NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Hati Megan berdesir lega. Kumohon, bunyikan alarmnya! Tangkap pria ini! serunya dalam hati.

Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.

Bradley justru maju dengan tenang, mencondongkan tubuhnya. “Buka!”

Wajah petugas itu seketika pucat pasi saat mendengar suara Bradley yang nyaris berbisik tapi penuh penekanan. Terlebih saat tak sengaja ia melihat tato lambang The Obsidian Syndicate di pergelangan tangan Bradley. Ia tahu persis siapa pemilik tato itu, penguasa dunia bawah tanah yang tak tersentuh.

Di saat yang sama, Peter menyodorkan sebuah tablet tepat di depan mata petugas tersebut. Napas petugas itu tercekat saat melihat layar tablet yang menampilkan foto rumahnya, data sekolah anaknya, hingga rute perjalanan istrinya pagi ini.

"Kau punya keluarga, istri yang cantik, juga anak-anak yang menggemaskan.," bisik Bradley, suaranya sedingin es. "Sangat disayangkan jika sistemmu yang 'tidak mungkin salah' itu justru mengirim mereka ke pemakaman malam ini."

Keringat dingin membasahi dahi petugas itu. Tangannya yang gemetar langsung menjauh dari tombol darurat. Tanpa berani menatap mata Bradley, ia segera melakukan validasi manual dan menstempel paspor Nora Alexander.

"M-maafkan kelancangan saya, Tuan. Silakan lewat," ucapnya dengan suara yang nyaris hilang. "Semuanya bersih. Silakan lewat, Tuan. Semoga perjalanan Anda menyenangkan.”

Bradley hanya mengangguk singkat tanpa ekspresi, menunjukkan kekuasaan yang bahkan mampu membungkam teknologi paling cerdas di dunia.

Saat melewati lorong sepi menuju pesawat pribadi, ia berbisik dengan nada penuh kemenangan. "Jangan pernah mengandalkan sistem untuk melawanku, Meg. Karena aku punya data semua orang, termasuk mereka yang mencoba menolongmu.

Megan hanya bisa menelan kepahitan. Harapannya pada sistem negara hancur bahkan sebelum ia sempat melangkah ke atas pesawat.

-----

Kini, di dalam kabin jet pribadi yang mewah dengan fasilitas bak hotel berbintang lima, Bradley duduk dengan tenang sambil menyilangkan kaki. Keangkuhannya benar-benar membuat Megan muak.

"Kau mengancam sistem, kau membungkam orang-orang dengan kejahatanmu, Brad!" desis Megan, menatap tajam pria di sampingnya.

"Aku hanya berusaha mempertahankan apa yang menjadi milikku, Meg," jawab Bradley santai sambil menyesap wiskinya. "Lihatlah, bahkan si pecundang Sean pun tidak bisa melacak keberadaanmu. Apalagi putra Bibi Sarah-mu itu? Pria yang bahkan kau tidak tahu seperti apa rupanya?"

"Jangan bawa-bawa orang yang tidak bersalah dengan mulut kotormu, Brad!"

Bradley tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Kau lucu sekali, Meg. Bagaimana bisa kau begitu berharap pada seseorang yang namanya saja tidak kau tahu? Kau pikir dia akan turun dari langit untuk menyelamatkanmu dariku?"

"Akan selalu ada harapan, Brad! Dan saat hari itu tiba, aku bersumpah kau akan menyesali setiap detik yang kau habiskan untuk menyakitiku!" Megan menatap Bradley dengan mata berkaca-kaca namun penuh api.

Meski merasa hatinya seperti ditusuk sembilu mendengar ucapan itu, Bradley tetap mempertahankan egonya. "Takdirmu adalah bersamaku, Meg. Sejauh apa pun kau berlari, pada akhirnya kau akan kembali ke pelukanku."

"Ya. Tapi ingatlah ini, Brad..." Megan menoleh menatap mata Bradley , suaranya datar namun penuh penekanan yang mengerikan. "Akan ada hari di mana anakmu akan mengetahui sendiri kekejaman ayahnya pada ibunya. Dan saat itu tiba, kau akan menangisi dosamu, meminta ampun pada Tuhan atas segala kenangan pahit yang kau ciptakan. Dan saat itu... pintu maafku sudah melebur, hilang tak bersisa."

Bersamaan dengan sumpah serapah itu, kilat menyambar dan petir menggelegar di luar jendela pesawat, seolah semesta sedang mencatat setiap kata yang keluar dari bibir Megan.

