NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Dia Mencuriku dari Putranya Sendiri

​Kediaman keluarga Santoso berdiri megah di bawah naungan langit malam yang sunyi.

Setelah kembali ke kamarnya yang luas dan berganti pakaian dengan piyama sutra yang nyaman, Kirana tidak langsung beristirahat.

Sebaliknya, ia berlari cepat menyusuri koridor rumah yang hening, menuju satu-satunya tempat perlindungan yang terasa paling aman malam ini: kamar Kael.

Pintu kamar si kecil terbuka perlahan. Kirana melongokkan kepala, menatap sosok mungil yang meringkuk di balik selimut.

"Sayangku, Tante agak takut gelap malam ini," bisiknya dengan nada manja yang dibuat-buat, meski hatinya memang gelisah. "Bolehkah aku tidur bersamamu?"

Kael—si Kelinci Kecil yang biasanya sulit didekati orang asing—langsung berbinar. Tanpa ragu, ia menggeser tubuhnya ke pinggir, memberi ruang luas di tempat tidur empuknya.

Kirana tersenyum lega. Ia berbaring di samping bocah itu dan menarik selimut menutupi mereka berdua.

"Terima kasih, sayang... selamat malam, anak ganteng."

'Jimat keberuntungan Tante, jagalah aku malam ini…' batinnya sambil memeluk tubuh hangat Kael.

Hari ini terlalu menegangkan bagi mentalnya. Dari insiden di lokasi syuting hingga interaksinya dengan Bryan, jantungnya masih berdebar setiap kali memejamkan mata.

Ia merasakan firasat kuat. Setelah hari ini, penghalang samar yang selama ini ia bangun antara dirinya dan Bryan Santoso mulai retak.

Penghalang itu seolah bisa hancur hanya dengan satu sentuhan ringan.

Jika itu terjadi, ia tak tahu bagaimana harus menghadapinya. Ia takut pada perasaannya sendiri—dan lebih takut lagi pada intensitas perasaan pria itu.

Untungnya, Kael di pelukannya benar-benar penolong tidur yang luar biasa. Aroma bayi yang menenangkan dan napas teratur bocah itu membuat ketegangannya perlahan memudar.

Ia mendengus pelan, bergulat dengan pikirannya selama hampir setengah jam sebelum akhirnya terlelap.

Sementara Kirana memiliki Kael sebagai pelindung tidurnya, ada satu orang lain di rumah itu yang sama sekali tak bisa memejamkan mata.

Di tengah malam larut, ruang belajar utama terasa berat. Asap tebal menyerupai awan memenuhi ruangan, berasal dari cerutu mahal yang menyala di jemari sang pemilik rumah.

Bryan duduk di balik meja kerjanya, menatap layar monitor dengan sorot mata dingin.

"Heh, pantas saja Raze tidak bisa menemukan identitas dua pengirim hadiah itu," gumamnya pelan.

"Ternyata salah satunya adalah Yono."

Raja Peri Jahat…

Baru sekarang ia ingat. Di grup obrolan keluarga Santoso, keponakannya—Yono Barsa—memang memakai nama panggilan aneh itu. Bryan selama ini tak pernah peduli urusan anak muda, jadi ia tak menyadari hubungan masa lalu Yono dengan Kirana.

Namun yang lebih mengganggunya adalah pria berinisial Y.S.

Agen intelijen pribadinya, Raze, belum memberi petunjuk apa pun. Ini pertama kalinya laporan Raze menggantung selama ini. Biasanya paling lama tiga hari semua data sudah tersaji di mejanya.

Bryan mematikan cerutu di asbak kristal. Ia berdiri, merapikan jubah tidurnya, lalu melangkah keluar dengan tenang namun berwibawa.

Ia menuju kamar tamu tempat Kirana seharusnya tidur. Pintu didorong perlahan—dan yang ia temukan hanyalah ranjang rapi tanpa penghuni.

"Hm?"

Alisnya terangkat tipis. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik menuju kamar di sebelah.

Seperti dugaan, saat pintu kamar Kael terbuka sedikit, ia melihat Kirana di sana—tertidur lelap sambil memeluk putranya erat.

"Gadis pintar. Tapi apa kau benar-benar yakin semuanya akan baik-baik saja hanya dengan bersembunyi di sini?" bisiknya nyaris tak terdengar.

