NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Di Bawah Langit yang Asing

Bab 24: Di Bawah Langit yang Asing

Jakarta tidak pernah menjanjikan ketenangan bagi pendatang baru, apalagi bagi seseorang yang datang sebagai pelarian. Bagi Anindya, setiap suara sirine mobil polisi di kejauhan terdengar seperti langkah kaki orang suruhan Tuan Wijaya yang datang untuk menyeretnya kembali ke gudang alat itu. Ia kini mendekam di sebuah kamar kontrakan di kawasan padat penduduk di Tambora. Kamarnya pengap, hanya sepetak ruangan dengan dinding semen yang lembap dan atap seng yang membuat suhu ruangan terasa seperti oven di siang hari.

Di sudut ruangan, Pak Rahardian terbaring lemah di atas kasur lipat. Napasnya masih pendek-pendek, efek dari serangan jantung yang belum sepenuhnya pulih. Anindya sedang mengompres dahi ayahnya dengan air hangat.

"Nin... kita tidak bisa begini terus," bisik Pak Rahardian. "Uang kita akan habis untuk obat Ayah. Pergilah, cari kerja. Jangan pikirkan Ayah."

Anindya menggeleng tegas. "Nin sudah dapat kerja, Yah. Tadi Nin diterima jadi tukang cuci piring di warung nasi depan gang. Malamnya, Nin bisa bantu ngetik tugas anak-anak kuliahan di warnet. Kita akan bertahan."

Anindya tidak menceritakan bahwa tangannya sudah mulai lecet karena deterjen murah, atau matanya yang merah karena kurang tidur. Baginya, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan penghinaan yang ia terima selama delapan tahun di rumah keluarga Wijaya. Namun, di dalam hatinya, Anindya tahu: mencuci piring tidak akan membuatnya bisa menghancurkan Tuan Wijaya. Ia butuh rencana yang lebih besar.

Keesokan harinya, Anindya memulai langkah pertamanya untuk "menenun" masa depan. Ia pergi ke sebuah perpustakaan umum di Jakarta Pusat. Ia tidak mencari buku cerita; ia mencari tumpukan koran bisnis dan arsip sengketa tanah dari sepuluh tahun terakhir.

Dengan teliti, jemarinya yang kasar membalik halaman demi halaman. Ia mencari satu nama: Wijaya Kusuma. Ia ingin tahu bagaimana pria itu membangun kerajaannya. Apakah benar semuanya murni dari bisnis, atau ada bangkai yang dikubur di bawah fondasi gedung-gedungnya?

Setelah berjam-jam, mata Anindya terpaku pada sebuah artikel kecil di pojok halaman koran tahun 2015. “Gugatan Sengketa Lahan Hijau di Jakarta Utara Dimenangkan oleh Wijaya Group.” Di bawah artikel itu, disebutkan nama seorang saksi kunci yang tiba-tiba mencabut kesaksiannya di tengah persidangan: Bapak Suroso.

"Suroso..." gumam Anindya. Ia mencatat nama itu. Ia memiliki firasat bahwa pria ini memegang kunci yang sangat penting. Jika ia bisa menemukan Suroso, ia mungkin bisa menemukan bukti kecurangan Tuan Wijaya yang jauh lebih besar daripada sekadar hutang ayahnya.

Namun, dunia luar ternyata lebih kejam dari yang ia duga. Saat ia keluar dari perpustakaan, ia merasa seseorang sedang memperhatikannya. Anindya mempercepat langkahnya, masuk ke dalam kerumunan di halte TransJakarta. Dari balik jendela bus yang mulai melaju, ia melihat sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan perpustakaan.

Seseorang dengan kacamata hitam turun dari mobil itu dan menatap ke arah bus dengan tajam.

Anindya mencengkeram tas ranselnya. Mereka sudah di sini, pikirnya. Jakarta ternyata tidak cukup besar untuk bersembunyi dari mata-mata Tuan Wijaya.

Malam harinya, saat Anindya sedang sibuk mengetik dokumen pesanan di warnet, pintu warnet yang berderit terbuka menampilkan sosok yang tidak pernah ia duga akan ia lihat lagi.

Satria.

Pemuda itu tampak sangat berbeda. Ia tidak lagi memakai kemeja sutra mahal. Ia mengenakan jaket hoodie gelap dan celana jin yang sedikit kotor.

Wajahnya tampak cemas, matanya berputar mencari seseorang hingga akhirnya terkunci pada Anindya.

