NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Satu Atap, Dua Pintu

Deru mesin mobil SUV hitam itu mati, menyisakan keheningan yang mendadak terasa mencekik di dalam kabin.

Hannah meremas tali tas tangannya erat-erat. Jantungnya berdegup tak karuan, seolah ingin melompat keluar dari rusuknya. Perjalanan dua puluh menit dari rumah orang tuanya terasa seperti perjalanan menuju planet lain. Meski secara geografis dekat, secara mental, Hannah merasa sedang dibawa ke dunia antah berantah.

"Sudah sampai, Dek," suara Akbar memecah lamunan Hannah.

Hannah tersentak pelan, lalu menoleh ke luar jendela. Sebuah rumah bergaya minimalis modern bercat putih dan abu-abu berdiri tenang di hadapannya. Halaman depannya rapi dengan rumput jepang dan satu pohon mangga yang rindang. Tidak terlalu besar, tapi terlihat sangat kokoh dan terawat.

Ini rumah Akbar. Dan mulai detik ini, rumahnya juga.

"Ayo," ajak Akbar lembut sambil melepas sabuk pengaman.

Hannah turun dari mobil dengan langkah ragu. Ia berdiri di teras sementara Akbar menurunkan koper-koper besar milik Hannah dari bagasi. Tidak ada asisten rumah tangga yang menyambut. Akbar memang tipe laki-laki mandiri yang terbiasa mengurus segalanya sendiri.

"Assalamualaikum," ucap Akbar saat membuka pintu utama.

"Wa... wa’alaikumsalam," jawab Hannah lirih, melangkahkan kaki kanannya masuk ke dalam rumah.

Aroma citrus yang segar langsung menyapa indra penciuman Hannah. Interior rumah itu didominasi warna monokrom hitam, putih, dan elemen kayu. Sangat maskulin, sangat rapi, dan... sangat sepi.

"Maaf kalau rumahnya agak berantakan, Mas belum sempat beres-beres lagi karena sibuk urus nikahan," ujar Akbar basa-basi, padahal di mata Hannah, rumah itu lebih rapi daripada asrama putrinya.

"Ini rapi banget kok, Mas," cicit Hannah.

Akbar tersenyum tipis. Ia kemudian mengangkat koper Hannah. "Ayo, Mas tunjukkan kamarnya."

Kamar.

Satu kata itu membuat darah Hannah berdesir dingin. Lututnya lemas. Bayangan tentang "malam pertama" yang sering digoda oleh teman-temannya di pondok kini menari-nari menakutkan di kepalanya. Ia belum siap. Demi Allah, ia belum siap disentuh, apalagi melakukan kewajiban istri yang lebih jauh. Hannah berjalan mengekor di belakang Akbar seperti tawanan perang yang pasrah.

Mereka melewati ruang tengah, lalu masuk ke sebuah lorong pendek yang menghubungkan dua kamar. Akbar berhenti di depan pintu kamar yang bercat putih bersih.

"Ini kamarnya," kata Akbar sambil membuka pintu lebar-lebar.

Hannah memberanikan diri mengintip. Matanya membelalak sedikit. Kamar itu luas, dengan jendela besar yang menghadap ke taman samping. Ada ranjang queen size dengan seprai warna dusty pink warna kesukaan Hannah. Ada meja belajar lengkap dengan rak buku kosong yang siap diisi, dan lemari pakaian besar.

Kamar itu indah. Tapi yang ada di pikiran Hannah hanyalah: Di ranjang itulah semuanya akan terjadi.

Hannah berdiri kaku di ambang pintu, tidak berani masuk. Napasnya mulai pendek-pendek. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.

Akbar yang menyadari ketegangan istrinya, meletakkan koper Hannah di dekat lemari, lalu berbalik badan. Ia menatap Hannah yang masih mematung di pintu dengan wajah pucat.

"Masuklah, Dek. Coba cek kasurnya, empuk atau tidak," ujar Akbar santai.