Bryan mendekat. Dengan gerakan terlatih, ia melepaskan tangan kecil Kael yang mencengkeram pakaian tidur Kirana.

Agar anaknya tak terbangun, ia mengambil boneka besar dan menyelipkannya ke pelukan Kael sebagai pengganti.

Setelah pengalihan itu berhasil, Bryan menyelipkan lengannya di bawah tubuh Kirana dan mengangkatnya dengan mudah. Gadis itu hanya bergumam lirih dalam tidur.

Kael sempat mengernyit, tangannya bergerak mencari kehangatan yang hilang. Namun ia segera memeluk boneka itu dan kembali tenang.

Bryan membawa Kirana keluar, bukan ke kamar tamu, melainkan ke kamar utamanya sendiri.

Ia membaringkan gadis itu di tengah ranjang luas, lalu duduk di tepi. Dengan jemari yang terasa kasar namun hati-hati, ia membelai rambut Kirana, menyentuh sudut matanya, lalu menelusuri pipinya.

Saat itu, sorot matanya menyerupai binatang buas yang mengamati mangsa. Ia tahu bisa memilikinya kapan saja—namun memilih menahan diri, menikmati kedekatan ini lebih lama.

Napasnya merendah. Ia menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir Kirana.

Ciuman itu perlahan berubah lebih dalam, penuh tuntutan yang tertahan.

"Hmmpp..."

Kirana mengeluarkan lenguhan kecil dalam tidur, seolah terganggu.

Rasa bibir itu persis seperti yang ia bayangkan—manis dan membuat candu.

Ia menggeser ciumannya ke pipi, berlama-lama di telinga hingga bulu kuduk gadis itu meremang, lalu turun ke leher jenjangnya sebelum berhenti di tulang selangka yang sedikit terekspos.

Selama 35 tahun hidupnya, Bryan Santoso belum pernah benar-benar jatuh cinta.

Ia pria logika dan angka. Baginya, cinta adalah variabel tak terprediksi—dan mungkin hal paling tak berguna di dunia.

"Apakah ada yang salah dengan hidup tanpa nafsu atau cinta?" gumamnya lirih, teringat prinsip lamanya.

Ia tak pernah menyangka suatu hari perasaan itu justru menyesakkan dadanya. Gadis yang delapan tahun lebih muda darinya ini telah mengubahnya menjadi seseorang yang asing bagi dirinya sendiri—seseorang yang punya kelemahan, yang bisa cemburu dan posesif tanpa alasan logis.

Sejak Kirana hadir, hidupnya tak lagi sekadar grafik dan data dingin. Ada kehangatan, harapan, dan rasa lengkap yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

Namun bersamaan dengan itu, sisi gelapnya ikut terbangun. Ia jadi mudah marah, impulsif, dan dipenuhi dorongan yang sulit dikendalikan.

Mengingat pertemuannya dengan Yono sore tadi, amarahnya kembali naik. Fakta bahwa pria itu punya sejarah dengan Kirana membuat darahnya mendidih.

Tanpa sadar, saat mencium lagi, tekanannya bertambah. Giginya sedikit menggigit bibir bawah gadis itu—hingga detik berikutnya ia merasakan rasa logam hangat di antara bibir mereka.

Kirana mengerutkan alis dalam tidur. Bryan langsung berhenti dan menjauh sedikit.

Ia melihat gadis itu menjilat bibirnya pelan, seolah menghilangkan rasa pahit, lalu kembali terlelap seperti sedang bermimpi mencicipi sesuatu yang tak ia sukai.

'Dia benar-benar tak berperasaan…' batin Bryan.

'Apa bibirku terasa pahit? Apa rasanya buruk baginya? Apa napasku bau? Padahal aku sudah sikat gigi.'

Pikiran konyol itu melintas cepat di kepala sang CEO. Ia menyentuh bibir merah yang kini sedikit bengkak dengan ujung jarinya, hasrat masih menyala di matanya.

Sesaat ia ingin mengabaikan semua rencana dan konsekuensi—hanya menciumnya terus sampai gadis itu bangun dan melihatnya.

Namun akhirnya ia menarik napas panjang, lalu berbaring di samping Kirana.

Malam pun berlalu dalam sunyi, penuh ketegangan yang tak terucapkan.

