Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Investor Misterius
"Turun berapa persen?! Jawab yang jelas, Zahra! Jangan gagap!"
Alea berteriak frustrasi sambil meremas sprei rumah sakit yang putih bersih. Wajahnya yang pucat kini memerah karena emosi.
Meski tubuhnya terpasang infus dan baru saja diancam akan diborgol oleh dokter gila itu, otaknya tetap bekerja keras memikirkan nasib perusahaannya.
Zahra, sang asisten, berdiri di samping ranjang dengan tablet di tangan. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya.
"Minus enam persen, Bu! Hampir Auto Reject Bawah!" lapor Zahra panik, jarinya gemetar menggeser layar tablet. "Isu Ibu muntah darah dan pingsan sudah bocor ke akun gosip saham. Investor ritel panik. Mereka buang barang massal. Katanya... katanya manajemen Triple A Capital bakal kolaps kalau Ibu sakit keras."
"Kurang ajar! Siapa yang bocorin?!" Alea memukul kasur dengan kepalan tangannya. "Pasti si Joni dari Sekuritas sebelah. Dia memang sudah lama nunggu momen saya jatuh."
Alea mencoba bangun, tapi rasa nyeri di ulu hatinya kembali menyengat. Dia meringis, memegangi perutnya.
"Bu, jangan banyak gerak dulu. Nanti Dokter Rigel marah lagi," Zahra memperingatkan dengan nada takut-takut. Bayangan dokter berwajah datar tadi masih membekas ngeri di ingatan Zahra.
"Bodo amat sama dokter kulkas itu! Perusahaan saya lagi kebakaran jenggot!" sentak Alea. "Telepon Papa. Minta suntikan dana talangan. Kita harus buyback sahamnya sekarang sebelum harganya nyentuh tanah. Kalau sampai ARB, besok bakal makin susah naik."
"Pak Gavin nggak bisa dihubungi, Bu! Bapak lagi flight ke Eropa sama Bu Kiana. Ponselnya mati total!"
Alea memejamkan mata, kepalanya berdenyut hebat.
Sial. Sialan. Kenapa di saat genting begini ayahnya malah tidak ada?
"Oke. Pakai dana cadangan pribadi saya. Cairkan deposito di Bank Ardiman. Masukkan order beli sekarang!" perintah Alea nekat.
"Tapi Bu, proses pencairan butuh waktu dua jam verifikasi. Dalam dua jam, harga saham kita bisa jadi gocap alias lima puluh perak!"
Alea terdiam. Hening yang mencekam menyelimuti ruang VVIP itu. Hanya suara bip monitor jantung Alea yang terdengar semakin cepat, menandakan stres tingkat dewa. Dia merasa tidak berdaya. Reputasi "Ratu Saham" yang dia bangun bertahun-tahun akan hancur hanya karena sakit lambung sialan ini.
"Bu! Bu Alea! Liat!"
Tiba-tiba Zahra berteriak histeris, matanya melotot menatap layar tablet.
"Apa lagi?! Turun lagi?!" tanya Alea lemas.
"Bukan! Ada yang HAKA! Ada yang Hajar Kanan!" seru Zahra, menggunakan istilah trading untuk pembelian agresif di harga antrean jual. "Gila... Gila, Bu! Lihat volumenya!"
Zahra menyodorkan tablet itu ke depan wajah Alea.
Mata Alea menyipit. Di kolom order book, deretan angka antrean jual yang tebal mendadak lenyap dimakan oleh satu akun misterius.
Satu juta lot. Dua juta lot. Lima juta lot.
Angka itu terus bertambah, menyapu bersih semua orang yang panik jualan.
Grafik yang tadinya menukik tajam ke bawah seperti air terjun, tiba-tiba berhenti, berbelok, dan melesat naik vertikal membentuk tiang hijau raksasa.
"Siapa..." gumam Alea tak percaya. "Siapa yang punya uang cash segini banyak buat nampung saham gorengan lagi jatuh?"
"Ini bukan ritel, Bu. Ini Paus! Whale!" Zahra menggeleng takjub. "Total pembeliannya sudah tembus lima puluh miliar dalam tiga menit! Harga saham kita balik ke zona hijau, Bu! Malah mau Auto Reject Atas!"
Alea terpaku. Dadanya bergemuruh. Lima puluh miliar rupiah tunai digelontorkan begitu saja tanpa negosiasi? Ini gila. Bahkan ayahnya, Gavin Ardiman, biasanya akan mikir dua kali dan minta diskon kalau mau akuisisi.
"Cek kode brokernya! Siapa itu? Asing atau Lokal?" desak Alea.
