Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG UNTUK MENANG
Jakarta menyambut kepulangan Rangga dengan hawa gerah yang khas, sebuah campuran antara aroma aspal panas, asap knalpot yang menyesakkan, dan sisa hujan semalam yang menguap dari trotoar. Dari balik kemudi SUV hitamnya yang mengkilap, Rangga menatap jalanan Sudirman yang padat merayap dengan tatapan yang sangat tenang sekali. AC mobil berdesis halus, menyemburkan hawa dingin yang membawa aroma parfum kopi premium, kontras sekali dengan udara luar yang pengap dan kotor.
Di kursi samping, Syakira tampak sibuk membenarkan letak bantal kecil di pinggangnya, mencoba mencari posisi nyaman karena perutnya yang mulai membuncit sering kali terasa kaku kalau duduk terlalu lama. Sementara itu, di kursi belakang, Rinjani menempelkan hidungnya ke kaca jendela yang gelap. Matanya yang bulat berbinar menatap deretan gedung pencakar langit yang seolah-olah saling berlomba ingin mencakar langit biru yang tertutup polusi.
"Mas, Jakarta kalau malam ternyata kelap-kelip begini ya," bisik Syakira sambil menoleh ke arah Rangga.
Rangga cuma tersenyum tipis, tangannya tetap kokoh mencengkeram setir. "Dulu Mas pikir kota ini monster, Dek. Tempat di mana orang-orang kayak Mas cuma bakal dikunyah sampai habis lalu dilepehkan ke jalanan. Tapi sekarang... rasanya kok cuma kayak tempat mampir sebentar saja buat kerja."
Mobil mereka meluncur masuk ke area drop-off sebuah hotel bintang lima di jantung kawasan elit Jakarta. Seketika, dua orang petugas hotel berseragam rapi menghampiri, membukakan pintu dengan gerakan yang sangat sopan sekali. Rangga melangkah keluar, menghirup aroma lobi yang mewah—perpaduan antara wangi bunga sedap malam segar dan aroma kayu cendana yang mahal. Begitu mereka masuk ke kamar Presidential Suite di lantai empat puluh dua, Rinjani langsung berlari menuju jendela kaca raksasa yang menyuguhkan panorama kota dari ketinggian.
Rangga meletakkan kunci mobil di atas meja marmer, lalu berjalan menghampiri putrinya. Ia menatap ke bawah, ke arah jalanan yang dipenuhi lampu kendaraan yang merayap. Pikirannya seketika melayang ke masa beberapa tahun lalu. Ia teringat bau apek dari kosan sempit di gang becek daerah Jakarta Timur, tempat ia dan Rinjani dulu meringkuk di atas kasur tipis yang bau keringat karena tidak mampu beli kipas angin. Dulu, buat makan nasi bungkus satu dibagi dua saja Rangga harus menghitung sisa koin di saku celananya yang sudah bolong. Sekarang, ia berdiri di atas sini, di dalam kemewahan yang dulu cuma jadi khayalan sebelum tidur.
Sore harinya, saat Syakira dan Rinjani sedang asyik menikmati fasilitas kolam renang hotel, Rangga memutuskan buat menyetir sendirian berkeliling kota. Ia membiarkan instingnya menuntun ke sebuah kawasan di Jakarta Selatan yang sangat ia kenali jalannya. Mobilnya melambat saat melewati sebuah kompleks apartemen kelas menengah yang cat dindingnya sudah mulai mengelupas di beberapa sudut.
Itu adalah tempat di mana Laras dulu tinggal, tempat di mana koper pecahnya dilempar keluar dari balkon seperti barang rongsokan. Rangga menurunkan kaca mobilnya sedikit, menghirup udara Jakarta yang mulai panas dan berapi-api. Ia menatap balkon lantai tiga gedung itu. Bayangan dirinya yang basah kuyup di bawah guyuran hujan badai, sambil memeluk tas baju yang sudah robek resletingnya, sempat melintas sekilas. Ia ingat betapa perih hatinya saat Laras berteriak dari atas sana, mencaci-makinya sebagai lelaki tidak berguna di depan tetangga-tetangga yang menonton dengan tatapan meremehkan.
Tapi anehnya, kali ini tidak ada rasa sakit yang menusuk. Tidak ada dendam yang membakar dadanya. Kosong. Rangga menyadari sesuatu yang sangat penting sekali. Balas dendam terbaik ternyata bukan dengan membalas caci maki. Balas dendam terbaik adalah hidup begitu sukses, begitu mapan, dan begitu bahagia sampai-sampai masa lalu itu tidak punya celah lagi buat menyentuh perasaan kita. Ia merasa sudah menang seutuhnya.