Megan, yang secara insting selalu ketakutan dengan suara guntur, seketika menciut. Ketakutan mengalahkan harga dirinya. Tanpa sadar, ia justru menghambur ke pelukan Bradley, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria yang baru saja ia kutuk.

Dada Bradley bergemuruh hebat, rahangnya mengeras menahan gejolak emosi yang asing. Meski hatinya hancur mendengar kutukan Megan, tangannya tetap bergerak pelan, mengusap punggung wanita itu untuk menenangkannya dari amukan badai di luar sana.

***

Pesawat jet pribadi itu berguncang akibat turbulensi di tengah cuaca buruk. Di dalam kabin yang mewah, Megan merasa dunianya sedang dijungkirbalikkan.

Rasa mual akibat morning sickness yang bercampur dengan mabuk udara membuatnya tersiksa. Berkali-kali ia memuntahkan isi perutnya, dan setiap kali itu pula Bradley selalu siaga di sampingnya.

Tanpa rasa jijik, tangan kekar Bradley memijat tengkuk Megan, menenangkan wanita itu, bahkan dengan telaten membasuh mulut Megan dengan handuk hangat.

Bradley melangkah menuju mini bar, mengabaikan guncangan pesawat yang mampu membuat orang biasa terjatuh. Ia menyeduh minuman hangat, lalu menyerahkannya pada Megan.

"Minumlah, Meg. Ini akan sedikit meredakan mualmu," ucap Bradley lembut.

Megan menerima cangkir yang masih mengepul itu. Aroma jahe yang menenangkan merasuk ke penciumannya. Setelah menyesapnya perlahan, ia menatap Bradley dengan tatapan benci.

"Aku tidak akan pernah berterima kasih padamu, sekecil apa pun kebaikan yang kau lakukan," desis Megan dingin.

"Aku tidak butuh rasa terima kasihmu, Meg. Aku hanya butuh kau tetap di sisiku," jawab Bradley, suaranya terdengar posesif.

Megan tersenyum sinis. "Kau boleh saja menaklukkan sistem di London, Brad. Tapi jangan harap kau bisa lolos dari sistem di Virginia. CIA punya mata di setiap sudut."

"Kau sangat yakin, Meg?" Bradley mengangkat satu alisnya

.

"Tentu saja. Dan saat saat itu tiba, aku akan bebas sementara kau akan membusuk di penjara."

Bradley terkekeh, suara yang lebih terdengar seperti peringatan bahaya. "Terdengar seperti ancaman yang manis, Meg."

"Aku bukan pengecut sepertimu yang hanya berani mengancam wanita. Suatu hari, kau akan menemui kesialanmu, Brad!"

"Kesialan terbesar dalam hidupku hanyalah saat kau berhasil lari dariku," balas Bradley telak, membuat Megan terbungkam.

Di kursi belakang, Peter hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Earphone di telinganya bahkan tak mampu meredam drama live yang menampilkan umpatan, saling serang, hingga sikap lembut Bradley yang mendadak muncul saat Megan mual.

Andai aku bisa menghilang, aku lebih baik menghilang sekarang juga, batin Peter frustrasi.

“Astaga gara gara drama mereka, akan lupa dengan pekerjaanku.” Ia segera merogoh ponselnya, menyadari ia lupa memberi kabar pada Alice soal jadwal yang berubah. Ia segera menghubungi Alice melalui jalur komunikasi terenkripsi.

"Alice, maaf aku lupa memberi tahu. Pesawat berangkat dua jam lebih awal karena cuaca buruk di London," ucap Peter cepat saat panggilan tersambung.

"Kau gila, Pet! !" suara Alice terdengar meledak di seberang sana.

"Bersiaplah sekarang. Satu jam lagi kami akan mendarat di Virginia!

***

Alice menutup panggilan telepon dari Peter dengan napas yang memburu. “Peter benar-benar payah, bahkan pesawatnya mendarat sebelum aku berangkat?”

Tangannya sedikit gemetar, namun ia segera menguasai diri. Ia mulai mondar-mandir di kamar megah milik Arthur Ford, otaknya berputar cepat mencari cara agar bisa segera berangkat.

Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Arthur yang baru saja keluar dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Alice segera menghampirinya, mencoba menutupi kegelisahannya dengan senyum paling menawan.

"Kau kenapa, Sayang? Tampak begitu terburu-buru," tanya Arthur, alisnya terangkat melihat Alice sudah memegang kemejanya.

"Aku hanya tidak sabar untuk segera sampai di New York dan menghabiskan liburan kita," ucap Alice manja, tangannya mulai membantu mengenakan kemeja ke tubuh Arthur.

