Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TINTA YANG TERBUAT DARI AIR MATA
"Lo pikir dengan nelan koin itu, semuanya bakal selesai gitu aja? Lo baru aja buka pintu neraka yang nggak bisa ditutup lagi, Viona!"
Suara Julian terdengar seperti guntur yang diredam oleh kapas tebal. Viona tidak bisa melihat pria itu. Matanya hanya menangkap warna putih—putih yang begitu murni hingga terasa menyakitkan. Tidak ada lantai, tidak ada atap, tidak ada gravitasi. Ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya telah diuraikan menjadi partikel-partikel cahaya yang berpijar. Namun, di tengah kekosongan itu, rasa panas di tenggorokannya masih membara, menjalar turun ke jantungnya, lalu meledak ke seluruh pembuluh darahnya.
"Viona, dengerin gue! Jangan tulis apa pun yang diperintahkan Alfred!" teriak suara lain. Itu suara Adrian, terdengar jauh dan parau, seolah ia sedang berteriak dari dasar sumur yang sangat dalam.
"Jangan dengerin mereka, Nak. Mereka hanya takut pada kekuatan yang sekarang ada di genggamanmu," bisikan Alfred kembali merayap di telinganya. "Pena itu bukan lagi benda perak yang kuberikan di halte. Pena itu adalah kehendakmu. Tuliskan. Tuliskan dunia yang kamu inginkan di telapak tangan kirimu."
Viona mencoba menggerakkan tangannya. Terasa berat, seperti menggerakkan lengan di dalam cairan kental. Saat ia mengangkat tangan kirinya, ia melihat telapak tangannya memancarkan cahaya biru elektrik yang sama dengan pendar payung birunya. Di tangan kanannya, entah sejak kapan, ia menggenggam sebuah pena yang terbuat dari kristal bening. Pena itu tidak berisi tinta, melainkan aliran cahaya emas yang berdenyut mengikuti detak jantungnya.
"Gue... gue harus nulis apa?" gumam Viona. Suaranya bergema, memantul di dinding-dinding dimensi yang tak terlihat.
"Apa pun," sahut Alfred. Sosok pria tua itu kini muncul di hadapannya, melayang dengan tenang. Jas hitamnya tidak lagi tampak tua; ia terlihat seperti jubah keabadian yang menyerap cahaya di sekitarnya. "Ingin ibumu berjalan lagi? Tuliskan. Ingin Baskara hancur dan kamu menjadi penguasa perusahaan itu? Tuliskan. Ingin ayahmu kembali dari kematian? Semuanya bisa, Viona. Koin yang kamu telan adalah detak jantung dari sang waktu. Kamu adalah arsiteknya sekarang."
Viona menatap telapak tangannya yang bercahaya. Bayangan Elena yang tersenyum di taman sebelum kecelakaan itu melintas. Lalu bayangan Nathan yang sedang mengajarinya naik sepeda. Semua memori itu terasa begitu dekat, begitu nyata hingga ia bisa mencium aroma parfum ibunya dan bau keringat ayahnya. Ia hanya perlu menggerakkan pena kristal itu, dan ia bisa menghapus semua penderitaan yang ia alami selama setahun terakhir.
Namun, di sudut memorinya yang paling gelap, peringatan ibunya kembali terngiang: Harganya adalah kemampuanmu untuk merasa. Hatimu akan menjadi batu.
"Kalau gue tulis kebahagiaan gue di sini, apa gue masi bisa ngerasainnya, Kek?" tanya Viona, suaranya bergetar.
Alfred tersenyum, sebuah senyuman yang kini terasa dingin dan asing. "Kamu akan memiliki dunia, Viona. Perasaan adalah beban bagi seorang penguasa waktu. Kamu tidak butuh air mata kalau kamu punya kuasa untuk mencegah kesedihan itu terjadi."
"Tapi tanpa air mata, gimana gue tahu kalau gue masi manusia?" desis Viona.
