Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Sehabis sholat peno berniat ingin tidur kembali, tapi ternyata rasa kantuknya telah hilang entah kemana, daripada bingung ia pun keluar rumah untuk menghirup udara pagi.
"ah, lari pagi sekalian kayaknya asik!" gumam Peno bicara sendiri, lalu masuk kamar berganti dengan pakaian olah raga dan memakai sepatu sportnya.
"mau kemana No?" tanya bapak yang sedang ngopi diteras saat melihat Peno keluar dengan pakaian olah raga.
"lari pagi pak, biar kesehatan tetap terjaga, he he he........!" jawab Peno sambil nyengir.
"kalau tiap hari ya pasti kesehatan terjaga, lha ini kamu entah berapa bulan sekali, ha ha ha.....!" ucap bapak meledek Peno.
" yang penting mau pak, daripada tidak sama sekali, ha ha ha ha.....!" jawab Peno lagi sambil mulai berlari meninggalkan rumah.
Menyusuri jalan desa peno terus berlari ke arah selatan sejauh lima ratus meter sampailah diperempatan Peno lalu belok kiri menuju pertigaan dimana warung yu War berada.
Sampai pertigaan warung yu Warni Peno bertemu pak Supri yang sedang jalan pagi bersama istri dan kedua anaknya.
"jalan jalan pak Supri!" sapa Peno setelah ia menghentikan larinya.
"eh iya No, rajin banget kamu olah raga No, kaya atlit saja!" jawab pak Supri yang juga mengomentari Peno.
"ha ha ha..... Kan memang atlit pak!" ucap Peno lagi, kini mereka sama sama berhenti untuk saling ngobrol.
"atlit apa kamu No?" tanya pak Supri serius menanggapi ucapan Peno.
"atlit catur pak, ha ha ha ha........!" jawab Peno sambil tertawa.
"ha ha ha ha......., benar juga ya kamu No, biar pun atlit catur kan badan juga harus sehat, ya wis, aku jalan dulu No, ini anakku minta beli serabi di depan gang sana!" kata pak Supri lalu berpamitan pada Peno.
"silahkan pak, saya juga mau lanjut lari paginya biar kuat kalau angkat kuda, ha ha ha ha........!" jawab Peno lalu melanjutkan lari paginya dari pertigaan berbelok kekiri arah utara.
sampailah Peno ditikungan yang berbelok kebarat arah menuju rumahnya, setelah melewati rumah haji Komar selisih empat rumah Peno menghentikan larinya dan membelok kekiri kehalaman rumah sederhana yaitu rumah mbah Patma, kakek Peno dari bapak, mbah Patma hidup serumah dengan lik Wanto dan istrinya yang bernama lik Atin dan anak mereka Tono yang berusia lima tahun.
"asalamualaikum mbah!" ucap Peno pada mbah Patma yang sedang duduk dikursi santainya diteras.
"waalaikumsalam, dari mana kamu No, pagi pagi sudah berkeringat kaya gitu?" jawab mbah Patma lalu bertanya balik pada Peno.
"lari pagi mbah, biar badan sehat, meski pengangguran kan harus sehat juga, he he he he, mbah ga jalan jalan!?" jawab Peno dengan gaya cengengesannya.
"sudah tadi, jalan kemushola, sholat terus jalan kerumah!" jawab mbah Patma sambil melinting tembakaunya.
"halah, itu sih pergi kemushola mbah, namanya jalan jalan ya keliling desa atau kemana gitu yang agak jauh, kalo kemushola kan cuma berapa meter, tuh malah didepan rumah tinggal nyebrang jalan!"ucap Peno yang sedikit kesal dengan jawaban mbah kakungnya itu.
"ya kan namanya jalan juga No, kalau keliling desa mbahmu ini bisa semaput nanti, he he he.......!" jawab mbah Patma sambil nyengir memamerkan gigi depanya yang tinggal tiga.
"he he he....., iya juga sih, jalan, ya wis lah, didalam ada orang mbah, aku mau minta minum, rasanya haus habis lari!?" ucap Peno mengutarakan niatnya mampir kerumah mbah kakungnya.