​Kirana tidur sangat nyenyak hingga keesokan paginya. Ia terbangun alami saat cahaya matahari mengintip dari celah gorden, tubuhnya terasa ringan seolah semalaman berbaring di atas awan paling empuk.

Namun ketika kesadarannya mulai terkumpul, ia mengernyit. Sebagian lidah dan bibirnya terasa perih.

"Apa aku menggigit lidah sendiri waktu tidur? Atau mimpi makan sesuatu yang keras..." gumamnya serak, khas suara orang baru bangun.

Ia mencoba duduk—lalu membeku.

Matanya membelalak melihat interior kamar yang asing. Ini bukan kamar Kael. Jelas juga bukan kamar tamu miliknya. Ruangan ini didominasi warna gelap elegan, maskulin, dan sangat mewah.

"Kenapa aku ada di kamar utama? Kamar si Iblis Agung itu?" suaranya naik panik. "Jangan bilang aku sleepwalking lalu nyasar ke sini?"

Ingatan terakhirnya jelas: ia memeluk Kael di kamar anak itu. Jadi kenapa bangun-bangun ia sudah berada di "sarang" Bryan?

"Haaa, Kirana! Kalau pun sleepwalking, kenapa harus ke sini? Kenapa tidak ke kamarmu sendiri saja, bodoh!" Ia memukul pelan kepalanya sendiri.

Ia menoleh ke samping. Separuh ranjang kosong, seprai masih kusut—tanda seseorang baru saja bangun. Dari kamar mandi terdengar suara shower.

Bryan ada di sana.

Jantung Kirana langsung berdegup cepat. Ia harus kabur sebelum pria itu keluar. Kalau mereka bertemu sekarang, situasinya bakal terlalu canggung untuk dijelaskan.

Tanpa pikir panjang, ia menyingkirkan selimut. Sebelum turun dari ranjang, ia memeriksa pakaiannya.

Syukurlah. Piyama sutranya masih rapi. Tidak ada kancing lepas, tidak ada tanda kekacauan.

"Berarti tidak terjadi apa-apa tadi malam, kan?" gumamnya lega. Ia yakin kalau sesuatu terjadi, tubuhnya pasti akan terasa berbeda.

Ia pun berjingkat cepat keluar kamar, lalu berlari kembali ke kamarnya sendiri untuk bersiap seolah tak ada kejadian apa pun.

Beberapa puluh menit kemudian, waktu sarapan tiba.

Di ruang makan, suasana tampak normal—terlalu normal, seakan peristiwa "penculikan" semalam tidak pernah ada.

Bryan sudah duduk rapi di kursinya, mengenakan setelan bisnis mahal yang disetrika sempurna. Sambil menyeruput kopi hitam, ia membaca koran bisnis dengan ekspresi dingin khasnya.

Di era digital seperti sekarang, kebiasaan membaca koran fisik mungkin terasa kuno. Namun bagi Bryan, kertas cetak tetap sumber data yang menenangkan pikirannya.

Ia sama sekali tidak menyinggung soal Kirana yang bangun di kamarnya pagi tadi.

Seolah-olah justru dialah yang akan terkejut kalau ada orang asing masuk ke kamar pribadinya.

Padahal kenyataannya…

Dialah pelakunya.

Kirana diam-diam mengamatinya, lalu menghela napas lega.

'Mungkin aku cuma mimpi soal ciuman itu…' pikirnya.

Ia menyimpulkan Bryan mungkin memang tertarik padanya—tapi jelas tidak sampai cemburu, apalagi pada keponakannya sendiri.

Sayangnya, ia keliru besar.

Ekspresi Bryan memang tenang. Namun si Kelinci Kecil di antara mereka tampak sangat tidak normal.

Kael murung. Wajah bulatnya yang biasanya cerah kini cemberut total, seperti anak kecil yang mainannya dirampas paksa.

Tadi pagi saat bangun, ia hanya menemukan boneka beruang besar di pelukannya—tanpa Tante Kirana.

Lebih parah lagi, ia sempat melihat Kirana keluar dari kamar ayahnya dengan wajah panik.

Itu cukup untuk membuatnya menyimpulkan satu hal:

Papanya pencuri.

Kirana yang tak tahu apa-apa menyodorkan pangsit sup kesukaannya.

"Sayang, ada apa? Kok cemberut begitu? Kamu tidak bahagia pagi ini?"

