Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mempertimbangkan untuk selamanya
Nella masih menggantungkan tangannya di udara dan Renata masih memperhatikan tangan yang dengan santai mau menjabat tangannya.
"Aku nyonya Javier Mascherano, Aku miliknya dan aku yang di nikahin ya, Aku sombong dalam hal ini tak masalahkan Tuan Javier ?"
Menoleh menatap wajah suami yang sejak tadi mendengar namanya menjadi panggilan Nella dan membuat Javier yang memperhatikan Nella tertangkap mata Nella.
"Untuk mu, apapun di izinkan sayang."
Semakin terkepal kuat tangan Renata menahan tinjunya untuk tidak melayang di wajah Nella.
"Sayang kita sudah tunangan dan kita bertukar cincin nanti malam, kau lupa?"
Javier menatapnya sangat asing dan dingin.
"Aku tidak lupa tapi, nanti malam aku akan membuat semua jelas dan membatalkannya."
"Javier!" Teriaknya marah. Javier kaget Nella memegang tangannya dan berdiri selangkah didepannya.
"Apapun yang menjadi milikku akan tetap milikku, kau tidak bisa memaksanya, selagi dia memilihku kau pergi saja... Ayo aku tidak mau jadi lama dengan dia." Menarik tangan Javier untuk masuk kedalam mobil. Pikiran Nella kacau karena ia malu dan sadar apa yang barusan ia lakukan benar-benar bukan dirinya kenapa juga ia bilang Javier miliknya dan siapa lagi ia bilang pada perempuan itu, kalo ia nyonya Javier! What the fuck.
Sudah duduk didalam mobil Javier tak pernah melupakan hari ini dan Renata di luar sana menatap mobil Javier yang di kendarai Seam pergi dari halaman rumah.
"Sialan perempuan itu, lihat saja ibu Kayla akan memihakku. Sialan!"
Sejam lebih hanya ada saling diam sampai Nella yang sudah duduk tenang menikmati kueh dan camilannya di meja lain.
Ya, sekitar sejam lebih keduanya sampai di resto tempat Javier melakukan pembicaraan bisnis dengan kolega lamanya.
Nella memilih memesan makan dan minuman di tempat lain masih satu resto dan Cafe di sini.
Javier di lantai dua dan Nella ada di halaman dekat pohon besar.
Seam bersama dengannya duduk sedikit jauh.
"Tuan memilihnya untuk menghentikan pernikahan politik bersama Nona Renata, Tuan akan membuat nona Nella lebih dalam bahaya, akan lebih sulit lagi yang sebelumnya hanya Tuan saja sekarang nona Nella bersamanya... Mari persiapkan secara langsung saat hari itu tiba."
Seam yang tenang meminum kopi dan tetap memperhatikan Nella dalam situasi aman, di lantai atas kolega lamanya yang umurnya seumuran dengan ayahnya.
"Tuan Javier, saya suka berbisnis dengan anda karena semuanya jelas dan transparan, bisnis kali ini cukup menarik namun, anda yakin jika kakak perempuan anda yang lain tidak akan membuat keributan ?"
"Saya jamin, selagi anda mengikuti saran yang saya katakan saya juga tidak akan mengecewakan kerja sama ini."
Berdiri dari pembicaraan yang dirasa sudah tidak ada yang mau di bahas lagi.
"Kalo gitu saya akan pergi dan terimakasih untuk waktu anda." Javier tersenyum tipis mengangguk berjabat tangan dan di tinggalkannya ia sendirian didalam ruangan ini.
Seketika berbalik dan menatap Javier yang masih memperhatikan kepergiannya.
"Saya dengar anda sudah menikah dan istri anda punya penyakit bawaan lahir yang umurnya tidak lama? Maaf jika pertanyaan saya menyinggung... Posisi itu saya pernah merasakannya, saya berdoa semoga keajaiban datang dan anda bisa hidup lama dengan istri anda sampai cicit kalian hadir."
Javier mengangguk.
"Terimakasih atas doanya."
Di sini dengan angin dan juga pemandangan orang yang datang dan pergi dari cafe resto ini.
Tiba-tiba seseorang duduk di hadapannya tanpa permisi. Seam bangun dari duduknya mendekat ke Nella. Merasa situasi tak baik dan beberapa orang memperhatikan mereka, bahkan Nella mendengar jelas decitan kursi Seam yang segera mendatangi nya.
