*merried for revenge
bukan ajang perlombaan ini hanya sekedar balas dendam , balas dendam antar saudara yang tak kunjung padam.
liyan menatap nanar HP yang baru saja di banting hingga berserakan di lantai. emosi nya memuncak dan tak terkendali karena sang kekasih meninggalkan liyan demi memilih bertunangan dengan musuh bebuyutannya.
"5 tahun kita pacaran kau malah memilih laki laki sialan itu karena dia di pewaris. " umpat nya tertahan di antara rahang yang sudah mengeras
"brengsek!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
..
..
Zheya merasa aneh, tubuhnya yang tiba tiba pusing.
Pesta yang meriah itu terlihat seperti gempa. Zheya Merasa pusing dan memilih ke toilet sambil memegang kepalanya, tubuh mungilnya mulai merasa panas dan tidak nyaman. Pikirannya pun kalut antara sadar dan tidak sadar.
Rasanya kaki Zheya tidak sanggup lagi melangkah badannya mulai terasa lemah bahkan otaknya tidak bisa berfikir jernih.
Didepannya ada laki laki yang akan membuka kamar hotel no 099, toilet rasanya sangat jauh jalan satu satu nya dia harus minta tolong kepada laki laki dihadapannya
"Tuan! Tolong saya.." Zheya mencekal tangan laki laki itu.
"Apa yang bisa saya bantu?."
"Saya butuh toilet.." ujarnya
"Rasanya toilet sangat jauh,." Rasa khawatir dan waspada tidak lagi ada pada perempuan itu
Kaki nya melangkah masuk ke kamar padahal belum mendapatkan izin dari pria itu.
Zheya menuju ke kamar mandi seakan tidak peduli pada laki laki yang memiliki kamar ini.
Tubuh nya benar benar semakin panas dan tidak nyaman, Zheya menangis saat itu juga, rasanya dia tidak mengerti apa yang di inginkan tubuhnya.
malam ini dia begitu tersiksa.
Mendengar isakan kecil yang semakin membesar pria itu Tampa aba aba membuka pintu kamar mandi.
"Kenapa menangis.."
"Apa yang terjadi nonaa.." tanya sang pemilik kamar
"Bantu saya...."
"Saya tidak tahan.." wajahnya seperti anak kecil yang meminta permen dengan bekas air mata di pipi terlihat sangat menggemaskan
Sungguh Zheya sudah diluar kendali, pengaruh obat itu membuatnya tidak sadar akan dirinya sendiri
"Kamu mau saya bantu.."
"Ada syaratnya..." Suara rendah membuat telinga Zheya semakin memerah
"Apa syaratnya tuan.."
Tanda tangan disini,. Ini surat perjanjian bahwa tidak akan pergi Tampa pertanggung jawaban. Perempuan itu sudah kehilangan akal sehatnya menandatangani berkas itu Tampa membaca terlebih dahulu.
Setelah itu sang pria menarik perempuan itu kedalam pelukannya mencium bibir ranum wanita cantik yang tengah memeluknya. Lumatan demi lumatan semakin mendalam bahkan kecupannya sudah beralih keleher jenjang wanita itu..
malam ini adalah malam panas yang panjang.
___
pagi ini sangat cerah cahaya nya mulai menembus cela cela kaca, mengusik tidur wanita cantik yang tengah menikmati mimpi indahnya.
"Huammm..." Erangan dan menguap secara bersamaan
Zheya mencoba mengumpulkan nyawanya, badan nya terasa sakit dan tidak nyaman
Sedetik kemudian dia berteriak saat menyadari dia tidak menggunakan busana.
"Aaaaaaaaakkkhh..." Teriakannya membuat pria disampingnya terkejut yang sedari tadi bangun tapi lebih memilih pura pura tidur.
Pria itu sudah mempersiapkan mental seakan tau apa yang terjadi selanjutnya. Ini adalah bagian dari rencananya membalas dendam.
Menyadari ada laki laki bersamanya matanya melotot tak kala terkejut saat mendapati diri nya tak berbusana. Zheya sangat merutuki kebodohannya dia kehilangan mahkota yang telah dijaga selama 27 tahun ini.
"Apa yang kamu lakukan padaku.." pekik nya menatap pria itu dengan marah
"Harusnya saya yang mengatakan itu nona.." ucap sang pria tak mau disalahkan.
"Kamu memaksa ku melakukannya.. memeluk dan mencium ku tiba tiba...."