Kael menatap ayahnya tajam. Tatapannya penuh tuduhan.

Namun ia ingat Kirana paling suka melihatnya tersenyum. Jadi ia memaksa sudut bibirnya terangkat.

'Aku marah sama Papa… tapi aku harus tetap senyum di depan Tante Kirana!'

Melihat senyum itu, Kirana langsung tenang. Ia pun mempercepat sarapannya.

"Kalau begitu aku berangkat dulu ya. Selamat menikmati sisa sarapan!"

Hari ini penting. Pemeran utama pria kedua akan datang ke lokasi syuting untuk pertama kalinya. Ia ingin tiba lebih awal agar bisa membangun chemistry sejak awal.

Saat ia hendak mengambil tas, ujung bajunya tiba-tiba ditarik.

Kael berdiri di sampingnya, mencengkeram kain pakaiannya erat.

Kirana menunduk bingung. "Ada apa, sayang? Ada yang tertinggal?"

Kael tidak melepas pegangan. Matanya mulai berkaca-kaca.

Kirana menggaruk kepala. Ia benar-benar tidak tahu kesalahannya.

Akhirnya ia melirik Bryan minta bantuan.

Bryan menatap putranya sekilas, lalu berkata datar, "Kau lupa memberinya ciuman perpisahan."

"Oh astaga! Maafkan Tante!" Kirana menepuk dahinya.

Ia segera berlutut, memeluk Kael, lalu mencium kedua pipinya.

"Sekali lagi maaf ya, sayang. Tante berangkat dulu!"

Kael melambaikan tangan kecilnya diam-diam.

Begitu pintu depan tertutup dan Kirana pergi…

Wajahnya berubah.

Ia berbalik menatap ayahnya dengan ekspresi murka kecil.

Tatapannya jelas berkata: Kau pencuri.

Bryan menyesap kopi dengan santai. "Maaf, Kael. Papa tidak mengerti ekspresimu. Kalau ada yang ingin kau katakan, bicaralah. Atau tulis."

Kael langsung meraih tablet. Dengan gerakan cepat dan kasar, ia mengetik:

"THIEF!!!"

Bryan melirik layar. "Pencuri? Maksudmu tadi malam ada pencuri masuk rumah?"

Pipi Kael mengembung seperti ikan buntal. Ia mengetik lagi:

"KAU MENCURI TANTE KIRANA DARI KAMARKU!!!"

Melihat kalimat lengkap itu, Bryan justru puas. Memancing emosi ternyata efektif melatih kemampuan literasi anaknya.

Ia menurunkan koran dan menatap Kael dalam.

"Kael, apa kamu memang tidak ingin Tante Kirana jadi istri Papa?"

Balasan muncul cepat.

"MILIKKU!"

Bryan mengangkat alis tipis. Senyumnya samar dan provokatif.

"Maaf, Jagoan. Kalian tidak cocok. Kau dua puluh dua tahun lebih muda darinya. Masa kau mau dia menunggu belasan tahun sampai kau dewasa? Itu egois."

Kael terdiam. Logika itu menghantamnya telak.

Ia menunduk, mata kecilnya penuh konflik.

Bryan tersenyum tipis—kali ini lebih tulus.

"Papa hanya bilang fakta. Secara biologis dan hukum, kau tidak punya peluang."

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada membujuk seperti negosiator ulung.

"Tapi beda ceritanya kalau dia jadi istri Papa. Kalau dia menikah denganku, dia otomatis jadi ibumu. Dia akan tinggal di sini selamanya bersamamu. Bukankah itu yang kau mau?"

'Ibuku? Tante Kirana jadi ibuku sungguhan?'

Kemarahan Kael mulai surut. Digantikan oleh pertimbangan serius yang tidak sesuai dengan usianya.

Ia menunduk dalam diam.

Tawaran itu… sangat menggoda.

​Sementara drama ayah–anak berlangsung di rumah, waktu di tempat lain tetap berjalan normal.

Di lokasi syuting drama The World, suasana sibuk seperti sarang lebah. Kru produksi mondar-mandir menyiapkan peralatan, mengatur posisi kamera, dan mengecek pencahayaan.

Meski hari ini hari pertama pemeran utama pria kedua bergabung, ritme kerja tetap profesional. Tidak ada yang terlalu heboh—semua fokus pada tugas masing-masing.

