NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. The Smiling Knife

Jamuan Sore Kekaisaran

Jamuan sore itu seharusnya ringan.

Anggur disajikan, musik mengalun, tawa terdengar—namun di balik semua itu, udara terasa menekan. Para bangsawan duduk dengan jarak yang disengaja, seolah ada garis tak kasatmata yang memisahkan “yang memilih diam” dan “yang menunggu celah”.

Anthenia masuk bersama Duke Blackwood.

Beberapa kepala menoleh. Beberapa senyum dipaksakan.

Rumor telah bekerja.

Ia duduk dengan tenang, punggung tegak, ekspresi netral. Gaun gelapnya sederhana—tanpa perhiasan mencolok—namun justru itu membuatnya tampak tak tersentuh.

Beatrice Miller memecah keheningan.

“Lady Anthenia,” ucapnya manis, terlalu manis. “Aku mendengar kau sering berada di halaman latihan akhir-akhir ini.”

Anthenia menoleh perlahan. “Benar.”

“Menarik,” Beatrice melanjutkan, “mengingat calon permaisuri seharusnya lebih… anggun daripada keras.”

Beberapa bangsawan terkikik pelan.

Duke Blackwood mengencangkan rahangnya.

Namun sebelum siapa pun berbicara—

Anthenia tersenyum.

“Anggun,” katanya lembut,

“adalah tahu kapan harus duduk diam.

Keras adalah tahu kapan harus berdiri.”

Ruangan hening.

Beatrice memerah. “Aku hanya khawatir… pendekatan seperti itu bisa menimbulkan kesalahpahaman. Orang-orang bisa berpikir Lady Blackwood terlalu—”

“Berbahaya?” potong Anthenia tenang.

Beatrice terdiam.

Anthenia menyesap anggurnya. “Jika seorang wanita berlatih pedang disebut berbahaya, lalu bagaimana kita menyebut Panglima Perang yang memimpin pasukan?”

Semua mata—secara refleks—beralih ke William.

Putra Mahkota berdiri dari kursinya.

“Sebut saja,” katanya dingin,

“bertanggung jawab.”

Keheningan berubah berat.

William melangkah mendekat. “Araluen tidak runtuh karena wanita yang berpikir. Araluen runtuh karena orang-orang yang meremehkan mereka.”

Alistair Valerius mengangkat alis. “Kata-kata yang berani, Kakak.”

William menoleh. “Kata-kata yang perlu.”

Tak lama kemudian, Kaisar Whiston memasuki aula.

Semua berdiri.

Tatapan Kaisar tajam, menyapu ruangan, berhenti sejenak pada Anthenia—lalu pada selir-selirnya.

“Aku mendengar,” ucapnya pelan namun jelas,

“ada kegelisahan mengenai calon permaisuri.”

Beberapa wajah pucat.

“Aku ingin memperjelas satu hal,” lanjut Kaisar.

“Lamaran itu belum disahkan. Namun siapa pun yang menyebarkan fitnah atas nama kekhawatiran—”

Ia berhenti. “—sedang menantang keputusan kekaisaran.”

Suasana membeku.

Heilen Valerius tersenyum tipis. “Yang Mulia, tentu kami hanya—”

“Kau terlalu sering hanya,” potong Kaisar dingin.

Untuk pertama kalinya, Heilen terdiam tanpa balasan.

Malam turun.

Anthenia berdiri di balkon sendirian, angin malam menyapu rambutnya. Langkah pelan mendekat.

“Kau memutar keadaan dengan elegan,” kata William.

“Aku tidak menyerang,” jawab Anthenia. “Aku hanya memantulkan.”

William menatapnya. “Itu lebih berbahaya.”

Anthenia tersenyum tipis. “Aku belajar cepat.”

William terdiam sejenak. “Aku akan jujur. Setelah malam ini, mereka tidak akan berhenti.”

“Aku juga jujur,” balas Anthenia. “Aku tidak berniat meminta mereka berhenti.”

Keheningan di antara mereka terasa… sejajar.

“Jika aku menerima lamaran itu kelak,” lanjut Anthenia pelan,

“itu bukan karena tahta.”

William menatapnya. “Lalu karena apa?”

Anthenia menoleh, menatap lampu-lampu Araluen.

“Karena aku memilih berdiri di tengah medan, bukan di pinggirnya.”

William tersenyum—bukan senyum panglima, tapi seorang pria yang akhirnya melihat sekutu sejati.

Di kejauhan, Heilen Valerius menutup tirai balkon pribadinya.

“Dia bukan pion,” gumamnya.

“Dia pemain.”

Dan itu membuat permainan ini…

jauh lebih berbahaya.

..

Istana Araluen, Malam Menjelang Fajar

Malam semakin larut ketika lonceng kecil di menara timur berdentang pelan—tanda pergantian penjagaan.

Anthenia berdiri di depan jendela kamarnya, menatap halaman dalam Araluen yang mulai sepi. Obor-obor masih menyala, namun suasana telah berubah. Tidak lagi hiruk-pikuk pesta, melainkan ketenangan yang mengandung jarak.

Seorang pelayan mengetuk pintu dengan sopan.

“Lady Anthenia,” ucapnya lirih, “izin menetap Anda di istana… berakhir besok pagi. Kereta Blackwood telah disiapkan.”

Anthenia mengangguk. “Terima kasih.”

Pintu tertutup kembali.

Ia menghela napas perlahan.

Waktu berlalu lebih cepat dari yang kuduga.

Selama beberapa hari di Araluen, ia telah menjadi pusat bisikan, fitnah, bahkan keputusan tahta. Dan kini—ia akan pergi, setidaknya untuk sementara.

Duke Blackwood menemuinya tak lama kemudian.

“Besok kita pulang,” katanya singkat.

“Aku tahu.”

Kaelen memandang putrinya lama. “Kau meninggalkan istana dalam keadaan berbeda dari saat kau masuk.”

Anthenia tersenyum samar. “Dan istana juga meninggalkanku dengan lebih banyak musuh.”

Kaelen mendengus pendek. “Bagus. Artinya kau diperhitungkan.”

Ia menepuk bahu Anthenia. “Di Blackwood, kau aman.”

Anthenia menatap lantai marmer. “Aman… relatif.”

Di koridor lain, Nelia berlari kecil menghampiri Anthenia, hampir menabraknya.

“Kak Anthenia! Aku dengar Kakak pulang besok?”

“Ya,” jawab Anthenia lembut.

Wajah Nelia langsung muram. “Araluen akan sepi.”

Anthenia berlutut agar sejajar dengan tinggi Nelia. “Ini bukan perpisahan.”

Nelia menggenggam tangannya. “Kak Liam bilang… jarak membuat orang jujur.”

Anthenia tersenyum kecil. “Kak Liam bijak.”

Nelia tertawa kecil, lalu memeluknya singkat.

Saat fajar hampir menyingsing, William berdiri di ujung koridor yang menghadap ke gerbang utama. Anthenia menghampirinya.

“Besok aku pergi,” katanya tanpa basa-basi.

“Aku tahu,” jawab William. “Kaisar yang memutuskan.”

Anthenia mengangguk. “Atau yang menyetujui.”

William tidak menyangkal.

“Ini bukan penarikan,” lanjut William. “Ini jeda.”

“Dalam perang,” kata Anthenia, “jeda sering lebih berbahaya daripada bentrokan.”

William menatapnya dalam-dalam. “Di Blackwood, kau masih berada di wilayahku.”

Anthenia mengangkat alis. “Ancaman atau janji?”

William tersenyum tipis. “Perlindungan.”

Sejenak mereka terdiam.

“Aku akan memikirkan lamaran itu,” kata Anthenia akhirnya. “Tanpa tekanan.”

William mengangguk. “Aku menunggu. Bukan sebagai Putra Mahkota—tapi sebagai pria.”

