NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA

Musim dingin mulai melunak di Silvaplana, menyisakan lapisan salju tipis yang perlahan mencair di bawah matahari musim semi yang malu-malu. Kehidupan sebagai Elena Rossi telah menjadi kulit kedua bagiku. Aku telah terbiasa dengan rutinitas pagi: aroma espresso yang pekat, pemandangan Danau Silvaplana yang membeku, dan kehangatan tubuh Julian yang selalu menyambutku setiap kali aku terbangun.

Namun, ketenangan adalah lapisan es yang tipis di atas air yang sangat dalam.

Malam itu, kami sedang berada di sebuah bar kecil yang hangat di St. Moritz. Suara musik jazz rendah mengalun, bercampur dengan denting gelas kristal. Julian sedang duduk di sampingku, tangannya yang besar mengelus lembut pangkal leherku—sebuah kebiasaan baru yang selalu berhasil menenangkan badai di kepalaku. Kami sedang merayakan keberhasilan pemindahan aset terakhir kami ke rekening anonim di Kepulauan Cayman.

“Nikmati minumannya, Elena,” Zura berbisik di dalam benakku, suaranya terdengar malas dan puas. “Pria ini, anggur ini... kau benar-benar telah menjadi wanita Italia yang sempurna.”

Aku tersenyum tipis, menyesap Chianti klasiku, sampai mataku tertuju pada layar televisi besar di sudut bar yang menayangkan berita nasional Italia, TG1.

GEMA DARI MASA LALU

Presenter berita itu sedang melaporkan sebuah insiden aneh di sebuah butik mewah di Via Montenapoleone, Milan. Rekaman kamera keamanan (CCTV) diputar, menunjukkan seorang wanita berambut pirang platina, mengenakan gaun sutra hijau yang sangat mahal. Wanita itu tampak sedang mengamuk, menghancurkan manekin dengan gerakan yang kasar dan liar, sebelum akhirnya meludah ke arah petugas keamanan dengan gestur yang sangat menghina.

Gelas di tanganku hampir saja terlepas.

"Elena? Ada apa?" Julian menyadari perubahan drastis pada postur tubuhku.

Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada layar. Wanita di televisi itu memang memiliki wajah yang berbeda, namun gerakannya—cara dia memiringkan kepala, cara dia mengepalkan tangan, dan kilatan kebencian murni di matanya—identik dengan sesuatu yang sangat kukenal.

Itu adalah gerakan raga asliku saat masih dihuni oleh jiwa Zura.

“Itu aku,” Zura tiba-tiba tersentak bangun di dalam kepalaku, suaranya berubah menjadi pekikan ngeri sekaligus takjub. “Lihat cara dia meludah! Lihat cara dia mencengkeram leher pria itu! Itu gaya jalananku, Valerie! Tapi... tapi itu bukan raga kita!”

Presenter berita melanjutkan: “Wanita yang diidentifikasi sebagai Contessa Alessandra de Luca, istri dari seorang pengusaha farmasi terkemuka, dikabarkan mengalami 'gangguan saraf mendadak'. Pihak keluarga menyatakan bahwa Contessa sedang dalam perawatan intensif setelah menunjukkan perubahan kepribadian yang drastis selama tiga bulan terakhir.”

Tiga bulan terakhir. Waktu yang sama saat Blackwood meledak.

"Julian," bisikku, suaraku bergetar. "Lihat wanita itu."

Julian menatap layar televisi dengan dahi berkerut. Sebagai mantan detektif, ia segera menangkap apa yang kulihat. Ia memperhatikan bagaimana wanita aristokrat itu bergerak—seperti binatang buas yang terperangkap dalam sangkar emas.

"Itu tidak mungkin," gumam Julian, wajahnya mengeras. "Adrian Vane bilang dia hanya bereksperimen denganmu dan raga Zura sebagai prototipe."

