NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume I — The Day the World Fell Chapter 8 — The First Test

Lapangan latihan terbuka itu dulunya adalah taman kota.

Kini, yang tersisa hanyalah tanah keras, puing beton, dan rangka besi yang menjulang seperti tulang belulang. Pagar darurat mengelilingi area tersebut, dengan menara pengawas sederhana di setiap sudutnya. Di atas tanah, garis-garis putih dicat kasar—menandai zona uji.

Daniel berdiri di antara puluhan orang lain.

Mereka semua berbeda. Ada yang mengenakan pelindung seadanya, ada yang membawa senjata rakitan, ada pula yang berdiri dengan tangan kosong namun tatapannya tajam. Wajah-wajah itu memantulkan satu kesamaan: ketakutan yang disembunyikan oleh tekad.

“Ingat,” suara instruktur menggema melalui pengeras suara portabel, “ini bukan seleksi untuk menjadi pahlawan. Ini seleksi untuk melihat siapa yang tidak akan mati dalam lima menit pertama.”

Beberapa orang menelan ludah. Yang lain mengepalkan tangan.

Daniel menarik napas.

Ia merasakannya—ketegangan menyebar di tubuhnya. Namun kali ini, Segel Pertama tidak menyambar kendali. Denyut dingin di dadanya tetap tenang, seolah menunggu keputusan.

Tenang, katanya pada diri sendiri. Bernapas.

Ujian dimulai.

Gelombang pertama bukan iblis.

Melainkan beban.

Peserta diperintahkan berlari melintasi lintasan penuh rintangan—puing runtuh, parit sempit, dinding miring—sambil membawa beban di punggung. Tujuannya sederhana: mengukur ketahanan, koordinasi, dan disiplin napas.

Daniel berlari.

Langkahnya pendek, konsisten. Ia tidak memaksa kecepatan. Saat kakinya mendarat, tubuhnya otomatis mencari keseimbangan terbaik—Basic Stance muncul alami, bukan sebagai jurus, melainkan kebiasaan baru.

Beberapa peserta terjatuh. Ada yang bangkit dengan susah payah. Ada pula yang tidak bangun lagi.

Daniel melompati parit, mendarat dengan bahu sedikit diturunkan. Benturan itu seharusnya membuatnya terhuyung—namun tubuhnya menyalurkan dampak ke seluruh rangka, menyisakan nyeri tumpul yang bisa ditahan.

Ia sampai di garis akhir dengan napas berat, namun stabil.

Instruktur mencatat sesuatu di papan data.

Tidak ada pujian.

Hanya angka.

Gelombang kedua dimulai tanpa jeda.

Kali ini, simulasi ancaman.

Drone latihan melayang rendah, menembakkan proyektil tumpul berkecepatan tinggi. Bukan untuk melukai serius—cukup untuk mematahkan konsentrasi.

“Bertahan tiga menit,” perintah instruktur. “Siapa pun yang keluar zona—gugur.”

Proyektil pertama melesat.

Daniel menghindar dengan satu langkah pendek. Emergency Step—terkendali. Tidak ada sentakan liar. Otot betisnya menegang, lalu rileks.

Proyektil kedua datang dari sudut buta.

Ia tidak melihatnya.

Namun ia merasakan arah.

Daniel menurunkan bahu dan memutar badan seperempat putaran. Proyektil itu menghantam lengan atasnya, memantul, meninggalkan rasa nyeri yang tajam.

Ia meringis—tapi tetap di dalam zona.

Di sudut lain, seorang peserta tersungkur dan terguling keluar garis. Sirene pendek berbunyi. Gugur.

Daniel mengatur napas.

Tarik.

Hembuskan.

Segel Pertama tetap diam—hadir sebagai fondasi, bukan dorongan.

Tiga menit berlalu.

Sirene panjang.

Ujian kedua selesai.

Gelombang ketiga adalah yang paling sunyi.

Satu lawan satu.

Bukan pertarungan penuh—melainkan kontrol jarak dan reaksi. Setiap peserta dipasangkan secara acak. Daniel melangkah ke arena kecil yang dibatasi garis.

Lawan di depannya bertubuh lebih besar, rahangnya mengeras. Tatapannya menilai—lalu meremehkan.

“Jangan pingsan,” katanya singkat.

Instruktur mengangkat tangan. “Mulai.”

Lawan Daniel maju cepat, ayunan lurus mengarah ke bahu. Daniel tidak membalas. Ia mundur setengah langkah, menjaga pusat gravitasi. Ayunan kedua menyusul—lebih keras.

Daniel menahan.

Bukan dengan kekuatan. Dengan struktur.

Reinforced Impact muncul sebagai dorongan pendek dari siku ke lengan lawan, memecah momentum. Benturan itu membuat lawannya terhuyung setengah langkah.

Daniel berhenti.

Ia tidak mengejar.

Hening.

Instruktur menurunkan tangan. “Cukup.”

Lawan Daniel mengumpat pelan, menatapnya dengan campuran kesal dan bingung.

“Kenapa kau berhenti?” tanyanya.

Daniel mengusap lengannya yang nyeri. “Karena… aku tidak perlu lanjut.”

Beberapa orang tertawa sinis. Yang lain terdiam.

Instruktur mencatat lagi.

Saat matahari mulai condong, hasil diumumkan.

Tidak ada peringkat. Tidak ada sorakan.

Hanya daftar lulus dan tidak.

Nama Daniel ada di sana.

Ia merasakan kelegaan—kecil, singkat. Segel Pertama tidak bereaksi. Tidak ada bisikan. Tidak ada tekanan baru.

Dan itu penting.

Karena untuk pertama kalinya, Daniel menyadari sesuatu dengan jelas:

Ia lolos tanpa kekuatan baru.

Tanpa lonjakan.

Tanpa keajaiban.

Hanya dengan mengendalikan apa yang sudah ia miliki.

Malam itu, ia duduk di tepi barak, membersihkan luka kecil di lengannya. Kota masih terbakar di kejauhan. Dunia masih runtuh.

Namun di dadanya, tidak ada panggilan lain.

Belum.

Daniel menatap langit gelap dan berjanji pada dirinya sendiri—

jika kekuatan lain datang suatu hari nanti,

ia akan menyambutnya sebagai manusia yang siap memilih.

Bukan sebagai alat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!