"Brokernya pakai kode 'YP' alias Yolo Pialang, tapi akunnya nominee, Bu. Anonim. Nggak ada namanya," jawab Zahra kecewa. "Tapi siapapun dia, dia baru saja nyelamatin Triple A dari kebangkrutan."
Alea menyandarkan punggungnya ke bantal, menghela napas panjang yang lega. Rasa sakit di perutnya sedikit berkurang melihat warna hijau di layar.
"Mungkin Papa pakai akun rahasia," gumam Alea mencoba melogika. "Atau mungkin musuh bisnis yang mau nyaplok perusahaan gue dengan cara kasar? Ah, nggak mungkin. Kalau mau nyaplok, dia bakal tunggu harganya hancur dulu biar murah. Ini dia beli di harga mahal."
"Mungkin penggemar rahasia Ibu?" celetuk Zahra asal.
"Ngaco kamu. Penggemar saya isinya cuma om-om genit yang mau numpang kaya," cibir Alea. "Sudah, pantau terus. Kalau dia mulai jual, kabari saya."
Sementara itu, di lantai yang sama, tepatnya di ruang istirahat dokter.
Suasana di ruangan itu tenang, dingin, dan beraroma kopi. Jauh berbeda dengan kepanikan di kamar Alea.
Rigel Kalandra duduk santai di kursi kerjanya yang ergonomis. Dia baru saja melepas stetoskopnya dan meletakkannya di atas meja. Jas putihnya masih melekat pas di tubuh tegapnya.
Tangan kanan Rigel memegang sebuah ponsel hitam polos—bukan ponsel dinas rumah sakit, melainkan ponsel khusus dengan enkripsi tingkat tinggi. Layar ponsel itu menampilkan aplikasi trading dengan saldo rekening yang digit nol-nya terlalu panjang untuk dibaca orang awam.
"Sudah beres, Tuan Muda?" suara seorang pria terdengar dari loudspeaker ponsel yang diletakkan di meja. Itu suara Pak Hadi, manajer investasi kepercayaan keluarga Kalandra.
Rigel menyesap kopi hitamnya perlahan, matanya menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang gelap.
"Sudah. Saya lihat grafiknya sudah hijau," jawab Rigel datar.
"Total dana yang terpakai lima puluh lima miliar, Tuan. Kita sudah menyapu bersih semua panic selling. Sekarang kita jadi pemegang saham mayoritas kedua setelah Nona Alea di Triple A Capital," lapor Pak Hadi. "Tapi Tuan, analisis tim kita bilang fundamental perusahaan ini agak goyah karena ketergantungan pada sosok Alea. Ini investasi yang sangat berisiko."
Rigel tersenyum tipis. Sangat tipis.
Dia teringat wajah pucat Alea yang tadi menantangnya di IGD. Wajah wanita keras kepala yang lebih peduli pada laptop daripada nyawanya sendiri. Wanita yang berani membentaknya, tapi tubuhnya seringan kapas saat digendong.
"Saya tidak peduli soal fundamental atau risiko," ucap Rigel tenang.
"Lalu kenapa Tuan membeli sebanyak itu? Tuan bahkan tidak pernah main di sektor ini sebelumnya."
Rigel meletakkan cangkir kopinya. Dia melihat ke arah pintu ruangannya, membayangkan kamar VVIP 1 di ujung lorong sana.
"Anggap saja ini biaya pengobatan mental," jawab Rigel.
"Maksud Tuan?"
"Pasien saya yang satu itu keras kepala. Kalau dia lihat sahamnya merah, tensi darahnya naik, asam lambungnya naik, dan dia bakal susah sembuh. Kalau dia susah sembuh, dia bakal lama di rumah sakit ini dan bikin saya pusing."
Rigel mengambil ponselnya, bersiap memutus sambungan.
"Terus, instruksi selanjutnya apa, Tuan? Kapan kita jual lagi buat ambil profit?" tanya Pak Hadi di ujung telepon.
"Tahan," perintah Rigel tegas. "Jangan dijual satu lot pun. Beli lagi kalau ada yang buang barang."
"Beli lagi? Sampai kapan?"
Rigel menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan.
"Ya, beli saja semua saham Triple A Capital kalau perlu. Jangan sampai CEO bodoh itu bangkrut dan makin sakit," ucap Rigel datar namun mutlak, lalu mematikan sambungan telepon sepihak.
Dia bangkit berdiri, merapikan jas dokternya, dan mengambil clipboard medis. Waktunya mengecek pasien bandel itu lagi. Dia harus memastikan "investasi"-nya tidak kabur ke kafe lagi.
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....