"Dia berbohong," kataku, kini raga Valerie kembali ke mode klinis yang dingin. "Alessandra de Luca adalah bagian dari klan farmasi yang mendanai proyek Blackwood. Jika dia menunjukkan gejala yang sama denganku... artinya ada subjek inversi lain. Dan jika jiwa di dalam raga Contessa itu bertingkah seperti Zura, maka kemungkinan besar itu adalah jiwa dari jalanan yang ditukar ke dalam raga elit."

DORONGAN YANG TAK TERTANGKISKAN

Ketentraman yang kami bangun selama berbulan-bulan runtuh dalam sekejap. Rasa ingin tahu intelektualku sebagai psikolog forensik, bercampur dengan ketakutan bahwa kami belum benar-benar aman, memicu adrenalin yang sudah lama padam.

Kami kembali ke chalet dalam keheningan yang mencekam. Sesampainya di sana, aku langsung membuka laptop terenkripsiku, masuk ke dalam jaringan gelap yang pernah kucuri dari server Vane sebelum peledakan.

“Kau ingin mencarinya, kan?” Zura bertanya, suaranya kini dipenuhi kegelisahan. “Kau ingin tahu apakah ada 'Zura' lain di luar sana? Apakah kita tidak sendirian?”

“Aku harus tahu seberapa jauh eksperimen ini menyebar,” jawabku sambil mengetik dengan cepat. “Jika Contessa itu adalah produk inversi, maka ada pusat kendali yang tersisa. Dan jika ada pusat kendali, mereka bisa melacak kita.”

Julian berdiri di belakangku, tangannya bertumpu di bahuku. "Elena, jika kita pergi ke Milan, kita mengekspos diri kita. Kita sudah bersih. Kita sudah mati bagi dunia."

"Julian, lihat ini," aku menunjukkan sebuah data tersembunyi yang baru saja kubedah dari cadangan memori Proyek Regenesis. "Ada daftar sepuluh nama. 'Dewan Donor'. Alessandra de Luca ada di urutan kelima. Mereka adalah orang-orang yang memberikan dana besar untuk ditukar dengan 'keabadian'. Inversi bukan hanya tentang memindahkan jiwa, tapi tentang elit yang ingin mencuri raga yang lebih muda dan lebih sehat."

Aku berbalik menatapnya. "Jika mereka menyadari bahwa ada 'cacat' dalam proses inversi—seperti yang terjadi pada kita—mereka akan memburu siapa pun yang memiliki pengetahuan tentang cara memperbaikinya. Dan itu adalah aku."

Julian menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa melarangku. Kejeniusan dan obsesiku adalah satu paket. "Baiklah. Tapi kita tidak pergi sebagai buronan. Kita pergi sebagai Elena Rossi dan Marco, pasangan investor yang tertarik pada industri farmasi Milan."

GAIRAH DI TENGAH KECEMASAN

Ketegangan rencana pelarian baru ini memicu sesuatu yang lain di antara kami. Saat kami mulai berkemas, udara di dalam chalet kembali terasa panas. Zura, yang terangsang oleh ide kembali ke 'pertempuran', mulai membangkitkan gairah dalam raga Valerie.

Aku sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ketika Julian menarik pinggangku dari belakang. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aroma tubuhku yang kini bercampur dengan sedikit keringat karena kegugupan.

"Satu malam lagi," bisik Julian, tangannya merayap masuk ke bawah sweter kasmirku. "Satu malam terakhir sebelum kita masuk kembali ke sarang serigala."

Aku berbalik di pelukannya, menatap mata birunya yang kini berkilat dengan campuran antara proteksi dan keinginan yang mendalam. Raga Valerie merespons dengan intensitas yang lebih besar dari biasanya. Zura tidak perlu mendorong kali ini; aku sendirilah yang membutuhkan pelarian fisik ini untuk meredam kecemasan di kepalaku.

Kami bergumul di atas tumpukan pakaian yang belum terkemas. Ciuman Julian terasa lebih kasar, lebih menuntut, seolah-olah ia takut ini adalah terakhir kalinya ia bisa memilikiku secara utuh. Aku mencengkeram rambutnya, menariknya lebih dekat, merasakan setiap inci tubuhnya yang kuat menindihku.

