NovelToon NovelToon
Saat Mantan Menjadi Suami

Saat Mantan Menjadi Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Pengantin Pengganti / Mantan / Pernikahan rahasia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: mommy jay

Di saat resepsi pernikahan. Anjani Thalia harus menerima kenyataan pahit jika calon suaminya tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya.
Keluarga Anjani merasa malu dan marah karena merasa di permainkan oleh Arjuna . Calon menantu mereka.
Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Arjuna memilih wanita lain. Dan yang lebih mengejutkan dia memilih teman Anjani sendiri sebagai calon istrinya.
Saat keadaan kacau Anjani terlihat pasrah dengan kehancuran di depan matanya. Namun siapa sangka seseorang justru menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Keandra Alarick. Mantan Anjani datang dengan tiba-tiba dan ingin menikahinya. Hal itu pun membuat semua orang terkejut.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apa Anjani akan melanjutkan pernikahannya dengan Keandra?
Apakah setelah ini kehidupan Anjani akan bahagia?
Ikuti kisah mereka sampai selesai.
Jangan lupa follow. Beri like dan komentar kamu ya!
Happy Reading...! 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Rumah Keandra

"Apa ini yang kamu inginkan?" tanya Keandra sekali lagi. Matanya melirik sekilas pada Anjani yang hanya diam. Menundukkan kepala.

Anjani menoleh. "Aku hanya menghadiri pernikahan mereka. Aku hanya ingin membuktikan, kalau aku tidak lemah seperti yang mereka kira." jawaban pelan dan bergetar.

Keandra menghela nafas. "Dengan mempermalukan diri mu sendiri. Apa kamu tidak lihat, bagaimana sikap mereka tadi?" tanyanya dingin.

Keandra benar-benar tidak habis pikir, dengan cara berpikir Anjani. Namun saat ini, hati kecilnya merasa iba melihat Anjani yang terlihat rapuh dan tidak berdaya. Suasana malam semakin dingin. Keandra melihat Anjani kedinginan. Dengan cepat, ia membuka jasnya dan memakaikannya ke tubuh kecil Anjani.

Anjani seketika tersentak dengan perlakuan Keandra saat ini. Hanya mampu menerima perlakuan Keandra, tanpa ingin berdebat. "Terima kasih." ucapnya tulus.

Keandra tidak membalas ucapan Anjani. Menyalakan mesin mobil. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Meninggalkan parkiran hotel.

Sepanjang perjalanan, Anjani dan Keandra sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya keheningan, yang menyelimuti keadaan di dalam mobil itu.

"Kita mau kemana? Ini bukan jalan ke rumah?" Tiba-tiba Anjani bertanya. Saat menyadari, jika mereka melewati jalan yang berbeda.

"Kita pulang ke rumah." jawab Keandra dingin, membuat Anjani kebingungan. "Rumah ku."

Anjani membulatkan matanya. Kenapa tiba-tiba? Kenapa Keandra tidak memberitahunya terlebih dahulu? Itulah isi pikiran Anjani saat ini.

"Tapi... Mamah...."

"Aku sudah membicarakan hal ini. Dan mamah mu menyetujuinya."

Anjani menghela nafas. Kenapa dirinya tidak tahu tentang hal ini. Hatinya bertanya, kenapa Mira tidak memberitahu tentang keinginan Keandra.

Tak ingin berdebat Anjani memilih diam. Hati dan pikirannya terlalu lelah saat ini. Memilih membiarkan semua, berjalan sesuai keinginan takdir.

Keandra melirik sekilas pada Anjani yang kembali terdiam. Keputusannya sudah bulat. Jika mulai saat ini, mereka akan tinggal di rumahnya.

...----------------...

Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya mobil Keandra sampai di kediamannya. Keandra menghentikan mobilnya. Menatap Anjani yang rupanya sudah tertidur sejak tadi.

"Dasar tukang tidur." gumamnya. Matanya tak lepas menatap wajah Anjani, yang terlihat damai.

Keandra keluar dari mobil. Berjalan menuju ke arah Anjani, yang memang tidak terusik sama sekali. Keandra memutuskan untuk menggendong tubuh kecil Anjani. Dengan gaya bridal style, Keandra membawa Anjani masuk ke dalam rumahnya.

"Kean." Nadine yang sedang menunggu kepulangan mereka, menyambutnya dengan rasa khawatir. Sebab melihat Anjani, yang sedang di gendong oleh putranya. "Anjani kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Dia ketiduran, mah. Mamah tidak perlu khawatir. Dia tidak apa-apa." Setelah memberikan jawaban yang membuat Nadine tenang. Keandra pun pamit. Berjalan menuju kamarnya.

