Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
GODAAN YANG PENUH CINTA
Hari Senin pagi, koridor Fakultas Sejarah Universitas Hasanuddin kembali ramai dengan mahasiswa yang sedang berjalan menuju kelas. Tenggara datang dengan langkah santai, membawa buku-buku kuliahnya dan masih tersenyum sendiri mengingat momen kemarin ketika dia memasangkan kalung pada Khatulistiwa.
"Tenggara! Tenggara!" panggil Andi dengan suara keras sambil berlari menghampirinya bersama Rio dan Siti. "Kita sudah menunggu kamu dari tadi nih!"
Tenggara melihat ekspresi wajah teman-temannya yang penuh dengan candaan dan langsung merasa sedikit gugup. "Kenapa wajah kalian kayak gitu?"
Siti langsung mengangkat alisnya dengan nada menyelinap. "Kita sudah tahu dong, Mas Tenggara! Ada seseorang yang mengambil hati kamu kan?"
"Siapa bilang?" jawab Tenggara dengan suara yang sedikit terengah-engah, mencoba bersikap cuek namun wajahnya sudah mulai memerah.
Rio kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. "Foto ini sudah beredar di grup kuliah kita lho, Mas! Lihat saja sendiri!"
Tenggara melihat foto tersebut dan merasa wajahnya semakin panas – itu adalah foto saat dia sedang memasangkan kalung pada Khatulistiwa kemarin sore, diambil oleh salah satu teman sekampus yang tidak dia sadari ada di sana.
"Wah, kapan foto ini diambil ya?" tanya dia dengan sedikit panik.
"Jangan khawatir Mas, foto ini tidak disebarkan ke luar kok," ucap Andi dengan tawa ringan. "Kita cuma mau tahu aja, kapan kamu akan memperkenalkan kita pada calon ibu rumah tangga kita?"
Tenggara langsung menepuk bahu Andi dengan nada tidak senang namun penuh tawa. "Jangan salah ngomong dong! Kita masih teman saja, belum sampai sejauh itu."
"Padahal dari ekspresi wajah kamu kemarin jelas sekali lho, Mas," tambah Siti dengan senyum licik. "Kita semua melihat bagaimana kamu memperhatikannya dengan sangat baik, bahkan menyediakan tempat duduk khusus dan membantu dia ke mana-mana."
"Ya sudah, sudah jelas kan sekarang?" ucap Rio dengan nada penuh keyakinan. "Kamu sudah jatuh cinta padanya, Mas Tenggara. Tidak perlu menyembunyikannya lagi dari kita."
Tenggara terdiam sejenak, kemudian menghela nafas dan tersenyum lembut. "Ya benar. Aku memang sangat menyukainya. Dia adalah orang yang baik hati, pekerja keras, dan memiliki hati yang besar untuk bisa memaafkan orang lain."
"Itu dong, akhirnya jujur juga!" teriak Andi dengan senyum lebar. "Kita sudah tahu dari awal kok, Mas. Cuma kamu yang mau menyembunyikannya."
"Sekarang pertanyaannya adalah, kapan kamu akan mengungkapkan perasaanmu padanya?" tanya Siti dengan penuh rasa ingin tahu.
Tenggara menggeleng perlahan dengan ekspresi yang sedikit khawatir. "Belum tahu juga teman-teman. Dia masih sekolah SMA dan aku tidak ingin membuatnya merasa tertekan. Aku ingin menunggu sampai dia siap dan sudah bisa memahami perasaan ini dengan benar."
"Pikiran kamu itu sangat matang, Mas," ucap Rio dengan suara yang lebih serius. "Yang penting kamu selalu ada di sisinya sebagai teman yang baik dan tidak pernah menyakitinya."
"Andaikan saja kamu seperti itu juga ketika kamu menyukai seseorang, Rio," canda Siti sambil menepuk bahu Rio. "Kalau kamu, sudah langsung mengungkapkan perasaan padahal baru beberapa kali bertemu."
Semua orang langsung tertawa mendengar kata-kata Siti. Rio sedikit memerah dan mencoba membela diri. "Itu beda kasus dong, Siti! Aku sudah tahu dia sejak lama kok."
Setelah candaan mereda, Andi memberikan nasihat yang baik kepada Tenggara. "Yang penting kamu jujur dengan dirimu sendiri dan dengan dia juga, Jangan pernah menyembunyikan perasaanmu terlalu lama karena bisa jadi kamu akan kehilangan kesempatan yang baik."
"Tentu saja aku akan ingat nasihatmu, " jawab Tenggara dengan senyum hangat. "Terima kasih sudah mendukungku dan tidak mengejekku dengan hal ini."
"Kita kan teman baik kan?" ucap Siti dengan senyum ramah. "Kita selalu akan mendukungmu dalam setiap keputusan yang kamu ambil, asalkan itu adalah keputusan yang benar dan membuat kamu bahagia."
Saat itu, dosen mereka yang sedang lewat melihat mereka berbondong-bondong dan mengingatkan agar segera masuk kelas. "Jangan terlalu lama berbicara di koridor ya mahasiswa," ucap Dosen Bapak Herman dengan senyum ramah. "Kuliah akan segera dimulai."
Mereka segera bergegas mengambil buku-bukunya dan memasuki kelas. Sebelum masuk, Tenggara menoleh ke arah teman-temannya dengan rasa syukur yang mendalam
Setelah memasuki kelas dan duduk di tempatnya, Tenggara mengambil ponselnya dan melihat foto bersama Khatulistiwa yang diambil kemarin. Dia mengirim pesan singkat padanya: "Halo Khatulistiwa, bagaimana kabarmu hari ini? Semoga hari mu menyenangkan ya. Jangan lupa untuk istirahat yang cukup ya."
Dalam waktu singkat, balasan datang: "Halo Tenggara, aku baik-baik saja kok. Aku baru saja cerita tentang kalung yang kamu berikan kepada teman-temanku di sekolah. Mereka semua sangat suka dan kagum. Terima kasih banyak ya."
Tenggara tersenyum membaca pesannya dan menyimpan ponselnya kembali. Meskipun teman-temannya sering menggoda dia tentang perasaannya terhadap Khatulistiwa, dia merasa sangat bersyukur memiliki teman-teman yang selalu ada untuknya dan memberikan dukungan yang dibutuhkan. Dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuhnya tidak akan mudah, namun dengan dukungan dari teman-teman dan rasa cinta yang tulus terhadap Khatulistiwa, dia merasa siap untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.