Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Sejak masuk kelas XII, Bhima and the geng (Ada tambahan personil geng yaitu Haydar, dan Ryan) tidak seperti dulu. Selain fokus pada pelajaran, Bhima juga sudah tidak sekelas dengan Arga dan Dhani. Bhima di kelas XII IPA1, Sedangkan Arga dan Dhani di kelas XII IPA2. Tapi saat istirahat, Bhima masih kerap nyamperin keempat sahabatnya tersebut.
Bhima and the geng memiliki hobi yang sama yaitu main bareng atau biasa disebut dengan mabar, baik bertemu secara offline di kafe atau tempat nongkrong langganan mereka untuk melakukan push rank Mobile Legend (ML) pada setiap awal sesi yang biasanya selalu ada reset sistem per tiga bulan sekali.
Mereka juga kerapkali melakukan push rank untuk meningkatkan performa pemain ke level tertentu. Mereka selalu menargetkan harus mencapai level tertentu , biasanya target mereka adalah level Mythic Glory untuk level di semua sesi ML.
Tapi pada sesi kali ini, Bhima and the Geng tidak seperti biasanya. Mereka tidak bisa mencapai level Mythical Glory. Geng mereka hanya mencapai mythic mawi pada sesi ML kali ini. Semua teman sekolah juga sangat heran sekali. Tumben sekali Bhima and the Geng tidak mencapai target Mythical Glory seperti biasanya? Berita ini juga menjadi buah bibir di kelas XII di sekolah Nusantara.
Bhima tidak marah pada para sahabatnya saat gengnya tidak mencapai target rank seperti biasanya. Toh sekarang mereka juga sudah kelas XII dan saatnya fokus pada sekolah. ML juga hanya sebuah permainan. Tapi yang selalu menjadi pertanyaan dalam hati Bhima, ada apa dengan sahabatku? Apa mereka sedang mengalami masalah? Atau ada yang lain tanpa sepengetahuannya? Pertanyaan itu selalu berputar dipikiran Bhima saat ini.
Meskipun Dhani, Arga, Haydar, Ryan adalah sekelas, berdasarkan curhatan Arga, sikap Dhani berubah drastis sejak ia putus dengan pacarnya, Citra, dua bulan yang lalu. Ia semakin cuek pada Arga dan teman geng yang lain. Saat diajak ngobrol pun, kadang Dhani sering tidak memperhatikan lawan bicaranya. Ia juga kerapkali melamun dan tertidur di kelas.
Keadaan Dhani, semakin lama, bukan semakin lebih baik, tapi malah semakin menjadi lebih buruk menurut Arga. Saat ini Dhani sering kali menghindar dari teman genk nya. Ia terlihat lebih nyaman mengobrol dengan perempuan, yaitu Clara, sahabat Xeline. Kerapkali Bhima mendapati Dhani mengobrol bertiga dengan Clara, dan Xeline.
Melihat Xeline bercanda dengan Dhani, Bhima menatap keduanya begitu lama. Tatapan lelaki itu begitu nanar seakan ada aura kemarahan begitu bergejolak disana seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya. Tapi tatapan itu juga seperti ada desiran aneh bersemayam dalam hati Bhima. Ada semacam perasaan tidak suka saat melihat Xeline berdekatan dengan lelaki lain. Tapi Bhima juga tahu bahwa ia tidak memiliki hak apapun untuk melarang perempuan itu berdekatan dengan lelaki manapun karena diantara mereka tidak ada hubungan apapun. Hanya sekedar teman. Atau bila dikata HTS (Hanya Teman Sekelas). Hanya HTS, bisa apa? Tanpa sepengetahuan Bhima, teman gengnya melihat itu dengan penuh ketakutan.
Saat Bhima sedang main di kelas sebelah, Dhani tetap saja mencoba menjauh darinya. Tak ayal Bhima hanya bisa menatap Dhani dari jauh sembari mengobrol dengan teman geng yang lain, yaitu Arga, Haydar, dan Ryan. Hal itu semakin membuat Bhima penasaran dengan Dhani tentang hal yang membuat sahabatnya berubah.
"Ada apa dengan bocah itu? Ia sedang punya masalah apa?" batin Bhima.
Trettt trettt trettt
Bel telah berbunyi tiga kali tanda telah masuk waktu istirahat. Bhima melihat ke arah Xeline yang tengah beranjak dari tempat duduknya yang berjarak tiga bangku darinya. Gadis itu terlihat berjalan menuju kelas sebelah, kelasnya Clara.