Raka Pramudya duduk santai di kursi lipat, dikelilingi aktris figuran dan staf wanita yang menatapnya penuh kekaguman. Ia sedang asyik menceritakan "sejarah gemilangnya" di industri hiburan, sesekali tertawa puas pada kisahnya sendiri.

Di sudut lain, hubungan Qiana Putri dan Aruna tampak semakin akrab. Qiana dengan riang memamerkan gelang berlian barunya.

"Mbak Aruna, lihat deh. Dia kelihatan tidak sabar sekali menunggu di sana," bisik Qiana sinis sambil melirik Kirana. "Dia benar-benar percaya kata-kata manis sutradara semalam."

"Sudahlah, Qiana. Jangan selalu menyudutkan Mbak Kirana," jawab Aruna lembut, namun terselip nada tajam. "Dia memang lawan main utama pria kedua. Wajar kalau lebih tegang daripada kita."

"Hehe, benar juga! Perannya kan penuh adegan mesra, ciuman, bahkan adegan ranjang!" ejek Qiana. "Untung aku tidak ambil peran itu. Siapa tahu nanti malah dimanfaatkan aktor tidak jelas."

Ia lalu menatap Aruna dengan kagum berlebihan. "Mbak Aruna memang paling beruntung. Pacarmu tampan dan kaya, pasangan mainmu di sini juga Kak Raka yang sudah terkenal..."

Tiba-tiba suara Sutradara Galang menggema dari pintu studio.

"Ayo semuanya berkumpul! Pemeran utama pria kedua kita—aktor yang memerankan dokter ajaib Rama Pranata—sudah tiba! Sambut dia!"

Responsnya datar.

Raka bahkan tidak berdiri. Para figuran masih sibuk mengerumuninya.

Qiana mendengus malas. Aruna tetap berdiri rapi. "Kita tetap harus menyapa. Mulai hari ini kita rekan kerja."

Dengan ekspresi berat hati, Qiana ikut berjalan ke pintu.

Kirana justru orang pertama yang bergerak. Ia menjulurkan kepala ingin melihat sosok lawan mainnya.

Lalu—

Tubuhnya membeku.

Matanya membelalak seolah tersambar petir.

Pria di samping sutradara itu…

Rambut pirang keemasan, gaya santai penuh percaya diri—

Ia mengenalnya.

"Kenapa harus dia…" gumam Kirana lirih. "Ini mimpi, kan…?"

Tiba-tiba asisten produksi bernama Lila menjerit.

"Ah—kyaaa!"

"Heh! Kau gila ya?!" bentak Qiana sambil menutup telinga.

Namun saat ia ikut menoleh—

"Kyaaaaaaa!"

Aruna terkejut. "Ada apa?"

"Yono… itu Yono Barsa! Mbak Aruna, itu Yono Barsa!" Qiana mencubit lengan Aruna berkali-kali, wajahnya memerah karena euforia.

Sutradara Galang berjalan di depan dengan bangga. Di belakangnya berdiri pria berambut pirang dengan gaya trendi mahal. Kedua tangannya di saku, aura percaya dirinya tajam seperti sorotan lampu panggung.

Saat sadar semua mata menatapnya, ia tersenyum—memperlihatkan gigi taring kecil yang justru menambah pesonanya.

"Yono Barsa… pemeran pria kedua itu Yono Barsa…"

Bahkan Aruna ikut terpaku. Ini kejutan besar bagi industri hiburan.

Para gadis yang tadinya mengerubungi Raka kini berlari ke pintu seperti kawanan serigala melihat daging segar.

"Ya Tuhan, dia lebih tampan dari layar!"

"Aku sampai lemas!"

"Kudengar nenek umur tujuh puluh saja bisa jatuh cinta padanya!"

"Aku harus foto! Kalau bisa aku mau tidur dengannya!"

Siapa aktor muda paling populer dan berpengaruh saat ini?

Jawabannya satu: Yono Barsa.

Qiana berjalan mondar-mandir gelisah. "Ini pasti salah sistem! Bukannya dia masih syuting di luar negeri? Dan kenapa aktor sekelas dia mau jadi pemeran kedua?"

Aruna berpikir. "Semua orang tahu Yono tidak pernah mau peran selain pemeran utama. Apalagi investor film ini Starlight—itu saingan agensinya. Kenapa dia mau?"

