Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Felicia menunggu Arion yang saat ini berada di dalam bathroom. Dia merasa bosan karena suaminya terlalu lama.
Akhirnya, Felicia memutuskan keluar dari kamar dan mencari udara segar.
Felicia mulai menyusuri rumah besar keluarga Abraham. Di kaca yang terdapat di lantai dua, terlihat ada taman yang sangat indah. Felicia memutuskan untuk ke taman itu.
Felicia yang tidak sabar untuk ke sana pun berlari kecil.
Tak sadar dengan langkahnya yang terlalu tergesa membuat Felicia tak memperhatikan langkahnya. Gadis itu akan terjatuh. Namun, tiba-tiba ada seorang yang menangkap tubuhnya dari belakang.
"Kau harus berhati-hati, gadis," ucap seseorang yang tak lain adalah Kenzo.
Felicia tertegun sejenak. Kenzo tak kalah tampannya dengan Arion. Felicia berpikir pasti kakak iparnya begitu bahagia memiliki suami seperti Kenzo.
"Kak, Kenzo. Maaf." Felicia segera membenarkan posisi berdirinya. "Terimakasih sudah menangkapku. Jika tidak, Aku pasti terjatuh tadi," ucap Felicia memutar bola mata.
Kenzo tersenyum melihat Felicia. "Bagaimana Aku membiarkanmu terjatuh. Arion pasti akan marah padaku jika tidak menolong mu," sahut Kenzo.
"Memangnya Kau mau kemana? Kenapa tergesa-gesa seperti itu?" tanya Kenzo ingin tahu.
"Tadi di lantai atas Aku melihat ada taman yang sangat indah. Apa Kak Kenzo tahu jalan ke taman itu?"
Kenzo terkekeh. Hanya untuk ke taman saja gadis di depannya itu begitu tergesa-gesa.
Kenzo mengangguk. "Kau mau kesana? Baiklah, akan ku antar," ucap Kenzo.
Felicia kegirangan. "Benarkah? Terimakasih, Kak. Kau begitu baik," ujar Felicia.
Kenzo lalu mengajak Felicia menuju taman.
Sementara di sisi lain. Arion tak mendapati Felicia di kamar. Dia pun segera keluar dan hendak mencarinya. Felicia belum mengetahui seluk-beluk rumah ini. Dia takut jika Felicia akan tersesat.
Ketika baru beberapa langkah, langkah Arion terhenti. Sebuah suara yang tak asing memanggilnya.
"Arion...."
Arion menoleh ke belakang. Menatap gadis yang saat ini juga menatapnya dengan tatapan sendu. Matanya terlihat sembab. Ya, Dia adalah Cintia.
Cintia berlari dan langsung memeluk tubuh Arion. Membuat Arion terkejut. Dia berusaha menjauhkan tubuhnya dari Cintia.
"Apa yang Kau lakukan, Cintia?! Lepaskan Aku!" sentak Arion.
Namun Cintia menggeleng. Dia tidak ingin melepaskan pelukannya. "Aku sangat merindukanmu, Arion. Kumohon maafkan Aku." Cintia terisak.
"Kau yang sudah membuat keputusan dalam hidupmu, Cintia. Kau tak perlu meminta maaf. Jalanilah hidupmu yang Kau pilih itu." Arion berkata dingin.
"Tapi Aku menyesal, Arion. Waktu itu Aku terpaksa menikah dengan Kenzo. Kau tahu kan biaya rumah sakit ayahku yang harus segera ku bayar. Kenzo menawarkan bantuan dan Aku harus membayarnya dengan sebuah pernikahan." Cintia berusaha menjelaskan.
"Kau tak pernah menceritakan masalahmu padaku. Kau mengambil keputusan seorang diri tanpa bertanya padaku. Hubungan kita sudah berakhir sejak saat itu, Cintia. Kau lebih memilih menjadi istri Kak Kenzo." Dada Arion bergemuruh hebat.
"Arion. Kumohon...! Selama pernikahanku, sama sekali Aku tak pernah mencintai Kenzo. Hanya Kau yang ku cintai. Tolong jangan seperti ini...." Cintia memegangi dadanya yang terasa begitu sakit. Dia merasakan sakit sendirian. Bertahan bersama seseorang yang sama sekali tak di cintainya benar-benar sangat menyiksanya.
Arion terdiam. Pikirannya melayang pada masa remaja mereka yang begitu indah. Cintia memang berusia lebih tua darinya. Namun, itu tak membuatnya mundur mendapatkan gadis pujaannya.
Ketika cintanya berbalas. Pria itu berjanji akan setia selamanya pada gadis itu. Berjanji pada diri sendiri untuk menjadi pria yang sukses dengan kemampuan sendiri demi bisa melamar Cintia ketika di lulus dari sekolah menengah.
Namun, harapnya hancur ketika Kenzo mengenalkan Cintia kepada keluarga bahwa Cintia adalah calon istrinya.
Cintia memang tidak pernah tahu jika Arion adalah adik dari Kenzo. Keterkejutan itu di rasakan oleh keduanya.
Cintia ingin menjelaskan, tapi Arion sudah terlalu sakit. Harapannya telah pupus kala itu. Arion hanya bisa menyimpan masa lalunya yang begitu kelam.
