NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Art of Breaking Barriers (And A Little Bit of Chili)

​"Kalau kamu tanya sama aku, apa hal yang Fraya sukai—sesuatu yang kira-kira bisa bikin dia tidak langsung mengusirmu di menit pertama kamu muncul di depan pintu rumahnya—kamu salah besar kalau sampai membawakan dia bunga."

​Florence mengucapkannya dengan nada final, seolah itu adalah hukum alam yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.

​"Karena walaupun aku belum begitu lama mengenal Fraya Alexandrea, tapi sependek yang pernah kuingat, Fraya bukan tipe yang suka diberi bunga. Karena menurutnya itu klise, dan norak. Apalagi mawar merah. Asa pernah memberinya setangkai bunga, meskipun dengan dalih ia menemukannya di pinggir jalan saat berangkat sekolah. Tapi bukannya diterima, Fraya malah bilang: 'Lebih baik kamu berikan saja ke Florence. Aku tidak begitu suka bunga, apalagi mawar merah.' Dan sepertinya aku sudah tidak perlu mengingatkanmu lagi, Damian, kalau orang yang hatinya sedang kamu berusaha luluhkan itu adalah orang yang pernah mematahkan hidung sahabatmu sendiri."

​Sederet titah panjang itu menaungi kepala Damian bak awan mendung yang keras kepala, enggan beranjak sepanjang ia mengemudikan mobilnya membelah aspal menuju Richmond, London Barat.

​Florence benar. Yang sedang ingin ia luluhkan ini bukan sekadar gadis biasa.

Fraya adalah gadis yang sudah membangun tembok raksasa dengan presisi sangat tinggi agar siapapun tidak akan mampu meruntuhkannya, terutama Damian.

Jangankan meruntuhkannya, untuk sekadar menemukan pijakan agar Damian bisa sekadar memanjatnya saja rasanya begitu sulit.

​Dalam beberapa menit, Damian sudah memasuki area perumahan Fraya. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah ber bata merah yang tidak terlalu luas namun memancarkan aura homey dan asri, lengkap dengan tanaman yang ditata rapi dan terlihat estetik.

​Damian menarik napas sejenak sebelum memutuskan untuk turun. Dikepalanya tertulis skenario, dan terselip juga sebuah doa pada semesta agar memberinya sedikit belas kasihan. Ia hanya ingin Fraya tidak serta-merta langsung mengusirnya keluar di menit Damian muncul didepan pintu.

Damian tahu ini langkah yang kelewat nekat, bahkan untuk seorang Damian Harding yang seumur hidupnya belum pernah punya pengalaman menyambangi rumah seorang gadis hanya untuk mengejar sebuah maaf.

Sebuah maaf yang kali ini terasa begitu krusial untuk membukakan jalan agar cewek cantik sialan itu mau kembali bicara dengan Damian tanpa perlu pakai emosi.

​Ia terdiam, memantapkan hati sebelum turun. Namun, ekor matanya menangkap sesuatu yang duduk diam di jok penumpang sejak tadi. Sejenak, ia menutup kembali pintu mobilnya, dengan kikuk menyambar sebuah kotak di jok sampingnya.

​Damian menatap kotak berwarna hitam berukuran sedang yang ia masukkan ke dalam paper bag dengan warna senada.

Ia tahu langkah ini sudah jauh menyentuh relung hatinya yang terdalam. Ia sedang membiarkan sisi dirinya yang paling privat keluar untuk mencoba menembus pertahanan Fraya.

Sebuah langkah tak disangka yang dilakukan Damian pada usianya ke 18, memberikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia simpan lama, yang rencananya hanya akan ia berikan jika suatu hari nanti ia menemukan orang yang tepat.

​Apakah ini terlalu cepat? Entahlah, Damian juga tidak tahu. Yang ia tahu, ia sudah masuk pada fase depresi karena konsistensi bungkamnya Fraya ini sukses membuatnya rungsing tanpa henti. Ia tidak punya pilihan. Ia ingin Fraya tahu bahwa hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini adalah tetap memiliki gadis itu di sisinya untuk terus berbicara pada Damian.

