Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Bahagia
Dunia Katyamarsha kini tak lagi hanya berputar di antara laporan keuangan atau pelukan hangat Donny. Suara tangis bayi laki-laki yang mereka beri nama Arkananta Adiwangsa—sebuah perpaduan nama yang berarti "penerang yang mulia"—telah mengubah ritme rumah besar itu menjadi lebih hidup. Arkan memiliki mata tajam seperti Donny, namun senyumnya adalah duplikat sempurna dari Katya.
Namun, kebahagiaan itu ternyata menciptakan riak kecemburuan di luar sana. Seiring dengan kembalinya Katya ke kantor Adiwangsa Group setelah masa cuti melahirkan, ia tak lagi disambut dengan simpati, melainkan dengan tatapan sinis yang lebih tajam. Di mata banyak orang, Katya adalah "wanita beruntung" yang telah berhasil mengamankan posisinya dengan memberikan ahli waris bagi sang CEO.
Konflik mulai meruncing saat munculnya tokoh baru, Adrian, seorang manajer investasi muda yang cerdas, ambisius, dan baru saja direkrut dari firma global di Singapura. Adrian adalah prototipe pria masa kini yang mengagungkan meritokrasi. Ia tidak menyukai fakta bahwa Katya, yang secara usia masih sangat muda, memegang posisi strategis sebagai direktur pengembangan bisnis—posisi yang menurutnya hanya didapat Katya karena "jalur ranjang".
"Selamat pagi, Nyonya Adiwangsa. Atau saya harus memanggil Anda 'Direktur'?" sapa Adrian dengan nada yang sangat formal namun mengandung sindiran halus saat mereka berada di lift menuju ruang rapat.
Katya menekan tombol lantai 12 dengan tenang. "Panggil saya sesuai dengan jabatan profesional saya di gedung ini, Pak Adrian. Itu akan memudahkan koordinasi kita."
"Tentu," Adrian tersenyum miring, menatap Katya dari pantulan kaca lift. "Hanya saja, saya sedikit heran bagaimana rencana ekspansi ke Vietnam bisa disetujui dalam semalam. Apakah Anda mendiskusikannya di meja rapat, atau saat sedang... pillow talk?"
Darah Katya mendidih. Ia teringat nama Marsha—sang pelindung. Ia berbalik, menatap Adrian tepat di matanya. "Pak Adrian, jika Anda merasa performa saya tidak sebanding dengan gaji saya, silakan bawa data auditnya ke depan dewan direksi. Tapi jika Anda hanya punya asumsi murahan, saya sarankan Anda fokus pada portofolio Anda yang sedang merah di sektor energi."
Lift terbuka. Katya melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Adrian yang terpaku karena sindiran Katya yang sangat akurat mengenai kinerjanya.
---
Namun, gangguan Adrian hanyalah permulaan. Di rumah, Donny mulai merasakan beban fisik yang berbeda. Meski ia sudah pulih dari kelelahannya, merawat bayi di usia kepala empat ternyata lebih menguras energi daripada yang ia duga. Donny sering terbangun di malam hari saat Arkan menangis, namun ia mendapati dirinya seringkali terlalu lelah untuk bangun dari tempat tidur.
Suatu malam, ketegangan itu pecah. Katya baru saja pulang lembur karena harus membereskan kekacauan yang sengaja dibuat Adrian pada laporan departemennya. Ia menemukan Donny sedang berusaha menenangkan Arkan yang menangis histeris, sementara wajah Donny tampak sangat frustrasi dan pucat.
"Sini, Mas. Biar aku saja," ujar Katya sambil meraih Arkan.
Donny menyerahkan bayi itu dengan napas tersengal. "Dia tidak mau diam sejak tadi. Mungkin dia tahu ayahnya sudah tua dan tidak asyik untuk diajak bermain."
Katya menghentikan gerakannya. "Mas, jangan mulai lagi dengan urusan usia. Arkan hanya sedang kolik."
"Bukan cuma soal kolik, Katya!" suara Donny meninggi, memecah kesunyian malam. "Aku melihat Adrian hari ini di parkiran kantormu. Dia muda, dia enerjik, dia bisa membicarakan teknologi masa depan denganmu tanpa terlihat bingung. Sedangkan aku? Aku harus berjuang hanya untuk tetap terjaga saat membacakan dongeng untuk anakku sendiri!"
Katya terpaku. Jadi ini masalahnya. Bukan hanya soal fisik, tapi soal insecurity yang kembali menyerang Donny saat melihat Katya dikelilingi oleh pria-pria sebaya yang kompetitif.
"Mas... Mas cemburu pada Adrian?" bisik Katya tak percaya.
"Saya tidak cemburu padanya," Donny memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang memerah. "Saya cemburu pada waktunya. Saya cemburu pada masa depannya yang masih panjang, sementara saya terus menghitung berapa banyak sisa waktu yang saya miliki untuk melihat kalian berdua tetap tersenyum."
