Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. REAKSI NOVI
Matahari sudah mulai terbenam, menciptakan bayangan panjang di lantai ruang tamu yang sesak. Rian duduk di kursi kayu yang sudah lapuk, menatap ke arah dinding dengan wajah yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. Uang pesangon yang baru saja dia berikan kepada Novi tergeletak di atas meja makan, belum tersentuh sama sekali. Anak-anak sudah masuk kamar untuk istirahat setelah makan malam yang penuh dengan keheningan yang menyakitkan hati.
Novi berdiri di depan jendela, melihat anak-anak tetangga yang sedang bermain riang di jalan depan dengan ekspresi wajah yang semakin memerah akibat kemarahan yang membara di dalam dirinya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berbalik dan menghadap suaminya dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan.
“Bagaimana bisa kamu biarkan ini terjadi, Rian?” ujarnya dengan suara yang tinggi dan penuh dengan emosi yang meledak. “Kita sudah membicarakan tentang kemungkinan PHK ini berkali-kali, tapi kamu tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya! Kamu tidak pernah mencari pekerjaan cadangan atau bahkan mencoba untuk berbicara dengan atasanmu agar kamu tidak terkena dampak!”
Rian mengangkat kepalanya dengan lambat, melihat wajah istri yang biasanya lembut dan penuh kasih kini berubah menjadi keras dan penuh kemarahan. Dia tidak bisa berkata apa-apa, merasa bahwa tuduhan yang dilontarkan Novi memang memiliki benarnya – dia memang tidak melakukan banyak hal untuk mencegah hal ini terjadi, hanya berharap bahwa dia akan menjadi salah satu yang tersisa.
“Kamu selalu bilang kamu akan bekerja keras untuk keluarga kita,” lanjut Novi dengan suara yang semakin meninggi, tangannya mulai menggenggam kepalanya akibat frustrasi yang luar biasa. “Tapi sekarang ini bagaimana? Kamu kehilangan pekerjaan yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan utama kita! Bagaimana kita akan membayar sewa rumah? Bagaimana kita akan membayar biaya sekolah anak-anak? Dan bagaimana kita akan membeli makanan untuk makan sehari-hari?”
“Sayang, aku sudah melakukan yang terbaik,” ujar Rian dengan suara yang lemah dan penuh dengan rasa bersalah. “Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena keputusan itu dibuat oleh atasan perusahaan. Aku juga tidak punya cara untuk membujuk mereka agar tidak memberhentikanku.”
“Yang terbaik?” balik Novi dengan nada yang penuh dengan ejekan. “Yang terbaik adalah kamu selalu pulang kerja terlambat dan hanya bisa duduk diam ketika kita membicarakan tentang masa depan keluarga! Kamu tidak pernah berpikir tentang apa yang akan terjadi jika kamu kehilangan pekerjaan! Kamu terlalu santai dan tidak bertanggung jawab terhadap tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga!”
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk langsung ke hati Rian. Dia merasa wajahnya menjadi panas akibat rasa malu dan sakit hati yang luar biasa. Dia mencoba untuk menjelaskan diri lagi, tapi suaranya hanya terdengar seperti bisikan yang lemah.
“Aku tidak pernah bermaksud untuk tidak bertanggung jawab, Sayang,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Aku selalu bekerja keras di pabrik, bahkan sering bekerja lembur tanpa tambahan uang agar perusahaan bisa melihat bahwa aku adalah pekerja yang berharga. Tapi ternyata itu tidak cukup.”
“Tidak cukup?” teriak Novi dengan semakin marah. “Kamu seharusnya berpikir lebih jauh dari itu! Kamu seharusnya mencari cara untuk meningkatkan keterampilanmu atau mencari hubungan yang bisa membantumu tetap bekerja! Tapi kamu tidak melakukan apa-apa selain bekerja seperti mesin yang tidak punya pikiran sendiri!”
Rian merasa tubuhnya menjadi kaku mendengar tuduhan itu. Dia tahu bahwa Novi sedang marah dan tidak berpikir dengan jernih akibat kejutan yang mereka alami, tapi kata-kata yang keluar dari bibir istri tetap saja menyakitkan hati dan membuatnya merasa sangat tidak berharga sebagai suami dan ayah.
“Kamu tahu tidak, aku sudah bekerja keras dengan pekerjaan sambilanku selama ini?” ujar Novi dengan suara yang mulai berubah menjadi menangis. “Aku keluar rumah setiap hari sebelum anak-anak bangun dan pulang larut hanya untuk mendapatkan uang tambahan agar kita bisa hidup lebih baik. Tapi kamu? Kamu hanya bisa berdiam diri dan menerima segala sesuatu yang diberikan padamu seperti orang yang tidak punya tekad apa-apa!”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa kamu tidak bekerja keras, Sayang,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Aku sangat menghargai semua yang kamu lakukan untuk keluarga kita. Aku hanya berusaha untuk tetap tenang dan mencari solusi untuk masalah yang kita hadapi sekarang.”
