NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 04: Organisasi

​Markas besar Organisasi adalah sebuah gedung beton dingin tanpa jendela di jantung distrik finansial. Untuk masuk ke dalamnya, setiap anggota harus melewati koridor yang dilengkapi dengan sensor yang mengidentifikasi keanggotaan. Sensor itu juga dirancang untuk mendeteksi partikel mesiu, minyak senjata, hingga hormon stres yang berlebihan.

​Reggiano melangkah masuk dengan napas yang tertahan. Biasanya, ia akan merasakan sedikit ketegangan saat mesin pemindai mengeluarkan suara dengung rendah di atas kepalanya. Namun, pagi ini ada yang aneh.

​Saat ia melewati gerbang sensor, aroma mentega yang kaya dan ragi hangat dari croissant di saku dalam jasnya mendadak menguat. Aroma itu seolah membentuk lapisan pelindung di sekeliling tubuhnya.

​Bip.

​Lampu hijau menyala.

Sensor itu benar-benar tidak mendeteksi aroma logam dari pistol peredamnya atau bau mesiu yang selalu menempel permanen di pori-pori kulit seorang eksekutor. Operator keamanan di balik kaca tebal tampak mengerutkan kening, memeriksa layar monitornya berulang kali.

​"Ada masalah?" tanya Reggiano dingin.

​"Tidak, Tuan Herbert. Hanya saja... sensor ini membaca profil anda seperti... sarapan pagi," gumam petugas itu bingung.

"Silakan lewat."

​Reggiano terus berjalan menuju lantai paling atas, ruang interogasi khusus di mana Marcus sudah menunggu.

​Di dalam ruangan yang sunyi dengan pencahayaan putih yang dingin, Marcus duduk di balik meja kaca. Di atas meja itu, dua cangkir kopi hitam yang mengepul sudah tersaji. Uapnya menari-nari di udara, namun Reggiano teringat peringatan Seraphine: Kopi itu akan terasa sangat pahit.

​"Duduklah, Reggiano," Marcus memberi isyarat dengan kepalanya.

"Kita bicara sebagai teman lama, bukan sebagai atasan dan bawahan."

​Reggiano duduk, namun punggungnya tetap tegak. "Teman lama tidak biasanya mengirim tim pengintai untuk membuntuti ku ke toko kue, Marcus."

​Marcus tertawa kecil, suara yang tidak mencapai matanya. "Hanya prosedur standar. Tapi bicara soal toko itu, timku masih di rumah sakit. Mereka tidak terluka secara fisik, tapi mereka berada dalam kondisi konyol. Mereka terus menggumam tentang 'taman' dan 'nyanyian'. Dokter kami tidak bisa menemukan kejanggalan apa pun dalam darah mereka."

​Marcus mendorong salah satu cangkir kopi ke hadapan Reggiano. "Minumlah. Kau terlihat butuh kafein pagi ini."

​Reggiano menatap cairan hitam pekat itu. Ia bisa merasakan tatapan Marcus yang menyelidik, mencari tanda-tanda keraguan atau pembangkangan. Di dunia mereka, menolak tawaran dari seorang atasan dalam situasi seperti ini adalah pengakuan bersalah secara tidak langsung.

​Reggiano meraih cangkir itu. Panasnya merambat ke telapak tangannya.

​"Ada apa? Kau takut aku meracuni mu?" tanya Marcus dengan nada bercanda yang tajam.

​Reggiano tidak menjawab. Ia mendekatkan cangkir itu ke bibirnya. Aroma kopinya sangat tajam, hampir menusuk. Namun, saat ia hendak menyesapnya, aroma manis dari croissant di sakunya kembali tercium, seolah sedang memperingatkan indranya sekali lagi.

​Reggiano menyesap kopi itu.

​Seketika, rasa pahit yang tidak manusiawi meledak di lidahnya. Itu bukan rasa biji kopi yang terpanggang, melainkan rasa bahan kimia penawar saraf, sejenis obat dosis tinggi yang dicampur dengan pelumpuh otot ringan. Jika ia meminumnya lebih banyak, ia akan kehilangan kendali atas lidah dan tubuhnya dalam hitungan detik.

​Reggiano meletakkan cangkirnya dengan tenang. Ekspresi wajahnya tidak berubah, berkat latihan bertahun-tahun dalam menyembunyikan rasa sakit.

​"Kopi yang kuat," ucap Reggiano datar.

