NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / One Piece
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KONSEKUENSI DAN KEPUTUSAN BESAR

Tiga hari setelah pertarungan dengan Kaizerr, berita menyebar ke seluruh East Blue.

Koran pagi itu menampilkan headline besar di halaman depan:

"DUA BOCAH MONSTER KALAHKAN SILVER BLADE PIRATES! KAIZERR MENYERAH!"

Artikelnya lengkap dengan testimony dari saksi mata yang melihat pertarungan dari kejauhan. Bahkan ada sketsa kasar yang menggambarkan momen saat tornado Sabo menembus armor perak Kaizerr.

Dan yang paling mengejutkan—bounty kami naik lagi.

Drastis.

Poster baru datang ke kantor pos Foosha Village pagi itu juga.

"FIRE FIST" PORTGAS D. ACE

BOUNTY: 250,000,000 BELLY

DEAD OR ALIVE

"WIND DRAGON" OUTLOOK SABO

BOUNTY: 200,000,000 BELLY

DEAD OR ALIVE

Dua ratus lima puluh juta dan dua ratus juta.

Total empat ratus lima puluh juta berry untuk dua anak berusia dua belas dan lima belas tahun.

Bounty tertinggi di East Blue. Bahkan lebih tinggi dari kebanyakan bajak laut di Paradise.

"Ini gila..." Dadan menatap poster dengan wajah pucat. "Bounty setinggi ini akan menarik perhatian bukan cuma pemburu bounty atau Marine biasa... tapi juga..."

"Yonko," Yamamoto melengkapi dengan nada serius. "Bounty di atas dua ratus juta adalah level yang akan masuk radar Yonko. Mereka akan mulai perhatikan kalian—entah untuk rekrut atau eliminasi."

Hening.

Situasi jadi jauh lebih berbahaya dari yang kubayangkan.

"Berapa lama menurutmu sampai mereka bereaksi?" Sabo bertanya.

"Sulit diprediksi. Yonko punya banyak hal yang harus diurus di New World. Dua bocah di East Blue mungkin bukan prioritas tertinggi. Tapi—" Yamamoto menatap kami serius. "—mereka pasti akan kirim seseorang untuk observe. Mungkin Commander level atau officer tinggi."

Commander level. Seperti Marco, King, Katakuri, atau Ben Beckman.

Monster yang bahkan lebih kuat dari Kaizerr.

"Dan Marine?" aku bertanya.

"Marine akan lebih cepat bereaksi. Bounty setinggi ini di East Blue adalah anomali besar. Headquarters pasti akan kirim pasukan dalam waktu dekat—mungkin Vice Admiral atau bahkan..."

Dia terdiam.

"Bahkan apa?"

"Admiral."

Jantungku berhenti sejenak.

Admiral. Kizaru, Aokiji, atau Akainu.

Monster level tertinggi di Marine. Masing-masing punya kekuatan setara atau bahkan lebih kuat dari Yonko.

"Kemungkinan Admiral datang kesini berapa persen?" Sabo bertanya dengan nada khawatir.

"Sepuluh sampai dua puluh persen. Tidak tinggi tapi juga tidak bisa diabaikan. Kalau Headquarters anggap kalian ancaman cukup besar—mereka akan kirim Admiral untuk pastikan kalian ditangkap atau dieliminasi."

Sepuluh sampai dua puluh persen masih terlalu tinggi.

Kami kuat. Tapi tidak sekuat Admiral. Bahkan bertarung melawan Kaizerr sudah sangat sulit—dan dia cuma level Vice Admiral rendah.

Admiral adalah level yang berbeda sekali.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" aku bertanya—untuk pertama kalinya benar-benar tidak yakin dengan langkah selanjutnya.

Yamamoto diam sejenak. Memikirkan dengan serius.

"Ada tiga pilihan. Pertama—tetap disini dan hadapi apapun yang datang. Risiko tinggi tapi kalian bisa lindungi Luffy dan Dadan secara langsung."

"Kedua—kabur dari East Blue sekarang juga. Masuk Grand Line dan sembunyi di Paradise sampai kalian cukup kuat untuk hadapi level Admiral atau Yonko."

"Ketiga—" dia menatap kami dengan tatapan yang sangat serius. "—minta bantuan. Hubungi Shanks dengan Vivre Card yang dia kasih. Atau bahkan hubungi Dragon. Mereka cukup kuat untuk buat Marine atau Yonko mikir dua kali sebelum menyerang."

Tiga pilihan. Semua punya konsekuensi besar.

Tetap disini berarti bahaya konstan dan kemungkinan menghadapi musuh yang terlalu kuat.

Kabur berarti tinggalkan Luffy dan keluarga tanpa perlindungan langsung.

Minta bantuan berarti berhutang budi pada orang lain dan kehilangan independensi.