​Dengan keraguan yang masih membekas, Damian menaruh kembali kantongan hitam itu ke atas kursi penumpang. Ia ingin sekali bisa memberikannya malam ini, tapi Damian juga ingin memastikan rencana nya malam ini berjalan seperti yang Damian harapkan.

​Sebagai gantinya, Damian menyambar kotak lain yang berukuran lebih besar dari jok belakang. Kemudian ia turun dengan langkah lebar-lebar menuju pintu rumah Fraya.

Sambil mencoba menjaga wajahnya agar tetap terlihat composed di bawah tekanan rasa was-was, Damian menekan bel pintu rumah Fraya beberapa kali.

​Dalam benaknya, Damian membayangkan akan bertemu sosok pria paruh baya dengan fitur Asia yang kental, mengingat wajah Fraya yang sedikit pun tidak ada ras campuran.

Namun, yang hadir membukakan pintu untuk Damian justru diluar dari dugaan sok tahunya Damian.

Daun pintu putih yang terbuka itu menampakkan sosok pria bertubuh besar yang tingginya nyaris menyamai tinggi Damian. Wajah garang pria di depannya ini sama sekali tidak terlihat seperti pria Asia Tenggara. Wajahnya mirip sekali dengan aktor laga terkenal yanh filmnya sering Damian tonton yaitu Gerard Butler. Dengan hidung mancung yang tegas dan jambang di sekitar dagu yang tampak kasar.

​Alis tebal pria itu terangkat saat menatap Damian.

​"Can I help you?" tanya pria paruh baya itu tanpa basa-basi, suaranya setengah parau.

​"Um... maaf, Sir. Sepertinya saya salah alamat. Saya sedang mencari rumah seorang teman sekolah yang katanya tinggal di daerah sini. Apakah Anda tahu kediaman Fra—"

​Kalimatnya terputus saat suara seorang gadis menyahut dari dalam, menggunakan bahasa yang tidak Damian pahami sedikit pun. Ketika tubuh pria itu bergeser, sosok yang Damian cari ditengah ruangan, menatap Damian dengan mata terbelalak sempurna.

​Dan seperti baru saja melihat hantu di ambang pintu, Fraya reflek melangkah lebar menghampiri mereka. Ia menatap Damian dengan binar nyaris tidak percaya.

​Penampilan Fraya saat itu... sungguh di luar ekspektasi Damian, dan sialnya, itu membuatnya gemas sendiri. Gadis itu mengenakan kaos kebesaran berwarna merah tua bertuliskan "Connecticut" yang panjangnya hanya mampu menutupi bagian atas paha, membuat celana pendeknya nyaris tenggelam dibalik kasusnya yang kebesaran.

Kakinya terlihat begitu jenjang tanpa alas kaki, membuat mata Damian jadi sulit berkedip. Rambutnya digelung ke atas dengan asal-asalan, mengekspos leher jenjangnya yang sering kali membuat Damian gagal fokus.

​Damian mengutuk dirinya sendiri yang terpana hanya dengan penampilan sesederhana itu.

Sialan. Bahkan saat gadis Indonesia ini sedang dalam modenya paling santai, ia tetap terlihat begitu menarik di mata Damian Harding.

​"Kamu? Kamu ngapain di sini!?" Fraya masih melotot, menghampiri pria di depan Damian.

​"Do you recognize this guy, Honey?" Pria menjulang itu menunjuk Damian dengan kening berkerut.

​Fraya mendengus, "I really want to say no, I don't recognize him. Tapi dia pasti bakal menyanggah dengan bilang kalau dia sangat kenal Fraya karena dia tutor Fraya."

