NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:47.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 34

Ada uang sekitar Rp1 juta hasil penjualan jas hujan di gerobak rongsokan Miranda, dan malam ini pria besar itu mengincarnya.

“Cepat serahkan uangnya!” bentak pria besar itu sambil mengulurkan tangan.

Miranda menoleh ke sekeliling. Mereka berada di tengah jalan; kendaraan hilir mudik, hujan turun rintik-rintik, dan tak seorang pun peduli.

Dengan gerakan cepat, Miranda mengeluarkan pisau dapur lalu mengacungkannya ke arah pria itu.

“Lebih baik aku mati daripada menyerahkan uang ini!” serunya dengan tangan gemetar.

Pria besar itu mendecih sinis. “Amatiran. Dari cara kamu memegang pisau saja sudah kelihatan kamu belum pernah membunuh orang. Kalau aku? Sudah biasa…” katanya sambil menarik belati dari balik jaketnya.

“Ayo, cepat kasih uangmu. Aku tahu kamu pegang banyak. Tadi habis jualan di pengajian, kan?” lanjutnya dengan nada mengancam.

“Ternyata aku sudah diincar,” batin Miranda.

“Jangan bikin aku menunggu!” hardiknya lagi, melangkah maju sambil mengangkat belati.

“Astaga, dia benar-benar tidak takut,” pikir Miranda, jantungnya berdegup kencang.

“Jangan mendekat! Kau tidak akan mendapatkan uangku!” teriak Miranda, berusaha tegar.

“Jangan bodoh. Uang bisa dicari lagi. Tapi kalau aku habisi kamu, uang dan nyawamu lenyap sekaligus!” ancam pria itu dingin.

Miranda melirik kanan-kiri. Orang-orang hanya melintas, mengira itu sekadar perkelahian anak jalanan. Tak ada yang berhenti.

Ia tetap mengacungkan pisaunya, bersiap menghadapi apa pun. Menyerah bukan pilihan.

“Serahkan sekarang juga!” gertak pria itu.

Miranda mengayunkan pisaunya nekat, tetapi dengan mudah ditepis. Pisau dapur itu terlempar jauh.

“Memalukan,” ejeknya.

Rasa takut menyergap Miranda. “Apa malam ini akhir hidupku?” gumamnya dalam hati.

“Masih keras kepala? Cepat berikan uangnya!” bentaknya lagi.

“Tidak!” jerit Miranda.

Belati itu terayun ke arahnya.

Miranda memejamkan mata. “Sepertinya aku benar-benar akan mati. Terima kasih, Tuhan, atas hidup ini,” bisiknya dalam hati.

“Arghhh!”

Tiba-tiba pria besar itu menjerit. Ia memegangi kepalanya yang berdarah.

Miranda membuka mata, terperangah melihat darah mengalir di wajah pria itu.

Pria tersebut berbalik, mencari siapa yang menyerangnya.

Belum sempat menemukan siapa pun, sebuah batu kembali menghantam jidatnya. Darah mengucur, membasahi matanya.

“Siapa…?” raungnya. “Jangan sembunyi—!”

“Puk!”

Batu lain melesat dan kembali mengenai kepalanya. Tubuhnya oleng, pandangannya kabur, lalu ia roboh ke aspal.

Miranda terpaku. Ia menyapu pandangan, mencari sosok penolongnya.

“Kamu berutang padaku,” terdengar suara seorang remaja. “Sebagai gantinya, kamu harus membawaku pergi dan memberiku makan setiap hari.”

“Kevin?” panggil Miranda ragu.

Remaja itu melangkah mendekat. Ia mengenakan kaus putih dengan ketapel tergantung di lehernya. Tatapannya tajam.

“Kamu kenal kakakku? Di mana dia sekarang?” tanyanya tegas.

Miranda mengerutkan kening. “Kamu bukan Kevin?”

Remaja itu menggeleng. “Bukan. Aku Ivano, saudara kembar Kevin. Sekarang katakan, dia di mana?” desaknya.

“Tadi aku bertemu dia di masjid. Sepertinya masih di sana,” jawab Miranda.

Ivano menatapnya lekat-lekat. “Kamu sudah berutang padaku. Jadi sekarang bantu aku mencari kakakku.”