"Hallo, pagi iparku... Bagaimana pernikahan kalian sudah lancar kan sejauh ini atau kalian punya tragedi mengenaskan... Mungkin belum." Ocehnya tidak jelas Nella rasa tapi, Seam beberapa kali berharap Tuannya segera datang dan memisahkan pertemuan mendadak yang akan berubah jadi perkelahian mulut.
"Berbicara saja secara langsung dan omong kosong itu tidak aku pahami sebagai bahasa manusia." Nella tenang dengan santai masih menikmati roti bakar yang ia suap kedalam mulutnya.
"Hem.. Yaah kau santai sekali, padahal seharusnya kau takut dengan ku, Nama ku Kanaya aku kakak tertua di keluarga suamimu dan aku masih memiliki dua adik lagi dari istri lain ayah mertuamu." Penjelasan Kanaya mengubah sikap tenang Nella jadi sedikit kaget.
"Jangan kaget begitu." Nella tetap tenang walau Kanaya menyindirnya.
Nella tersenyum menyudahi makannya yang tinggal sedikit.
Menjabat tangan itu tapi, Nella tak melepaskan tangan Kanaya dengan mudah.
"Salam kenal, apa yang harus aku ucapkan sebagai panggilannya?"
Kanaya tersenyum licik.
"Kakak, aku putri dari istri kedua, dan kau tau... Istri pertama adalah ibu Javier secara hukum walau Javier putra dari istri sirih yang ke tiga, kau akan kaget jika taunya terlambat aku memberitahumu sekarang karena semua istri lain ayahku adalah sirih dan istri sah secara hukum hanya Ibu Kayla."
Nella tersenyum melepaskan tangannya dan Kanaya bangun dari duduknya melihat Javier berjalan cepat menghampiri mereka. Nella santai kembali memakan roti bakarnya.
Tiba-tiba Kanaya menggebrak meja dengan suara yang bisa membuat semua orang yang ada didekat mereka menoleh.
"Kau tidak akan hidup lama jadi lebih baik berpisah lah sebelum kau di siksa habis habisan..."
"Kanaya !" Javier dengan suara beratnya membuat Nella diam menoleh dan Seam menghela nafasnya.
"Apa adikku, hanya bicara kecil dengan adik ipar... Dah aku ada urusan sampai jumpa di rumah nanti malam." Pergi begitu saja tanpa bicara lagi dan Nella merasa sesak tapi, ia menghembuskan nafasnya seperti habis yoga.
Javier duduk di hadapannya dengan wajah serius yang tegang.
Apa Nella merasa tertekan dengan semua ucapan Kanaya, kalo sampai beneran ia bermasalah hanya dengan bicara dengan Kanaya aku akan acak-acak mereka semua.
Nella memegang tangan Javier yang terasa dingin dan Javier juga merasakan dinginnya tangan Nella.
"Aku masih dalam posisi ini bukan salah mu dan ini juga ada keputusanku, jika aku tetap menolak aku tidak bertemu dengan mereka, aku merasa harus menemanimu dan aku tidak masalah dengan serangan kecil."
"Apa yang di katakan Kanaya padamu?"
Nella mengedikkan bahu menarik tangannya tapi, Javier menahannya.
Nella melihat itu dan menatap serius ke mata Javier.
"Aku di perkenalkan dirinya siapa nama dan orang tua hingga semua istri lain, ayah mertua... Atau ibu tiri yang ambisius dengan menguasai tempat pertamanya sebagai ibu secara hukum."
Javier melepaskan tangannya dari tangan Nella.
"Kau tahu?"
Nella mengangguk.
"Bukan masalah aku juga bukan putri kandung papa mama ku, aku santai tentang itu, jadi selagi kamu mengakuiku sebagai istri dan masih memberikan perhatian mu aku akan tetap mempertimbangkan usia pernikahan ini."
Javier tersenyum menghela nafasnya.
"Jika itu mau mu aku akan berusaha membuatmu yakin kita akan selamanya bersama."
"Mustahil Tuan Javier." Jawab Nella cepat.
Javier terkekeh dengan wajah yang tak berpaling dari menatap ekspresi serius Nella.