cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 33
Beberapa jam kemudian, Alden datang. Aura menoleh begitu melihatnya masuk, tubuhnya langsung merasa campur aduk. Ia belum siap membahas apa pun, tapi Alden tersenyum dan duduk di kursi dekatnya. “Aku cuma mau lihat kamu baik-baik aja,” katanya pelan. “Dan aku tahu… kamu nggak salah sama Harry. Jadi lakukan sesuka kamu. Aku bakal tetap sayang kamu sampai kapan pun.”
Aura menatapnya, tak sanggup berkata banyak. Ia merasa lega sekaligus bingung. Alden tidak marah, tidak menuntut, hanya memberi kebebasan. Tapi di sisi lain, ada rasa bersalah karena hatinya selalu terasa terombang-ambing antara kepercayaan pada Alden dan kedekatan dengan Harry.
Hari itu, Harry akhirnya pamit setelah memastikan Aura cukup istirahat. Ia menatap kedua orang yang duduk di sisi ranjangnya, sedikit ragu tapi tetap berusaha tersenyum. “Aku pergi dulu ya… tapi aku bakal ada kalau kamu butuh.”
Aura mengangguk, merasa dadanya sesak. Alden tersenyum lagi, menepuk tangannya. “Santai aja, Aura. Aku ngerti. Semua bakal baik-baik aja.”
Malamnya, Aura duduk di balkon rumah sakit, menghisap rokok pelan. Udara dingin menusuk kulit, tapi pikirannya terasa sedikit lebih tenang. Ia tahu Alden akan tetap di sisinya, Harry tetap menunggu di dekatnya, dan dirinya harus menemukan keseimbangan sendiri.
Di kejauhan, Harry menyalakan motornya, menatap lampu kota yang remang. Ia merasa hening, tapi hatinya berat. Ia sadar, meski Alden membebaskan Aura, ada jarak yang tidak bisa ia lewati begitu saja. Dan Aura… Aura yang ia sukai, sedang belajar bagaimana menghadapi perasaan dan kebebasan yang tiba-tiba ia dapat.
Malamlah yang membawa keheningan, tapi juga kesadaran: bahwa hati manusia bisa kompleks, penuh rasa sayang dan kebingungan, tapi kadang yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk mengerti diri sendiri. Aura menatap rokok yang perlahan habis, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa sedikit damai.
Beberapa minggu setelah insiden rumah sakit, Aura akhirnya kembali ke kampus. Aktivitas normal mulai berjalan, tapi hatinya masih terasa campur aduk. Alden tetap jarang memberi kabar karena pekerjaannya yang padat, sementara Harry perlahan mulai menyesuaikan diri dengan jarak yang ada di antara mereka.
Hari itu, fakultas mereka mengadakan acara camping di tepi danau. Aura ikut dengan beberapa teman, membawa tenda dan perlengkapan. Malam mulai turun, api unggun menyala, aroma kayu bakar bercampur dengan udara dingin pegunungan.
Aura duduk agak sendiri di tepi danau, menghisap rokok pelan. Asap mengepul, menari di udara malam yang tenang. Dari kejauhan, Harry menghampirinya, membawa secangkir cokelat panas. “Biar hangat,” katanya sambil tersenyum. Aura menoleh, menerima cangkir itu, dan tersenyum tipis.
Mereka duduk berdampingan, jarak cukup dekat tapi masih nyaman. Suasana malam, suara air danau yang tenang, dan bau kayu bakar membuat segalanya terasa berbeda. Aura menatap langit penuh bintang. “Indah ya…” gumamnya.
Harry mencondongkan tubuh sedikit, menyapukan pandangannya dari wajah Aura ke langit. “Iya… kayak… kayak kita punya dunia sendiri malam ini.” Suaranya lembut, tapi ada rasa hangat yang mengalir di dada Aura.
Aura menatap cangkir cokelat di tangannya, lalu menoleh lagi. “Harry… kadang aku takut terlalu dekat. Tapi… aku juga nggak bisa ngelawan perasaan ini.”
Harry tersenyum tipis, menatap matanya. “Aku ngerti… aku juga takut. Tapi malam ini… biarin aja kita ngerasain tanpa mikirin apa-apa.”
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