NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah yang Mengikuti

Malam itu, kafe tampak lebih padat dari biasanya.

Cahaya hangat dari lampu-lampu gantung menyinari meja-meja yang hampir penuh. Suara mesin kopi, tawa pengunjung, dan denting sendok bercampur dalam satu melodi. Jam yang ada di dinding hampir menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi antrean tetap tidak berkurang.

Aurellia berdiri di belakang bar dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan napas yang mulai tersengal. Seharusnya ia sudah menyelesaikan tugasnya satu jam yang lalu, tetapi situasi tidak memungkinkan untuk pulang segera.

“Rel, lo bisa pulang duluan kalo merasa capek,” Dimas menawarkan sambil menuangkan espresso. “Sisanya biar gue yang urus. ”

Aurellia menggeleng pelan. “Nggak masalah. Tinggal dikit lagi. ”

Namun, saat pelanggan terakhir pergi dan kursi mulai disusun, rasa lelah itu menyerangnya dengan tiba-tiba. Tubuhnya terasa pegal, dan yang paling mencolok—malam sudah sangat larut.

Dimas melirik jam tangannya. “Udah hampir setengah dua belas. ”

Aurellia hanya terdiam.

“Rel,” Dimas melanjutkan, kali ini dengan nada lebih serius, “biar gue anterin lo pulang. ”

Aurellia langsung mengangkat wajahnya. “Nggak usah. ”

Dimas menyipitkan mata. “Kenapa nggak perlu? Udah larut malam. ”

“Gue bisa pulang sendiri,” jawab Aurellia cepat, mungkin terlalu cepat. “Rumah gue juga nggak jauh. ”

Dimas bersandar pada meja kasir. “Bukan cuma tentang jarak. Ini udah larut malam. ”

Aurellia menghela napas. Dia memahami niat baik Dimas. Namun, setelah kejadian kemarin—ketika ia tidak menyadari kehadiran Alvaro yang membuat suasana menjadi canggung—ia jadi lebih berhati-hati.

“Gue nggak mau ada kesalahpahaman lagi,” katanya dengan pelan.

Dimas terdiam sejenak, lalu tertawa kecil tanpa ada niat mengejek. “Rel. Gue bukan orang yang mau bikin hidup lo rumit. ”

“Gue tahu,” jawab Aurellia cepat. “gue aku juga nggak mau membuat situasi jadi aneh lagi. Kemarin cukup bikin gue kepikiran. ”

Dimas menatapnya beberapa detik. Ekspresinya melunak.

“Alvaro nggak akan mikir macam-macam hanya karena gue anterin lo,” katanya tenang. “Dia tahu siapa gue. ”

“Tetep aja,” gumam Aurellia. “Gue nggak mau ada celah sekecil apapun buat disalahartikan. ”

Hening sejenak.

Akhirnya, Dimas mengangkat tangan sebagai tanda menyerah. “Ya udah. Tapi kabari aku kalo udah sampai. ”

Aurellia memberikan senyum kecil. “Pasti. ”

Sebelum benar-benar pergi, Dimas menyempatkan diri berkata, “Kalo nggak aman di jalan, langsung telepon gue. Jangan sok kuat. ”

Aurellia mengangguk, meskipun ia merasa semuanya akan baik-baik saja.

Ia sudah sering pulang sendiri.

Ia sudah tahu jalannya.

Dan rumahnya tidak terlalu jauh.

Suasana malam di luar terasa berbeda dengan kehangatan kafe. Udara lebih dingin. Jalanan lebih sepi. Banyak lampu toko yang sudah dimatikan.

Aurellia melangkah di trotoar, tas tersandang di bahunya. Langkahnya mantap, tetapi pikirannya masih terjebak dengan sisa-sisa percakapan tadi.

Mungkin aku terlalu khawatir, pikirnya.

Ia membuka ponsel sejenak untuk memastikan baterainya masih cukup. Ada pesan notifikasi dari Alvaro—sebuah pesan singkat.

> Udah pulang?

Aurellia tersenyum tipis.

> Baru jalan. Mau sampai sebentar lagi.

