Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 6.
Damian pulang lebih cepat hari itu.
Viera sedang duduk di ruang keluarga, menyusun daftar kebutuhan kehamilan di tablet kecil. Wajahnya tenang, seolah hari ini tidak terjadi apa-apa.
“Kamu menggugat cerai?” suara Damian serak.
Viera mengangkat wajahnya perlahan. “Iya.”
“Hanya… itu?” tanyanya nyaris putus asa. “Tidak ada yang ingin kamu katakan?”
Viera meletakkan tabletnya. “Semua sudah aku katakan sebelumnya.”
“Aku bisa berubah,” Damian melangkah mendekat, wajahnya sarat permohonan. “Aku akan berusaha, demi anak kita.”
“Anak ini tidak membutuhkan ayah yang bertahan karena rasa bersalah, dia hanya membutuhkan lingkungan yang bersih dan jujur.”
“Kita bisa konseling,” lanjut Damian tak menyerah. “Aku akan memutuskan semua komunikasi dengan Calista, dan kita bisa kembali—”
“Aku tidak meminta apa pun darimu lagi! Damian, kau sudah lama memilih dia.“ Kesabaran Viera akhirnya jebol juga.
“Aku tak akan menyerah padamu dan pernikahan kita, Viera!“ Damian menahan amarahnya, dia membanting pintu saat pergi.
Kehamilan Viera tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Ia terlalu sering pusing, dan sering cepat lelah. Dan ada nyeri aneh yang datang tiba-tiba lalu menghilang. Dokter mengatakan itu normal karena efek program, hormon, dan stres.
Damian berusaha memperbaiki sikapnya. Sejak pertengkaran terakhir mereka, pria itu berubah lebih lembut, lebih sabar, seolah ingin menebus sesuatu yang telah lama rusak. Ia tak lagi menyinggung proses perceraian yang diam-diam terus berjalan. Dalam keyakinannya, memutus seluruh komunikasi dengan Calista sudah cukup untuk membuat Viera kembali berpaling padanya.
Namun Viera menanggapinya tanpa emosi. Tak ada penolakan keras, tak pula penerimaan. Hanya jarak yang dingin.
Bahkan ketika Damian memaksa mengantarnya ke rumah sakit untuk pemeriksaan, Viera tak mencegah. Ia membiarkannya. Bukan karena luluh, melainkan karena ia merasa sikap Damian sudah tak berpengaruh apapun lagi padanya.
USG pertama menunjukkan janin sehat.
Tapi hasil darah… janggal.
Dokter terlihat ragu sepersekian detik sebelum tersenyum dan berkata, “Masih dalam batas wajar.”
Viera menangkap keraguan itu.
“Dok, kenapa data hormon saya tidak sinkron dengan usia kehamilan?”
“Itu bisa terjadi pada program fertilisasi.”
Viera mengangguk. Tapi saat keluar dari ruangan, ia menoleh sekali lagi ke papan data di dinding.
Ada kode laboratorium yang asing, dia memotretnya diam-diam. Lalu, Viera meminta salinan lengkap rekam medisnya yang terbaru.
Resepsionis terlihat kaget. “Biasanya suami—”
“Saya pasiennya,” potong Viera lembut tapi dingin.
Di rumah, ia membaca semuanya perlahan. Lalu ia menemukan satu nama, Donor Code: L–C 017.
Itu bukan kode milik Damian. Viera membuka berkas bayi tabungnya, dokumen program fertilisasi. Dan benar saja, kode suaminya berbeda.
Saat kontrol berikutnya Viera datang sendirian tanpa Damian tahu, tapi yang membuatnya terkejut, Dokter kandungan yang menanganinya orang yang berbeda.
“Nyonya Viera, Anda beruntung sekali.” Kata Dokter baru itu.
“Kenapa?” tanya Viera.
“Genetik janin ini sangat baik.”
Viera tersenyum. “Maksud Anda?”
Dokter itu terdiam terlalu lama, lalu berkata pelan. “Maksud saya… dari sisi donor.”
“Donor?”
Dan di sanalah Viera akhirnya tahu, jika donor sp3rma-nya ada kesalahan.
Viera tidak langsung meledak marah, dia menghubungi pengacara medis. Ia mengamankan bukti-bukti.