Anindya segera berdiri, siap untuk lari lewat pintu belakang.

"Nin! Tunggu! Aku sendirian!" teriak Satria dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian pengunjung warnet lain.

Anindya berhenti, namun tangannya sudah memegang kursi plastik, siap untuk menjadikannya senjata. "Bagaimana kau menemukanku? Apa kau membawa orang-orang ayahmu?!"

Satria mendekat dengan tangan terangkat, menunjukkan bahwa ia tidak membawa apa pun.

"Aku melacakmu lewat akun freelance yang kau gunakan di warnet ini. Aku belajar IT sedikit, ingat? Dan tidak, Ayah tidak tahu aku di sini. Aku mencuri mobil salah satu pengawal untuk datang ke sini."

Anindya menatap Satria dengan penuh curiga. "Apa maumu, Satria? Belum cukupkah keluargamu menghancurkanku?"

Satria menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang sangat dalam. "Ibu... Ibu benar-benar gila, Nin. Dia menyewa detektif swasta untuk melacak bapakmu. Dia ingin menggunakan bapakmu sebagai sandera agar kau menyerahkan data proyek yang kau ambil dari ruang kerja Ayah."

Anindya tertegun. "Mereka berani menyentuh Ayahku di kota ini?"

"Ayah punya koneksi di mana-mana, Nin. Tapi aku di sini bukan untuk mengancammu," Satria mengeluarkan sebuah amplop kecil. "Ini uang tunai. Pakai ini untuk memindahkan bapakmu malam ini juga. Jangan gunakan kartu ATM atau apa pun yang bisa dilacak."

Anindya menatap uang itu, lalu menatap Satria. "Kenapa kau membantuku? Kau adalah putra mereka. Jika mereka tahu, mereka akan menghancurkanmu juga."

Satria tersenyum getir. "Aku sudah hancur sejak aku membiarkanmu disiksa di rumah itu, Nin. Setidaknya, biarkan aku melakukan satu hal yang benar sebelum semuanya terlambat."

Anindya menerima uang itu dengan ragu. "Aku tidak akan pernah memaafkan keluargamu, Satria."

"Aku tahu. Dan aku tidak memintanya," Satria berbalik menuju pintu. "Pergilah sekarang. Jangan kembali ke kontrakanmu. Mereka akan sampai di sana dalam satu jam."

Anindya berlari menembus rintik hujan menuju kontrakannya. Ia membangunkan ayahnya dengan terburu-buru. Dengan bantuan seorang tukang gerobak yang ia bayar mahal, ia memindahkan ayahnya ke sebuah penginapan kelas melati di pinggiran kota yang tidak menanyakan identitas.

Di dalam kamar penginapan yang remang-remang, Anindya duduk di lantai, memandangi uang pemberian Satria. Ia sadar, ini adalah permainan catur yang sangat panjang. Satria mungkin membantunya sekarang, tapi apakah itu tulus atau hanya taktik ayahnya untuk mendapatkan kepercayaannya?

Anindya membuka catatan kecilnya. Di sana, ia menuliskan sebuah rencana baru. Ia tidak akan lagi hanya bekerja sebagai tukang cuci piring. Ia harus masuk ke "jantung pertahanan" musuh dengan cara yang berbeda.

Ia ingat bahwa salah satu perusahaan saingan Wijaya Group, PT Mega Konstruksi, sedang membuka lowongan untuk posisi staf administrasi junior. Jika ia bisa masuk ke sana, ia bisa menggunakan fasilitas perusahaan itu untuk menghancurkan Wijaya Group dari luar.

"Anda ingin bermain kucing dan tikus, Tuan?"

gumam Anindya sambil menatap wajah ayahnya yang sedang tertidur. "Mari kita lihat, siapa yang akan terjerat jaringnya sendiri."

Anindya tahu, perjalanannya masih sangat panjang. Masih ada sekitar enam puluh bab lagi yang penuh dengan intrik, pengkhianatan, dan perjuangan sebelum ia bisa melihat Tuan Wijaya berlutut di hadapannya. Dan ia siap melalui setiap detiknya, meski ia harus merayap di lumpur Jakarta sekalipun.

Pagi mulai menyingsing. Anindya merapikan kemeja satu-satunya yang ia miliki. Ia akan pergi ke wawancara kerja itu. Bukan sebagai "Anindya si pelayan", tapi sebagai seseorang yang akan memulai keruntuhan sebuah dinasti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!