Anthenia menoleh, langkahnya menjauh. “Jangan menunggu terlalu lama.”

Dari balik pilar batu, Alistair Valerius mengamati kepergian itu.

“Dia pergi,” gumamnya.

Heilen berdiri di sisinya, senyum tipis terukir. “Justru sekarang permainan dimulai.”

“Di wilayah Blackwood?”

“Di mana pun dia berada,” jawab Heilen dingin. “Bayangan selalu mengikuti cahaya.”

Fajar menyingsing perlahan.

Dan dengan itu—

waktu Anthenia di Araluen berakhir.

Namun dampaknya

baru saja dimulai.

Gerbang Utama Istana Araluen, Pagi Dingin

Kabut pagi menggantung rendah ketika kereta berlogo Blackwood berhenti di depan gerbang utama Araluen.

Roda kereta hitam berukir emas tampak kontras dengan batu istana yang pucat. Para penjaga berdiri tegak, tombak mereka berkilau diterpa cahaya fajar.

Anthenia melangkah keluar dari istana.

Tidak ada gaun pesta.

Tidak ada perhiasan.

Hanya mantel gelap Blackwood dan sikap tenang yang membuat banyak bangsawan—yang sengaja datang “mengantar”—terdiam.

Duke Kaelen Blackwood berdiri di samping kereta, ekspresinya keras, tubuhnya seperti tembok.

“Kita berangkat,” katanya singkat.

Namun sebelum Anthenia naik—

langkah sepatu logam terdengar.

William muncul dari balik gerbang dalam, mengenakan mantel panglima, pedang tergantung di pinggang. Kehadirannya membuat para bangsawan spontan menunduk.

Ia berhenti beberapa langkah dari Anthenia.

“Perjalanan ke Blackwood memakan waktu tiga hari,” katanya datar. “Jalan utara aman. Jalan barat… tidak.”

Anthenia menatapnya. “Aku tidak berniat lewat jalan barat.”

“Bagus.”

Keheningan jatuh—bukan canggung, tapi penuh makna.

“Kau meninggalkan Araluen tanpa jawaban,” lanjut William.

Anthenia mengangguk. “Jawaban yang dipaksa hanya melahirkan penyesalan.”

William menatapnya lama. “Jika kau kembali—”

“—aku akan kembali sebagai pilihanku sendiri,” potong Anthenia tenang.

Untuk sesaat, senyum kecil terbit di wajah William. “Aku akan menunggu itu.”

Dari kejauhan, Nelia berlari kecil, napasnya tersengal.

“Kak Anthenia!”

Ia berhenti tepat di depan Anthenia, lalu menyelipkan pita kecil berwarna biru ke tangannya. “Supaya Kakak ingat Araluen.”

Anthenia berlutut dan menerima pita itu. “Aku tidak akan lupa.”

Nelia memeluknya erat.

Dari balkon atas, Kaisar Whiston mengamati tanpa ekspresi.

Di sampingnya, Permaisuri Lunara berbicara pelan.

“Dia tidak tunduk.”

“Tidak,” jawab Kaisar. “Dan itu sebabnya dia berbahaya.”

“Dan juga,” Lunara menatap Anthenia yang hendak naik kereta, “itulah sebabnya dia pantas berdiri di samping Putra Mahkota.”

Kaisar terdiam.

Kereta mulai bergerak.

Roda berdecit pelan, perlahan meninggalkan Araluen.

Anthenia menoleh satu kali—bukan untuk istana, bukan untuk tahta—melainkan ke medan yang lebih luas.

Aku datang sebagai tamu, pikirnya.

Aku pergi sebagai ancaman.

Di balik tirai kereta, Heilen Valerius mengepalkan tangannya.

“Dia lolos,” gumam Alistair.

Heilen tersenyum dingin. “Tidak. Dia hanya berpindah papan.”

Kereta Blackwood menghilang di balik kabut.

Dan Araluen akhirnya menyadari—

bahwa ketenangan yang tersisa

hanyalah jeda

sebelum badai yang lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!