​Sekitar pukul satu dini hari, suara ketikan itu akhirnya berhenti. Aris yang tidak bisa memejamkan mata memutuskan untuk membuatkan secangkir cokelat panas. Ia membawanya ke depan kamar tamu dan mengetuk pintu dengan pelan. Arini membukanya dengan wajah yang sangat mengantuk, rambutnya sedikit berantakan, membuat penampilannya terlihat lebih manusiawi di mata Aris.

​"Ini... aku pikir kamu butuh sesuatu yang hangat setelah bekerja keras," ucap Aris sambil menyerahkan cangkir itu.

​Arini menatap cangkir tersebut, lalu beralih ke mata Aris. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Arini melihat ada kerentanan yang nyata di mata suaminya. "Terima kasih, Mas," ucapnya pelan.

​Saat Arini hendak mengambil cangkir itu, jemari mereka bersentuhan. Kali ini, Aris tidak melepaskan tangannya. Ia justru menggenggam jemari Arini dengan lembut dan hangat. "Arini, aku... aku minta maaf. Tentang malam itu, tentang semua sikapku yang keterlaluan. Aku tidak ingin kita menjadi orang asing di rumah kita sendiri."

​Arini menarik tangannya secara perlahan namun pasti. Ia mengambil cangkir itu, namun tetap berdiri kokoh di balik ambang pintu, tidak mengizinkan Aris masuk lebih jauh ke ruang pribadinya. "Maaf tidak bisa memperbaiki semuanya dalam satu malam, Mas. Luka itu masih ada, dan rasanya masih sangat nyata. Aku masih perlu waktu untuk percaya bahwa ini bukan sekadar cara barumu untuk membuatku tetap patuh dalam sandiwara ini."

​Arini menutup pintu itu dengan perlahan. Aris berdiri terpaku di lorong yang gelap dan sunyi. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa dalam pernikahan ini, dialah yang sebenarnya telah gagal secara telak—bukan karena kontrak bisnis, bukan karena campur tangan Ibu Sofia, dan bukan karena bayangan Clara. Tetapi karena ia terlalu terlambat menyadari bahwa rumah yang sesungguhnya sedang berjalan menjauh darinya, dan ia tidak tahu apakah ia masih memiliki kesempatan untuk mengejarnya kembali.

1
deepey
kasihan aris
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!