Tiba-tiba, ruang putih itu berguncang hebat. Retakan-retakan hitam muncul di udara, seperti kaca yang dipukul palu godam. Dari retakan itu, kabut gelap merembes masuk, membawa hawa busuk yang sangat ia kenali. Julian muncul dari salah satu retakan, belati peraknya kini berubah menjadi pedang panjang yang dikelilingi api hitam.
"Cukup omong kosongnya, Alfred!" raung Julian. Wajahnya tidak lagi tenang; ia tampak seperti iblis yang sedang murka. "Ordo Chronos nggak akan biarin seorang amatir pegang kendali koin itu! Viona, kasih pena itu ke gue atau gue hancurin dimensi ini bareng lo sekalian!"
Julian menerjang. Kecepatan pria itu melampaui logika. Namun, sebelum pedang hitamnya menyentuh Viona, sebuah perisai cahaya biru meledak dari tubuh Viona, melemparkan Julian kembali ke kegelapan.
Viona terengah-engah. Ia merasakan kekuatan koin itu mulai mengonsumsi kesadarannya. Jika ia tidak segera menulis, kekuatan itu akan meledak dan menghapus keberadaannya. Ia menempelkan ujung pena kristal itu ke telapak tangan kirinya. Permukaan kulitnya terasa dingin, seperti es.
"Vio! Jangan!" teriak Riko. Suara temannya itu muncul entah dari mana, membawa Viona kembali ke realitas lantai bawah tanah yang dingin dan berdebu. "Jangan jadi kayak mereka! Jangan jadi batu!"
Viona menatap Alfred, lalu menatap Julian yang sedang bersiap menyerang lagi. Ia melihat melampaui mereka, ke arah cermin tempat bayangan ayahnya berada. Nathan Mahendra di dalam cermin itu tidak lagi tersenyum. Ia menatap Viona dengan tatapan penuh permohonan, seolah-olah ia sedang melihat putrinya berdiri di tepi jurang yang tak berdasar.
"Ayah... apa ini yang Ayah mau?" bisik Viona.
Viona menyadari sesuatu. Ayahnya tidak pernah ingin dia menjadi dewa. Ayahnya tidak pernah ingin dia menghapus masa lalu. Ayahnya memberikan koin itu sebagai "jangkar"—sebuah alat untuk bertahan, bukan untuk memerintah.
Viona mengepalkan tangan kanannya, menghancurkan pena kristal itu hingga menjadi serpihan cahaya yang terbang tertiup angin dimensi.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Alfred, wajahnya yang tenang kini berubah menjadi masker kemarahan yang mengerikan. "Kamu baru saja membuang kesempatan untuk menjadi abadi!"
"Gue nggak mau jadi abadi kalau itu artinya gue berhenti jadi manusia," sahut Viona tegas. Matanya kini tidak lagi memancarkan cahaya biru, melainkan warna cokelat murni yang penuh dengan tekad.
Viona menunduk, melihat telapak tangan kirinya yang masih bersih dari tinta sihir. Ia tidak menggunakan pena kristal. Ia menggunakan jari telunjuknya sendiri, yang ia lukai sedikit dengan ujung payung birunya hingga mengeluarkan setetes darah merah yang kental.
Di telapak tangannya, Viona menuliskan satu kata dengan darahnya sendiri: SEKARANG.
Seketika, seluruh ruang putih itu runtuh. Cahaya putih yang membutakan tersedot kembali ke dalam jantung Viona. Gravitasi kembali menariknya dengan kasar.
BRAAAKKK!
Viona jatuh tersungkur di atas lantai semen ruang bawah tanah yang dingin. Bau debu, oli jam kuno, dan kelembapan menyerbu indranya. Ia terbatuk-batuk, paru-parunya terasa perih saat menghirup udara nyata. Di sekelilingnya, ribuan jam kuno yang tadi meledak kini berserakan dalam bentuk rongsokan logam yang tak bernyawa.
"Vio! Lo nggak apa-apa?!" Riko berlari menghampirinya, membantu Viona duduk. Wajah Riko kotor oleh jelaga, tapi matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.
