Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Mengancamku??
"Kau mengkhianatiku, Liam. Kau tidak pantas mendapatkan bantuanku. Jadi aku tidak akan membantumu!"
"Oh, Emily, ayolah. Kenapa mencampurkan urusan bisnis dengan masalah pribadi kita? Itu sangat tidak profesional. Kau tidak seharusnya meninggalkan proyekmu hanya karena kau marah padaku. Kau punya tanggung jawab pada perusahaan."
"Siapa bilang aku punya tanggung jawab pada perusahaanmu?"
"Aku. Kau mungkin membenciku, tapi aku adalah bosmu!" bentak Liam. Ia tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Emily tertawa mendengar kata-katanya yang tidak tahu malu. Ia tidak percaya pria itu masih punya keberanian mengatakan hal seperti itu.
"Liam Carter, aku tidak percaya kau lupa bagaimana kau memulai perusahaan itu dan apa yang kau janjikan padaku. Aku tidak pernah menjadi karyawanmu. Jika aku adalah karyawanmu, kau tidak akan mampu membayar gajiku. Kau tahu itu, bukan?"
"Kau—"
Tidak mendengar kelanjutan apa pun dari pihak Liam, Emily tersenyum sebelum melanjutkan.
"Sekarang, kau ingat siapa aku di perusahaanmu?"
"Emily, tolong bantu aku kali ini. Jika kau membantuku, aku janji tidak akan mengatakan apa pun yang bisa menyakiti Nenekmu."
"Apakah kau mengancamku?" tanya Emily dingin. Ia sangat tergoda untuk menampar pria tak tahu malu itu jika ia berdiri di hadapannya.
"Aku tidak mengancammu. Aku hanya jujur sekarang. Aku butuh bantuanmu, Emily. Aku akan memberimu satu persen dari keuntungan...ugh, tidak... lima persen dari proyek ini jika kau membantuku. Bagaimana?"
"Jawabanku TIDAK! Aku tidak akan membantumu dalam hal apapun. Sejak hari aku memergokimu berselingkuh, aku tidak lagi menganggapmu sebagai tunanganku atau bahkan teman. Kau bukan siapa-siapa bagiku, Liam Carter. Dan tolong berhenti mengganggu Nenekku!" Ia mengakhiri panggilan sebelum Liam sempat mengatakan satu kata lagi.
Emily merasa seluruh tubuhnya gemetar setelah mengakhiri panggilan itu.
Berdiri dari tempat duduknya, ia memandang kota indah di kejauhan, tetapi kekesalannya pada Liam membutakannya. Ia sama sekali tidak bisa menikmati pemandangan itu.
Ia berusaha keras menyingkirkan Liam dari pikirannya, tetapi semua perkataannya masih menari-nari di benaknya, menyiksanya.
Setelah menarik napas dalam lagi, Emily berjalan menuju tangga. Namun, sekali lagi ia berhenti ketika pesan dari Liam muncul di kotak masuknya, berhasil merusak suasana hatinya.
"Emily, pertemuan dengan klien adalah lusa, di tempat biasa. Aku akan menganggapmu akan datang. Jika kau tidak muncul, maka maaf, aku akan memberitahu Nenek tentang kita. Kau yang putuskan!"
Ia menatap pesan itu selama beberapa detik lagi, membacanya berulang kali, memperkuat kemarahannya terhadap pria itu.
Frustrasi, Emily melempar ponselnya ke dalam tas dan menghentakkan kaki menuruni tangga.
Sebanyak apapun ia mencoba melupakan apa yang Liam lakukan—mengancamnya demi mencapai tujuannya—ia tidak bisa menghapusnya dari pikirannya.
Saat Emily tiba di Big Star Cafe, ia merasa lega melihat tempat itu ramai. Banyak pelanggan mengantri di kasir menunggu pesanan mereka, dan itu membuatnya bersemangat karena ia membutuhkan pengalihan.
Meskipun giliran kerjanya baru dimulai sepuluh menit lagi, ia segera mengenakan apron dan membantu Tessa membuat kopi.