Arion selalu berpikir, jika dirinya menemukan cinta yang baru, maka dia akan bisa melupakan Cintia. Namun, nasibnya dalam cinta tidak terlalu mulus.
Cinta malah berkali-kali mengingatkannya pada rasa sakit yang tertimbun di masa lalu.
Jika di tanya bagaimana perasaan Arion pada Cintia saat ini, Arion Tak dapat mengartikannya.
Perlahan Arion kembali melepaskan pelukan Cintia. Dia tidak ingin ada masalah dalam keluarganya karena hal ini.
"Lepaskan Aku, Cintia. Sebaiknya lupakan saja masa lalu Kita. Saat ini ada Kenzo dan Felicia yang harus Kita jaga hatinya. Aku tak mau nantinya membuat mereka tersakiti." Arion berkata dengan suara serak. Tangannya berhasil melepaskan pelukan Cintia.
Kini gadis itu menangis tertunduk. Dia tidak ingin kehilangan Arion. Rasa cintanya masih sama besarnya seperti dulu untuk pria ini.
"Belajarlah untuk mencintai Kak Kenzo, Cintia. Dia adalah pria yang sangat baik. Mari kita jalani kehidupan masing-masing sebagaimana mestinya." Setelah mengatakan itu, Arion langsung pergi meninggalkan Cintia dengan hati yang terasa begitu nyeri.
Arion memejamkan matanya sejenak. Berusaha melepaskan penat akibat cinta masa lalu yang masih membelenggunya.
Menurut Arion, inilah jalan terbaik. Mereka sama-sama memiliki sebuah ikatan yang harus di jaga. Menghormati pernikahan adalah hal yang harus mereka lakukan.
Setelah hatinya sedikit mereda. Arion teringat jika dirinya tadinya hendak mencari Felicia. Arion pun melanjutkan niat awalnya tadi.
Dia telah menuruni anak tangga. Menuju ruang makan dan juga ruangan lainnya. Namun, tak di temukannya sang istri.
Arion mulai cemas. Mungkinkah istrinya tersesat?
Pria itu pun mengambil ponselnya di sakunya dan hendak menelpon Felicia sebelum indera pendengarannya menangkap suara tawa yang begitu ia kenal.
Ya, itu adalah suara tawa Felicia.
Arion akhirnya mengikuti arah suara itu. Dan rupanya suara itu dari taman.
"Felicia," panggil Kenzo seraya menatap kearah hamparan taman bunga di depannya.
"Ya, kenapa, Kak?"
"Jika Kau mencintai seseorang, tapi orang yang Kau cintai mencintai orang lain, apa yang akan Kau lakukan?" tanya Kenzo.
Felicia menatap Kenzo dengan kerutan di dahinya. Dia merasa Kenzo menyindirnya.
'apa kak Kenzo tahu jika sebelumnya Arion menyukai Aluna? Apa dia menyindirku?' batin Felicia dengan monolognya.
"Tentu saja Aku akan membuat orang yang ku cintai juga mencintaiku. Akan ku berikan banyak cinta hingga dia tenggelam di dalamnya dan melupakan orang lain yang dia cintai," jawab Felicia.
Tidak mungkin juga Felicia akan melepas Arion untuk mengejar Aluna. Karena Aluna sudah bahagia dengan sepupunya.
Kenzo menatap Felicia dengan tersenyum. Kenzo berpikir Felicia sangatlah polos. "Apa Kau tidak pernah jatuh cinta?"
Felicia mengerucutkan bibirnya, merasa Kenzo kini mengejeknya. "Kenapa Kak Kenzo bertanya seperti itu? Tentu saja Aku pernah jatuh cinta!" tukasnya.
'dan Aku merasakannya saat ini.'
Kenzo menghembuskan napas panjang. Dia memejamkan matanya merasakan sesuatu yang bergejolak di rongga dadanya. Seandainya ia bisa berpikir seperti Felicia, mungkin dia tidak akan merasa sesakit yang ia rasakan.
"Aku hanya sedang bimbang saat ini antara bertahan atau melepaskan." Tiba-tiba raut wajah Kenzo menjadi muram.
Felicia yang tidak mengerti akan ucapan Kenzo hanya menggaruk tengkuknya. Tapi Felicia dapat merasakan jika sepertinya suasana hati iparnya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Apa Kak Kenzo sedang ada masalah dengan Kak Cintia?" tanya Felicia.
Kenzo menggeleng sehingga membuat Felicia bingung dan malah menerka-nerka apa yang sedang Kenzo alami saat ini.
"Sayang, Kau kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana, ternyata Kau ada di sini." Suara Arion membuat Felicia terkejut dan membuat Kenzo menoleh ke arahnya.
Felicia terkejut karena Arion memanggilnya dengan sebutan 'sayang' . Rasanya ada yang bermekaran dalam hati Felicia.
Arion langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Felicia dan langsung mengajaknya pergi.
"Ku ambil istriku, Kak. Aku tidak suka dia berbicara terlalu lama dengan pria lain," ucap Arion kepada Kenzo.
"Hei! Aku ini kakakmu, bukan pria lain." Kenzo memprotes. Namun Kenzo juga mengulas senyum melihat Arion yang begitu perhatian pada istrinya.