Nadine tersenyum tipis melihat sikap Keandra. Dia tahu betul, jika Keandra benar-benar mencintai Anjani. Namun ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya, tentang sikap putranya itu.

"Mamah harap, kamu bisa melupakan kejadian di masa lalu. Jangan hukum Anjani. Jika kamu, tidak ingin kehilangan cintanya lagi." gumam Nadine, menatap punggung Keandra yang mulai menjauh.

Malam itu, terasa dingin. Seakan sedang menggambarkan perasaan seseorang, yang sedang dilema atas kesalahan masa lalu. Sampai akhirnya seketika mengubah sudut pandangnya pada seseorang yang ia sayang.

...----------------...

"Emmhh...." Anjani mendesah pelan. Saat Keandra membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Namun matanya tidak terbuka. Tetap terpejam dengan damai.

Keandra menyelimuti tubuh Anjani. Untuk yang kesekian kalinya, Keandra menatap kembali wajah damai Anjani yang sedang tertidur. Entah mendapatkan dorongan dari mana. Keandra mengulurkan tangannya. Mengusap lembut pipi putih Anjani, yang terasa dingin. Tak terasa sudut bibirnya terlihat melengkung. Hatinya menghangat.

Namun tak berselang lama. Raut wajahnya berubah dingin kembali. Menjauhkan tangannya. Seakan menyesali perbuatannya. "Aku tidak boleh seperti ini. Ini salah." ucapnya prustasi.

Keandra menjauh. Mengusap wajahnya kasar. "Ada apa dengan ku?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Keandra yang merasa bingung dengan sikapnya, memutuskan pergi ke kamar mandi. Di dalam sana, ia membiarkan tubuhnya di guyur air dingin dari shower. Matanya terpejam. Selintas bayangan wajah Anjani pun muncul. Bayangan masa lalu. Sakit hati. Kekecewaan. Muncul bersamaan.

Keandra mengepalkan tangannya. Menahan dadanya terasa sesak. Terlalu sakit, mengingat kembali masa lalu dirinya bersama Anjani. Namun takdir berkata, jika dirinya harus menyelesaikan kisah mereka yang memang belum sepenuhnya usai.

"Ckleck."

Pintu kamar mandi terbuka. Keandra keluar dengan keadaan lebih fresh. Memakai kaos polos dan juga celana panjang. Rambutnya terlihat basah. Membuat ketampanannya sangat sempurna.

Keandra berjalan menghampiri ranjang. Mengambil bantal. Memutuskan untuk tidur di sofa saja. Sebelum matanya terpejam. Keandra menatap sekilas ke arah Anjani. Entah apa yang sedang ia pikirkan? Namun sorot matanya tidak bisa bohong. Jika dirinya sangat merindukan Anjani.

...----------------...

"Anjani. Apa yang sedang kamu lakukan, sayang?" Nadine yang sudah terbangun. Menegur Anjani, yang sedang berkutat di dapur.

Anjani menoleh dan tersenyum. "Aku sedang masak, mah. Maaf kalau aku tidak meminta izin dulu. Pasti mamah terganggu."

Nadine tersenyum. Berjalan mendekati Anjani. "Kenapa kamu tidak menyuruh pelayan saja, sayang?"

"Tidak perlu, mah. Selama aku bisa mengerjakannya sendiri. Kenapa harus meminta bantuan orang lain." jawab Anjani dengan sopan.

Nadine tersenyum, mendengar jawaban Anjani. Itulah kenapa selama ini dirinya sangat suka pada Anjani. Sikap rendah hati Anjani, membuat Nadine sangat menyayanginya. Bahkan Nadine tahu, jika Anjani merupakan pribadi yang mandiri.

"Selamat pagi."

Anjani dan Nadine menoleh bersamaan ke arah suara. Keandra datang dengan setelan kerjanya. Terlihat rapi. Berkharisma.

"Selamat pagi, Kean. Tumben sudah bangun?" sapa Nadine, dengan nada menggoda.

Keandra mendelik, mendengar ucapan Nadine yang terdengar menggodanya. Memilih duduk untuk segera sarapan.

Nadine menghela nafas. Tersenyum tipis. Ia tahu jika Keandra tidak suka di goda seperti itu. Namun Nadine tidak mau, sampai suasana di sana terasa canggung.

"Anjani sedang menyiapkan sarapan. Sebentar lagi juga siap. Padahal, mamah sudah larang Anjani untuk masak. Tapi, Anjani tetap mau masak untuk kamu, Kean." Nadine duduk di seberang Keandra. Menunggu reaksi Keandra saat ini.

"Jangan terlalu memanjakannya." ucap Keandra, dingin. Menatap sekilas Nadine, yang berada di seberangnya.