​"Hanya yang terbaik untukmu," sahut Marcus, matanya kini terpaku pada reaksi tubuh Reggiano. "Jadi, katakan padaku, Reggiano... apa yang sebenarnya terjadi di toko bunga itu? Siapa wanita itu?"

​Reggiano merasakan lidahnya mulai sedikit kaku. Namun, secara ajaib, sepotong kecil remah croissant yang tadi sempat ia telan secara tidak sengaja sebelum masuk ke gedung seolah mulai bereaksi. Rasa hangat yang tadi ia rasakan saat menyentuh tangan Seraphine kini muncul kembali di dadanya, menetralisir rasa pahit dan racun di mulutnya dengan kecepatan yang mustahil.

​Pikirannya kembali jernih.

​"Dia hanya seorang penjual bunga yang kebetulan memiliki teknik pemasaran yang aneh," jawab Reggiano dengan suara yang tetap stabil, membuat Marcus sedikit terkejut.

"Jika timmu tidak bisa menangani aroma lavender, mungkin kau harus melatih mereka di taman kota, Marcus. Bukan di simulasi tempur."

​Marcus menyipitkan mata. Ia heran mengapa Reggiano masih bisa bicara dengan lancar setelah meminum dosis yang seharusnya membuat gajah sekalipun bertekuk lutut.

​"Begitu?" Marcus bersandar di kursinya. "Lalu bagaimana kau menjelaskan bunga mawar yang ditemukan di tempat kejadian Miller? Dan di saku salah satu tim pengintai?"

​Reggiano menatap lurus ke mata Marcus. "Mungkin Miller punya selera bunga yang bagus sebelum mati. Dan untuk timmu... mungkin mereka hanya ingin memberikan hadiah untuk istri mereka?"

​Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, alarm di gedung itu berbunyi.

​Bip. Bip. Bip.

​"Tuan Marcus!" seorang petugas masuk dengan tergesa-gesa.

"Ada masalah di sistem ventilasi! Semua sensor di lantai ini mendeteksi... pertumbuhan biologis yang tidak terkendali di saluran udara!"

​Reggiano menoleh ke arah grille ventilasi di langit-langit. Dari sana, sulur-sulur hijau kecil mulai menjuntai keluar, tumbuh dengan cepat dan memenuhi ruangan dengan aroma mawar yang sangat kuat.

​Di tengah kekacauan itu, Reggiano menyadari satu hal: Seraphine tidak hanya memberinya croissant untuk perlindungan diri. Dia baru saja mengirimkan "pasukannya" untuk menjemputnya.

Suasana di dalam ruang interogasi berubah drastis dalam hitungan detik. Cahaya lampu neon yang putih pucat mulai berkedip-kedip, tertutup oleh sulur-sulur tanaman merambat yang tumbuh secara liar dari sela-sela langit-langit dan retakan lantai beton yang seharusnya mustahil ditembus tanaman.

​Marcus terbelalak. Ia mencoba berdiri, namun sulur hijau yang berduri kasar dengan cepat melilit pergelangan kakinya, menariknya kembali ke kursi dengan sentakan kuat.

​"Apa-apaan ini?! Herbert! Apa yang kau lakukan?!" teriak Marcus. Ia mencoba meraih senjata di balik jasnya, namun sebuah akar yang tebal seukuran lengan manusia meluncur dari kegelapan sudut ruangan, melilit tangannya hingga terdengar suara tulang yang berderak pelan.

​Di sisi lain ruangan, petugas yang baru masuk tadi sudah tidak terlihat lagi, ia tertimbun oleh tumpukan bunga mawar hutan yang mekar dengan kecepatan abnormal, kelopak-kelopaknya yang berwarna merah darah membungkam mulutnya sebelum ia sempat berteriak minta tolong.

​Anehnya, di tengah pusaran pertumbuhan biologis yang ganas itu, Reggiano berdiri diam tak tersentuh.

​Tanaman-tanaman itu seolah memiliki mata. Mereka meliuk-liuk di sekitar tubuh Reggiano, menghindari ujung sepatunya, bahkan ada sehelai sulur kecil dengan bunga melati di ujungnya yang dengan lembut mengusap bahu jas abu-abunya, seolah sedang menyapa seorang kawan lama.

​Reggiano menatap Marcus yang kini mulai membiru wajahnya karena lilitan tanaman di lehernya. Pahitnya racun di mulut Reggiano kini benar-benar hilang, digantikan oleh kesegaran oksigen murni yang dihasilkan oleh hutan dadakan di dalam ruangan tersebut.

