NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan yang Berbisik

Pagi setelah latihan bersama Yuna terasa lebih ramai dari biasanya. Kamar kecil penginapan sekarang penuh suara—tiga orang yang berbeda usia, tapi sama-sama keras kepala. Yuna duduk di lantai, kaki menyilang, memegang roti panggang yang Mira buat dengan api kecil dari kompor portabel. Dia mengunyah sambil memandang Raito yang sedang duduk bersila di sudut kamar, mata tertutup, embun cahaya tipis mengelilingi tubuhnya seperti kabut pagi.

“Kak Raito lagi meditasi ya?” tanya Yuna dengan mulut penuh roti.

Mira, yang sedang menyeduh teh untuk ketiganya, mengangguk tanpa menoleh. “Iya. Dia lagi coba dengar apa yang cahaya itu mau bilang. Bukan paksa, cuma dengar.”

Yuna memiringkan kepala. “Cahaya bisa bicara?”

Raito membuka mata pelan. Embun itu tidak padam—ia tetap mengelilingi tubuhnya, berdenyut seperti napas yang tenang. “Bukan bicara pakai kata-kata. Lebih seperti… rasa. Kadang hangat, kadang dingin, kadang seperti ingatan yang muncul tiba-tiba.”

Yuna mendekat, duduk di depan Raito. “Cahayanya bilang apa hari ini?”

Raito tersenyum kecil. “Ia bilang… aku nggak perlu takut retak. Retak itu tempat cahaya masuk. Bukan tempat cahaya keluar.”

Yuna mata berbinar. “Wah… kayak jendela yang pecah tapi malah bikin ruangan lebih terang!”

Mira meletakkan cangkir teh di depan mereka. “Itu bagus. Artinya kamu mulai terima retak itu sebagai bagian dari dirimu. Bukan musuh.”

Raito mengangguk. “Tapi aku masih nggak tahu apa yang harus aku lepaskan kalau aku pegang Eclipse Stone lagi. Batu itu seperti cermin—tapi cermin yang nggak bohong. Ia akan tunjukkan apa yang aku paling takut kehilangan.”

Yuna memandang Raito dengan serius—ekspresi yang jarang terlihat di wajah anak kecil. “Kalau aku jadi kamu… aku takut kehilangan Kak Mira dan Kak Raito. Kalian sekarang keluargaku.”

Ruangan hening sejenak. Raito merasa dadanya hangat—bukan karena Nen, tapi karena kata-kata sederhana Yuna.

Mira mengacak rambut Yuna pelan. “Kamu juga keluarga kami sekarang. Makanya kita nggak akan biarkan Shadow Serpent atau batu itu pisahin kita.”

Raito berdiri. Embun cahaya di tubuhnya berdenyut lebih kuat—seperti menyetujui. “Hari ini kita nggak latihan fisik. Kita cari info lebih banyak. Aku mau ke Sera. Dia mungkin tahu cara ‘membaca’ batu itu tanpa pegang langsung.”

Mira mengangguk. “Aku setuju. Tapi kita nggak pergi bertiga. Yuna tetap di sini. Terlalu berbahaya bawa dia ke pasar gelap.”

Yuna langsung protes. “Aku nggak mau sendirian! Aku bisa bantu!”

Mira berlutut di depan Yuna. “Kamu bisa bantu dengan jaga kamar ini. Kalau ada yang ketuk pintu, jangan buka kecuali suara kami. Kalau ada yang aneh, lari ke lapangan belakang dan sembunyi di gudang kecil. Kami balik sebelum malam.”

Yuna cemberut, tapi akhirnya mengangguk. “Janji balik cepat ya?”

Raito mengulurkan jari kelingking. “Janji.”

Yuna mengaitkan kelingkingnya. “Janji.”

Mereka berdua keluar. Yuna mengunci pintu dari dalam, suara gembok kecil terdengar.

Di jalan menuju pasar gelap, Mira berjalan di samping Raito. “Kamu yakin Sera mau bantu tanpa bayaran besar?”

Raito menggeleng. “Nggak yakin. Tapi aku rasa dia penasaran sama cahaya ini. Mungkin dia mau lihat sendiri.”

Pasar gelap pagi itu tidak terlalu ramai—kebanyakan pedagang baru buka kios. Bau asap rokok, rempah gelap, dan logam karat masih sama. Mereka menemukan Sera di kios kecil yang sama seperti sebelumnya—dia sedang membaca buku catatan tebal, kacamata tipisnya hampir jatuh dari hidung.

Sera menoleh saat mereka mendekat. Matanya langsung tertuju ke Raito. “Kamu… auramu berubah. Lebih stabil. Lebih… terbuka.”

Raito duduk di bangku kecil di depan kios. “Aku pegang Eclipse Stone kemarin. Tapi nggak sampai buka portal. Aku cuma… dengar.”

