"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 06
Seno sebenarnya sudah ada berada di sana sejak mendengar suara bising bu Rukmini yang berbicara pada Indira. Namun ia sengaja diam saja sampai pak Baskoro datang dan tiba-tiba suara tamparan itu menggema.
Awalnya Seno terkejut, terlihat dari raut wajahnya yang tampak berubah. Namun ia memilih diam sampai akhirnya Indira sendiri yang menyadari keberadaan nya.
Begitu mengetahui Seno ada di sana, pak Baskoro langsung kalang kabut di buatnya. Takut- takut Seno melihat perlakuan kasarnya pada Indira tadi. Demi menutupi itu, Pak Baskoro berusaha tersenyum biasa saja meski terlihat kaku.
"E-eeh, nak Seno rupanya sudah ada di sana. Baru mau dipanggil kan sama Indira. " Pak Baskoro segera mendekat, muncul lah kembali bakat menjilatnya yang seolah sudah mendarah daging di dalam tubuhnya.
"Kebetulan makan siang sudah siap, nak Seno. Ayo mari- mari. "
Bu Rukmini juga tak mau kalah untuk mengambil hati menantu nya, seolah- seolah kekerasan yang terjadi pada Indira bukan apa- apa baginya. Toh Indira juga bukan putri kandung nya, jadi ia tak peduli.
"Iya, mari nak Seno. Ibu sudah masak banyak dan khusus untuk kalian, oh ya akan ibu panggilkan juga nak Rania, ya. "
Namun Seno segera menahan. "Tidak perlu, " ucapnya. Kakaknya baru saja menangis semalaman, dan matanya bengkak saat ini. Seno tahu kebiasaan kakaknya, yang tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang-orang. Jadi dia menahan langkah bu Rukmini.
"Kakak saya itu picky eater. " Ini jujur, Seno tak berbohong. "Dia hanya memakan makanan yang dj masak oleh koki kita. "
Mendengar itu, wajah bu Rukmini dan pak Baskoro langsung terlihat tak enak. Ada rasa canggung dan malu di sana namun berusaha mereka tepis.
"Oh begitu yaa... " bu Rukmini nampak tertawa canggung. "Ya sudah kalau begitu nak Seno silahkan duduk. "
Seno lantas mengangguk, pria pemilik wajah tamparan rupawan itu melangkah ke meja makan. Di saat itulah tatapannya dan mata Indira bertemu, gadis itu langsung memalingkan muka begitu pandangan mereka terkunci.
Seno duduk disalah satu kursi, badannya yang atletis langsung mendominasi kursi kecil berbahan kayu itu.
Dan bu Rukmini segera mnyiapkan piring dan sendok, serta menghidangkan sendiri makanan sendiri di atas piring Seno.
"Nah, nak Seno ingin makan apa? ibu sudah buat banyak lauk yang pasti lezat- lezat. "
Namun Seno mengangkat tangannya. "Tidak usah, biar saya saja sendiri. "
Bu Rukmini membeku sebentar karena pelayanannya di tolak, namun akhirnya ia hanya bisa tersenyum sedikit masam dan membiarkan Seno mengambil nasi dan lauknya sendiri.
Di sepanjang makan siang itu, pak Baskoro tak henti- hentinya membanggakan dirinya sendiri, tentang masa mudanya, usahanya, apa saja yang bisa ia banggakan agar bisa terlihat sama derajatnya di hadapan nya itu. Di tambah bu Rukmini yang juga menambah- nambahkan seperti listrik nyamber, namun kenyataannya mereka malah terlihat asyik sendiri.
Karena yang di coba di tarik atensinya, justru sejak tadi melirik gadis di sampingnya. Seno bisa melihat bekas merah tamparan di pipi Indira dengan jelas.
Menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya, apakah perlakuan seperti ini yang ia dapat kan sehari- harinya dari keluarga nya? karena di saat ada tamu pun ayahnya berani melakukan hal ini, apalagi kalau hanya ada mereka di rumah.
Tidak mau dipikirkan, tapi entah kenapa pemikiran itu tak mau minggat di kepalanya, membuat Seno kesal sendiri, karena seharusnya ia tak boleh iba kepada orang yang telah membuat hari- hari kakaknya di penuhi air mata selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai makan, Seno membersihkan mulut nya dengan tisu. Sekali lagi, ia melirik ke arah Indira yang ternyata hanya makan sedikit, bahkan nasi dan lauk masih tersisa banyak di piringnya.
