Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar-Benar Lihai
Evander terkekeh, lalu ia mendekati Yumna lebih dekat dan rapat. Aroma maskulin yang bercampur dengan sisa harum kopi pagi itu menguar hebat, membuat pertahanan Yumna goyah dalam sekejap. "Kopinya nanti, sekarang aku butuh asupan semangat selain kopi, Yumna."
Yumna mendongak, berusaha menutupi kegugupannya dengan cengiran khasnya. "Apa? Mas butuh yel-yel dari aku, atau tatapan penyemangat, atau kecupan penyemangat?"
Evander menatap bibir Yumna sejenak, lalu beralih ke matanya. "Semuanya terdengar menarik, tapi saya simpan untuk nanti saja. Sekarang, ikut saya ke ruang meeting. Ada pertunjukan yang harus kita tonton."
Lantai divisi marketing pagi itu terasa sangat tegang. Seluruh staf sudah berkumpul di ruang rapat besar, termasuk Cindy yang duduk di barisan belakang dengan wajah lesu, dan Desta yang berdiri dengan sikap kaku sebagai asisten pribadinya.
Yumna melangkah masuk dengan tangan yang bertaut mesra di lengan Evander. Ia bisa merasakan tatapan menusuk dari Cindy dan tatapan nanar dari Desta, tapi Yumna memilih untuk mengabaikan mereka. Ia fokus pada sosok wanita yang berdiri di depan ruangan dengan setelan jas designer berwarna putih tulang yang sangat mencolok. Bianca.
"Selamat pagi semuanya," suara Evander menggema, tegas dan penuh otoritas. "Seperti yang kalian ketahui, posisi Manajer Divisi Marketing saat ini sedang kosong. Dan mulai hari ini, posisi tersebut akan diisi oleh nona Bianca yang baru saja kembali dari London. Silakan, Bianca."
Bianca melangkah maju dengan gaya yang sangat percaya diri, rambutnya yang tertata sempurna bergoyang mengikuti langkah kakinya yang jenjang. "Terima kasih, Pak Evander. Halo semuanya, saya Bianca. Saya harap kita bisa bekerja sama secara profesional. Dan perlu saya tegaskan, saya tidak menyukai ketidakefektifan atau drama pribadi yang dibawa ke kantor."
Mata Bianca sempat melirik tajam ke arah Yumna saat mengucapkan kata "drama pribadi". Yumna hanya membalasnya dengan senyum tipis yang sangat tenang.
"Baiklah, Bianca. Silakan mulai presentasi pertamamu untuk strategi kuartal depan," ujar Evander sambil duduk di kursi utama, menarik Yumna untuk duduk di kursi tepat di sampingnya, posisi yang biasanya disediakan untuk sekretaris atau asisten tingkat tinggi, tapi sekarang diduduki oleh sang "Istri Bos".
Pertemuan dimulai. Bianca menunjukkan kemampuannya yang memang luar biasa. Presentasinya cerdas, penuh data, dan ambisius. Namun, di tengah presentasi, Yumna menangkap sesuatu yang menarik. Desta, yang seharusnya membantu Cindy, justru berkali-kali mencuri pandang ke arah Bianca. Sepertinya "cecurut" itu sedang mencari pelabuhan baru yang lebih menjanjikan daripada Cindy yang sudah bangkrut secara jabatan.
"Mas," bisik Yumna pelan ke telinga Evander saat Bianca sedang asyik menjelaskan grafik penjualan. "Lihat deh mantan aku. Kayaknya dia lagi pasang jaring buat Mbak Bianca."
Evander melirik sekilas ke arah Desta, lalu kembali menatap Yumna. Tangannya di bawah meja diam-diam menggenggam jemari Yumna, meremasnya lembut. "Bagus kalau begitu. Biarkan dia mencoba. Kita lihat seberapa jauh Bianca bisa dipengaruhi oleh pria kelas teri seperti dia."
"Mas nggak cemburu? Kan Mbak Bianca teman kecil Mas," goda Yumna.
Evander mendekatkan wajahnya ke arah Yumna, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di tengah rapat penting. "Saya hanya cemburu jika ada pria yang menatap istri saya lebih dari tiga detik. Selain itu, saya tidak peduli."