Qiana menggertakkan gigi. "Kenapa Kirana seberuntung itu? Dia seharusnya pasangan mainku!"

Reaksi itu tidak mengejutkan siapa pun. Semua tahu Qiana penggemar berat Yono.

Sutradara Galang sampai harus menenangkan kerumunan.

"Hahaha! Studio ini kacau gara-gara kau merebut semua hati mereka!" candanya.

"Sutradara dengar sendiri, kan? Mereka bilang mau tidur denganku," jawab Yono santai. "Anda harus melindungi keselamatanku."

"Hahaha! Tenang. Lawan mainmu Dewi Perang Laura Pitaloka. Dia pasti bisa melindungimu. Ngomong-ngomong, di mana Kirana?"

"Tadi dia paling penasaran soal lawan mainnya," tambahnya sambil mencari.

Yono tersenyum tipis. "Jangan-jangan kehadiranku membuatnya takut bersembunyi?"

"Mungkin saja. Bisa jadi dia penggemarmu," canda Galang.

Saat itulah Kirana muncul.

Ekspresinya langsung profesional. Ia tersenyum ramah dan mengulurkan tangan.

"Senior Yono, selamat datang. Saya Kirana. Kehormatan besar bisa bekerja sama dengan Anda."

Walau sebaya, jam terbang Yono jauh lebih tinggi. Secara teknis, ia memang senior.

Yono menyambut jabatan tangannya.

Namun—

Wajahnya berkedut.

'Gadis sialan! Dia benar-benar menekan tanganku!'

Ia menahan ekspresi.

"Ah, Kirana… ternyata kau."

Kirana menatap tajam di balik senyum.

'Apa yang dia rencanakan…? Jangan bilang dia mau membuka masa lalu…'

"Lho? Kalian sudah saling kenal?" tanya Galang.

"Tentu saja," jawab Yono santai.

Tatapan orang-orang langsung tajam. Ujung jari Kirana bergetar menahan emosi.

"Kami pernah satu proyek di luar negeri. Film The Blue Bird."

"Oh begitu!" Galang tertawa. "Takdir kalian bertemu lagi rupanya. Bagus! Chemistry pasti cepat terbentuk."

"Maaf, Sutradara," sela Kirana cepat. "Kami tidak sedekat itu."

"Saya setuju," potong Yono sambil tersenyum lebar.

Senyum itu terlihat seperti ancaman di mata Kirana.

"Bagus! Biar kucari adegan cocok!" Galang membolak-balik naskah.

Kirana mulai panik.

"Sutradara, bagaimana kalau Adegan 46?" usul Yono santai. "Saya jamin performa terbaik."

Jantung Kirana berdegup.

Adegan itu adalah adegan salah paham cemburu… di mana karakternya memukuli karakter Yono.

Yono tiba-tiba membungkuk dan berbisik di telinganya, "Sayangku, kau ingin memukuliku sepuas hati, ya?"

Kirana langsung menjauh.

"Bajingan," gumamnya pelan.

Tatapan iri langsung terasa dari segala arah.

Ia sudah bisa membayangkan badai masalah yang akan datang—terutama dari Qiana.

Keberadaan Yono di proyek ini jelas bukan kabar baik.

Sebenarnya, Kirana sangat ingin memainkan adegan itu.

Karena kali ini…

Ia berniat memukulnya sungguhan.

​Setelah menimbang sesaat, Sutradara Galang akhirnya memutuskan, "Kalau begitu, mari kita ambil Adegan 37 saja untuk pemanasan!"

Kirana, yang sudah menghafal seluruh naskah di luar kepala, hanya butuh sekejap untuk mengingat isi adegan itu. Seketika, wajahnya berubah muram dan pucat.

Meskipun bukan adegan ranjang atau ciuman vulgar, tetap saja bagian itu tidak kalah menguras kewarasan mentalnya.

Adegan 37 adalah momen ketika Laura Pitaloka secara agresif menggoda Rama Pranata untuk pertama kalinya.

Sutradara segera memanggil mereka berdua dan mulai menjelaskan latar belakang serta emosi yang harus dibangun.

“Keluarga Pitaloka dikisahkan telah mengabdi sebagai jenderal besar bagi kerajaan selama beberapa generasi. Prestasi militer mereka tak terhitung jumlahnya. Namun, pepatah mengatakan bahwa jasa yang terlalu besar justru membuat raja khawatir. Hal itulah yang membuat posisi keluarga Pitaloka terancam,” jelas Galang serius.

