NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31 Penyerbuan Menara Uap

Langit Bandung Steampunk tidak pernah benar-benar gelap; ia selalu berwarna jingga berkarat akibat pantulan api dari tungku-tungku raksasa di pinggiran kota. Di pusat kekacauan itu, Menara Gubernur Vena menjulang setinggi lima ratus meter, sebuah monumen besi yang terus mengeluarkan uap tekanan tinggi ke atmosfer. Menara ini bukan sekadar kantor pemerintahan, melainkan sebuah Jangkar Dimensi yang sedang menyedot eksistensi Bandung Modern masuk ke dalam perut mesinnya.

"Satu menit lagi menuju zona drop!" teriak Kapten Rian melalui interkom di dalam airship kecil bernama The Last Second.

Saka berdiri di ambang pintu kapal yang terbuka, menatap angin kencang yang membawa bau belerang. Tubuh fisiknya terasa berat namun penuh tenaga. Di sampingnya, Anita sedang memejamkan mata, tangannya menyentuh dinding logam kapal, mencoba "berbicara" dengan sistem uap kota melalui energi Alexandria.

"Saka, sistem pertahanan menara itu bukan hanya mekanik," bisik Anita. "Vena memasang Sensor Jiwa. Jika kau masuk dalam wujud hantu, alarm akan berbunyi. Jika kau masuk sebagai manusia, kau akan hancur oleh tekanan uap di koridor utama."

"Maka aku akan menjadi keduanya," jawab Saka. Ia memutar Arloji Void-nya. "Aku akan menggunakan Phasing parsial. Tubuhku tetap di sini, tapi beratku berada di dimensi bayangan."

Wuzzz!

Mereka melompat dari ketinggian. Kapten Rian menggunakan jetpack uapnya untuk meluncur menuju balkon tengah, sementara Saka menangkap Anita dan menggunakan kendali gravitasi untuk mendarat dengan senyap di puncak menara.

Begitu kaki mereka menyentuh lantai besi, belasan robot penjaga berbentuk laba-laba mekanik keluar dari celah dinding. Mata mereka merah meradang, memindai setiap inci udara.

"Anita, sekarang!" teriak Saka.

Anita menghantamkan telapak tangannya ke lantai. "Berdasarkan hukum permesinan kuno, atas nama pengetahuan yang tertulis... OVERLOAD!"

Gelombang data perak mengalir masuk ke dalam sirkuit laba-laba mekanik tersebut. Dalam sekejap, mereka meledak dari dalam, mengeluarkan bunga api kuningan. Namun, ledakan itu memicu alarm utama. Suara sirine uap yang melengking memekakkan telinga merobek kesunyian malam.

"Kalian tidak akan pernah mencapai ruang singgasana!" suara Gubernur Vena bergema dari pengeras suara di seluruh menara. "Bandung yang kalian cintai hanyalah sejarah yang gagal. Di sini, di bawah kekuasaanku, semua orang adalah roda gigi yang berguna!"

Mereka menerjang masuk ke dalam koridor utama. Pertempuran terjadi dengan brutal. Kapten Rian menembakkan senapan uapnya, menghancurkan barisan tentara zirah, sementara Saka bergerak seperti kilat perak di antara peluru-peluru yang melambat. Saka tidak lagi menahan diri; setiap pukulannya menghancurkan baja.

Saat mencapai pintu ruang singgasana, mereka dihadang oleh Letnan Aris, versi Steampunk dari dokter yang pernah menghantui Saka. Aris di sini memiliki tubuh yang setengahnya adalah mesin piston raksasa.

"Saka... biarkan aku membedah waktumu sekali lagi," desis Aris sambil mengayunkan gergaji uap raksasa.

"Biar aku yang urus dia!" Kapten Rian mendorong Saka dan Anita maju. "Pergi! Temukan Pasak Waktu itu sebelum Bandung Modern benar-benar terhapus!"

Saka dan Anita mendobrak pintu emas di ujung koridor. Di dalam, Gubernur Vena berdiri di depan sebuah bola energi raksasa yang berisi Pasak Waktu. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah buku kulit hitam—Buku yang Tidak Pernah Ditulis.

"Kalian terlambat," ucap Vena dengan senyum kemenangan. "Aku sudah mulai menulis bab penghancuran kalian."

Vena membuka buku itu, dan seketika, realitas di dalam ruangan itu mulai terkelupas. Saka merasakan kakinya mulai menghilang, berubah menjadi tulisan-tulisan acak yang tidak berarti. Anita menjerit saat memori di kepalanya mulai terhisap masuk ke dalam buku tersebut.

"Anita, ingat janjiku di Alexandria!" Saka berteriak melawan badai tulisan hitam. "Kau adalah penulisnya sekarang! Bukan dia!"

Saka melemparkan Arloji Void-nya ke arah Anita. Anita menangkapnya di tengah udara, menyatukan energi arloji itu dengan tangan peraknya. Ia tidak lagi mencoba melawan buku itu; ia mencoba menyuntingnya.

Anita menggoreskan jarinya yang bercahaya ke udara, menulis di atas teks hitam milik Vena. "Ini bukan bab terakhir kami! Ini adalah Awal dari Multisemesta!"

Ledakan tinta perak dan hitam beradu di tengah ruangan. Cahaya yang dihasilkan begitu menyilaukan hingga menembus dinding menara, terlihat oleh seluruh penduduk kota.

Vena menjerit saat buku di tangannya terbakar oleh api sejarah yang sah. Pasak Waktu di dalam bola energi meledak, melepaskan gelombang kejut yang mendorong Bandung Steampunk kembali ke garis waktunya sendiri.

Saka dan Anita terjatuh di aspal Jalan Braga yang asli. Uap hilang, pipa tembaga lenyap, dan deru mesin berganti kembali menjadi suara klakson mobil dan obrolan santai anak muda Bandung tahun 2026.

Saka segera memeriksa tubuhnya. Ia masih fisik. Ia menoleh ke arah Anita yang terbaring lemas namun masih bernapas.

"Kita berhasil, Nit?" tanya Saka parau.

Anita tersenyum lemah, menunjukkan Arloji Void yang kini memiliki retakan kecil di kacanya. "Kita berhasil memisahkan mereka. Tapi Saka... lihat ke langit."

Saka mendongak. Langit tidak lagi pecah seperti kaca, namun kini ada dua bulan yang menggantung di sana. Satu bulan berwarna putih biasa, dan satu lagi berwarna biru pucat.

Tabrakan dimensi memang berhenti, namun kedua dunia itu kini telah terkunci dalam orbit yang sama. Bandung tidak lagi sendirian di semesta ini.

"Selamat datang di era baru, Saka," ucap suara Luna yang tiba-tiba muncul di samping mereka. Kali ini, Luna tampak mengenakan seragam gabungan antara sekolah dan tempur. "Kalian tidak hanya menyelamatkan kota. Kalian baru saja menciptakan Gerbang Antar-Dunia pertama di Indonesia."

Arloji di tangan Saka bergetar, menampilkan misi berikutnya

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!