"Xeline tidak ke kantin hari ini. Ia langsung ke kelas sebelah. Aku penasaran dengan sikap Clara ke Xeline. Pasti seru liat mereka yang nggak nyambung. Wa nya ke siapa, nagih bukunya ke siapa? Ahh, pasti lucu sekali gadis itu," batin Bhima sambil tersenyum.
Bhima begitu hafal dengan kebiasaan Xeline. Saat istirahat, tujuannya hanya dua. Kantin dan kelas Clara. Bila ke kantin, ia akan membawa snack yang telah ia beli untuk dimakan bersama bersama dengan Clara, atau Vania. Bila tidak ke kantin, sembari berjalan ke kelas sebelah, Xeline akan menyelinapkan tangan kanan ke saku rok dan mengambil permen lolipop kesukaannya yaitu hot hot pop atau permen kaki. Saking hafalnya, Bhima sampai hafal hingga detik ke berapa Xeline sampai di kelas sebelah. Ihh, perhatian banget ya si Bhima?
Bhima mengikuti Xeline ke arah kelas sebelah. Sesampainya di kelas sebelah, Xeline menghampiri Clara yang tengah duduk berhadapan dengan Dhani di bangku belakang. Sedangkan Bhima bergabung dengan teman gengnya di bangku nomer tiga dari belakang, hanya beda barisan bangku. Xeline di barisan bangku pertama paling ujung, Bhima di baris bangku ke tiga. Meskipun ada jarak, Bhima masih bisa sedikit mendengarkan percakapan diantara mereka bertiga.
"Xel," sapa Dhani pada Xeline.
"Apa?" balas perempuan itu.
"Kamu bisa nge game?"
"Bisalah. Emang kenapa?"
"Kirain cewek kayak kamu hanya pegang buku aja."
"Cewek kayak kamu. Maksudmu gimana Dhan?"
"Ya cewek pintar kayak kamu kirain pegangnya buku mulu. Soalnya wajah kamu itu kutu buku banget."
"Wajah buku? Keren kali aku punya wajah buku. Aku nggak terus pegang buku juga sih. Tapi nggak selalu juga pegang Hp. Kadang kalau lagi bosan, terus pas ibuku sedang istirahat, atau sudah tidur, aku biasanya nge game. Aku juga nggak jago amat game. Cuma bisa aja."
"Suka game apa?"
"Semua game aku suka. ML, Roblox, kadang game yang offline, aku juga suka. Game noto boto kalau sebutan ibuku. Intinya game nya random. Pokok aku suka, ya aku nge game."
Bhima mendengarkan percakapan antara Dhani dan Xeline.
"Ternyata Xeline sesuai dengan tebakanku. Perempuan gamer. Ahhh, tambah cinta aja gue ma ini bocahhh," bathin Bhima.
"Kamu juga main Roblox Xel?" Penasaran Dhani.
"Iya. Kenapa?"
"Nggak pa pa."
Akhir-akhir ini, Bhima juga mendengar kabar kalau Dhani lebih suka main game Roblox daripada push rank di ML. Sebagai sahabat, Bhima juga tidak bisa memaksa Dhani harus main ML terus kan? Namanya main game, kadang ada titik jenuh juga. Apalagi kalau main ML sering dapat defeat daripada victory.
"Ra...," sapa Xeline pada sahabatnya.
"Apa beb?" Clara tanya balik.
"Pesenku kemarin gimana?"
Kening Clara mengernyit keheranan.
"Emang kamu pesen apa kemarin?"
Xeline tersenyum lebar.
"Kamu pasti lupa ya? Ya udah nggak pa pa. Lain kali aja."
"Wah, kumat pikunnya ini bocah. Aku juga nggak enak buat mengingatkan tentang komik itu. Mungkin Clara kecapekan habis begadang membalas chatku semalam," batin Xeline.
Bhima melihat ke arah Xeline dan mendengarkan percakapan mereka dengan seksama. Ada rasa bersalah karena ia tidak mengaku pada Xeline yang sebenarnya terjadi. Tapi keinginan untuk mendekati perempuan yang telah lama ia impikan seakan sudah tidak bisa diredam lagi. Semakin rasa itu diredam, rasanya semakin membuncah saja.
"Xeline, maaf ya. Aku belum bisa jujur saat ini," batin Bhima.