"Aku mau dengar pendapat kalian berdua," Yamamoto berkata. "Ini keputusan besar yang akan tentukan masa depan kalian. Pikirkan baik-baik."

Aku dan Sabo saling menatap. Komunikasi tanpa kata seperti biasa.

"Boleh kami diskusi sendiri dulu?" aku bertanya.

"Tentu. Ambil waktu yang kalian butuhkan."

Kami keluar dari gubuk dan berjalan ke tempat favorit kami—tebing yang menghadap laut dimana dulu kami sering latihan.

Duduk di tepi tebing sambil menatap cakrawala.

"Apa pikiranmu?" Sabo bertanya pelan.

"Kabur bukan pilihan. Aku tidak akan tinggalkan Luffy dan Dadan tanpa perlindungan."

"Aku setuju. Maka pilihan pertama atau ketiga."

"Minta bantuan Shanks atau Dragon juga bukan solusi jangka panjang. Mereka tidak bisa jaga kita selamanya. Dan aku tidak mau berhutang budi yang terlalu besar."

"Berarti pilihan pertama. Tetap disini dan hadapi apapun yang datang."

"Tapi kita harus realistis—kalau Admiral atau Yonko Commander datang, kita tidak bisa menang dengan kekuatan sekarang."

Hening sejenak.

"Kecuali..." Sabo mulai bicara perlahan. "...kita jadi lebih kuat dalam waktu singkat. Jauh lebih kuat."

"Bagaimana? Latihan biasa tidak akan cukup untuk lompat ke level Admiral dalam waktu singkat."

"Bukan latihan biasa. Tapi latihan ekstrim dengan metode berbahaya yang bisa bikin kita mati atau jadi jauh lebih kuat."

Aku menatap Sabo. Dia serius.

"Kau bicara tentang...?"

"Latihan dengan near-death experience berulang. Yamamoto pernah cerita kan? Cara tercepat untuk evolusi Haki adalah dengan bertarung di ambang kematian. Semakin sering kita hampir mati dan survive, semakin cepat Haki berkembang."

Itu benar. Banyak fighter kuat di One Piece berkembang pesat setelah hampir mati—Luffy vs Crocodile, Luffy vs Katakuri, Zoro vs Mihawk, dan banyak lagi.

"Tapi itu sangat berbahaya. Satu kesalahan dan kita benar-benar mati."

"Aku tahu. Tapi apa ada pilihan lain? Kalau kita mau protect Luffy dan keluarga, kita harus jadi cukup kuat untuk hadapi Admiral level."

Sabo benar. Tidak ada jalan pintas yang aman.

"Baiklah. Kalau memang itu yang harus dilakukan—kita lakukan."

Kami kembali ke gubuk dengan keputusan sudah bulat.

"Kami memutuskan tetap disini," aku mengumumkan pada Yamamoto dan Dadan. "Tapi kami akan latihan dengan metode berbeda—lebih ekstrim dan lebih berbahaya."

"Seberapa ekstrim?" Yamamoto bertanya dengan nada curiga.

"Near-death training. Kami akan bertarung melawan binatang buas terkuat di pulau ini, bertarung satu sama lain sampai hampir mati, dan dorong Haki sampai batas maksimal berulang kali."

"Itu gila! Kalian bisa mati sungguhan!" Dadan berteriak panik.

"Kami tahu. Tapi itu satu-satunya cara untuk jadi cukup kuat dalam waktu singkat. Kalau kami tidak jadi lebih kuat dan Admiral datang—kami tetap akan mati. Setidaknya dengan cara ini ada kemungkinan survive."

Yamamoto menatap kami lama. Menimbang.

"Kalian serius?"

"Sangat serius."

Dia menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau itu keputusan kalian, aku akan bantu. Tapi dengan syarat—aku akan supervise semua latihan. Aku tidak akan biarkan kalian mati karena ceroboh."

"Terima kasih."

"Dan Luffy?" Dadan bertanya dengan khawatir. "Dia bagaimana?"

"Luffy tetap latihan normal dengan Yamamoto. Dia masih terlalu kecil untuk latihan near-death. Tapi fondasi harus terus dibangun."

"Dan kami akan pastikan selalu ada yang jaga dia. Kalau kami berdua latihan ekstrim, Yamamoto harus stay dengan Luffy."

Rencana sudah jelas.

Tiga bulan. Kami kasih diri sendiri tiga bulan untuk naik level drastis dengan near-death training.

Kalau berhasil—kami akan punya kesempatan melawan Admiral atau Yonko Commander.

Kalau gagal—kami mati dalam latihan.

Tidak ada jalan tengah.

Latihan dimulai keesokan harinya.

Yamamoto membawa kami ke bagian pulau yang bahkan selama latihan tiga tahun dulu kami hindari—Deep Forest Zone. Area dimana binatang buas paling berbahaya tinggal.

"Disini ada Lima Singa Neraka—binatang hybrid antara singa dan monster yang punya kekuatan setara bajak laut bounty seratus juta. Mereka berburu dalam pack dan sangat territorial."

"Tugas kalian—bertarung melawan mereka tanpa gunakan Devil Fruit atau Conqueror's Haki. Hanya Armament dan Observation. Survive selama satu jam."

"Kenapa tidak boleh pakai Devil Fruit dan Conqueror's?" aku bertanya.

"Karena kalian sudah terlalu bergantung pada kedua kekuatan itu. Kalau suatu hari kalian hadapi musuh yang bisa negate Devil Fruit atau resist Conqueror's—kalian harus bisa bertarung dengan Armament dan Observation saja."

Logika yang masuk akal.

"Dan satu aturan lagi—kalian tidak boleh kerja sama. Masing-masing harus survive sendiri. Ini latihan untuk dorong limit individual."

Tidak boleh kerja sama. Berarti aku dan Sabo akan dipisah dan harus hadapi binatang buas sendiri-sendiri.

"Siap?"

Kami mengangguk meskipun jantung berdetak cepat.

Yamamoto bunyikan peluit keras.

TWEEEET!

Dari dalam hutan gelap, terdengar geraman mengerikan.

GROOOOAAARRR!

Lima Singa Neraka muncul—masing-masing sebesar gajah dengan bulu hitam, mata merah menyala, dan taring sepanjang lengan orang dewasa.

Presence mereka sangat kuat—masing-masing setara Kaizerr dalam mode normal.

"LARI KE ARAH BERLAWANAN! SEKARANG!"

Aku berlari ke kiri. Sabo ke kanan.

Tiga singa mengejar aku. Dua mengejar Sabo.

Tidak adil tapi tidak ada waktu complain.

Aku berlari sekuat tenaga—gunakan Observation Haki untuk hindari pohon dan batu sambil singa mengejar dari belakang dengan kecepatan mengerikan.

Salah satu singa lompat—cakar terayun ke arah punggungku.

Aku reflex duck dan roll—cakar melewati dengan jarak sejengkal.

Langsung bangkit dan lanjut lari sambil cari tempat strategis untuk bertarung.

Disana—celah sempit di antara dua pohon besar. Singa terlalu besar untuk masuk bersamaan.

Aku masuk celah dan berbalik—Hinokami terhunus.

Tiga singa berhenti di depan celah—menggeram marah tidak bisa masuk bersamaan.

Tapi mereka tidak bodoh. Satu masuk dari depan. Dua yang lain memanjat pohon untuk serang dari atas.

Sial. Mereka bisa strategize.

Singa pertama masuk celah—langsung serang dengan cakar dan taring.

Aku block dengan Hinokami dilapisi Armament—CLANG!—kekuatan benturan bikin tanganku mati rasa.

Kuat! Sangat kuat!

Belum sempat recover, dua singa dari atas sudah lompat—serang dari sudut yang berbeda.

Tidak bisa block keduanya!

Aku hanya bisa block satu dengan pedang—yang satunya lagi kena bahuku.

RIP!

Cakar merobek daging. Darah mengalir deras.

"GYAAHH!"

Sakit. Sangat sakit.

Tapi tidak boleh berhenti. Kalau berhenti, mati.

Aku kick singa yang ada di depan—Armament Haki di kaki. Dia terdorong keluar celah.

Lalu aku lompat mundur untuk hindari dua singa dari atas yang landing.

Keluar dari celah—kembali ke area terbuka.

Tiga singa mengelilingi lagi.

Bahu kiri berdarah banyak. Gerakan tangan kiri terbatas.

Lima puluh lima menit lagi.

Aku harus survive lima puluh lima menit lagi dalam kondisi terluka.

Ini akan jadi jam terpanjang dalam hidupku.

Tapi aku tidak akan menyerah.

Tidak peduli seberapa sakit.

Tidak peduli seberapa susah.

Aku akan survive.

Dan aku akan jadi lebih kuat.

Api takdir berkobar dengan nyala paling terang.

Dipaksa oleh keadaan untuk evolusi atau mati.

Tidak ada pilihan lain.

Hanya maju atau musnah.

1
manusia biasa
bukannya Ace ga bisa berenang yah, karena dah makan buah iblis?
Salman Al Farisi
lanjut thor 👍👍👍👍👍
Pi Xi
bagus
Tiara Fani
Thor bikin novel dimana karakter kanae kocho reinkarnasi di one piece
Wahyu🐊: nanti
total 2 replies
deepey
tak kira jadi Luffy, ternyata jadi ace. ubah takdir ace ya Thor. jangan mpe meninggoy duluan.
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!