alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh delapan
Alia berlari mengejar lift yang hampir menutup, terkejut alia menyadari ternyata lift yang ia kejar, ada langit di dalamnya, hanya berdua dengan clara. Karena tidak mau terlambat, alia mengabaikan dan memutuskan untuk ikut masuk.
Langit menyambut dengan senyum lebarnya, alia hanya mengangguk sopan. Pagi ini langit terlihat sehat, wajahnya terlihat cerah.
Suara centil dan manja clara, terdengar menyebalkan di telinga alia. Alia mengamati sinta yang menggelayut manja di lengan langit yang terlihat tidak perduli, tatapan mata alia dari pantulan cermin di dalam lift, terlihat begitu jengah, langit yang melihatnya terlihat berusaha menjaga jarak dari clara yang semakin berani.
"Pak langit, saya kangen" desah clara manja, tubuhnya menempel ke tubuh kekar langit. Pria itu mendorong tubuh wanita itu menjauh.
"Clara, tolong sopan sedikit" tegur langit datar, matanya melirik alia yang memalingkan wajah.
"Mari pak.." sapa alia menunduk sopan, keluar begitu pintu lift terbuka.
"Tunggu bu alia" tahan langit, tangannya masih mendorong tubuh clara yang terlihat menempel tak tahu malu.
"Keruangan saya sebentar" perintahnya dengan suara beratnya.
Alia hanya mengangguk sopan, melirik clara yang menghentakkan kakinya kesal, lirikan mata wanita itu begitu tajam, wajah cantiknya terlihat memberengut kesal.
Begitu pintu ruangan langit tertutup, wajah pria itu terlihat merasa bersalah.
"Aku dan clara tidak memiliki hubungan apapun alia, percayalah" wajah langit terlihat memelas, matanya terlihat memohon alia untuk percaya.
Alia mengerutkan keningnya heran, ia menatap langit penuh tanya, alia mengamati langit yang terlihat gugup.
"Kenapa bapak mengatakan itu ke saya?,
Itu bukan urusan saya, dan tidak ada hubungannya dengan saya"
"Anu..alia, kalau hanya kita berdua di dalam ruangan, kamu bisa bicara seperti biasa..."
langit melangkah, mendekati alia yang masih berdiri di depan pintu.
"Aku hanya tidak mau kamu salah paham, aku dan clara tidak punya hubungan apapun" jelas langit lagi, ia ingin mendekati alia lagi, namun urung karena alia seperti menjaga jarak darinya.
"Maaf pak langit, saat ini kita di kantor, saya tidak bisa bicara informal, anda adalah pimpinan saya. Dan urusan bapak dengan clara itu, sama sekali bukan ranah saya untuk ikut campur" jelas alia tegas.
Wajahnya terlihat tenang, walau pikirannya saat ini sedang bingung mendengar ucapan langit, apa urusan alia akan kedekatan langit dengan clara.
"Jadi bapak mau dekat dengan wanita manapun, itu bukan hak saya mencampurinya, hubungan kita hanya bos dan karyawan pak, tak lebih"
Wajah langit berubah, raut wajahnya seperti kecewa mendengar jawaban alia. Perubahan itu tak luput dari perhatian mata indah alia, tapi alia memilih untuk mengabaikannya.
Ia permisi keluar sebab langit tak lagi bicara, pria itu hanya melihat kepergian alia dengan wajah sendu dan tatapan mata abu-abunya yang indah.
Langit masih terpaku menatap pintu yang sudah menutup, jika ponselnya tidak berdering keras, mungkin langit masih termangu di tempat berdirinya itu.
Dengan lesu langit meraih ponselnya dari saku celana, matanya memutar malas melihat nama yang tertera di layar ponsel. Namun tangannya tetap menggulir panggilan itu ke mode terima.
["Bisa-bisanya kau tak pulang, dasar anak tak tahu diri"] teriakan nyaring, membuat langit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya yang berdenging.
["Bukankah mama sudah katakan, nasibmu tergantung dari kehadiran, mengapa kau begitu bebal, langit!"],
"Aku kan sudah bilang ke mama, kalau aku nggak bisa" sahut langit malas, sedikitpun langit tak mejelaskan alasan mengapa ia tak bisa pulang menghadiri ulang tahun papa tirinya, walau kemarin ia sakit, langit yakin mamanya tidak akan perduli.
["Kamu pikir dengan tingkahmu yang seperti ini, kamu bisa mendapatkan hak waris dari papamu"], suara nyonya laras, mama langit masih terdengar penuh amarah.
"Aku juga tidak membutuhkannya" bisiknya lirih, sangat lirih.
["Dasar anak bodoh, kalau kamu tidak membutuhkannya, lantas untuk apa aku menikahi pria tua itu"]
Langit memutar matanya malas, selalu alasan yang sama, demi dirinya. Langit tak menjawab sepatah katapun ucapan ibunya, pria itu sudah muak mendengar alasan dari ibunya.
["Pokoknya kamu harus menunjukkan baktimu pada papamu, langit. Mama nggak mau tahu, jangan buat pengorbanan mama menjadi sia-sia"] ucapan nyonya laras terdengar bagai ultimatum di telinga langit, mamanya menutup panggilan begitu saja, tanpa salam dan basa basi, seperti biasa.
Desah nafas langit terdengar berat, matanya menatap nanar layar ponsel. Alasan ibunya terlalu dangkal, selalu dan selalu mengatakan semua pengorbanan yang dilakukan ibunya hanya untuk dirinya.