Ia melajukan kembali mobilnya, melewati jalanan yang dulu sering ia lalui dengan berjalan kaki. Setiap sudut jalan itu seolah memutar kembali film pendek tentang kemiskinannya. Ia melewati sebuah halte bus yang atapnya bocor. Di sana, dulu ia pernah tidur semalaman sambil memeluk Rinjani karena tidak punya ongkos pulang ke kosan. Bau bensin dan debu jalanan itu seolah masuk kembali ke paru-parunya, mengingatkan betapa rendahnya ia dulu di mata dunia.
"Mas... sudah pulang?" tanya Syakira saat Rangga kembali ke kamar hotel. Istrinya itu sedang mengeringkan rambut Rinjani dengan handuk lembut.
Rangga tidak menjawab. Ia berjalan menuju jendela kaca raksasa itu lagi, menatap ke arah pemukiman padat yang berhimpitan di balik gedung-gedung tinggi. Seketika, memorinya ditarik paksa ke suatu malam yang paling jahanam dalam hidupnya. Malam saat ia memeluk Rinjani yang sedang demam tinggi di emperan toko yang tutup di daerah ini.
Ia ingat betul rasa lapar yang melilit perutnya sampai perih sekali, sementara di kantongnya cuma tersisa uang dua ribu rupiah. Ia harus memilih: beli roti buat dirinya yang sudah tidak makan seharian atau beli air mineral dan parasetamol buat Rinjani yang menggigil. Ia memilih anaknya, tentu saja. Ia ingat rasa dingin lantai semen yang keras saat ia menjadikan lengannya sebagai bantal buat Rinjani. Ia ingat aroma nasi goreng dari gerobak yang lewat, aroma yang saat itu terasa sangat menyiksa sekali karena ia tidak mampu membelinya.
Dan yang paling pedih, ia ingat tatapan orang-orang berpakaian rapi yang keluar dari mobil mewah lalu lewat di depannya dengan pandangan jijik, seolah-olah ia adalah kotoran yang mengganggu pemandangan kota. Tatapan yang membuat harga dirinya hancur berkeping-keping.
"Mas...?" Syakira menghampiri, memegang pundak Rangga yang mendadak kaku.
Rangga menoleh, matanya berkaca-kaca. Ia meraih tangan Syakira, menempelkan telapak tangan istrinya ke pipinya yang hangat. "Dulu... di bawah sana, Mas pernah merasa Tuhan nggak adil, Dek. Mas pernah merasa dunia ini cuma diciptakan buat orang kaya. Mas pernah benci sekali sama gedung-gedung tinggi ini karena mereka seolah mengejek kemiskinan Mas."
Ia menunjuk ke arah lampu merah di kejauhan yang sangat macet. "Di sana, Mas pernah mengemis sisa makanan dari restoran cepat saji cuma supaya Rinjani nggak pingsan karena lapar. Rasanya sakit sekali kalau diingat, Dek. Sakit yang nggak akan pernah hilang bekasnya meskipun sekarang Mas sudah punya segalanya."
Syakira memeluk Rangga dari belakang, memberikan kehangatan yang selama ini Rangga cari di tengah dinginnya Jakarta. "Tapi sekarang Mas di sini. Mas datang bukan buat jadi sampah lagi, tapi buat jadi berkah bagi orang-orang yang ada di bawah sana. Mas bukan lagi kuli panggul yang diusir, tapi Pak Rangga yang punya ratusan karyawan."
Rangga terdiam, air mata syukur akhirnya jatuh juga. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Tangan yang dulu gemetar saat memegang sisa makanan, kini akan memotong pita pembukaan restoran elit besok pagi. Ia menarik napas dalam, memantapkan hatinya.
"Iya, Dek. Mas nggak boleh cuma menang buat diri sendiri," bisik Rangga mantap. "Mas mau setiap angkringan kita di Jakarta nanti punya tempat khusus buat orang-orang yang kelaparan kayak Mas dulu. Biar nggak ada lagi Ayah yang harus menatap anaknya lapar di kota ini."
Seketika, terdengar ketukan di pintu kamar yang cukup keras. Galih, asisten setianya, masuk dengan wajah yang agak pucat.
"Pak Rangga, maaf mengganggu waktunya," ujar Galih dengan suara sedikit bergetar. "Ada masalah di lokasi cabang elit kita di Thamrin. Ada sekelompok orang yang mengaku dari organisasi lingkungan sekitar yang minta 'dana jatah' dalam jumlah besar, kalau tidak, mereka mengancam akan membongkar tenda peresmian besok pagi."
Rangga mengernyitkan dahi. Seketika, aura kuli panggulnya yang tangguh muncul kembali. Ia tidak takut. Jakarta memang keras, tapi kali ini ia punya kekuatan buat melawan balik.