Viona menoleh ke arah meja besi. Ibunya, Elena, masih terbaring di sana. Namun, pendar emas di mata ibunya sudah hilang. Elena perlahan membuka matanya, dan kali ini, ada pengenalan yang tulus di sana.
"Vio... Nak..." Elena merintih lemah, tangannya yang gemetar meraih jemari Viona.
Viona memeluk ibunya erat-erat, air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. "Maafin Vio, Bu. Maafin Vio..."
"Kamu sudah melakukannya, Viona," bisik Elena. "Kamu memilih 'sekarang'. Kamu membebaskan kita semua dari kontrak itu."
Namun, kemenangan itu terasa singkat. Di ujung ruangan, Alfred berdiri diam. Ia tidak lagi melayang, tapi auranya masih terasa menekan. Di sampingnya, Julian berlutut dengan napas tersengal, pedang hitamnya sudah patah. Adrian tergeletak tak jauh dari sana, pingsan namun masih bernapas.
"Kamu pikir dengan menulis 'sekarang', utang itu lunas?" Alfred berkata dengan suara yang kini terdengar seperti ribuan bisikan orang mati. "Kamu baru saja menolak masa depan yang sempurna dan masa lalu yang indah. Kamu memilih hidup dalam penderitaan yang nyata. Ordo Chronos tidak akan membiarkan 'anomali' sepertimu berkeliaran dengan koin yang sudah menyatu dalam jiwamu."
Viona berdiri, meski kakinya gemetar. Ia mengambil payung birunya yang kini tampak benar-benar biasa—tidak ada pendar, tidak ada sihir. Hanya kain biru tua yang kusam dan rangka yang bengkok.
"Gue nggak takut sama kalian lagi," tantang Viona. "Gue punya waktu gue sendiri sekarang. Detik demi detik, gue bakal jalanin tanpa bantuan sihir kalian."
Julian bangkit berdiri, menatap Viona dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci dan hormat. "Lo baru saja bikin musuh paling berbahaya dalam sejarah manusia, Viona. Ordo nggak bakal kirim penagih kayak gue lagi. Mereka bakal kirim 'Penyapu'."
"Biarin aja mereka dateng," sahut Viona dingin.
"Ayo pergi, Julian," perintah Alfred. Sosok pria tua itu mulai memudar, perlahan-lahan menyatu dengan bayangan di sudut ruangan. "Biarkan dia menikmati 'sekarang' yang dia pilih. Kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan saat dunianya mulai runtuh tanpa bantuan kita."
Begitu Alfred dan Julian menghilang, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan bawah tanah itu. Riko membantu membopong Adrian yang mulai siuman, sementara Viona membantu ibunya duduk di kursi roda tua yang ada di sudut ruangan.
"Vio, kita harus cabut dari sini," bisik Riko. "Gue ngerasa tempat ini nggak bakal bertahan lama."
Riko benar. Langit-langit ruang bawah tanah itu mulai retak. Bukan karena ledakan jam, tapi karena rumah ini secara fisik mulai menua dengan kecepatan ribuan tahun per detik. Cat dindingnya mengelupas dan menjadi debu dalam sekejap, kayu-kayu penyangganya melapuk di depan mata mereka.
"Ayah... dia ngelepasin rumah ini supaya nggak jatuh ke tangan Ordo," gumam Viona.
Mereka bergegas naik ke atas, melewati dapur yang sudah mulai runtuh. Begitu mereka keluar ke halaman rumah, SUV hitam Adrian masih terparkir di sana. Adrian, dengan langkah tertatih, mengambil kunci mobilnya.
"Gue bakal bawa kalian ke tempat persembunyian faksi gue," kata Adrian sambil batuk berdarah. "Vio, lo bener-bener gila. Lo baru aja makan jantungnya waktu terus bilang 'enggak' sama tuhan-tuhan itu."