“Solusi?” tanya Novi dengan nada yang penuh dengan tidak percaya. “Apa solusi yang kamu punya sekarang? Menunggu sampai uang pesangon kita habis dan kemudian kita harus mengemis di jalanan? Atau mungkin kamu akan meminta bantuan kepada orang tuamu yang sudah tua dan juga memiliki kesusahan sendiri?”
Rian merasa darahnya mulai mendidih mendengar kata-kata itu. Dia tahu bahwa Novi sedang dalam keadaan emosional, tapi tuduhan yang menyalahkan dirinya tanpa dasar dan bahkan menyentuh keluarga besarnya membuatnya tidak bisa lagi menahan emosinya.
“Jangan pernah menyebutkan orang tuaku dalam pembicaraan ini, Novi!” ujarnya dengan suara yang semakin tinggi, berdiri dengan cepat dari kursinya. “Mereka sudah melakukan yang terbaik untuk membantuku ketika aku masih muda, dan aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada mereka hanya karena kita sedang mengalami kesulitan sekarang! Aku adalah pria dewasa dan aku akan menemukan cara untuk memenuhi tanggung jawabku terhadap keluarga kita sendiri!”
“Kamu? Menemukan cara?” balik Novi dengan nada yang penuh dengan ejekan. “Kamu bahkan tidak bisa menjaga pekerjaan yang sudah kamu miliki selama lima tahun! Bagaimana mungkin kamu bisa menemukan cara lain untuk menghasilkan uang?”
Perdebatan mereka semakin memanas dengan cepat. Kata-kata yang terlontar semakin tajam dan menyakitkan hati, masing-masing mencoba untuk menyalahkan satu sama lain atas masalah yang mereka hadapi sekarang. Rian merasa bahwa semua rasa sakit, kesusahan, dan kekhawatiran yang dia pikul selama ini tiba-tiba meledak keluar dalam bentuk kemarahan yang sulit dikontrol.
“Aku sudah bekerja keras selama ini untuk memberikan kehidupan yang layak bagi kamu dan anak-anak!” teriak Rian dengan suara yang penuh dengan kemarahan. “Aku tidak pernah mengeluh tentang pekerjaanku yang kotor dan melelahkan di pabrik! Aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu dan anak-anak kita! Tapi kamu hanya bisa menyalahkanku atas segala sesuatu yang salah dalam hidup kita!”
“Karena kamu adalah satu-satunya yang bisa disalahkan, Rian!” balik Novi dengan menangis deras. “Kamu adalah kepala keluarga, jadi segala sesuatu yang terjadi pada keluarga ini adalah tanggung jawabmu! Jika kita mengalami kesusahan seperti ini, itu karena kamu tidak bisa menjalankan tugasmu dengan baik!”
Suara tangisan dan teriakan mereka akhirnya membangunkan Hadian dan Alea yang sedang tidur di kamar. Anak-anak keluar dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dan kesedihan, melihat orang tuanya yang sedang berdebat dengan sangat keras. Alea langsung menangis dan berlari ke arah Rian, memeluk kakinya dengan erat.
“Jangan marah lagi ya Papa, Bu Mama,” ujar Alea dengan suara yang bergetar dan penuh dengan tangisan. “Aku takut…”
Hadian berdiri di belakang adik perempuannya dengan wajah yang pucat dan penuh dengan kesedihan. Dia tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap orang tuanya dengan mata yang penuh dengan keterkejutan dan kecewa. Melihat anak-anaknya seperti itu membuat kemarahan yang ada di dalam diri Rian dan Novi langsung sirna digantikan oleh rasa sakit hati dan kesedihan yang luar biasa.
Novi menangis lebih deras melihat wajah anak-anaknya yang ketakutan. Dia segera mendekat dan membungkus Alea dengan pelukan yang erat, menangis di pundak putrinya yang masih kecil itu. “Maafkan Mama ya Nak,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Mama dan Papa tidak sengaja membuat kamu takut.”
Rian juga segera mendekat dan membungkus Hadian dengan pelukan yang erat. Dia merasa sangat bersalah karena anak-anaknya harus menyaksikan perdebatan yang memanas antara orang tuanya. “Maafkan Papa ya Nak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Papa dan Mama sedang mengalami kesulitan, tapi kita akan menemukan cara untuk menyelesaikannya dengan baik ya. Kita tidak akan pernah meninggalkan kamu berdua.”
Setelah itu, mereka semua duduk bersama di lantai ruang tamu, saling memeluk dan menangis bersama-sama. Semua kemarahan dan tuduhan yang mereka lontarkan satu sama lain mulai sirna digantikan oleh rasa cinta dan kekhawatiran yang mereka miliki satu sama lain. Mereka menyadari bahwa mereka sedang menghadapi masalah besar yang tidak bisa mereka atasi dengan cara saling menyalahkan satu sama lain.
“Aku benar-benar menyesal dengan kata-kataku tadi, Sayang,” ujar Novi dengan suara yang lembut setelah tangisannya mulai reda. Dia melihat wajah suaminya yang penuh dengan kesedihan dan rasa sakit hati, merasa sangat bersalah karena telah menyakiti perasaan Rian dengan kata-kata yang kasar dan tidak berdasar. “Aku sedang sangat marah dan khawatir dengan masa depan kita, jadi aku berkata apa saja tanpa berpikir dulu. Kamu adalah suami yang baik dan ayah yang penuh kasih. Kamu selalu bekerja keras untuk keluarga kita, dan aku seharusnya tidak menyalahkanmu atas apa yang terjadi.”
Rian mengangguk perlahan dan mengambil tangan istri dengan lembut. “Aku juga menyesal dengan kata-kataku tadi, Sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa bersalah. “Aku seharusnya lebih sabar dan tidak membalas kemarahanmu dengan kemarahan juga. Kita sedang menghadapi masa-masa sulit dan kita harus saling mendukung satu sama lain, bukan saling menyalahkan.”
Mereka saling melihat mata satu sama lain, menyadari bahwa apa yang mereka butuhkan saat ini adalah cinta, pengertian, dan kerja sama untuk menghadapi semua kesulitan yang ada di depannya. Mereka tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah, tapi mereka juga merasa bahwa dengan cinta yang mereka miliki satu sama lain, mereka pasti akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada.
“Kita akan melalui ini bersama-sama, Sayang,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Aku akan segera mencari pekerjaan baru dan kita akan mengatur ulang pengeluaran keluarga agar bisa lebih hemat. Kita juga bisa membicarakan tentang kemungkinan untuk memulai usaha kecil sendiri jika tidak menemukan pekerjaan yang cocok.”
Novi mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. “Aku akan berbicara dengan Kakak Wati besok untuk melihat apakah ada kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak atau bahkan pekerjaan tetap,” ujarnya dengan suara yang sudah mulai tenang kembali. “Aku juga akan mencari informasi tentang pekerjaan lain yang bisa aku lakukan tanpa harus terlalu jauh dari rumah sehingga aku bisa lebih banyak menemani anak-anak.”
Hadian yang selama ini hanya diam akhirnya membuka mulut. “Papa, Bu Mama, aku akan membantu apa saja yang bisa aku lakukan ya,” ujarnya dengan suara yang jelas dan penuh dengan semangat. “Aku bisa mengurangi uang sakuku dan tidak akan meminta barang-barang yang tidak penting lagi. Aku juga bisa membantu membersihkan rumah dan mengantar Kakak Alea ke sekolah agar Bu Mama tidak perlu keluar rumah terlalu pagi.”
Rian merasa sangat bangga mendengar kata-kata putranya yang sudah semakin dewasa dan bertanggung jawab. Dia membungkus Hadian dengan pelukan yang erat dan berkata, “Terima kasih banyak Nak. Papa sangat bangga padamu. Dengan dukunganmu dan Kakak Alea, Papa yakin kita akan bisa melewati semua kesulitan ini dengan baik.”
Alea yang masih berada di pangkuan Novi juga mengangguk dengan semangat. “Aku juga akan membantu Bu Mama memasak dan mencuci piring ya,” ujarnya dengan suara yang lembut namun penuh dengan tekad. “Aku tidak akan menangis lagi kalau tidak bisa bermain dengan teman-teman di luar rumah.”
Melihat anak-anaknya yang begitu mengerti dan mendukung mereka, Rian dan Novi merasa bahwa ada sedikit harapan yang muncul di dalam hati mereka. Mereka tahu bahwa mereka tidak akan sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit ini, dan bahwa cinta dan dukungan dari keluarga kecil mereka adalah kekuatan terbesar yang bisa mereka andalkan.
Di malam hari itu, setelah anak-anak tertidur pulas kembali, Rian dan Novi duduk bersama di teras depan rumah melihat langit yang penuh dengan bintang-bintang. Mereka tidak banyak berbicara, hanya saling memegang tangan dan merenungkan segala sesuatu yang telah terjadi hari itu. Mereka menyadari bahwa mereka telah belajar pelajaran yang sangat berharga tentang pentingnya komunikasi yang baik, saling pengertian, dan tidak pernah menyalahkan satu sama lain ketika menghadapi kesulitan dalam hidup.
Rian bertekad untuk segera mencari pekerjaan baru dan melakukan segala yang bisa dia lakukan untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Dia juga bertekad untuk selalu berkomunikasi dengan baik dengan Novi tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka sehingga tidak akan pernah terjadi lagi perdebatan yang memanas seperti hari ini.
Novi juga bertekad untuk lebih sabar dan pengertian terhadap suaminya, serta untuk selalu mencari solusi bersama-sama ketika menghadapi masalah daripada langsung menyalahkan Rian. Dia menyadari bahwa mereka adalah pasangan suami istri yang harus saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam setiap situasi, baik dalam keadaan senang maupun susah.
Meskipun masa depan masih sangat tidak jelas dan penuh dengan ketidakpastian, tapi mereka merasa bahwa mereka memiliki alasan yang kuat untuk terus bertahan hidup dan bekerja keras – yaitu keluarga kecil mereka yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Mereka berdoa bersama dengan tulus, meminta agar Tuhan memberikan kekuatan dan kebijaksanaan bagi mereka untuk bisa melalui masa-masa sulit ini dengan selamat dan menemukan jalan keluar yang terbaik bagi keluarga mereka.