"Hhhh, bullshit" dengus langit kesal, sorot mata elangnya terlihat kesal.
Pernahkah ibunya bertanya sekali saja tentang apa yang langit butuhkan, pernahkah ibunya bertanya bagaimana kabar langit. Tidak, sekalipun tidak pernah. Ibunya selalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Langit berdiri menatap keluar dari jendela kaca di ruangannya, pikirannya kembali ke masa 20 tahun lalu, saat pertama kali ia memijakkan kakinya di rumah keluarga laksana, salah satu keluarga yang cukup berpengaruh di negara ini.
Saat pertama ia menemukan sosok pria yang benar-benar menjelma menjadi ayah yang tidak pernah langit punya, masa itu langit sangat bahagia, memiliki seorang papa dan kakak laki-laki yang perduli padanya.
Namun kebahagiaan itu tak lama, begitu ibunya menceritakan niat sebenarnya, niat dengan tujuan hanya harta keluarga laksana, membuat langit merasa bersalah pada bara dan papanya, tuan adrian.
Langit mencintai sekaligus membenci ibunya, rasa cinta pada ibunya, membuat langit menjadi sosok menyebalkan.
Berbagai cara langit lakukan untuk membuat papa tiri dan saudara tirinya itu membenci langit, namun kedua pria baik itu, tidak pernah membencinya.
Hati langit sungguh tak tega melihat kasih sayang tulus dari mereka yang hanya di manfaatkan ibunya, ketika langit kuliah, ia memilih untuk keluar dari rumah itu, tinggal sendirian.
Wajah tampan langit terlihat mendung, mengingat semuanya, rasa bersalah yang begitu besar, membuat langit tak pernah mampu menatap wajah tuan adrian.
Itulah sebabnya langit tidak pernah mau menghadiri pesta ulang tahun papa tirinya itu, dan jika langit terpaksa hadir, maka ia selalu membawa masalah bersamanya, membawa perempuan-perempuan tak jelas seperti kata ibunya, atau datang dalam keadaan mabuk berat.
Langit masih berdiri di depan jendela kaca itu, raut wajahnya masih melankolis, ketika nomor tidak terdaftar, terlihat menggetarkan ponselnya kembali.
Langit mengernyitkan keningnya heran, rasa penasaran menuntutnya untuk menerima panggilan tak di kenal itu.
"Hallo.." sapa langit dengan suara beratnya.
["Selamat siang!, apakah ini benar dengan ayahnya luka, maaf pak, saya wali kelas luka, bisakah bapak datang ke sekolah sekarang, dan tolong jangan beritahu bunda luka, ini permintaan luka"] suara di seberang terdengar lembut.
"Heumm, baik bu!, saya akan kesana sekarang juga, terima kasih sudah menghubungi saya terlebih dahulu"
Ucapan langit terdengar penuh terima kasih, menutup panggilan dengan sopan. Langit berbalik menuju meja kerjanya, menggapai kunci mobilnya dengan tergesa-gesa, dengan langkah yang terburu, ia melewati sekretarisnya yang berdiri di depan pintu hendak masuk ke ruangannya.
"Pak langit—"
"Letakkan saja di meja saya" potongnya cepat sebelum rani selesai bicara,
"Saya ada perlu keluar sebentar"
Rani, sang sekretaris mengangguk sopan.
"Baik pak"
Langit mengemudikan mobilnya sedikit terburu-buru, rasa cemas menguasai hatinya, namun tak dapat dipungkiri hati langit begitu bahagia. Luka, putranya itu mengingat nomornya dengan baik, dan menghubunginya terlebih dahulu, ketika bocah tampan itu membutuhkan pertolongan.
Langit melangkah cemas, langkah kakinya yang panjang terdengar bergema di koridor paud, tempat luka bersekolah. Ia menuju ke ruangan kepsek yang di tunjuk oleh seorang satpam, Langit mengetuk pintu ruangan kepsek itu dengan debar tak menentu.
Luka...
Bocah tampan berusia 5 tahun itu, terlihat berdiri dengan kedua tangan mungilnya yang terkepal, begitu pintu terbuka, bocah itu berlari mengejarnya, terlihat pipinya di penuhi air mata.
"Ayaaahhhhh...." teriak luka dengan isak yang tertahan. Langit menyambut dan mendekapnya erat.
"Yoyo, bilang luka nggak punya ayah. Luka nggak suka, luka pukul dia" adu luka menunjuk ke seorang pria kecil, yang juga berpenampilan berantakan tak kalah jauh dari penampilan luka.
Anak yang ditunjuk luka, juga terlihat sedang menangis dalam pelukan seorang wanita muda, yang langit duga adalah ibunya.
"Pak, kita duduk dulu yah" ajak seorang wanita paruh baya yang menurut langit, dengan penampilan wibawanya pasti kepala sekolah.
Langit mengangguk, mengangkat langit dalam gendongannya, tubuhnya yang tinggi besar terlihat kontras dengan semua orang yang berada dalam ruangan itu.
"Sudah sayang, ayah sudah di sini, jangan nangis lagi yah" bujuk langit dengan suara baritonnya yang menghipnotis.
Terlihat wajah-wajah yang menatap langit dengan penuh kekaguman, suara bariton itu membuatnya terlihat tampan, berwibawa sekaligus seksi.
Bersambung...