Viona tidak menjawab. Ia menoleh ke belakang, melihat rumah masa kecilnya yang megah itu kini runtuh sepenuhnya, menyatu dengan tanah dan hutan seolah-olah bangunan itu tidak pernah ada.
Mereka masuk ke mobil dan melaju meninggalkan pegunungan Parahyangan yang masih diselimuti kabut. Hujan mulai mereda, menyisakan aroma tanah yang segar. Di ufuk timur, garis cahaya pertama mulai muncul, menandakan fajar yang sesungguhnya.
Viona menatap telapak tangan kirinya. Kata SEKARANG yang ditulis dengan darahnya sudah mengering, namun luka kecil di jarinya masih terasa perih. Perih yang nyata. Perih yang membuktikan bahwa dia masih hidup.
"Vio," panggil Riko dari kursi belakang. "Liat itu."
Viona melihat ke arah jendela samping. Di pinggir jalan hutan yang sepi, berdiri sebuah halte bus tua dengan pilar kayu yang keropos. Halte yang sama dengan yang ia temui di Jakarta.
Dan di bawah atap halte itu, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian manajer yang sangat ia kenal.
Baskara.
Namun, Baskara tidak berteriak atau marah. Ia duduk diam dengan mata yang benar-benar kosong—putih tanpa pupil. Di pangkuannya, ia memegang sebuah tas kerja yang terbuka, dan di dalamnya, ribuan jam tangan miliknya berdetak dengan ritme yang kacau.
"Baskara?" gumam Viona ngeri.
"Dia sudah jadi 'Penerima'," bisik Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Dia gagal ngambil koin lo, jadi Ordo jadiin dia wadah buat waktu-waktu yang terbuang. Dia bakal duduk di sana, ngerasain setiap detik penyesalan manusia yang lewat, selamanya."
Viona memalingkan wajah, tidak sanggup melihat pemandangan itu. Kesuksesan yang dikejar Baskara berakhir menjadi penjara abadi yang mengerikan.
Mobil itu terus melaju, membawa mereka kembali ke dunia nyata. Dunia di mana ibunya masih harus menjalani terapi fisik, dunia di mana Viona mungkin tidak punya pekerjaan lagi, dan dunia di mana ia harus bersembunyi dari organisasi rahasia yang menguasai waktu.
Namun, saat Viona menggenggam tangan ibunya, ia merasakan kehangatan yang asli. Bukan kehangatan dari koin emas atau pendar payung, tapi kehangatan cinta yang tulus.
"Kita bakal baik-baik aja, Bu," bisik Viona.
Tiba-tiba, Adrian mengerem mobil secara mendadak. Di depan mereka, jalanan aspal yang seharusnya lurus menuju kota besar, mendadak terputus. Bukan karena longsor atau jembatan putus.
Jalan itu berakhir di sebuah jurang yang di bawahnya bukan tanah atau sungai, melainkan awan tebal yang memancarkan cahaya biru redup. Dan di atas awan itu, melayang sebuah kota raksasa yang arsitekturnya terdiri dari tumpukan roda gigi dan menara jam yang tak terhitung jumlahnya.
"Selamat datang di pusat masalahnya, Vio," kata Adrian dengan suara gemetar. "Sepertinya 'Penyapu' nggak nunggu kita sampe rumah."
Dari arah kota melayang itu, ribuan burung gagak hitam terbang menuju ke arah mobil mereka, dan di setiap kaki burung gagak itu, tergantung sebuah pena perak yang siap menuliskan akhir bagi mereka.
"Adrian, putar balik!" teriak Riko.
"Nggak bisa!" sahut Adrian panik. "Liat di belakang kita!"
Viona menoleh ke belakang. Jalanan yang baru saja mereka lewati telah menghilang, digantikan oleh hamparan pasir hitam yang luas di mana ribuan sosok berpakaian hitam—Para Penyapu—sedang berjalan pelan menuju mereka sambil membuka payung hitam secara serempak. Mereka benar-benar terjebak di antara dua ketiadaan.