Seno berdehem pelan untuk menenangkan suasana yang sedikit gaduh, "saya akan kembali ke kediaman saya sore ini juga, tentu saja dengan membawa Indira ikut serta. "
Pernyataannya mendatangkan keterkejutan untuk kedua orang tua Indira. "Cepat sekali. Apa nak Seno tak ingin menginap dulu semalam dua malam lagi di sini? "
Seno menggeleng, ucapannya adalah ultimatum yang tak bisa di bantah. "Tidak perlu, saya rasa cukup semalam saja. Pekerjaan saya sudah menuntut untuk dikerjakan, dan awal tujuan saya kesini juga bukan untuk ini. "
Matanya melirik Indira tanpa mengalihkan wajah, ingin melihat reaksi gadis itu setelah dia berucap nada sarkas itu.
Tapi seperti nya Indira sudah mulai kebal dengan kata-kata pedasnya.
"Tapi kalian tenang saja, meskipun pernikahan ini ada karena hal tak biasa, saya akan tetap bertanggung jawab pada Indira. "
Pak Baskoro dan bu Rukmini saling melempar pandang lantas mengangguk. "Tentu saja, itulah yang kami harapkan dari nak Seno untuk putri kami. Kami ingin dia bahagia dengan pernikahan ini. "
Seno tersenyum miring, lebih tepatnya senyum sarkastis. "Benarkah? bukan karena ingin memerasnya untuk menguras harta saya? "
Ucapan bernada sarkas itu sontak membuat sepasang suami-istri gelagapan salah tingkah. Barulah mereka tersadar jika Seno ternyata mendengar percakapan mereka di dapur tadi.
"E-eeh, kok nak Seno berbicara seperti itu? bagaimana mungkin kami mempunyai pemikiran seperti itu, nak Seno? "ujarnya membela diri.
Namun Seno hanya menggeleng geli. Sampai ia menatap wajah Indira. " Persiapkan dirimu, ambil saja baju seperlunya, karena di sana kau tidak akan kerepotan soal keperluan mu. "
Lantas Seno beranjak dari sana karena muak dengan drama keluarga itu. Ia pun sudah benar-benar jengah dengan suasana kampung ini, dan ingin cepat kembali ke aktivitas nya.
****
Di kamarnya, Indira mulai mengepaki barang- barang nya, namun sebelum itu ia memperhatikan sekeliling kamarnya, seolah sedang merekam jejak masa- masa yang ia habiskan di kamar yang akan di tinggalkan nya ini. Kamar yang dipenuhi oleh banyak kenangan yang tak akan mungkin ia lupakan.
Sesuai apa yang di ucapkan Seno, Indira hanya mengambil beberapa potong bajunya dan barang- barang penting, sisanya ia biarkan terpajang di kamar ini.
Yang paling penting adalah figura foto ibu kandung nya, yang tak akan mungkin ia tinggalkan. Ia ingin selalu mengingat garis- garis wajah ibunya yang tak pernah bisa ia lihat secara langsung karena ibunya meninggal tepat setelah meninggalkan nya.
Indira mengusap figura foto yang sudah termakan oleh usia dan rayap itu, diam- diam air matanya mengalir, dan semakin deras hingga membasahi figura itu.
"Ibu... andai ibu masih hidup, Indira gak akan mungkin mengalami kejadian seperti ini, bu... " isaknya dengan dada sesak.
Ia kemudian menaruh figura itu di kopernya, mengusap air matanya dan bangkit. Waktu menunjukkan pukul empat sore dan Seno memberikan waktu hingga setengah lima untuk nya bersiap- siap, karena mereka akan berangkat tepat pukul lima.
Indira lalu mengambil handuk untuk kemudian ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya, tanpa ia sadari ia lupa mengambil baju salinan.
Alhasil ketika sudah di kamar mandi dan selesai membersihkan diri, Indira baru mengingat kecerobohan nya itu dan merutuki diri nya sendiri.
Ia lantas keluar dari kamar mandi dengan masih memakai handuk dan air menetes dari atas kepalanya karena ia baru saja keramas.
Namun baru beberapa langkah ia keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya yang memang setengah terbuka tiba-tiba terbuka lebar dan muncul lah sosok pria dengan dada telanjang.
Dia adalah Seno, yang tanpa permisi masuk ke kamar, tidak menyadari ada Indira di dalamnya yang hanya mengenakan sepotong handuk.
Indira lantas syok, dan beteriak. Tanpa ia sadari lantai yang terkena tetesan air menjadi licin dan membuat nya tergelincir.
Indira menutup mata ketika merasakan tubuh nya tak seimbang. Ia kira ia terjatuh ke lantai namun dirinya tak merasakan apa- apa.
Lantas ia memberanikan membuka mata, barulah ia sadari wajah Seno kini tepat di hadapan nya dan lengan kekar pria itu yang menahan pinggang nya agar tak jatuh.
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah