Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbiasa
Tiga bulan setelah pernikahan, rumah itu menemukan ritmenya sendiri.
Pintu depan terbuka tepat pukul enam sore kurang sedikit. Ravindra masuk dengan langkah khas orang yang seharian memimpin rapat—bahu tetap tegak, napas sedikit berat. Tafana yang sedang duduk lesehan di ruang tengah langsung bangkit.
“Kamu telat enam menit,” katanya sambil tersenyum, lalu menyalim tangan Ravindra seperti ritual yang entah sejak kapan jadi kebiasaan.
“Macet berkonspirasi,” jawab Ravindra datar sambil mendudukkan dirinya di sofa dengan nyaman.
Tafana sudah mengambil tas kerjanya sebelum Ravindra sempat menolak. Lalu menaruhnya di ruang kerja.
Ravindra menghela napas, lalu mengangkat kantong kertas dari tangannya. “Makan malam.”
Tafana mendekat, mengintip isinya. “Lagi-lagi beli? Kamu nggak bosen?”
“Aku bosen kamu hampir membakar dapur.” Ravindra menatap kompor dengan curiga, seolah benda itu punya rekam jejak kriminal.
“Mandi dulu sana! Kamu bau prengus," tegur Tafana.
Ravindra memutar bola matanya. "Kan aku bukan kambing."
Kemudian ia menghela napas dan menurut. Masuk ke kamar mandi.
Mereka duduk berhadapan di meja makan. Tafana menyuap nasi duluan, lalu bertanya, “Hari ini gimana?”
“Presentasi panjang. Investor ribet. Aku pengin tukar satu direktur dengan mesin kopi.”
Tafana terkekeh. “Sepertinya lebih berfaedah. Aku hari ini ikut kelas rock climbing.”
“Sebentar, kelas apa?” Ravindra hampir tersedak.
“Panjat tebing. Keren kan?” Mata Tafana berbinar saat menceritakannya.
Ravindra menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita di depannya memang selalu penuh kejutan. Setelah kemarin belajar ice skating, berkuda, memanah, anggar, muay thai, sekarang berubah lagi minatnya. "Kamu mau jadi atlet atau stunt man? Eh, stunt woman?"
Tafana mengangkat bahu. “Mau coba aja sih.”
Ravindra menatapnya sekilas, lalu tanpa peringatan menarik pipi Tafana pelan tapi tegas. “Kamu ini terlalu random.”
“Eh!” Tafana refleks memukul bahunya sekencang mungkin, meski tak mampu menyakiti pria tegap itu. “Sakit tahu!”
“Biarin,” kata Ravindra tenang. “Itu simbol.”
“Simbol kepala bapak kau,” balas Tafana, tapi tertawa.
Mereka makan sambil bertukar cerita remeh. Tentang karyawan Ravindra yang menaruh pulpen di kulkas. Tentang Tafana yang pernah lupa mematikan kompor hingga alarm berbunyi seperti sirene kiamat.
“Itu sebabnya,” Ravindra menyimpulkan, “aku nggak mendukung kamu memasak.”
“Aku bisa belajar!”
“Kamu juga bilang begitu soal menyetrika.”
“Dan aku sukses.”
“Kaosku berlubang.”
“Ventilasi,” Tafana membela diri.
Ravindra mendengus, lalu tersenyum kecil—yang tidak ia sadari sudah semakin sering muncul.
Tafana memerhatikan itu, lalu pura-pura sibuk dengan sendoknya.
Malam berlanjut dengan tawa receh. Mereka menertawakan lelucon bodoh yang tak akan lucu bagi orang lain. Tapi bagi mereka, cukup.
Di antara kebohongan besar bernama pernikahan kontrak, mereka membangun sesuatu yang jujur: kebersamaan yang tidak dipaksa. Partner in crime. Sahabat hidup.
Dan entah sejak kapan, itu terasa… normal
-oOo-
Malam itu kamar Ravindra masih terang. Lampu meja menyala, layar laptop memantulkan cahaya kebiruan ke wajahnya yang serius. Ia duduk tegak, lengan baju digulung, fokus seperti sedang berhadapan dengan musuh lama bernama tenggat waktu.
Pintu terbuka tanpa ketukan.
Tafana menyelip masuk begitu saja. Kebiasaan barunya yang tak pernah dibahas tapi diam-diam disepakati. Ravindra melirik sekilas, lalu kembali ke layar.
“Kamu lagi apa?” tanya Tafana, padahal langkahnya sudah mengarah ke meja kerja.
“Lanjutin kerjaan kantor,” jawab Ravindra singkat.
Tafana mendengus pelan. "Kerjaan kamu di bidang apa sih?"
Ia menarik bangku, duduk terlalu dekat, lalu mengintip layar. “Hah?” Dahinya berkerut. “Mainan?”
Ravindra berhenti mengetik. “Iya. Perusahaanku di bidang pembuatan mainan.”
Tafana menoleh perlahan, menatap wajahnya dari samping. “Kamu?” Ia menunjuk Ravindra dari ujung rambut sampai rahang tegasnya. “Mainan?”
“Kenapa?” pria itu mengernyit.
“Lebih cocok jadi penculik anak sih," seloroh wanita itu.
Ravindra menempelengnya sebagai balasan. Tafana meringis sambil tertawa.
Ravindra kembali menatap layar, tapi sudut bibirnya bergerak, menahan senyum.
Ia bersandar ke kursi, menatap mockup di layar: sepatu roda anak yang bisa dilipat jadi sepatu biasa. Desainnya fungsional, rapi—dan membosankan.
“Apa ya yang kurang…” gumamnya.
“Warnanya, kenapa hitam?” jawab Tafana ringan, tanpa menoleh.
Ravindra menatapnya. “Hah? Ya... supaya netral dan timeless.”
“Boring. Kamu mau ini disukai bocah, kan? Buat warnanya mencolok, anak-anak suka yang begitu.” Tafana menunjuk layar. "Biru-oranye atau abu-hijau neon untuk anak laki-laki. Pink-ungu atau peach-putih untuk anak perempuan. Hilangkan juga gambar kartun norak itu.”
Ravindra diam. Lalu berbalik ke layar, membuka layer warna, mencatat cepat. “Masuk akal.”
Tafana tersenyum puas. “Tambahin LED kalau bisa. Solnya nyala ketika dipakai, bisa tingkatkan nilai jual dengan sedikit penambahan."
Ravindra menghela napas, tapi kali ini dengan nada lega. “Sialnya kamu benar.”
Hujan turun tiba-tiba. Deras. Petir menyambar, cahayanya menyusup dari balik tirai. Ravindra menutup laptop, merapikan meja. Ia sudah memakai piyama sedari tadi, tanda harinya selesai.
Saat ia berbalik ke kasurnya, Tafana sudah lebih dulu naik dan merebahkan diri di sisi lain, memeluk bantal.
Ravindra berhenti. “Kamu kenapa nggak ke kamar kamu?”
“Takut,” jawab Tafana singkat.
Pria itu tertawa kecil. “Penakut.”
Tafana menoleh, wajahnya setengah tersembunyi bantal. “Aku tidur di sini aja deh. Boleh?”
Ravindra terdiam. Hujan mengguyur lebih kencang di luar. Suhu udara beranjak mendingin. Ia menatap Tafana yang menunggu, tampaknya tidak bercanda.
Petir menyambar, membuat Tafana tersentak dan refleks meraih lengan Ravindra. Sentuhannya ringan, tapi cukup untuk membuat Ravindra berhenti bernapas sesaat.
Ravindra membeku.
Ia bisa mencium aroma sampo Tafana. Ringan, bersih, terlalu dekat. Tubuh perempuan itu hangat, nyata, bukan ilusi kontrak yang selama ini ia yakini aman karena terbingkai perjanjian.
Ia menoleh.
Wajah Tafana pucat, matanya mencari—bukan perlindungan kekanak-kanakan, melainkan kepastian. Seolah ia ingin memastikan satu hal sebelum melangkah lebih jauh.
“Kalau kamu di sini,” kata Ravindra pelan, suaranya jauh dari nada bercanda, “ini bukan lagi sekadar tidur bareng.”
Tafana tahu itu. Ia menelan ludah, jantungnya berdentum keras. Ia bisa mundur. Masih bisa. Tinggal menarik tangan, kembali ke kamar, menutup pintu, dan berpura-pura tidak ada yang berubah.
Namun tubuhnya tidak bergerak.
“Aku tahu,” jawabnya jujur. “Dan aku nggak mau kamu menganggap ini… kewajiban.”
Kalimat itu menusuk Ravindra lebih dalam dari rayuan mana pun. Ia menghela napas panjang, lalu menggeser tubuhnya agar berhadapan langsung dengannya.
“Kamu yakin?” tanyanya sekali lagi. Kali ini bukan sebagai suami kontrak. Tapi sebagai laki-laki yang sadar betul apa yang akan ia ambil, dan apa yang mungkin akan ia rusak.
Tafana menatapnya lama. Ia tidak lagi gemetar karena petir, melainkan karena keputusan yang akhirnya ia akui pada dirinya sendiri.
“Aku terlanjur lama berada di sini,” katanya lirih. “Di hidupmu. Di rumahmu. Di rutinitasmu. Kalau aku mundur sekarang… itu justru akan terasa bohong.”
Ravindra memejamkan mata. Rasionalitasnya mencoba bertahan, menimbang risiko, menyusun argumen. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa lagi diperlakukan sebagai simulasi.
Ia mengangkat tangan, menyentuh wajah Tafana pelan, memberi waktu untuk menolak. Tafana tidak menjauh. Ia justru menutup mata, bersandar ke sentuhan itu.
Itu jawabannya.
Mereka bergerak perlahan, seolah masing-masing memberi ruang pada yang lain untuk berubah pikiran. Namun tidak ada yang berubah. Hanya jarak yang semakin menyempit, napas yang kian selaras.
Ravindra berhenti sesaat, dahi mereka bersentuhan. “Kalau ini kita lanjutkan,” katanya rendah, “nggak akan sesederhana sebelumnya.”
Tafana tersenyum tipis, penuh gugup dan keyakinan. “Aku tahu. Tapi aku mau.”
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai, tidak ada peran yang dimainkan malam itu. Tidak ada kontrak yang dipikirkan. Hanya dua orang dewasa yang memilih satu sama lain, sadar akan konsekuensi, dan tetap melangkah.
Hujan masih turun di luar, menutup dunia mereka. Malam itu, batas yang mereka jaga runtuh. Bukan karena lupa diri, melainkan karena keputusan yang akhirnya diambil dengan jujur.
Catatan Harian Tafana Alegrisa Myltom
Hari ini aku melakukan sesuatu yang seharusnya kupikirkan lebih lama. Atau mungkin sudah kupikirkan terlalu lama, sampai akhirnya kelelahan sendiri.
Aku selalu tahu Ravindra bukan tipe pria yang mudah didekati. Wajahnya tenang, caranya bicara hemat, pikirannya penuh kalkulasi. Ia seperti bangunan kokoh, tidak mengundang orang masuk, tapi memberi rasa aman hanya dengan berdiri di sana.
Awalnya aku mengira rasa nyamanku hanyalah efek dari stabilitas. Rumah yang teratur. Rutinitas yang konsisten. Kehadiran yang tidak mengancam. Semua itu terasa menenangkan setelah hidup yang terlalu sering menuntutku menyesuaikan diri.
Tapi kenyamanan punya kebiasaan buruk: ia membuat seseorang lengah.
Aku mulai menunggu suara pintu terbuka. Menghafal cara ia menarik napas ketika lelah. Menyadari betapa jarang ia menyentuh, namun selalu tepat ketika melakukannya. Dan yang paling berbahaya, aku mulai ingin pendapatku berarti baginya.
Malam ini hujan turun deras. Aku bilang aku takut. Itu benar, tapi bukan seluruhnya. Yang tidak kukatakan: aku juga takut sendirian dengan pikiranku sendiri.
Saat aku memutuskan tetap tinggal, aku tahu garis itu akan kabur. Tidak ada paksaan. Tidak ada drama. Justru itu yang membuatnya terasa nyata. Aku diberi pilihan, dan aku tidak mundur.
Sekarang aku bertanya-tanya... apakah aku baru saja mengambil langkah berani, atau ceroboh?
Aku tidak merasa menyesal. Tapi aku juga tidak sepenuhnya tenang.
Jika pernikahan ini awalnya adalah peran, maka malam ini aku lupa naskahnya. Aku hadir sebagai diriku sendiri. Dan ia menerimaku tanpa bertanya lebih jauh.
Itu seharusnya membuatku lega.
Nyatanya, aku justru merasa… terikat.
Entah pada apa. Entah pada siapa.
Yang jelas, mulai hari ini, aku tidak yakin aku masih tahu di mana batas aman seharusnya berada.
Dan mungkin, itulah yang paling menakutkan.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