Di tengah gairah yang membara itu, aku merasakan sebuah sinkronisasi yang aneh. Aku bisa merasakan nafsu Zura yang liar dan haus akan kekerasan, menyatu dengan cinta Valerie yang mendalam untuk Julian. Kami adalah satu entitas yang meledak dalam kepuasan di bawah bayang-bayang bahaya yang baru.

KE MILAN DENGAN DARAH DINGIN

Dua hari kemudian, sebuah Maserati hitam meluncur mulus memasuki distrik mode Milan. Julian mengemudi dengan setelan jas Italia yang dijahit sempurna, sementara aku duduk di sampingnya sebagai Elena Rossi, mengenakan kacamata hitam besar dan gaun sutra yang memancarkan aura kekayaan yang tenang.

Kami menuju sebuah pesta amal tertutup yang diadakan oleh keluarga De Luca di sebuah villa megah di pinggiran kota. Ini adalah cara tercepat untuk mendekati Contessa Alessandra.

"Ingat," Julian berbisik saat kami turun dari mobil. "Kita hanya mengamati. Jangan lakukan gerakan mencolok."

Aku mengangguk. Namun di dalam kepalaku, Zura sudah bersiap untuk menerkam.

Kami memasuki aula pesta yang dipenuhi oleh elit Milan. Di tengah ruangan, dikelilingi oleh para pelayan, berdiri Alessandra de Luca. Ia tampak cantik dan anggun dalam gaunnya, namun saat ia mengambil gelas sampanye, aku melihat tangannya gemetar. Matanya bergerak liar, memindai ruangan seolah-olah dia sedang mencari jalan keluar dari sebuah penjara.

Aku berjalan mendekat, berpura-pura mengambil minuman di dekatnya. Saat bahu kami bersentuhan "tanpa sengaja", aku membisikkan sesuatu dalam bahasa gaul Distrik 9 yang paling kasar—kode yang hanya diketahui oleh orang-orang dari jalanan tempat Zura berasal.

"Hei, Jalang. Berapa harga raga mewah itu di pasar gelap?"

Alessandra membeku. Ia berbalik dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Matanya yang tadinya kosong kini berkilat dengan pengenalan yang mengerikan. Ia menatapku, bukan ke wajah Elena Rossi, tapi seolah-olah dia bisa melihat jiwa yang ada di dalamnya.

"Kau..." bisiknya dengan suara yang serak, kontras dengan wajah bangsawannya. "Kau adalah Dokter yang menghancurkan Blackwood."

Tiba-tiba, seorang pria berbadan besar dengan earphone di telinganya muncul di belakang Alessandra. Ia menatapku dengan tatapan dingin yang sangat kukenal. Tatapan orang-orang Adrian Vane.

"Contessa, saatnya kembali ke ruang perawatan," kata pria itu dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Alessandra menatapku dengan tatapan meminta tolong yang sangat menyayat hati, sebelum ia digiring pergi. Aku berdiri terpaku di tengah pesta, menyadari bahwa apa yang kami temukan di sini jauh lebih besar dari sekadar kegagalan medis.

Inversi bukan lagi eksperimen. Ini adalah wabah di kalangan elit. Dan kami baru saja berjalan masuk ke dalam pusat sarangnya.

“Valerie,” Zura berbisik dengan nada yang belum pernah kudengar sebelumnya—nada ketakutan yang murni. “Pria pengawal tadi... dia bukan manusia. Aku bisa merasakannya. Dia punya aura yang sama dengan mesin inversi itu. Dia adalah sesuatu yang lain.”

Aku menatap Julian di seberang ruangan. Ia juga menyadari ada yang salah. Kami baru saja meninggalkan kedamaian Alpen untuk masuk ke dalam babak yang jauh lebih panas dan mematikan.

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!