Hannah melangkah masuk pelan, tapi matanya liar mencari-cari barang-barang Akbar. Di mana baju Akbar? Di mana bantal Akbar? Kenapa hanya ada satu handuk di sana?

"Mas..." panggil Hannah, suaranya hampir hilang. "Barang-barang Mas... di mana?"

Akbar tersenyum. Senyum yang sangat tenang, bukan senyum penuh nafsu yang Hannah takutkan. Ia berjalan mendekati Hannah, namun berhenti pada jarak yang sopan sekitar satu meter, menjaga ruang pribadi Hannah.

"Hannah," panggil Akbar dengan nada suara yang berubah serius namun lembut. "Mas tahu kamu kaget. Mas tahu perjodohan ini terlalu cepat buat kamu. Kamu baru dua puluh tahun, baru pulang mondok, dan tiba-tiba harus tinggal sama laki-laki asing."

Hannah menunduk, tidak berani menatap mata elang itu.

"Mas tidak ingin kamu merasa tertekan di rumah ini. Rumah ini harus jadi tempat istirahatmu, bukan penjara ketakutanmu," lanjut Akbar. Ia menunjuk ke arah pintu di seberang lorong. "Itu kamar Mas."

Hannah mendongak cepat, bingung. "Maksudnya?"

"Mulai malam ini, sampai kamu benar-benar siap dan nyaman... kamu tidur di kamar ini, dan Mas tidur di kamar sebelah," jelas Akbar tegas. "Kamar ini wilayah pribadimu. Mas tidak akan masuk kalau tidak kamu izinkan. Kamu bisa kunci pintunya dari dalam kalau itu membuatmu merasa lebih aman."

Mulut Hannah sedikit terbuka. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Beban ribuan ton yang sejak tadi menindih pundaknya seolah diangkat seketika.

"Mas... serius?"

"Sangat serius," jawab Akbar. "Mas menikahimu untuk memuliakanmu, Hannah. Bukan untuk memaksamu. Kita punya seumur hidup untuk saling mengenal. Tidak perlu buru-buru satu kamar kalau hatimu belum tenang."

Mata Hannah berkaca-kaca. Ia melihat ketulusan yang nyata di wajah suaminya. Laki-laki ini... laki-laki ini benar-benar memegang janjinya pada Abah.

"Terima kasih, Mas," bisik Hannah, air mata haru menetes satu di pipinya. "Terima kasih banyak."

Akbar mengangguk, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci. Ia meletakkannya di atas meja belajar.

"Ini kunci kamarmu. Istirahatlah. Mandi, ganti baju yang nyaman. Kamu pasti capek seharian jadi pajangan di pelaminan," canda Akbar mencoba mencairkan suasana. "Mas mau ke musholla belakang dulu, mau siap-siap Asar. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil saja."

Akbar pun melangkah keluar kamar, menutup pintu pelan-pelan, meninggalkan Hannah sendirian di dalam sana.

Begitu pintu tertutup, Hannah merosot duduk di tepi ranjang. Ia mendekap dadanya yang masih bergemuruh, tapi kali ini iramanya berbeda.

Hannah menatap sekeliling kamar yang disiapkan khusus untuknya itu. Seprai pink, meja belajar untuk kuliahnya nanti, dan privasi yang diberikan Akbar.

Untuk pertama kalinya sejak perjodohan ini dimulai, Hannah merasa bahwa menikahi Muhammad Akbar mungkin bukanlah sebuah musibah. Justru, ini mungkin adalah bentuk perlindungan Allah yang paling manis untuknya.

Hannah menghapus air matanya, berdiri, dan berjalan menuju pintu. Ia memutar kunci pintu itu. Klik.

Terkunci. Aman.

Namun, di dalam hatinya, satu kunci lain kunci gembok hatinya yang keras baru saja terbuka sedikit demi sedikit untuk sang suami di kamar sebelah.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!