Ia menekan tombol kirim, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas.

Beberapa langkah setelah itu, ia merasakan sesuatu.

Awalnya samar. Hanya perasaan.

Seperti ada irama lain yang mengikuti langkahnya.

Tak.

Tak.

Tak.

Aurellia memberhentikan langkahnya sejenak.

Suara itu pun ikut berhenti.

Ia menoleh pelan ke belakang.

Kosong.

Hanya ada jalan dengan lampu kuning temaram dan bayangan pohon yang memanjang di aspal.

“Mungkin cuma perasaanku,” gumamnya.

Ia melanjutkan langkahnya.

Tak.

Tak.

Tak.

Kali ini, suara itu semakin jelas.

Langkah lainnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Namun, ada.

Detak jantungnya mulai meningkat.

Aurellia sedikit mempercepat langkahnya.

Suara itu semakin mendorongnya untuk bergerak lebih cepat.

Ia berusaha untuk tetap tenang. Jangan panik. Jangan menunjukkan kepanikan.

Ia menoleh lagi, kali ini dengan lebih cepat.

Di ujung trotoar, tampak samar beberapa sosok bergerak. Sulit untuk memastikan berapa banyak orang yang ada. Cahaya lampu terlalu redup untuk mengenali wajah.

Mungkin hanya orang yang lewat.

Mungkin hanya kebetulan yang searah.

Namun, perasaan di dalam dadanya mengindikasikan sebaliknya.

Tangannya secara refleks meraih ponsel dari dalam tasnya. Ia membuka layar, berpura-pura membaca pesan.

Langkah itu masih mengikutinya.

Sekarang semakin dekat.

Suara tawa pelan terdengar, tidak jelas datang dari mana.

Aurellia menelan ludahnya.

Ia berbelok ke jalan kecil yang lebih cepat menuju rumah. Biasanya ia jarang melewati jalan itu karena cukup sepi, tetapi jaraknya lebih singkat.

Setelah berbelok, langkah-langkah itu juga berubah arah.

Sekarang tidak ada keraguan lagi.

Ia pasti sedang diikuti.

Napasnya semakin tidak teratur. Jarak ke rumahnya hanya tinggal beberapa ratus meter.

Hanya sedikit lagi. Hanya sedikit lagi.

Ia mempercepat langkah, hampir berlari.

Langkah di belakangnya pun ikut meningkatkan kecepatan.

Suara mereka sekarang terdengar jelas. Lebih dari satu orang.

“Eh…”

Suara itu terdengar samar, seolah-olah memanggil. Atau mungkin hanya bergema di pikirannya sendiri.

Aurellia tidak berani menoleh lagi. Ia tetap fokus ke depan. Menuju gerbang rumahnya yang mulai tampak di ujung jalan.

Detak jantungnya seolah ingin melompat keluar.

Lampu rumah tetangga sebagian besar sudah padam. Hanya satu rumah yang masih menyala redup.

Langkah-langkah itu kini sangat dekat.

Terlalu dekat.

Aurellia hampir sampai di depan gang rumahnya ketika sebuah bayangan tiba-tiba muncul dari sisi jalan.

Ia terkejut dan mundur selangkah.

Ada suara lain dari belakangnya.

sekarang ia dikelilingi oleh bayangan-bayangan.

Napasnya terhenti.

“Maaf…,” bisiknya tanpa sadar, nggak tau buat siapa.

Angin malam tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.

Lampu jalan di atasnya berkedip perlahan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, jalan yang ia kenal dengan baik terasa seperti tempat asing yang tidak lagi aman.

Di kejauhan, ponsel di tangannya bergetar—panggilan masuk.

Nama yang tertera di layar: Alvaro.

Namun, sebelum ia sempat mengangkatnya, bayangan-bayangan itu bergerak mendekat.

Malam menyelimuti suara.

Dan langkah yang mengikutinya… akhirnya berhenti tepat di sekelilingnya.

Di waktu yang hampir bersamaan dengan panggilan dari Alvaro yang tidak terjawab, ponsel Aurellia bergetar kembali. Kali ini, pesan dari Nara yang datang pertama.

> Kak, kenapa belum sampe? Tadi aku liat kafe rame banget. Apa kamu pulang sendiri?

Aurellia memandangi layar dengan tangan yang bergetar. Jarak menuju rumah sudah dekat. Gang kecil yang mengarah ke rumah mereka mulai tampak jelas. Bayangan-bayangan disekitarnya mulai menjauh, seakan kehilangan ketertarikan saat suara motor mendekat dari ujung gang.

Lampu dari motor itu menerangi jalan yang gelap.

“Kak! ” Nara bersuara panik.

Aurellia berpaling. Motor milik Nara berhenti agak miring, hampir terjatuh karena adiknya itu turun dengan cepat. Helmnya masih setengah dipakai ketika Nara berlari menghampirinya.

“Kak, kenapa kakak belm sampe? Aku merasa nggak enak,” ujarnya cepat.

Bayangan-bayangan sebelumnya benar-benar menghilang. Jalan kembali kosong seolah tidak ada yang terjadi.

Nara baru menyadari ekspresi kakaknya.

“Kak…? ” suaranya melemah.

Wajah Aurellia tampak pucat. Bibirnya bergetar. Tangan kanannya masih menggenggam erat ponsel seolah itu adalah pegangan terakhir yang dimilikinya.

“Kak, ada apa? ” Nara memegang bahu kakaknya. “Kakak sakit? ”

Aurellia menggeleng dengan lambat, tetapi matanya terus bergerak, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka.

“Ada yang… ngikutin kakak,” katanya dengan suara rendah.

Nara langsung menengok ke belakang, jantungnya berdebar. “Siapa? ”

“Kakak nggak tau,” jawab Aurellia cepat. “Tadi mereka ada di belakangku. Lebih dari satu orang. ”

Nada suaranya bukan nada yang berlebihan. Itu adalah suara seseorang yang benar-benar ketakutan.

Tanpa banyak berpikir, Nara menggenggam tangan kakaknya. “Ayo, kita pulang sekarang. ”

Mereka berjalan cepat menuju rumah, mendorong motor pelan agar tidak berisik. Setelah pintu rumah tertutup dan kunci diputar dua kali, suasana menjadi berbeda. Aman. Namun ketegangan masih terlihat di wajah Aurellia.

Nara melepas helm dan menatap kakaknya dengan serius. “Sekarang cerita. ”

Aurellia duduk di sofa, tangannya masih dingin. Ia mencoba menenangkan napas sebelum akhirnya berbicara.

“Tadi waktu kakak jalan… awalnya kakak merasa aneh. Kayak ada langkah lain di belakang,” ucapnya perlahan. “Tiap kali kakak berhenti, mereka juga berhenti. Waktu kakak belok ke gang kecil, mereka ikut belok. ”

Nara menelan ludah.

“Kakak nggak berani ngeliat terlalu lama,” lanjut Aurellia. “Tapi kakak yakin mereka lebih dari satu. Kakak sangat takut, Ra. ”

Suara ketakutan itu akhirnya keluar saat ia mengucapkan kata terakhir.

Nara segera duduk di sampingnya dan memeluknya erat. “Kak, kenapa kamu nggak telepon aku dari tadi? ”

“Kakak pikir ini cuma perasaan kakak aja,” jawab Aurellia pelan. “Kakak nggak mau buat kamu khawatir. ”

Nara menggeleng perlahan. “Aku lebih khawatir ngeliat kakak kayak gini. ”

Malam itu, untuk pertama kali, rumah kecil mereka terasa seperti satu-satunya tempat yang benar-benar aman. Tetapi di dalam hati Aurellia, ada perasaan yang belum sirna—keyakinan bahwa langkah-langkah itu bukan sekadar kebetulan.

Dan mungkin… cerita ini belum sepenuhnya berakhir.

1
deepey
semangat kk, saling support ya ka. 💪😄
deepey
bukan tampak lagi tp beneran bahagia 😍
Lanaiq: baper yaa kak 🤭
total 1 replies
deepey
good Nara, jelasin ke kk kamunya lg di fase penyangkalan
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!