​Seketika, gurat kaku di wajah pria paruh baya itu sirna, digantikan senyum sehangat matahari di ufuk timur,

"Oh, kamu si Damian-Damian itu, ya? Tutor bahasa Jermannya Fraya?"

​Seperti mendapat suntikan energi karena sepertinya kedatangan Damian disambut dengan baik, Damian menyunggingkan senyum lebar pada pria yang kini ia yakini adalah Papa Fraya. "Yes, Sir. One and only."

​Damian mengulurkan tangan dengan penuh percaya diri, memperkenalkan diri se-sopan mungkin.

​"Pleased to meet you, Damian. Call me Papa Fraya, or Eric, just fine. I’ve been known as her big guy," ujar Papa sambil menyikut pelan Fraya yang masih bersedekap dengan tatapan memicing.

​"The pleasure is all mine, Sir," sahut Damian, menahan senyum kegirangan.

​"Come inside. Kebetulan Mama Fraya sedang masak makanan Indonesia, dan saya juga sedang memesan Pizza. Makanya waktu kamu pencet bel, saya pikir pesanan Pizza-nya sudah datang," ujar Papa dengan nada yang kelewat ramah, sukses membuat Fraya ingin menjambak rambut ayahnya sendiri.

​"Fay, don't you just standing there. Come in. It's getting cold outside. I’m gonna make a call to make sure where's the pizza I’ve been ordered an hour ago." Suara Papa Fraya mulai menjauh seraya ia melangkah masuk, meninggalkan Fraya dan Damian di ambang pintu.

​Damian mengangkat sebelah alis perunggunya dengan kerlingan jahil.

​"You're not taking my Dad's invitation seriously, are you?" tanya Fraya dengan nada sarkastik. Damian hanya terkekeh.

​"Menolak ajakan makan dari orang yang lebih itu hukumnya tidak sopan, Ace. Lagi pula, aku tidak pernah menolak ajakan makan malam enak, apalagi untuk masakan yang belum pernah kucoba," ujar Damian sambil melenggang masuk, melintasi Fraya yang masih menyandarkan diri di pintu sambil menatapnya tajam.

​"Damian, kamu mau apa ke rumahku segala? Just tell me what you need and leave immediately." ujar Fraya saat Damian hendak melangkah menuju dapur dengan kepercayaan diri yang bikin Fraya ingin mematahkan leher cowok itu.

​Damian berbalik, menatap Fraya yang masih bersedekap.

​"Memangnya seorang teman harus punya alasan khusus untuk berkunjung? You should be grateful, Ace. Di sekolah kita, para siswa berlomba mengajakku ke rumah mereka. Bukankah ini suatu kehormatan?"

​Damian menikmati setiap permainan kata yang sengaja ia mainkan ini demi memantik kekesalan Fraya yang selalu saja membuatnya terhibur ini.

Sambil memutar bola mata, Fraya mendesis, "In case you forgot, I'm not one of your sheep. Kamu kalau mau tebar pesona begini, jangan di rumahku. Datangi saja rumah salah satu penggemarmu."

​Suara langkah kaki Mama Fraya muncul dari arah dapur. Wajahnya berseri cerah saat melihat Damian. Seketika, Damian mengubah ekspresi jahilnya menjadi senyum sopan yang "mendambakan"—khas senyum yang Damian yakin bisa membuat ibu mana pun di dunia bermimpi menjadikannya menantu.

​"Ya ampun, Fay. Kok kamu nggak ajak dia langsung ketemu Mama, sih. Papa curang nih, udah curi start duluan," omel Mama dalam bahasa Indonesia. Lalu, ia mendesah sambil menepuk dahi, "I’m sorry, Damian, I always forgot to switch the language whenever I’m at home."

Damian tersenyum ramah. Kelewat ramah mungkin, "It’s fine, Mrs. Alexandrea. Nice to meet you, my name is Damian Harding."

Mama menjabat tangan Damian dengan binar senang, sambil mengangkat alis jahil ke arah putrinya. Fraya merutuk dalam hati saat merasakan kerlingan meledek dari ibunya.

​"It’s not Alexandrea, it’s Mrs. Moore. Alexandrea bukan nama keluarga kami. Nama itu memang hanya milik Fraya, Damian," ujar Mama.

Damian mengernyitkan kening sesaat, menatap Fraya dengan raut tidak mengerti. Namun, Fraya hanya mengangkat bahu singkat.

​"It’s a long story."

°°°°

Kehadiran Damian yang tak di undang malam itu di kediaman Fraya bak lampu yang berpijar di tengah kegelapan. Atau kado dari Santa Claus yang dilemparkan dan mendarat tepat di pintu rumah Fraya.

​Bagaimana tidak? Papa sekarang jadi kepalang senang seolah baru saja mendapatkan seorang putra yang akhirnya bisa diajak berbagi kecintaan pada sepak bola.

Biasanya Papa Fraya hanya bisa berteriak-teriak sendiri jika tim kegemarannya sukses mencetak gol.

Tapi malam ini, sembari menunggu Mama selesai masak bakso, Papa dan Damian begitu asyik membicarakan tim favorit mereka yang, entah bagaimana takdir telah mengaturnya, sedang saling tanding berlawanan.

​Chelsea lawan West Ham United. Dengan Papa pecinta garis keras tim Chelsea, sementara Damian ternyata adalah fans fanatik klub West Ham United.

​Papa terlihat begitu antusias saat berbagi kisah tentang pengalamannya menonton tim favoritnya bertanding di Singapura, sekaligus mengeluh betapa sulitnya mendapatkan tiket pertandingan Chelsea akhir-akhir ini.

​"Boys, dinner’s ready," suara Mama terdengar hampir seperti siulan dari arah dapur. Ia seolah tidak peduli dengan kotak Pizza yang sudah Papa lahap bersama Damian tanpa sempat menawarkan Fraya sedikit pun.

​Damian sebenarnya juga sudah cukup kenyang, tapi demi menjaga reputasi yang sedang mati-matian ia bangun di depan orang tua Fraya, ia tetap melangkah ke dapur dengan semangat. Ia tampak takjub melihat hidangan yang tertata rapi di meja makan.

​"Mrs. Moore, did I ever mentioned that I feel honoured to be here trying Indonesian meals for the first time."

​Fraya, yang sudah berganti pakaian dengan tampilan lebih proper—celana panjang abu-abu, tank top putih, dan cardigan hitam—langsung memutar bola matanya mendengar usaha Damian menarik hati Mamanya.

​"The pleasure is all mine, young boy. Sejak pidah ke London, Fraya baru satu kali mengajak temannya datang kemari. Siapa namanya? Ah, Florence. I believe you know her. Such a lovely girl."

​"I do, Ma’am," jawab Damian seraya menarik kursi di samping Fraya. Gadis itu langsung mengernyit.

​"Who told you that you could sit here?"

​"Fraya, mind your attitude, Lady," tegur Mama dengan tatapan memperingatkan, membuat Damian langsung melempar cengiran menang seperti anak yang baru saja dibela oleh ibunya.

​Mama Fraya menyodorkan semangkuk bakso di hadapan Damian. Cowok itu menatapnya dengan rasa ingin tahu yang kentara.

​"Kamu mungkin mengenalnya sebagai meatball soup. Tapi di Indonesia, kami menyebutnya Bakso. Ini salah satu favorit Fraya," ujar Mama sebelum Damian sempat bertanya.

​"Looks yummy, Mrs. Moore." Damian mulai meraih alat makan di samping mangkuknya. Dengan ragu, ia melirik Fraya, sebuah kode tak kasat mata meminta bantuan tentang 'bagaimana cara makannya.'

​Papa menimpali sebelum Fraya sempat bereaksi, "Damian, kamu harus pakai ini supaya rasanya makin mantap."

​Papa menunjuk mangkuk kecil berisi sambal merah, yang seketika membuat alis Fraya terangkat. Sebuah ide jahil melintas di kepalanya, dan memikirkannya saja sudah cukup membuat Fraya harus menahan tawa.

​"What? What are you laughing at?" Damian penasaran, menyadari raut cemberut Fraya mendadak berubah menjadi tawa yang tertahan.

​"My dad's right. Kamu harus coba yang satu ini. Put it on your bowl. Trust me, you're gonna love it."

​Damian memicingkan mata. Perubahan suasana hati Fraya yang tiba-tiba ini jelas membuatnya curiga. "Kalau caramu bicara seperti itu, aku jadi tidak yakin akan baik-baik saja setelah menyentuh saus merah itu."

​Fraya menaikkan kedua alisnya, menantang manik mata Damian yang penuh kecurigaan.

​"Aku mungkin masih marah padamu, tapi percayalah, hatiku masih se murni sebelum aku mengenalmu. Lagi pula," Fraya bersedekap, merendahkan suaranya, "kamu masih mau dimaafkan, kan? Makanan ini... anggap saja sebagai tebusan untuk maaf ku."

​Damian merasa tertantang. Untuk gadis di sebelahnya ini, ia ingin sekali memberikan tepuk tangan atas keberaniannya menantang seorang Damian Harding, jika saja ia tidak sedang berada di hadapan orang tua Fraya.

​"Percayalah, Ace, kalau kamu melempar tantangan seperti itu, aku akan membelinya habis-habisan tepat di depan mukamu."

​Belum sempat Fraya berkedip, Damian sudah menyendok sambal itu, satu sendok makan penuh.

Papa dan Mama langsung membelalak kaget, dan bersiap menegur. Namun Fraya dengan sigap menahan Mama yang hendak memperingatkan dengan menyenggol kakinya dibawah meja serta  menggeleng samar, seolah meminta kesempatan bagi Damian untuk berimprovisasi dengan baksonya sendiri.

​Damian, dengan segala kesombongan yang dibalut senyum mematikannya penuh rasa percaya diri, mulai mengaduk bakso itu dengan kikuk dan mencicipi kuahnya.

​Detik berikutnya, rasa pedas yang menusuk tenggorokan membuat Damian tersedak hebat. Tawa Papa dan Mama pecah seketika sambil  bergegas menyodorkan segelas air putih pada Damian.

​"How was it? Was it good?" tanya Fraya dengan wajah berseri-seri, tidak mampu menutupi rasa puasnya melihat Damian berjuang menahan pedas.

​Sambil meneguk air dan menepuk-nepuk dadanya, Damian menoleh ke arah Fraya.

​Kemarahan serta kebencian yang selama berhari-hari kemarin begitu melekat pada wajah Fraya setiap kali mereka bertemu, seketika luruh. Digantikan oleh binar tawa yang tampak bercahaya di kedua matanya.

​Demi kamu, Fraya. Demi seulas senyum seindah itu, satu perkebunan cabai pun akan ku habiskan asal kamu bisa terus tersenyum seperti itu kepadaku.

It was all worth the hell for me.

1
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
Ris Andika Pujiono
seruuuuuuu aku suka ceritamu kak
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
Frayaaaa 🥲
Ris Andika Pujiono
cetita bagus begini g ada yg like sih🥲
Ris Andika Pujiono
Damiaaaan jatuh cintaaa
baca sambil ngabuburit
Ris Andika Pujiono
ehemmmm
Ris Andika Pujiono
🥰🥰🥰🙏
Ris Andika Pujiono
Fraya?????
Ris Andika Pujiono
semoga happy ending
Ris Andika Pujiono
awesome💪💪💪💪💪
Ris Andika Pujiono
kok baru nemu sih. jgn sampai hiatus yaa aku tungguin sampai tamat🥰
Ris Andika Pujiono
wow i like it ... 💪
Ris Andika Pujiono
cie cie cieeeeee 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!