Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Kinara merasakan kehangatan pelukan Nolan, lalu membalas pelukan tersebut.
"Kinara, ayo lewati masalahmu bersama denganku! Seharusnya kamu tidak memendam masalahmu itu sendirian," ucap Nolan dengan tulus.
Tangisan Kinara semakin menjadi-jadi saat melihat ketulusan yang terpancar dari laki-laki yang masih sangat dia cintai itu.
"Terima kasih, Nolan," sahut Kinara dengan nada terbata. Baik Kinara maupun Nolan larut dalam pemikiran masing-masing dalam posisi tubuh yang masih berpelukan.
"Apakah ini kesempatan kedua untuk kami? Apakah kami bisa melewati semua masalah bersama?" pikir Kinara dalam hati, merasa bersyukur karena masih memiliki seseorang yang peduli padanya seperti Nolan.
"Maafkan aku Nolan, karena aku pikir ... Aku itu bisa menjalani masalah ku itu sendiri, tanpa melibatkan mu ... Tanpa merepotkan mu," ujar Kinara sembari terisak dalam tangis.
"Kamu tidak pernah merepotkan ku Kinara ... " ujar Nolan sembari melepaskan pelukannya, ia menatap dalam dalam gadis yang begitu dirinya cintai.
Iya, cinta Nolan untuk Kinara masih ada. Bahkan masih begitu dalam.
Ke dua netra Nolan dan juga Kinara nampak beradu, lalu Kinara dengan agresif nampak mengecup bibir Nolan.
Asih sendiri nampak tersenyum simpul, melihat aksi yang di lakukan Kinara.
"Mungkin dengan laki laki ini, Nona Kinara bisa semangat dalam menjalani hidup." gumam Asih dalam benaknya.
***
Nolan tampak menggenggam erat pergelangan tangan Kinara saat seorang suster menyuntikkan suntikan kemoterapi atas arahan dokter yang berdiri di samping suster itu.
Wajah Kinara yang mulai dipenuhi rasa sakit membuat hati Nolan teriris.
"Maaf, Nolan. Aku selalu menangis saat kemo, rasanya sakit," ujar Kinara dengan suara lirih, air mata berjatuhan membasahi kedua pipi nya yang manis.
"Tidak perlu minta maaf. Kalau mau menangis, menangis saja," sahut Nolan dengan suara yang penuh kepedulian.
Dalam hatinya, Nolan merasa iba melihat Kinara yang menderita. Bahkan matanya juga berkaca-kaca menahan kesedihan. Lalu Kinara tampak memuntahkan isi perutnya di depan Nolan. Dalam keadaan lemah, ia berkata,
"Maaf, Nolan... Maafkan aku." Kinara merasa terhina dengan keadaan dirinya saat ini, selama ini dia selalu tampak sempurna di depan Nolan.
"Kenapa aku merasa seperti ini? Aku seharusnya lebih kuat, jangan sampai Nolan melihatku seperti ini," batin Kinara dengan rasa malu.
Namun, penyakit yang kini menimpa Kinara membuatnya merasa lemah dan tidak berdaya. Kinara berharap ada mukjizat yang membuat semuanya kembali seperti dulu, saat dia bisa tersenyum tanpa merasakan sakit di tubuhnya.
"Kinara, sudah gak perlu meminta maaf lagi pada ku. Aku itu tahu, bagaimana pun juga. Kamu hanya seorang manusia biasa yang juga memiliki rasa sakit dan juga lemah." Nolan mencoba untuk menenangkan Kinara.
Kinara nampak menjawab ucapan Nolan dengan anggukan kepala.
****
*
**
Sementara itu, di sebuah ruangan lain yang ada di rumah sakit Ken Saras kota awan.
"Ternyata Nolan orang bertanggung jawab juga," gumam Qiara yang duduk sendirian di atas brankas, matanya melangit penuh kekaguman sembari mengenang kala Nolan berbicara lembut dan terlihat begitu peduli padanya.
"Padahal, saat awal aku tinggal di rumah para kembar, hanya Nolan yang sangat cuek dan terlihat tidak peduli. Siapa sangka, di balik sifatnya yang begitu, dia menyimpan rasa tanggung jawab yang besar."