"Tidak mungkin...." Ucap Zheya prustasi
"Tenangkan dirimu dan mandi lah kamu akan mengingat nya sendiri.." ucap sang pria sambil melempar handuk disampingnya kepada wanita itu.
Sambil menggerutu Zheya mengambil handuk menuju kamar mandi.
Akhirnya Zheya mengingat kejadian tadi malam, memang benar dia yang memaksa dan meminta bantuan dari laki laki itu. Lagian mana ada laki laki yang tidak tergoda saat berduaan satu ruangan apa lagi tubuhnya yang seksi dengan baju yang hampir lepas.
Hari ini benar benar sial itulah yang ada dipikiran gadis cantik berkulit putih mulus itu.
Dia tidak menangis tapi dia menatap tubuh nya dengan jijik di balik kaca kamar mandi di hadapan nya
Perempuan itu menarik napas berkali kali mencoba menenangkan diri, kemudian berjalan kearah tempat tidur.
"Ahh tuan.. begini saja, aku tidak akan menuntut mu atas pelecehan ini.."
Kakinya melangkah mengambil tas di atas nakas samping tempat tidur, mengeluarkan uang dan menaruhnya di depan kaki laki itu
"Terima kasih telah membantu saya..."
"Setelah ini anggap saja kita tidak pernah bertemu.."
Ujarnya dan berniat meninggal kan kamar yang menjijikan ini
Kekehan kecil keluar dari mulut laki laki itu membuat buku kuduk Zheya berdiri.
"Apakah saya terlihat seperti kekurangan uang..?"
"Tidak..!"
"Lalu kenapa kamu memberi saya uang.."
"Itu bentuk pertanggungjawaban saya terhadap tuan.."
"Saya tidak butuh tanggung jawab yang seperti itu.."
"Hehh tuan seharusnya anda beruntung.. karena saya masih Original.. harus nya saya yang dirugikan bukan anda.. " Zheya benar benar kesal
Hari ini zheya bukan lah Narumi Zheya seperti biasanya dia kehilangan ekspresi datar dan dinginnya bahkan ekspresi mendominasi nya kalah begitu saja berhadapan dengan laki laki yang ada di depannya.
"Saya juga perdana melakukan hal seperti itu.. karena kamu memaksa saya.. melakukannya saya kelepasan.." ucap si pria dengan santai
"Apa yang kamu inginkan.." tanya Zheya prustasi
"Menikah.. sama sama adil bukan, kita sama sama perdana dalam hal ini.."
wah benar benar laki laki ini bikin emosi dengan santai mengajak menikah seperti membeli cilok.
Zheya berecak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dia menganggap laki laki ini sudah gila.
Tampa peduli lagi Zheya melangkah kan kaki ingin pergi meninggalkan ruangan ini.
Langkahnya terhenti ketika pintu tidak bisa di buka..
"Ckkk.."
Zheya Berdecih menatap nyalang kepada sang pemilik kamar.
"Antisipasi hal yang seperti ini.."
"Saya sengaja mengunci agar nona tidak bisa pergi.."
Pria itu tersenyum mengejek
"Apa yang kamu inginkan.." tanya Zheya lagi
"Menikah dengan ku.." smirk laki laki itu terlihat seperti psikopat Dimata Zheya.
" Jangan gilaa.. saya tidak ingin menikah apalagi kita tidak kenal.."ucapnya prustasi
"Mau tidak mau,. Kita harus menikah.."
"Saya tidak terima penolakan.." sang pria mulai capek berdebat dengan perempuan keras kepala yang berdiri menatap nyalang kearah nya
"Saya tidak mau.."
"Harus mau.. atau saya akan menuntut kamu.."
Pria itu membuka laci mengambil berkas semalam dan melemparkannya kepada sang wanita
"Surat perjanjian..???"
Alis matanya terangkat menandakan dia penasaran dan merasa ada yang tidak beres.
Zheya membaca kata demi kata di dalam surat perjanjian itu. Matanya tidak berhenti melotot selagi membaca berkas itu. Dia perempuan cerdas dengan membaca sebagian saja dia sudah mengerti apa yang terjadi.
Tapi surat ini sah ada tanda tangan notaris. ini namanya hitam di atas putih yang tidak bisa di ganggu gugat.
Dia menjadi target laki laki ini, padahal mereka sebelumnya tidak mengenal apa tujuan laki laki itu.
"Liyan Huang..??"
Zheya Dejavu nama pria ini mirip dengan sang mantan