Wajah Yumna manyun tapi mendadak panas. Ia segera memalingkan wajah, pura-pura fokus pada layar proyektor.
Setelah rapat selesai, suasana menjadi sedikit cair. Beberapa staf menyalami Bianca, termasuk Cindy dan Desta. Yumna melihat Desta membungkuk sopan, mungkin terlalu sopan, saat menjabat tangan Bianca.
"Wah, strategi Anda sangat brilian, Nona Bianca," ucap Desta dengan nada yang dibuat semanis mungkin. "Jika Anda butuh bantuan untuk riset lapangan lebih dalam, saya sangat bersedia membantu."
Bianca tersenyum tipis, tampak cukup terkesan dengan ketampanan dan sikap manis Desta yang memang jago akting. "Oh, asisten Nona Cindy ya? Menarik. Saya akan hubungi anda jika perlu."
Yumna yang melihat itu dari kejauhan hampir saja tertawa. Ia menyenggol lengan Arini yang kebetulan lewat di dekatnya. "Arini, lihat tuh. Kayaknya bakal ada drakor baru di kantor kita."
Arini berbisik, "Iya Yum, busuk banget emang si Desta. Baru juga Cindy jatuh, udah mau nyantol ke manajer baru. Tapi Bianca kelihatan nggak gampang ditipu sih," bisiknya ke Yumna.
Tiba-tiba, Bianca berjalan menghampiri Evander dan Yumna yang masih berdiri di dekat meja rapat.
"Evan, eh maksudku Pak Evander bagaimana kalau kita makan siang bersama? Ada beberapa detail teknis yang ingin aku diskusikan lebih pribadi," ajak Bianca tanpa basa-basi, sama sekali tidak melirik Yumna.
Evander merapikan kancing jasnya, lalu merangkul pinggang Yumna dengan protektif. "Maaf, Bianca. Saya sudah ada janji makan siang dengan istri saya. Dan soal detail teknis, kamu bisa bicarakan dengan Mahesa atau lewat email resmi kantor."
Wajah Bianca berubah kaku. "Oh, begitu ya. Baiklah."
Saat Bianca dan staf lain mulai meninggalkan ruangan, Yumna menatap Evander dengan pandangan menyelidiki. "Beneran mau makan siang sama aku, atau cuma buat nolak Mbak Bianca aja?"
Evander menatap Yumna dalam-dalam, tatapan yang membuat Yumna merasa seluruh energinya tersedot. "Saya tidak pernah berbohong soal keinginan menghabiskan waktu dengan istri saya, Yumna. Dan sekarang..."
Evander menarik Yumna hingga dada mereka bersentuhan di ruang rapat yang sudah mulai sepi itu. "...asupan semangat saya belum lengkap. Kamu tadi menawarkan kecupan penyemangat, bukan?"
Yumna dengan sigap meletakkan telapak tangannya di dada Evander, menahan pergerakan pria itu tepat beberapa senti sebelum bibir mereka bersentuhan. Dengan gerakan gesit yang hanya dimiliki oleh mantan pejuang diskon pasar swalayan, Yumna merunduk dan berputar ke samping, melepaskan diri dari kurungan lengan kekar Evander.
"Eits! Tidak semudah itu, Mas Kulkas!" seru Yumna sambil tertawa kemenangan, kini ia sudah berdiri aman di balik kursi rapat yang besar.
Evander terpaku sesaat, tangannya masih tertahan di udara. Ia mengembuskan napas pendek, merasa sedikit konyol karena baru saja dikelabui oleh istrinya sendiri di ruang rapatnya yang agung.
Evander menurunkan tangannya, lalu merapikan jasnya dengan gaya sok tenang, meski telinganya sedikit memerah. "Kamu benar-benar lihai melarikan diri, Yumna. Saya catat itu sebagai pembangkangan asisten pribadi."
"Pembangkangan yang menyelamatkan martabat Mas di depan staf, tahu!" sahut Yumna sambil menjulurkan lidah. "Ayo cepat, katanya mau makan siang. Aku sudah lapar tingkat dewa. Kalau Mas telat kasih makan, aku nggak jamin nggak bakal gigit telinga Mas lagi."
Mendengar ancaman "gigitan", Evander langsung bergegas menuju pintu. "Ayo. Sebelum saya berubah pikiran dan mengunci pintu ini dari dalam."