Bayang-bayang Nolan seakan-akan menari-nari di benak Qiara.
"Ternyata aku baru menyadari kalau Nolan itu paling tampan jika dibandingkan dengan Natan atau pun Noah. Memang, untuk fitur wajah lebih memukau Natan, tapi Nolan begitu kharismatik," batin Qiara sambil memegang pipinya yang memerah.
Perasaan hangat mulai memenuhi hatinya. "Apakah ini jatuh cinta? Perasaan ini begitu asing bagiku."
Kedua pipi Qiara semakin merona merah saat ia menggenggam tangan kanannya yang sempat disentuh oleh Nolan.
"Apa aku harus belajar jatuh cinta pada Nolan? Kan suatu saat nanti aku pasti menjadi istrinya. Karena dia berjanji akan bertanggung jawab padaku," gumam Qiara penuh percaya diri.
Rasa cinta yang tumbuh di dalam hatinya mulai memberi warna pada hidupnya dan menumbuhkan tekad untuk menjadikan Nolan sebagai pasangan hidupnya.
**
Saat ini, Qiara terlihat benar-benar seperti orang gila. Terlihat sedang berbicara sendiri di atas brangkas miliknya. Namun, tanpa ia sadari, Angga telah menguping percakapan itu dari balik tirai sejak tadi.
Rasa amarah Angga semakin memuncak melihat tingkah Qiara yang tak terduga tersebut. Tangannya lambat laun terkepal, berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan.
"Bahkan saat kita masih duduk di bangku SMP, Lo dengan tegas menolak ungkapan cinta dari gue, Qiara. Kenapa sekarang malah lo itu dengan mudah berikan hatimu pada seorang laki-laki asing yang baru saja lo kenali? Apakah sebelumnya lo tidak pernah merasa cinta pada dirinya?" gumam Angga dalam hati, berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Masa lalu Angga mengungkap fakta bahwa ia pernah jatuh cinta pada Qiara ketika mereka masih duduk di bangku SMP. Cinta tulusnya sempat membuatnya rela berkorban untuk melindungi Qiara dari ancaman geng di sekolah yang ingin menggoda gadis tersebut.
Karena memang, Qiara memiliki penampilan yang menarik perhatian banyak laki-laki. Namun, Angga tak pernah memiliki niat buruk terhadap Qiara. Cintanya untuk gadis itu adalah tulus dan murni, bukan karena pesona fisik semata.
Jadi, ini lah alasan mengapa sekarang ini Angga merasa tersakiti melihat Qiara memberikan hatinya pada orang lain? Haruskah ia mengakui bahwa cintanya tak pernah cukup baik untuk Qiara? Atau mungkinkah cinta yang dulu pernah diabaikan itu akan kembali dengan cara yang berbeda? Hanya waktu yang akan menjawab semua pertanyaan dalam hati Angga.
Noah berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju sebuah apartemen yang tak jauh dari sekolahnya. Ia baru saja mendapatkan telepon dari pacarnya, Dila, yang mengatakan bahwa dia dalam bahaya.
"Seharusnya jika terjadi kebakaran, ada alarm yang berbunyi. Mengingat ini adalah komplek apartemen mewah," batin Noah sambil mengernyitkan dahi.
"Tapi apa mungkin Dila hanya berbohong untuk menguji keseriusanku padanya? Ah, tidak mungkin. Dia selalu jujur padaku, dan kali ini bisa saja benar-benar serius."
Rasa khawatir yang mendalam membuat Noah memutuskan untuk segera menuju unit apartemen milik Dila. Begitu tiba, ia refleks membuka pintu apartemen yang ternyata tidak terkunci.
Hati Noah semakin panik saat melihat keadaan kamar apartemen yang gelap. Namun, ketika ia menyalakan saklar lampu, pemandangan di depannya membuatnya terperanjat.
Di atas ranjang, Dila berpose seksi tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
"Dila," ucap Noah terkejut sambil mencoba meredam jantung yang berdebar keras.
"Ini... apa yang kamu lakukan? Tadi katamu bahaya? Aku khawatir!"
"Ayo Noah, sentuh aku. Aku ingin kamu menjadi milikku selamanya," ujar Dila dengan tatapan menggoda sembari berjalan mendekat ke arah Noah.
***