"ada lilikmu si Wanto sedang mandiin Tono, masuk saja ambil sendiri, kalau mau kopi ya bikin, sekalian ambil papan catur bawa kesini!" jawab mbah Patma malah menyuruh Peno mengambil papan catur.
"haduh, pagi pagi sudah disuruh mikir!" gumam Peno sambil tepuk jidat lalu masuk kedalam rumah.
"lik, mau bikin kopi, kopinya mana?" tanya Peno pada lik Wanto yang sedang mengeringkan badan Tono dengan handuk didepan kamar mandi dapur.
"lho kamu No, pagi pagi sudah minta kopi, tuh kopinya diatas lemari piring, lilik juga mau No!" jawab lik Wanto juga minta dibuatkan kopi.
"bukan minta lik, tapi karena pagi pagi sudah mau disuruh mikir sama mbah kakung, ya harus doping kopi, he he he.......!" kata Peno menanggapi ucapan liliknya.
"ha ha ha......, kayu lu pikirin No,!" ucap lik Wanto meledek Peno.
"ha ha ha ha....., mas Peno mikirin kayu!" cletuk Tono yang masih berdiri dipintu kamar mandi hanya berbalut handuk.
"diam bocil, kamu beli jajan saja nanti jangan ganggu mas Peno tanding sama mbah kakung, tadi malam mas Peno dapat rejeki banyak!" ucap Peno sambil menunggu air yang ia masak mendidih.
"asiiiiikkk jajan, yang banyak ya mas!" kata Tono kegirangan akan dibelikan jajan oleh kakak sepupunya itu.
"tenang saja, mas Peno banyak uangnya, ha ha ha....!" kata Peno lalu pergi keteras dengan membawa dua gelas kopi hitam.
"lho kok bikin dua No, kan mbah sudah ngeteh!?" tanya mbah Patma protes pada Peno.
"yang satu buat suporter Peno mbah, he he he.....!" jawab Peno lalu masuk lagi untuk mengambil papan catur.
Peno langsung menata bidak catur dipapan yang sudah ia buka diatas meja depan mbah kakung.
"mbah mau putih apa hitam dulu?" tanya Peno pada mbahnya.
"mbah hitam, kamu nyerang duluan!" jawab mbah Patma.
"ya memang dasarnya hitam mbah!" ucap Peno sambil menjalankan pionnya dua kotak langsung.
"ooo semprul, bukan kulitnya, kulit mbah memang hitam dari dulu, kebanyakan berjemur disawah sama kolam!" ucap mbah Patma sedikit tak terima dikatain hitam oleh Peno sambil menjitak dahi Peno.
"he he he he....., bercanda mbah, piiiissss!" kata Peno cengengesan dengan jari tangan bembentuk huruf V.
"udah itu giliran kamu lagi!" ucap mbah Patma.
"lhaaa, cepet banget mbah, belum juga aku mikir!" kata Peno kaget, ternyata mbahnya sudah menjalankan bidaknya.
"main catur ya harus cepat, jangan biarkan lawan punya waktu berfikir lama!" ucap mbah Patma mengajari Peno.
"siap mbah, aku jalan ini, silahkan mbah kakung yang hitam jalan!" ujar Peno setelah melangkahkan bidaknya.
"tak!"
"aduh, kok dijitak lagi mbah!?" ucap Peno sedikit kesakitan, sebab jidatnya kena jitak mbah kakung lagi.
"biar otakmu encer, jadi harus banyak dijitak!" jawab mbah Patma sekenanya sambil menjalankan bidaknya lagi.
"hi hi hi hi.....,!" tawa Tono yang dari tadi melihat Peno dan mbah Patma main catur, tapi tak disadari oleh Peno.
"eh bocil, malah ketawa, nih, sana beli jajan!" kata Peno mengusir Tono dengan memberi uang lima ribu untuk membeli jajan.
Tono pun langsung menyambar uang itu dan langsung kabur menuju warung tetangga, beruntung didepan ketemu dengan ibunya yang baru pulang dari warung, jadilah ia diantar ibunya kewarung.