“Raja yang berkuasa sekarang adalah sosok biasa saja. Mudah linglung dan gampang percaya fitnah para pejabat korup. Itulah yang menyebabkan ayah Laura tewas secara tragis dalam pertempuran yang sebenarnya jebakan. Beruntung, kakaknya, Hamung Pitaloka, cukup tangguh untuk menggantikan posisi ayahnya. Karena itu, Laura kecil masih bisa tumbuh ceria tanpa beban.”

“Laura kecil ini diceritakan suka bermain dengan anak ayam dan anjing di jalanan. Dia dikenal sebagai ‘iblis kecil’ Kota Jayadwipa yang ditakuti semua orang karena kenakalannya…”

Begitu mendengar istilah itu, Yono tak bisa menahan senyum. Ia melirik Kirana dengan tatapan menggoda.

"Wah, deskripsi itu mirip sekali dengan dirimu yang asli, kan?"

Kirana mengabaikannya sepenuhnya. Ekspresinya tetap serius, seolah Yono hanyalah suara angin lalu.

“Si iblis kecil ini, yang lebih suka berpakaian seperti laki-laki dan bertingkah kasar, sama sekali tak terlihat feminin. Penduduk kota bahkan sempat mengira dia anak laki-laki,” lanjut Galang.

“Semua berubah ketika tanpa sengaja dia melihat Rama Pranata berjalan di pasar saat berusia enam belas tahun. Dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak itu, Laura mulai mengikuti dan mengganggu Rama setiap hari dengan cara-cara unik…”

"Sutradara, bukankah karakter Laura ini sebenarnya versi wanita dari seorang pengganggu? Tipe orang yang suka mengacak-acak kebun bunga orang lain yang sedang mekar indah?" celetuk Yono ringan.

"…"

Kirana hanya menatapnya tajam tanpa suara.

'Kaulah pengganggu sebenarnya dalam hidupku saat ini!' batin Kirana.

Galang terbatuk pelan, mengembalikan suasana serius. Ia menatap Yono dengan nada memuji.

"Mas Yono, kau memang cerdas. Kau menangkap inti karakternya dengan cepat. Kurang lebih memang begitu dinamikanya. Karakter yang biasa kau mainkan cenderung dominan dan aktif."

"Tapi kali ini, peranmu sebagai Rama Pranata adalah kebalikannya. Kau harus menunjukkan sisi lembut, pasif, dan sedikit kutu buku. Jadi perhatikan perubahan pembawaanmu nanti."

Diam-diam Kirana ikut khawatir. Ia tahu betul karakter-karakter yang biasa diperankan pria itu: CEO arogan, senior sekolah sombong, atau bangsawan angkuh.

'Mungkinkah pria bajingan sekeras batu ini bisa memerankan Rama Pranata, dokter tradisional yang lemah lembut dan kutu buku?' batinnya ragu.

Namun Yono menanggapi arahan itu dengan serius. Ia mengangguk patuh.

"Saya mengerti, Sutradara. Saya akan berusaha keras menekan sisi dominan saya dan menjadi karakter yang lemah serta pasrah saat ditindas nanti."

Galang menatap mereka bergantian dengan harap sekaligus cemas.

Sebenarnya, dibanding Yono yang berpengalaman, ia justru lebih mengkhawatirkan Kirana. Ia takut sisi feminin Kirana terlalu kuat sehingga sulit masuk ke karakter Laura Pitaloka yang kasar, liar, dan seperti preman jalanan.

"Alasan saya memilih adegan ini untuk hari pertama kalian adalah karena adegan ini akan menjadi fondasi dinamika perasaan di antara kalian," ujar Galang.

"Dalam adegan ini, salah satu harus tampil sinis dan menggoda, sementara yang lain harus lembut dan sabar."

"Kalau kalian bisa mengeksekusi adegan ini dengan baik hari ini, saya yakin adegan-adegan berikutnya tidak akan jadi masalah."

Ia menepuk tangan pelan.

"Baik, penjelasan cukup sampai di sini. Sekarang kalian berdua pergi ke ruang rias. Ganti kostum dan siapkan make-up!"

Bersambung…

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!