Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New York
Pesawat jet pribadi milik keluarga Hernandez mendarat mulus di JFK Airport. New York menyambut mereka dengan angin musim dingin yang tajam. Zayn tampak sangat mencolok di tengah kerumunan Manhattan, ia mengenakan turtleneck hitam dibalut overcoat abu-abu gelap, tetap dengan peci hitamnya yang khas. Tangannya tak pernah lepas menggenggam jemari Abigail.
Sore itu, mereka duduk di sebuah kafe kelas atas di kawasan Upper East Side. Abigail tampak cantik dengan long coat krem dan hijab sutra senada.
"Aku rindu kopi ini, tapi aku lebih rindu suasananya," ujar Abigail sambil menyesap latte-nya.
Namun, ketenangan itu terusik saat seorang pria jangkung berambut pirang dengan gaya playboy khas Manhattan menghampiri meja mereka. Itu adalah Brad, mantan kekasih Abigail yang dulu dikenal sebagai "Raja Pesta" di New York.
"Abby? Is that really you?" Brad menatap Abigail dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan tidak percaya. "Wow, ada apa dengan kostum ini? Kamu ikut sekte atau semacamnya?"
Wajah Abigail berubah kaku. "Brad, stop it. Aku sudah menikah."
Brad tertawa remeh, matanya beralih ke Zayn yang duduk tenang sambil mengamati sekeliling. "Oh, jadi ini alasan kamu menghilang? Pria dengan topi aneh ini? Abby, come on. Kamu itu gadis New York. Kamu butuh pria yang tahu cara bersenang-senang, bukan pria yang... kelihatannya bahkan tidak tahu cara memegang botol sampanye."
Zayn meletakkan cangkir kopinya perlahan. Ia tidak tampak marah, tapi aura di sekitarnya mendadak menjadi sangat dingin dan menekan. Sisi bad boy masa lalunya bangkit, namun kini dibungkus dengan wibawa seorang pria terpelajar.
Zayn berdiri, membuat Brad harus sedikit mendongak karena Zayn ternyata lebih tinggi dan memiliki bahu yang lebih kokoh.
"Listen, Friend," Zayn memulai bicara dalam bahasa Inggris dengan aksen yang sangat sempurna, dalam, dan mengintimidasi. "She is not a girl anymore. She is a woman, and she is my wife."
( "Dengar, kawan. Dia bukan lagi seorang gadis kecil. Dia adalah seorang wanita dewasa, dan dia adalah istriku.")
Brad mendengus. "So what? Kamu pikir kamu bisa memberikan apa yang dia mau? Abigail itu liar, dia butuh kepuasan yang..."
Sebelum Brad menyelesaikan kalimat vulgarnya, Zayn maju satu langkah, memperpendek jarak hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Zayn membisikkan sesuatu di telinga Brad yang hanya bisa didengar oleh pria itu.
"I might look like a saint to you, but believe me, I can be your worst nightmare if you ever disrespect my wife again. (Aku mungkin terlihat seperti orang suci di matamu, tapi percayalah, aku bisa jadi mimpi buruk terbesarmu jika kamu berani menghina istriku lagi.)
And about satisfying her? Ask her tomorrow morning why she can barely walk today. Now, get lost before I lose my patience." (Dan soal memuaskannya? Tanya padanya besok pagi kenapa dia sampai hampir tidak bisa berjalan hari ini. Sekarang, pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku).
Wajah Brad mendadak pucat pasi. Ia melihat kilatan mata Zayn yang sangat gelap dan berbahaya, tatapan seorang pria yang tidak ragu untuk bertindak. Tanpa kata lagi, Brad berbalik dan pergi dengan langkah seribu.
Abigail menatap suaminya dengan mata berbinar. "Zayn... apa yang kamu katakan padanya?"
Zayn kembali duduk, wajahnya kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menyesap kopinya lagi. "Hanya sedikit mengingatkan dia tentang adab, darling."
Abigail terkekeh, ia tahu suaminya baru saja menggunakan sisi gelapnya untuk melindunginya. "Kamu seksi sekali kalau lagi galak begitu."
Zayn melirik Abigail dengan senyum miring. "Nanti malam di hotel, aku tunjukkan sisi galak yang lainnya. Kamu bilang kamu rindu New York, kan? Aku akan pastikan malam ini di Manhattan akan jauh lebih berkesan daripada malam-malam kita di pesantren."
Abigail menggigit bibir bawahnya, merasa tertantang sekaligus tidak sabar. "Janji?"
"I always keep my promises, Mrs. Zayn, "
(Aku selalu menepati janji-janjiku, Nyonya Zayn.")
bisik Zayn sambil mengecup tangan Abigail di depan umum, membuat beberapa sosialita New York di kafe itu menatap mereka dengan iri.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