Nadine menautkan kedua alisnya. "Apa maksud mu, Kean? Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanyanya bingung.

Keandra tidak lagi menjawab. Tak lama kemudian, Anjani datang dengan membawa masakannya yang sudah matang dan siap di santap.

Anjani membuat nasi goreng kesukaan Keandra. Ia tahu betul, makanan kesukaan Keandra. Sehingga Anjani berinisiatif, untuk membuat nasi goreng seafood.

"Biar aku bantu ambilkan." tawar Anjani, saat Keandra hendak mengambil nasi goreng.

"Tidak perlu!" Dengan nada dingin, Keandra menolak niat baik Anjani. Dan sikap Keandra berhasil membuat Anjani, menjauhkan tangannya. Menunduk. Menahan rasa sakit pada hatinya.

"Kean!" Nadine yang geregetan melihat sikap Keandra segera menegurnya. "Biarkan Anjani mengambilkan nasi goreng untuk, mu."

Keandra tidak peduli dengan ucapan Nadine. Memilih mengambilnya sendiri. Langsung makan, tanpa memperdulikan perasaan Anjani saat ini.

Anjani hanya bisa terdiam. Kelopak matanya terasa memanas. Namun sebisa mungkin ia harus kuat. Tidak ingin menangis. Sebab saat ini ada Nadine di ruangan itu.

"Anjani. Ayo duduk!" titah Nadine memecahkan keheningan. "Kita sarapan bersama."

Anjani mengangguk pelan. Menuruti perintah Nadine. Duduk di samping Nadine.

"Anjani. Kamu istrinya Keandra. Jadi sebaiknya, kamu duduk di samping suami, mu." tegur Nadine kembali. Saat melihat Anjani hendak menggeser kursi di sampingnya. Hal itu membuat Anjani menatap Nadine, seakan melayangkan protes. "Ayo! Sekarang kamu duduk di samping Keandra.

Anjani menghela nafas. Terpaksa berjalan menghampiri kursi yang berada tepat di samping Keandra. Menggesernya. Duduk di samping Keandra, dengan perasaan tidak menentu.

"Loh, Kean. Kamu mau kemana?" tanya Nadine, menatap Keandra yang tiba-tiba bangkit dari duduknya. "Habiskan dulu sarapannya."

"Aku sudah kenyang." Keandra pergi begitu saja. Entah karena kenyang. Atau karena ada Anjani di sampingnya. Sehingga membuatnya tidak nyaman.

Anjani mengepalkan tangannya di bawah meja. Sakit. Bahkan terlalu sakit. Melihat sikap Keandra seperti itu. Ingin rasanya ia berlari dan meminta penjelasan, pada laki-laki yang kini berstatus suaminya itu.

"Maafkan Keandra ya, Anjani." ucap Nadine, tidak enak hati.

Anjani tersenyum tipis yang di paksakan. Tidak ingin Nadine tahu, jika hatinya sangat sedih. "Tidak apa-apa, mah. Mungkin Keandra terburu-buru."

Nadine tersenyum melihat kesabaran Anjani. Meskipun ia tahu, jika menantunya itu sedang memendam kesedihan di hatinya.

"Maafkan mamah Anjani. Mamah tidak bisa melakukan apapun. Tapi mamah yakin, kalian berdua akan bersama seperti dulu tanpa kebencian, kekecewaan." ucap Nadine dalam hati.

1
partini
cemburu dia ,kata nk kasih pelajaran jangan" buka segel paksa si bang kai
partini
nsh Lo Bang Ke tambah cemburu
partini
hai pemuda tamvan aku doakan ketemu lagi sama Anjani 🤭
partini
gara" Bang ke ini dasar suami ga punya otak
partini
ikuti permainan suami mu lah ,dari pada cuma mewek doang kaya gitu melohoyyy sekali kamu Jani ini th 2026 loh bukan 2018 pls deh Jani be strong and Smart you can do it 🤦
partini
aihhhn gumussss
partini
aihhh belum apa" nongol aja si Kunti untung Anjani ga myek2 jadi perempuan lumayan lah ga tensi
partini
lanjut Thor 👍👍👍
mommy jay: Terima kasih atas support nya, kk. 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ciuman pertama hemmm itu Bang Ke ga mau dengarn penjelasan sih paling nanti tau kalau bisa bobol gawang ternyata masih segel
partini
salah Raina ko andika
partini
novel baru ,yang Andika ga di terusin Thor masih ku simpan loh nungguin up-nya
Mita Paramita
semangat Thor 🔥😁😁
lanjutin ceritanya sampai tamat
mommy jay: Terima kasih atas supportnya kk. 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!