Miranda menatap remaja itu lekat-lekat. Wajahnya benar-benar mirip Kevin, hanya saja sikapnya jauh berbeda. Kevin ceria dan sopan, sedangkan anak ini tampak arogan dan semaunya.

“Kenapa kamu mencari Kevin?” tanya Miranda penasaran.

“Dia kabur tidak mengajakku. Tidak asyik di rumah kalau tidak ada dia,” jawab Ivano singkat.

“Kenapa kalian bisa kabur dari rumah?” tanya Miranda lagi.

“Ibu menikah lagi dengan pria brengsek. Pria itu membawa dua anak. Mereka bersikap manis kalau ada Ibu, tapi kalau Ibu tidak ada, mereka menyebalkan. Pria itu menikahi Ibu tanpa modal. Kemarin Kevin bertengkar dengan Ibu, lalu dia kabur. Harusnya kalau mau kabur, ajak-ajak aku,” jelas Ivano dengan nada kesal.

“Oh, begitu, ya. Ya sudah, ayo kita cari,” ajak Miranda.

Ivano mengulurkan tangan. “Mana uangnya?” tanyanya lugas.

“Astaga, anak ini perhitungan sekali,” gumam Miranda dalam hati. Ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang Rp10.000 hasil penjualan jas hujan.

“Rp10.000 saja, jangan banyak-banyak. Ingat, kamu punya utang nyawa kepadaku. Jadi kamu harus berhemat. Malammu masih panjang,” ujar Ivano santai.

Miranda menggelengkan kepala sambil menyerahkan uang Rp10.000 itu kepada Ivano.

“Ayo cari kakakku,” katanya.

Miranda menarik gerobaknya, dan Ivano membantu mendorong dari belakang. Bebannya terasa lebih ringan. “Astaga, sekarang ada anak laki-laki ikut denganku. Mudah-mudahan dia anak baik. Setidaknya aku tidak hidup sebatang kara,” pikir Miranda. Bibirnya pun melengkungkan senyum tipis.

Akhirnya mereka sampai di masjid tempat Miranda tadi berjualan jas hujan. Ia mengedarkan pandangan, berusaha mengingat wajah Kevin.

“Itu dia orangnya,” kata Miranda sambil menunjuk ke arah seorang remaja yang sedang sibuk memarkirkan mobil para jemaah yang keluar dari halaman masjid yang luas itu.

“Kevin!” teriak Ivano, lalu berlari dan menubruk Kevin hingga keduanya terjatuh.

“Tetttt!” suara klakson mobil terdengar karena terhalang tubuh Kevin dan Ivano.

“Dasar gila!” seru Kevin sambil bangkit dan menyeret Ivano ke pinggir jalan.

“Kemana saja kamu? Aku kangen sama kamu!” kata Ivano tanpa jeda.

“Lebay banget, sih. Baru juga dua hari pisah,” balas Kevin datar.

“Astaga, separuh nyawaku hilang! Kamu pikir hidupku berarti tanpa kamu?” dramatiasi Ivano.

Kevin menatapnya lelah. “Sebaiknya kamu balik saja ke rumah. Aku ga akan pulang.”

“Enak saja! Kamu pikir aku mau hidup dengan para benalu itu? Kalau kamu pergi, aku harus ikut!” bantah Ivano.

“Aku malas mengajakmu,” sahut Kevin santai.

“Kenapa memangnya?”

“Makanmu banyak, usil lagi,” jawab Kevin terkekeh.

“Nah, kamu lagi banyak uang, kan? Aku belum makan, nih,” ujar Ivano cepat.

“Dasar gila,” gumam Kevin, lalu meraih tangan Ivano. “Ayo makan.”

Ia menarik Ivano ke sebuah warung nasi. Miranda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kembar itu, lalu mengikuti mereka sambil menarik gerobak.

“Kak Miranda, kenapa kembali lagi?” tanya Kevin heran.

Ivano menyela, “Dia punya utang sama aku, jadi harus ikut aku.”

Kevin menoyor kepala Ivano. “Yang sopan! Kak Miranda sudah menolongku. Cepat minta maaf.”