​"Aku tidak melakukan apa-apa, Marcus," ucap Reggiano datar. Suaranya terdengar sangat tenang di tengah suara retakan beton dan desisan tanaman yang tumbuh.

"Sudah kukatakan padamu... kota ini sedang tidak aman bagi orang-orang seperti kalian."

​Reggiano melangkah mendekat ke arah Marcus yang terengah-engah. Ia mengambil cangkir kopi yang tadi ditawarkan padanya, cangkir yang kini sudah dililit oleh akar kecil dan menumpahkan isinya ke lantai. Cairan hitam beracun itu langsung diserap oleh akar tanaman, dan seketika bunga-bunga di sekitar sana berubah warna menjadi hitam pekat, seolah sedang membuang racun tersebut.

​"Herbert... tolong..." rintih Marcus.

​Reggiano menatapnya tanpa emosi. "Seraphine bilang, kopi ini sepahit pengkhianatan. Sepertinya dia benar. Kau mencoba melumpuhkan ku di rumahmu sendiri, Marcus. Itu tidak sopan."

​Tiba-tiba, suara Seraphine terngiang kembali di kepala Reggiano.

“Jangan biarkan mereka merusak taman yang baru saja mulai tumbuh.”

​Reggiano menyadari bahwa ini bukan sekadar serangan. Ini adalah evakuasi. Tanaman-tanaman ini tidak membunuh Marcus, setidaknya tidak sekarang karena mereka hanya mengunci seluruh lantai ini, mematikan kamera pengawas dengan lilitan daun, dan menciptakan kekacauan total sebagai pengalih perhatian.

​Reggiano berbalik dan berjalan menuju pintu keluar yang kini tertutup tirai daun rambat yang tebal. Saat ia mendekat, dedaunan itu membuka jalan secara otomatis, membungkuk kecil seolah memberi hormat pada sang Eksekutor.

​Ia berjalan melewati koridor yang kini sudah berubah menjadi lorong hijau. Para penjaga keamanan tergeletak di lantai, tertidur lelap dalam balutan kelopak bunga, persis seperti tim pengintai di dalam mobil tadi pagi. Mereka tidak mati, tapi mereka tidak akan bangun dalam waktu dekat.

​Saat mencapai lobi utama, Reggiano melihat sensor biometrik yang tadi memeriksanya kini sudah hancur, ditumbuhi oleh jamur-jamur berwarna perak yang berpendar.

​Reggiano keluar dari gedung. Udara pagi di luar terasa begitu berbeda. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan croissant yang diberikan Seraphine, dan memakannya satu gigitan kecil.

Rasanya masih hangat.

​Ia masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan melihat ke arah gedung pusat Organisasi lewat spion. Dari luar, gedung itu tampak normal, namun ia tahu di dalamnya, hutan sedang berkuasa.

​Ia memacu mobilnya, namun bukannya pulang ke rumah, kemudinya bergerak ke arah timur. Ke arah satu-satunya tempat yang kini terasa masuk akal baginya.

​Sepuluh menit kemudian, ia sampai di depan Flower’s Patisserie.

​Lonceng pintu berdenting lembut saat ia masuk.

Seraphine sedang berdiri di balik konter, sedang mengelap sebuah gelas kaca dengan kain putih yang bersih. Ia menoleh dan tersenyum, seolah ia baru saja menyambut seseorang yang baru pulang dari kantor biasa.

​"Anda pulang lebih cepat, Tuan Herbert," sapa Seraphine. Matanya berkilat nakal. "Bagaimana kopinya? Apa aromanya sesuai dengan yang saya bicarakan?"

​Reggiano berjalan mendekat, meletakkan tangannya yang masih sedikit gemetar di atas konter kayu.

"Apa anda juga meracik kopi, Nona Florence?"

​Seraphine meletakkan gelasnya, lalu menatap Reggiano dengan lembut. "Saya hanya meracik teh dengan susu juga beberapa bunga, Tuan Herbert. "

​Reggiano menatapnya tajam. "Apa yang kau katakan?."

​Seraphine hanya tertawa kecil, suara denting porselen yang kini terdengar lebih misterius. "Dan apakah seorang 'Eksekutor' yang memiliki hati untuk adiknya bisa disebut manusia sepenuhnya oleh orang-orang di gedung tadi?"

​Ia menyodorkan secangkir teh baru, kali ini bukan lavender, tapi melati. "Minumlah. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan sebelum 'mereka' berhasil menebang pintu masuk lantai itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!