Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Kebenaran
"Sudah berapa tahun umur anak Kakak?" celetuk Rangga.
"Jalan empat, lagi masa lucu-lucunya," jawab Dita sembari menatap Safea. Ia tersenyum lembut.
Rangga menatap Dita dan melihat senyuman itu. Baru kali ini dia merasa senyuman Dita membuat hatinya sakit.
"Apa Kak Dita masih nyanyi?" tanya Rangga.
"Aku sudah berhenti, Dek. Udah lumayan lama," sahut Dita.
Rangga tertunduk dan membisu. Bertepatan dengan itu, semua orang yang ada di kelas Clarisa keluar. Termasuk dosen yang diduga Rangga adalah suaminya Dita.
Rangga sontak segera mencari Clarisa. Menajamkan matanya ke segala arah.
"Kau ada yang ditunggu juga, Dek?" tanya Dita.
"Iya," jawab Rangga. Ia memanggil salah satu mahasiswa yang keluar kelas dan menanyakan tentang Clarisa. Rangga lantas langsung diberitahu yang mana Clarisa. Kebetulan gadis itu tampak beru keluar dari kelas.
"Clarisa!" panggil Rangga refleks.
"Siapa dia, Dek?" Dita penasaran.
"Aku tinggal dulu ya, Kak. Ada urusan bentar." Rangga tak menjawab pertanyaan Dita dan pergi begitu saja menghampiri Clarisa.
Sementara itu, dosen yang mengajar tadi mendekati Dita. Sosok Safea langsung memeluk ayahnya.
"Kau kenapa?" tanya Kemal. Dia melihat Dita mengabaikannya dan terpaku menatap ke arah Rangga.
"Nggak apa-apa," jawab Dita.
"Adi aku cama Mama etemu a'a tanteng. Ia atanya cautaya auh Mama," ucap Safea. Logatnya yang cadel membuat Kemal dam Dita gemas.
"Cautaya?" Kemal mengerutkan dahi sambil menahan senyum. Ia tak mengerti.
"Saudara, Mas. Aku tadi ketemu mantan adik iparku," ungkap Dita.
"Benarkah? Rangga? Mana dia?" tanggap Kemal. "Aku penasaran sama orangnya. Hampir tiap hari kau memandangi fotonya," tambahnya.
Dita terdiam dan kembali menatap Rangga. Dia melihat cowok itu tampak bicara dengan seorang gadis muda cantik.
"Sebaiknya kita pergi saja, Mas!" ajak Dita.
"Kenapa? Kau nggak mau bicara dulu sama--"
"Nggak usah. Rangga kayak lagi sibuk sama urusannya," potong Dita cepat.
Kemal lantas mengangguk. "Ya udah, ayo kita makan siang. Makanan di kantin enak banget," usulnya sembari beranjak bersama Dita dan Safea.
Di sisi lain, Rangga baru memperkenalkan dirinya pada Clarisa. Dia juga tak lupa menyinggung perihal Pak Alun. Namun Rangga tak langsung bilang kalau Pak Alun telah meninggal.
"Pak Alun? Kau tahu dimana dia? Aku sudah tidak mendapat kabarnya selama hampir seminggu ini," ungkap Clarisa.
"Bisakah kita bicara di tempat yang nyaman dulu?" ujar Rangga.
"Boleh. Kita duduk di sana ya!" Clarisa menunjuk gazebo di halaman kampus.
"Iya, boleh. Ayo kita duduk dulu," ajak Rangga. Dia dan Clarisa melangkah bersama menuju gazebo.
Sesampainya di gazebo, Rangga dan Clarisa duduk berhadapan.
"Sebelum itu... Bolehkah akh bertanya mengenai hubunganmu dengan Pak Alun?" imbuh Rangga.
"Aku anaknya mendiang Pak Mursyid. Pak Alun dan ayahku adalah sahabat dekat. Saat ayahku meninggal, aku nggak punya siapa-siapa. Dan Pak Alun yang selalu membantuku. Bahkan membayarkan uang kuliah. Dia baik banget..." Clarisa bercerita dengan mata yang berkaca-kaca. Tapi dia berusaha tidak menangis.
Rangga terdiam sejenak. Dia merasa lega karena gosip perselingkuhan Pak Alun terbukti tidak benar. Namun di sisi lain dirinya merasa sedih karena orang sebaik Pak Alun harus meninggal dengan cara seperti itu. Kesedihan tampak jelas di wajah Rangga.
"Kenapa, Mas? Jadi gimana? Pak Alun baik-baik saja kan? Mas siapanya ya?" cecar Clarisa penasaran.
"Aku rekan kerjanya Pak Alun. Aku dari kepolisian. Kenalkan namaku Rangga," ungkap Rangga.
Clarisa menanggapi dengan anggukan.
"Aku membawa kabar buruk tentang Pak Alun..." lirih Rangga. Dia segera memberitahu Clarisa yang sebenarnya.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