Ia terus membuat satu kopi demi satu, dan hanya dalam beberapa menit, pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh Liam.
Ketika jumlah pelanggan mulai berkurang, Tessa tiba-tiba berbicara padanya.
"Apa kau baik-baik saja, Emily?" tanya Tessa.
Tangan Emily terhenti. Ia berbalik menghadap Tessa. "Kenapa kau mengira aku tidak baik-baik saja?" tanyanya dengan bingung.
Tanpa menunggu Tessa menjawab, ia melanjutkan menyelesaikan pesanan terakhir, secangkir latte.
Tessa terkekeh dan berdiri di samping Emily. "Wah, kau terlihat buruk. Apa kau bertengkar dengan pacarmu?" bisiknya.
Emily tidak bisa menahan tawa dalam hati atas tebakan Tessa yang hampir benar. Ia memang sedang bertengkar, tapi bukan dengan pacar, melainkan dengan mantan tunangannya yang bajingan itu.
Saat ia meletakkan pesanan di atas meja, menunggu pelanggan mengambil kopinya, ia menjawab santai, "Aku tidak punya pacar, Bos."
"Sungguh? Tapi kenapa kau terlihat marah pada seseorang dan melampiaskan amarahmu dengan bekerja tanpa henti? Kau tahu tidak kalau kau belum beristirahat sejak datang?" tanya Tessa sambil menyipitkan mata ke arah Emily.
"Aku bahkan belum sempat menyentuh mesin kopi, kau mengoperasikan dua mesin sendirian, sayang. Itu sungguh luar biasa!" lanjut Tessa, tersenyum ketika melihat mata Emily sedikit melebar.
Emily mengangkat bahu, tidak bisa menjawab. Tadi ia memang sangat fokus pada pekerjaannya untuk mengusir amarah dan kekhawatirannya setelah Liam mengancamnya.
"Baiklah, baiklah, sayang. Maaf kalau aku terlalu banyak bertanya," kata Tessa sambil tersenyum pada Emily dan menepuk bahunya dengan lembut. "Kau terlihat lelah, Emily. Pergilah istirahat di dalam," katanya lalu pergi.
Emily hanya mengangguk tetapi tidak meninggalkan tempatnya, masih berdiri di belakang meja. Ia mengambil ponselnya dari saku dan melihat pesan baru dari pengirim tak dikenal di layar.
Sebelum memeriksa siapa yang mengirim pesan, Rachel, sang kasir, berbicara padanya.
"Kak Emily, kau bisa istirahat di dalam. Sepertinya tidak ada pelanggan baru yang datang, dan tinggal lima menit lagi sebelum kita tutup," Rachel tersenyum sambil melihat kafe yang penuh. Meski dipenuhi pelanggan, tidak ada yang baru masuk untuk memesan.
Emily terkejut mendengar kata-kata Rachel. Melirik jam tangannya, ia menyadari waktu sudah hampir pukul sembilan.
‘Ya Tuhan! Bagaimana bisa aku bekerja seperti robot tadi? Aku bahkan tidak sadar sudah berdiri di sini hampir lima jam,’ Emily tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Senyum pahit perlahan muncul di bibirnya saat ia mengerti kenapa Tessa curiga ia tidak baik-baik saja.
"Terima kasih atas kerja kerasmu, Rachel," kata Emily sambil tersenyum ketika berjalan menuju ruang staf. Ia membuka pesan itu, tetapi beberapa langkah kemudian, ia tiba-tiba berhenti.
"Hai, Emi. Ini aku, Alexander. Apa kau di Big Star Cafe? Boleh aku memesan layanan antar?"
Ia terdiam tak berkata-kata membaca pesan dari Alexander, penyelamatnya.
’Alexander...’ Hatinya langsung menjadi tenang saat ia membisikkan namanya.
Emily pikir Alexander tidak akan pernah menghubunginya lagi. Dengan tergesa-gesa, ia menyimpan nomor ponsel pria itu dan membalas pesannya.
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk