Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Secercah harapan
Hari-hari terus berjalan... Darrel pun tidak ingin terus-menerus larut dalam kesedihan pasca perceraian. Hidup harus berlanjut, saatnya bangkit dari keterpurukan. Hanya penyesalan saja tidak akan memperbaiki keadaan tanpa adanya aksi nyata. Dia harus memikirkan masa depan kedua anaknya, Zayn dan Zoey.
Sore itu, Darren mengajak anak-anaknya jalan-jalan. Sebagai seorang ayah yang baik, dia ingin menyenangkan anak-anaknya meskipun hanya dengan berkendara berkeliling di sekitar tempat tinggalnya sambil menikmati suasana sore yang cerah.
"Apa Zoey senang, hmmm?" tanya Darrel pada anak perempuannya yang duduk di kursi kecil yang dipasang di depan jok motor.
"Zoey, senang, Papa," jawab Zoey dengan riang. "Nanti kita ke taman, ya? Zoey pengin naik ayunan," pintanya pada sang ayah.
"Zayn, bagaimana?" tanya Darrel pada Zayn yang duduk di belakang dan mengikat pinggangnya dengan selendang agar anak itu tidak terjatuh.
"Zayn ikut aja, Papa," jawab Zayn seraya mengeratkan pelukannya di pinggang Darrel.
Selanjutnya Darrel menghentikan motornya saat tiba di sebuah taman yang ramai. Dia lantas menurunkan keduanya. Zayn dan Zoey langsung berlari sambil tertawa riang menuju ayunan dan perosotan. Mereka tampak senang bisa bermain dan bercanda bersama anak-anak yang lain.
Setelah memarkirkan motornya, Darrel duduk di bangku taman sambil mengawasi mereka. Senyum terbit dari bibir tipisnya kala melihat Zayn dan Zoey begitu gembira.
Tiba-tiba, perhatian Darrel tertuju pada seorang pria paruh baya yang berjualan kopi tak jauh darinya. Pria itu tampak ramah dan cekatan melayani pelanggan dengan senyum serta sapaan hangat.
Darrel memperhatikan bagaimana orang-orang menikmati kopi buatannya. Mereka tampak senang dan puas. Bisa dia lihat bagaimana pria itu menghasilkan uang dengan cara yang sederhana tetapi sangat menyenangkan.
Sebuah ide muncul di benaknya. "Sepertinya aku bisa melakukan hal yang sama, berjualan kopi keliling sambil membawa anak-anak. Dengan begitu aku bisa tetap mengawasi mereka," pikirnya penuh keyakinan.
Darrel tersenyum. Ide ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang yang mengenal masa lalunya sebagai seorang pewaris perusahaan besar. Namun, Darrel tidak peduli. Dia tidak lagi terikat oleh status dan gengsi. Yang penting baginya adalah kebahagiaan anak-anaknya dan kemampuannya untuk menghidupi mereka.
Dia lantas mendekati pedagang kopi tersebut lalu memesan satu gelas kopi. Sambil menunggu pesanannya, Darrel pun iseng bertanya. "Bapak sudah lama berjualan kopi keliling?"
Bapak itu menatap Darrel sesaat kemudian tersenyum "Lumayan lama, Mas. Sudah hampir sepuluh tahun saya keliling jualan kopi kayak gini," jawabnya ramah.
"Wah, lama juga ya, Pak," sahut Darrel kagum.
"Memangnya masnya tertarik berjualan kopi kayak gini?" Si bapak balik bertanya.
"Sepertinya begitu, Pak," jawab Darrel.
"Kenapa tidak bekerja di kantor saja, Mas? Hasilnya jelas. Kalau dagang kayak gini hasilnya nggak tentu. Kadang banyak, kadang... ya gitu," sahut si bapak dengan nada prihatin.
"Iya, sih. Tapi kalau usaha sendiri kita tidak terikat oleh siapapun, Pak," kata Darrel.
"Emmm... Apa saja kira-kira yang dibutuhkan untuk memulai usaha kopi keliling seperti ini, Pak? Modalnya berapa, apa saja alat-alat dibutuhkan?" tanyanya selanjutnya.
Si bapak penjual kopi tampak berpikir sejenak. "Kalau modalnya sih, tergantung masnya mau mulai dari mana. Kalau mau yang sederhana, paling sekitar lima ratus ribu sudah cukup. Nanti buat beli kopi bubuk atau instan, minuman instan juga dan sedikit cemilan untuk teman ngopi," jelasnya.
"Kalau alat-alatnya ya, cukup beli termos untuk air panas dan buat es batu, gelas plastik, sendok. Motor juga penting, Mas. Buat keliling soalnya," lanjutnya sambil tertawa kecil.
"Motor saya punya, Pak," jawab Darrel sambil tersenyum. "Terima kasih banyak atas infonya ya, Pak."
"Sama-sama, Mas. Semoga sukses ya, kalau jadi jualan kopi keliling," ucap si bapak sambil menyerahkan kopi pesanan Darrel.
Darrel menerima kopi tersebut dan membayarnya. Dia menghirup aroma kopi yang harum dan tersenyum. Dia mulai membayangkan dirinya berkeliling dengan motor bersama kedua anaknya. Menyapa pelanggan dengan ramah, dan menyajikan kopi hangat atau dingin yang nikmat. Darrel membayangkan dirinya menghasilkan uang dengan cara yang halal dan membanggakan.
Darrel merasa semakin yakin dengan keputusannya. Dia akan merealisasikan ide ini untuk memulai bisnis kopi kelilingnya secepat mungkin. "Aku akan membuktikan kepada diriku sendiri dan kepada dunia bahwa aku bisa sukses dengan usahaku sendiri tanpa nama besar keluargaku."
"Papa..." teriak Zoey sambil berlari menghampiri Darrel, membuat pria dua anak itu tersentak dari lamunannya.
"Zoey, pengin beli cilok. Boleh ya, Papa," rengeknya manja sembari mengerjapkan matanya lucu.
Tak lama kemudian Zayn datang dengan permintaan berbeda. "Zayn mau es krim, Pa. Boleh, kan?"
Darrel tersenyum dan mengangguk. "Iya, boleh."
"Yeeea... Makasih, Papa!" Zayn dan Zoey berseru gembira lalu mencium kedua pipi Darrel.
"Ayo...!" ajaknya, lalu berdiri sambil menggandeng keduanya menghampiri penjual cilok yang mangkal di taman itu.
Setelah puas bermain dan membeli jajanan, Darrel lantas mengajak Zayn dan Zoey pulang. "Sudah sore sebaiknya kita pulang," ucapnya seraya mengajak kedua anaknya menuju di mana sepeda motornya terparkir.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, pikiran Darrel sibuk memikirkan bagaimana caranya berjualan dengan membawa anak-anaknya. "Kalau hanya dengan motor begini sepertinya kasihan anak-anak. Mereka akan kepanasan pastinya. Apa aku menitipkan mereka sama tetangga saja?" Benak Darrel berkecamuk.
"Ah, nggak-nggak!" Darrel menggelengkan kepalanya cepat. "Aku nggak tega ninggalin mereka terlalu lama."
Ketika akan memasuki gang area tempat tinggalnya, dia berpapasan dengan seseorang yang mengendarai sepeda motor roda tiga. Darrel tersenyum. "Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan."
.
.
.
Nancy berdiri di balkon apartemennya di Paris, menatap lampu-lampu kota yang gemerlap. Udara malam terasa dingin, tetapi hatinya terasa hangat. Ia telah sedikit mencapai ambisinya: menjadi model internasional.
Beberapa bulan lalu, ia hanyalah seorang model lokal. Kini, berkat tawaran Visage d'Or dan dukungan Madame Dubois- pemilik agensi, Nancy menjadi bintang yang mulai bersinar di Paris.
Hari ini, ia baru saja menyelesaikan pemotretan iklan parfum mewah. Ia merasa puas, memberikan yang terbaik dan membuat semua orang terkesan.
Setelah pemotretan, Lily, managernya, menghampirinya. "Kerja bagus, Nancy! Madame Dubois sangat senang denganmu. Tawaran pekerjaan akan terus berdatangan."
Nancy tersenyum. "Terima kasih, Ly. Aku nggak akan bisa seperti ini tanpamu."
Lily adalah sosok penting dalam karier Nancy. Ia mengatur jadwal, menegosiasikan kontrak, dan memastikan Nancy selalu tampil prima. Lebih dari sekadar manajer, Lily adalah teman yang selalu memberikan dukungan dan motivasi.
"Jangan lupa, malam ini ada pesta dari desainer avant-garde, Jean-Luc," kata Lily sambil melihat tablet-nya. "Ini kesempatan bagus untuk memperluas jaringanmu."
Nancy mengangguk. Pesta dan acara fashion adalah bagian dari pekerjaannya. Ia harus hadir, bertemu orang-orang penting dan menjaga citranya.
"Aku akan bersiap-siap," kata Nancy.
Ia memilih gaun yang akan dikenakannya. Tampilannya harus sempurna, tetapi tetap mencerminkan dirinya. Dengan bantuan Lily, ia memilih gaun hitam elegan yang menonjolkan lekuk tubuhnya.
Saat taksi melaju menuju lokasi pesta, Nancy merasa bersemangat. Ia menikmati hidupnya di Paris, kariernya yang gemilang, ia fokus pada masa depan, melupakan masa lalu. Ambisinya membara, dan ia siap menaklukkan dunia fashion internasional meski harus mengorbankan keluarga kecilnya. Ada harga yang harus ia bayar.