Sera meletakkan buku catatannya. “Dengar apa?”

Raito menjelaskan—retak yang terasa seperti jendela, cahaya yang masuk lewat retak, perasaan bahwa batu itu bukan musuh tapi cermin. Sera mendengarkan dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang baru menemukan buku baru.

“Aku belum pernah dengar kasus seperti ini,” katanya pelan. “Biasanya orang yang pegang batu itu langsung mati atau gila. Kamu… kamu malah jadi lebih kuat. Itu berarti niatmu murni. Atau setidaknya, belum tercemar sepenuhnya.”

Mira bertanya. “Apa ada cara baca batu itu tanpa pegang langsung? Kami nggak mau ambil risiko kalau retaknya tambah dalam.”

Sera diam sejenak. Lalu dia berdiri, mengambil kotak kayu kecil dari bawah meja. Di dalamnya ada kristal kecil berbentuk prisma, warnanya ungu samar.

“Ini ‘Echo Prism’. Aku bikin sendiri. Bisa tangkap jejak aura dari benda tanpa sentuh. Kalau kamu dekat batu itu lagi, aku bisa coba lihat apa yang batu itu ‘lihat’ di dalam dirimu.”

Raito menatap prisma itu. “Berapa biayanya?”

Sera tersenyum tipis. “Gratis. Aku penasaran. Kalau batu itu benar-benar membuka bagian dalam dirimu… aku mau lihat sendiri. Ini kesempatan langka.”

Mira menyipitkan mata. “Kamu yakin nggak ada agenda lain?”

Sera menggeleng. “Aku nggak suka Shadow Serpent. Mereka pernah bunuh teman pedagangku karena rebut Eclipse Stone. Kalau kalian bisa hentikan mereka… aku bantu.”

Raito mengangguk. “Baik. Kami akan kembali ke Harlan malam ini. Kamu ikut?”

Sera mengangguk. “Aku ikut. Tapi aku nggak bertarung. Aku cuma bawa prisma dan catatan.”

Mereka sepakat bertemu malam nanti di depan gudang tua yang sama.

Sore harinya, Raito, Mira, dan Sera bertemu di depan gudang. Yuna ditinggal di penginapan dengan pesan ketat: “Kunci pintu. Jangan buka untuk siapa pun.”

Gudang nomor 47 kali ini terasa lebih sunyi. Pintu besi terbuka sedikit, lampu dalam menyala redup. Harlan duduk sendirian lagi—tapi kali ini wajahnya lebih pucat, seperti orang yang kurang tidur.

“Kalian kembali,” katanya. “Dan bawa tamu.”

Sera maju, memegang Echo Prism. “Aku cuma mau lihat. Tanpa sentuh batu.”

Harlan mengangguk lelah. “Silakan. Tapi cepat. Aku merasa… batu itu gelisah sejak kemarin.”

Raito mendekat. Dia tidak pegang batu—hanya berdiri dekat. Sera angkat prisma ke arah batu itu.

Prisma mulai bercahaya ungu samar. Garis-garis cahaya kecil muncul di permukaannya—seperti peta retak yang hidup.

Sera menatap prisma itu lama. Matanya melebar.

“Ini… retak di dalam dirimu bukan cuma Nen. Ia adalah pintu. Batu itu nggak cuma buka portal ke dunia lain. Ia juga buka portal ke bagian dirimu yang tersembunyi. Bagian yang kamu takut akui.”

Raito menelan ludah. “Bagian apa?”

Sera menatapnya. “Rasa ingin tetap di sini. Rasa takut pulang dan jadi orang biasa lagi. Rasa sayang pada Mira dan Yuna. Retak itu bukan kelemahan. Itu pintu ke kekuatan yang lebih besar—kalau kamu terima, bukan tolak.”

Harlan tertawa pelan. “Aku sudah bilang. Batu itu cermin. Dan cermin nggak bohong.”

Raito diam lama. Lalu dia bertanya dengan suara pelan.

“Kalau aku terima retak itu… apa yang terjadi?”

Sera menurunkan prisma. “Cahaya-mu akan lebih kuat. Tapi kamu nggak akan bisa kembali ke dunia lama tanpa kehilangan sebagian dari dirimu yang sekarang. Kamu harus pilih: tetap di sini dengan retak yang terbuka, atau pulang dengan retak yang tertutup selamanya.”

Ruangan hening.

Raito memandang Eclipse Stone. Garis cahaya retak di dalamnya berdenyut—seperti menunggu jawaban.

Dia tidak pegang batu itu malam ini.

Tapi dia tahu—jawaban sudah mulai terbentuk di dalam dirinya.

Dan retak itu… bukan lagi sesuatu yang harus disembunyikan.

Ia adalah bagian dari cahaya yang mulai terbuka.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!