Walaupun tampak arogan, Ivano rupanya patuh pada Kevin. Ia melangkah ke depan Miranda, mengangkat dua jari membentuk tanda damai, lalu tersenyum lebar. “Kak, peace. Aku minta maaf, ya.”

“Kamu sudah menolongku. Tidak usah sungkan,” jawab Miranda lembut.

“Kak, sekarang kami hidup sebatang kara. Bagaimana kalau kami ikut Kakak?” ujar Ivano tiba-tiba.

“Hei, jangan merepotkan orang, Van,” tegur Kevin.

“Aku tidak punya tempat tinggal. Bagaimana mungkin kalian ikut denganku? Lagi pula aku tidak punya KTP. Aku hanya tidur di jalanan,” jelas Miranda.

“Kalau begitu kami boleh ikut, Kak?” tanya Kevin serius.

Miranda mengernyit. “Kenapa?”

“Karena Kakak tinggal di jalan, jadi tidak akan merepotkan siapa pun. Tenang saja, kami tidak akan membebani Kakak, walaupun Ivano makannya agak banyak,” jawab Kevin ringan.

Miranda tersenyum. Ivano merengut kesal, tetapi justru terlihat menggemaskan.

“Namun sebaiknya kalian pulang saja. Ibu kalian pasti mengkhawatirkan kalian,” saran Miranda.

“Mata Ibu sudah tertutup kotoran. Dia tidak akan mengkhawatirkan kami, Kak,” ucap Kevin pelan.

Miranda terdiam sejenak. “Baiklah. Kita harus saling menjaga, ya. Jangan saling membebani,” katanya akhirnya.

Mereka brdua mengulurkan tangan seperti hendak melakukan hompimpa.

“Ayo, Kak, kita tos! Tanda kalau kita saudara,” seru Ivano antusias.

Miranda ikut mengulurkan tangan. Mereka melakukan hompimpa kecil di bawah gerimis malam.

“Ya!” seru mereka bersamaan.

1
nunik rahyuni
bagus..org sok sok an tu di ambung ambung j terus biar melayang...lama klamaan akhirnya jatuh 🤣🤣🤣🤣
Sunaryati
Lina sifat sombong dan kebencian kamu pada Miranda,jadi berkah dan keuntungan baginya.
Sunaryati
Pandai juga kalian mengelabuhi Lina
Sunaryati
Nah jadi orang itu jangan julid dengan orang lain rugi sendiri ,kan
nunik rahyuni
nah kua ini ni hadil didikan mu..manja teruuuus
nunik rahyuni
kapok..mudahan hbis modalnya jg buat niruti anaknya yg pekok tu alamat kere
Sunaryati
maksudku makian
Sunaryati
Dengan makin banyaknya makin dan hujatan Miranda makin kuat dan tangguh
nunik rahyuni
lanjuuut double triple up
nunik rahyuni
knp pula ketemu mak lampir dan keturunanya..😡😡😡bikin esmosi terus..rasa rasa mira ni kok susah baner mau hidup tenang..dan org2 tu kok pikiranya picik..apa g punya agama ya..tuhan sudah mengatur rejeki stiap orang..jgn iri melihat orang punya bnyk rejeki
nunik rahyuni
lanjuuut ...lanjuuut...
nunik rahyuni
tangkap sj mir sebagai gebrakan baru..tp kmu g usah muncul dlu biar di cover fstimah ..kmu ckup brada di blkg layar sebagai pamantau.....klo sdh tetkenal dan sukses mereka akan tau diapa di balik usaha sukses itu 👏👏👏dan boooom mreka akan kaget..shock dan pingsan melihat kesuksesanmu
Sunaryati
Terima saja,dan tawarkan tenda hajatan . Miranda janga muncul.Jika muncul pakai masker, sebaiknya tidak muncul sama sekali. tetapi bekerja di balik layar
Sunaryati
Suka
Sunaryati
Jalan menuju kesuksesan kalian sepertinya terbuka lebar
Sunaryati
Makin banyak anggota keluargamu Miranda ,semoga segera sukses
"C"
bagus novelnya
nunik rahyuni
tim marketing nya yg serba bisa 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
waaah waaah ...aq jg jualan mie ayam jg lho..ayo mbak mir kita bagi resep🤣🤣🤣
Riss Taa
bagus...semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!