Ruang direktur rumah sakit itu terlalu dingin.
Viera duduk tegak, map cokelat tebal berisi bukti-bukti ada di pangkuannya. Di hadapannya, kepala laboratorium, dokter program fertilisasi, dan satu staf hukum yang wajahnya sudah kehilangan warna.
Viera membuka map.
“Ini bukti bahwa kode donor L–C 017 masuk ke prosedur saya. Dan ini bukti... bahwa kode itu bukan milik suami saya.”
Semua kepala tertunduk.
“Kami sudah menelusuri ulang data,” kata Direktur akhirnya. “Ternyata ada… ketidaksesuaian prosedur.”
Viera mengangguk. “Sebesar apa?”
Dokter itu menelan ludah. “Sel sp3rma yang digunakan… bukan milik suami Anda.”
“Maksudnya, ada kesalahan teknis?” tanya Viera.
“Ya, sp3rma tertukar. Maafkan kami, Nyonya.” Jawab mereka lirih.
“Lalu, anak ini milik siapa?” tanya Viera akhirnya.
“Milik Tuan Lucca.”
Nama itu diucapkan pelan, nyaris berbisik seolah menyebutnya terlalu keras bisa berubah menjadi pengakuan dosa.
“Dia datang bersama istrinya, mereka juga tengah menjalani program IVF. Namun pihak istri kurang kooperatif dan jarang hadir sesuai jadwal.”
Sang Direktur menarik napas pendek sebelum melanjutkan, nada suaranya menurun. “Kami menyesal… kesalahan ini seharusnya tidak pernah terjadi.”
Viera menutup mata sejenak, dia tidak tahu jika anak itu adalah simpul takdir yang tidak bisa dibatalkan.
Saat Viera berdiri, semua orang ikut berdiri.
“Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, Nyonya?” tanya direktur dengan suara gemetar.
Viera menatap mereka satu per satu.
“Saya akan tetap melahirkan anak ini,” katanya tenang, dia melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Di lorong rumah sakit yang sunyi, Viera berhenti sejenak. Telapak tangannya bertumpu di perut yang masih datar, seolah menenangkan kehidupan kecil di dalamnya.
“Sekarang… tak penting siapa ayahmu,” bisiknya lirih. “Mama akan tetap melahirkanmu, Nak.”
Viera tak sadar, dari kejauhan sepasang mata seorang pria mengamatinya tanpa suara. Tatapan itu milik ayah biologis dari anak yang ia kandung—Lucca. Tatapannya begitu dalam, dan penuh sesuatu yang tak terucap.
Beberapa saat kemudian, langkah tergesa memecah keheningan. Seorang wanita menghampiri Lucca, napasnya sedikit terengah.
“Maaf aku terlambat, sayang. Ayo masuk, kali ini aku akan menjalani program ini dengan sungguh-sungguh. Aku yakin… kita akan segera punya anak.”
Calista tersenyum—senyum yang dipaksakan. Beberapa jam lalu, ia baru saja terlibat pertengkaran sengit dengan Damian. Pria itu memutuskan hubungan gelap mereka, dengan alasan ingin mempertahankan pernikahannya dengan Viera, dan demi... anak.
Kini, satu-satunya yang bisa Calista lakukan hanyalah kembali memainkan peran sebagai istri setia bagi Lucca.
Namun senyum di bibir Lucca justru mengeras, begitu tampak Dingin.
“Kita tak perlu lagi menjalani program ini,” katanya datar namun tajam. “Mulai sekarang, kau telah bebas dari kewajiban melahirkan anakku!”
Mata Calista membesar, pikirannya kosong. Sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya, Lucca sudah berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun padanya.
Keputusannya mutlak.
Dan sikap dinginnya pada Calista, bukan tanpa alasan. Sejak awal, Lucca telah mengetahui pengkhianatan istrinya. Tentang Damian, dan tentang kebohongan yang disimpan rapi di balik senyum seorang istri.
Tak ada amarah yang Lucca tunjukkan, tak ada ledakan. Hanya kesabaran yang disusun perlahan, setenang permukaan laut sebelum badai.
Bahkan, pertukaran sp3rma milik Damian bukanlah sebuah kesalahan. Tapi, itu terencana... sebuah pembalasan yang dingin.