Katya meletakkan Arkan yang mulai tenang ke dalam boks bayinya. Ia menghampiri Donny, memeluk pria itu dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung yang dulu terasa begitu tak terkalahkan.
"Mas, Adrian itu bukan apa-apa. Dia punya kecerdasan, tapi dia nggak punya jiwa. Dia nggak punya sejarah yang kita miliki," ujar Katya lembut. "Mas adalah pria yang memberiku nama saat aku belum bisa bicara. Mas adalah pria yang mempertaruhkan reputasimu demi kesembuhan ayahku. Jangan pernah bandingkan cintamu yang berakar sedalam itu dengan ambisi dangkal seperti milik Adrian."
Donny berbalik, memeluk Katya erat. "Maafkan saya, Sayang. Menjadi ayah di usia ini ternyata membuat saya jauh lebih emosional daripada yang saya bayangkan."
---
Konflik memuncak seminggu kemudian. Adrian ternyata tidak hanya menyerang secara verbal. Ia bersekongkol dengan beberapa vendor lama yang sakit hati karena kontraknya diputus oleh Katya demi efisiensi. Mereka merencanakan sabotase pada peluncuran proyek besar Adiwangsa Group.
Adrian membocorkan data rahasia perusahaan kepada kompetitor dan menyebarkan rumor bahwa Katya melakukan nepotisme besar-besaran dengan mengangkat keluarganya di posisi strategis. Berita ini sampai ke telinga Arman, yang tentu saja merasa terpukul karena namanya kembali terseret.
"Don, apa benar Katya kesulitan di kantor karena kehadiranku?" tanya Arman saat Donny berkunjung ke rumahnya.
Donny mengepalkan tangannya. "Tidak, Yah. Ini hanya ulah kerikil kecil yang ingin menjadi batu besar. Ayah tenang saja, biar saya yang selesaikan."
Donny memutuskan untuk kembali ke mode "CEO Berdarah Dingin" yang dulu sangat ditakuti. Tanpa sepengetahuan Katya, Donny mengundang Adrian ke ruangannya. Tidak ada kamera, tidak ada asisten. Hanya dua pria dari generasi yang berbeda.
"Saya tahu apa yang Anda lakukan, Adrian," ujar Donny sambil melemparkan seberkas bukti transfer gelap dari kompetitor ke rekening pribadi Adrian. "Anda pikir kecerdasan Anda bisa menutupi jejak busuk Anda?"
Adrian mencoba tetap tenang, meski lututnya mulai bergetar. "Itu... itu fitnah, Pak Donny. Anda hanya ingin melindungi istri Anda."
Donny berdiri, berjalan mendekati Adrian hingga jarak mereka sangat dekat. Aura otoritas Donny yang pekat membuat udara di ruangan itu terasa menyesakkan. "Istri saya tidak butuh perlindungan saya untuk mengalahkan pria seperti Anda secara intelektual. Dia sudah melakukannya berkali-kali. Tapi saya, sebagai suaminya, tidak akan membiarkan ada orang yang merusak ketenangannya saat ia sedang menyusui anak saya."
Donny memberikan dua pilihan pada Adrian: mengundurkan diri secara tidak hormat dan mengembalikan seluruh dana sabotase, atau menghadapi tuntutan pidana yang akan mengakhiri kariernya selamanya. Adrian memilih yang pertama. Ia keluar dari gedung Adiwangsa Group dengan kepala tertunduk, menyadari bahwa pengalaman dan kekuasaan Donny bukanlah sesuatu yang bisa ia lawan hanya dengan ambisi buta.
---
Malam harinya, Katya menemukan Donny sedang duduk di kamar bayi, memandangi Arkan yang sedang tidur terlelap. Donny menceritakan apa yang terjadi.
"Mas terlalu keras pada Adrian," ujar Katya sambil tersenyum tipis.
"Dia layak mendapatkannya. Tidak ada yang boleh meremehkan Katyamarsha saya," jawab Donny bangga.
Namun, di sela-sela kemenangan kecil itu, Donny kembali merasakan nyeri di dadanya. Kali ini lebih tajam dari biasanya. Ia mencoba menahannya, tidak ingin merusak suasana bahagia malam itu. Ia tersenyum pada Katya, namun di dalam hatinya, sebuah firasat muncul—bahwa perjuangan mereka selanjutnya mungkin bukan melawan orang luar, melainkan melawan keterbatasan raga yang kian nyata.
Katya yang melihat perubahan mimik wajah Donny, hanya menggenggam tangan suaminya. "Apa pun yang terjadi nanti, Mas... kita adalah satu tim. Ingat?"
Donny mengangguk, mencium kening Katya. Bab 18 ditutup dengan kedamaian yang semu, di mana musuh dari luar telah tersingkir, namun musuh dari dalam—waktu dan kesehatan—mulai mengetuk pintu dengan lebih keras.