Arthur menatapnya heran. "Biasanya kau lebih suka kita menghabiskan waktu di rumah?"

"Aku ingin sesuatu yang berbeda. Aku ingin ke Central Park, menikmati musim gugur yang indah ini," ucap Alice. "Sudah lama aku tidak ke New York, Sayang. Dan tentunya... aku ingin menghabiskan malam hanya denganmu."

Arthur terkekeh. "Oh, ya? Lalu kenapa kau tak kunjung menerima lamaranku? Apa lagi yang kau tunggu? Aku ingin hubungan kita segera diresmikan. Apa kau tidak ingin menyandang gelar 'Nyonya Ford'?" Arthur menarik pinggang Alice, mengunci tubuh wanita itu agar merapat padanya.

Alice menatap mata Arthur dengan binar yang terlihat tulus, sebuah sandiwara yang sangat sempurna. "Tentu aku mau, Arthur. Aku hanya... menunggu Megan."

"Megan? Dia sudah dewasa, Alice. Aku tidak butuh persetujuannya untuk menikahimu," tukas Arthur tegas.

"Aku tahu, Sayang," Alice meraih rahang Arthur, memberikan ciuman lembut yang menenangkan untuk meyakinkan pria itu. "Kita akan menikah, dengan atau tanpa persetujuannya. Tapi setidaknya, mari kita tunggu sampai tugasnya di London selesai. Aku hanya tidak ingin dia menganggapku merebutmu darinya saat dia sedang tidak ada di sini."

Arthur menghela napas, sorot matanya melembut. "Kau begitu baik, Alice. Kau masih memikirkan putriku di saat banyak wanita lain hanya berebut untuk bersanding denganku."

"Aku ingin hubungan kita berjalan baik tanpa menyakiti siapa pun, Arthur..." bisik Alice.

"Baiklah. Terima kasih, Alice."

"Sama-sama. Sekarang, sebaiknya kita segera berangkat. Pesawat kita satu jam lagi. Aku tidak ingin kita terlambat. Libur kita hanya dua hari, dan aku ingin me-time tanpa memikirkan urusan negara. Hanya kita berdua. Aku... dan kamu."

****

Jet mewah itu mendarat dengan mulus di landasan pacu Dulles International Airport. Begitu pintu kabin terbuka, senyum merekah di wajah pucat Megan, sebuah senyum tulus yang membuat dada Bradley berdenyut nyeri.

Ia sadar, kebahagiaan Megan memang ada di tanah ini, namun baginya, Megan adalah tawanan yang harus ia simpan rapat-rapat.

Megan melangkah turun, memejamkan mata sejenak untuk menghirup udara hangat

Virginia yang hangat sangat kontras dengan London yang besalju. Di sekelilingnya, deretan Pohon Maple menjatuhkan daun-daun merah dan kuning yang menari ditiup angin.

"Terima kasih, Tuhan, Engkau masih memberiku kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki di tanah ini, Meskipun kini langkah kakiku berada dalam belenggu iblis dan setiap tarikan napas terasa sesak, setidaknya aku bisa kembali ke tanahku." batin Megan.

"Ayo, Meg. Bukankah kau sudah tidak sabar ingin mengunjungi makam Bibi Sarah-mu?" suara bariton Bradley memecah lamunannya.

Megan tak menjawab. Ia berjalan di samping Bradley dengan langkah yang lebih ringan, sesekali ia masih tersenyum menatap langit Virginia.

"Kau tampak begitu bahagia, Meg?" tanya Bradley, menatap Megan yang tampak cantik meskipun pucat.

"Tentu saja. Ini tanah di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Tempat aku pernah bermimpi untuk merajut asa... sebelum kau merampasnya secara paksa," sindir Megan, suaranya lembut namun menusuk.

Bradley hanya diam. Dalam hati, ia membenarkan ucapan itu. Ia memang telah merampas masa depan Megan Ford. "Kau lihat saja nanti, Meg. Di tangan siapa takdirmu akan bermuara."

Peter yang berjalan di belakang mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Ia pikir drama di pesawat sudah berakhir, ternyata Virginia justru menjadi panggung babak baru yang lebih gila.

Saat mereka memasuki pemeriksaan keamanan di terminal kedatangan internasional, seorang petugas pria paruh baya tersentak dari kursinya.

"Megan?" sapa petugas itu terkejut.

Matanya tak lepas mengamati Megan karena keterkejutannya. “Sudah lama aku tidak melihatmu, Meg. Kau bersama... pacarmu? Atau suami?"

Pria dengan nama Nelson di nametag itu terdengar begitu ramah pada Megan.

“Nelson, aku….”

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!