NovelToon NovelToon
After Moon : Sekutu Di Paleside

After Moon : Sekutu Di Paleside

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Murdoc H Guydons

*Update tiap hari*

Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.

Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.

Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.

Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.

Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 - "Kami Bukan Bandit"

"Apa yang... apa yang kau lakukan di sini?" bisik Ewan, matanya melirik cemas ke arah penjaga di luar.

"Aku yang seharusnya bertanya!" balas Fiora, suaranya bergetar, campuran antara bingung dan kecewa.

"Surat terakhirmu bilang pekerjaanmu dipindahkan ke Bregen!"

Ewan tidak menjawab. Rahangnya mengeras, penuh dengan konflik yang tak terucapkan. Ia menggeleng pelan, seolah tak sanggup menatap mata sepupunya, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan sel kami sebelum percakapan itu menarik perhatian bandit lain.

Malam merayap lambat dan dingin menggigit tulang.

Para pedagang akhirnya menyerah pada lelah dan tertidur diatas tanah dingin, tapi aku tetap terjaga. Sepertinya hari baru sudah dimulai dengan terbitnya Fajar.

Dalam posisi dudukku yang terikat, aku memejamkan mata, dan menggumamkan bait-bait doa dalam hati—sebuah ritual yang kulakukan sebisanya karena terikat, untuk mencari ketenangan di tengah kekacauan. Setidaknya ini membuatku jauh lebih logis dalam setiap pengambilan keputusan.

Setelahnya aku juga mencoba merasakan keberadaan batonku, memfokuskan Daya-ku ke luar, mencari getaran Sigil-ku. Tapi tidak ada apa-apa.

Setelah aku membuka mata, kembali pada realitas penjara dingin dan lembap.

Kulihat Fiora menatap kearahku, dengan mata coklat madunya yang sembap, tapi penuh rasa ingin tahu.

“Kau selalu melakukannya Zane? Berdoa seperti tadi?”

Tampaknya ia memperhatikan ritual doa yang kulakukan tadi, meskipun terbatas dengan tangan terikat dan hanya isyarat mata.

“Ya, lima kali sehari” jawabku datar.

“Oh ya? Bahkan di kondisi seperti ini? apa itu tidak terlalu banyak?” tanyanya penasaran.

“Ditengah dunia yang kacau ini? Harusnya lebih banyak lagi.” Jawabku sambil tersenyum miring.

Pikiranku masih terasa sedikit terganggu. Kehadiran pria tadi—Ewan—adalah sebuah anomali. Ia bukan sekadar bandit; ada hubungan personal di sini. Ini adalah informasi, dan informasi adalah kunci untuk bertahan hidup.

"Pria kemarin," tanyaku mencoba mencari tahu, "Dia mengenalmu."

Fiora menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke lantai tanah. "Dia Ewan... kakak sepupuku," bisiknya dengan suara parau. "Kami tumbuh bersama di Paleside. Dia bilang di pindah tugas ke ibu kota, upahnya cukup besar dan bisa untuk membantu pengobatan Ibu."

Suaranya mulai pecah. "Surat-suratnya selalu berisi kabar baik. Ia bercerita tentang hiruk pikuk Bregen, tentang pekerjaannya di toko kelontong. Semuanya terdengar baik-baik saja." Ia menatapku nanar. "Dia bukan jahat, Zane. Dia membenci kekerasan. Aku tidak mengerti... aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi padanya."

Suaranya pecah di akhir kalimat, penuh dengan kekecewaan.

Aku hanya bisa diam, membiarkan pertanyaan itu menggantung.

.... . ....

Matahari semakin tinggi. Aktivitas di kamp mulai terlihat. Sembari mencoba merasakan keberadaan batonku lewat koneksi Sigil—yang sayangnya nihil—aku mengamati dinamika kamp ini.

Perpecahan di dalam kamp menjadi semakin jelas.

Kelompok Ewan, yang jumlahnya lebih sedikit, cenderung berkumpul di dengan sesamanya. Mereka berbicara dengan suara pelan, berbagi makanan mereka yang tampak sedikit, dan wajah mereka lebih menunjukkan kelelahan daripada kekejaman.

Di sisi lain, kelompok si Gora mendominasi area bekas api unggun utama. Mereka lebih berisik, tertawa kasar, dan sesekali aku melihat mereka bertaruh dengan kartu-kartu Shiftd yang sudah usang. Tatapan mereka pada kelompok Ewan penuh cemoohan.

Namun, mataku menangkap detail lain yang kontradiktif di kandang hewan.

Puluhan ekor Kuda Batu terikat di sana. Anehnya, hewan-hewan itu terlihat bugar dan terawat.

Aku menyipitkan mata. Manusia di sini kelaparan sampai tulang rusuknya menonjol, tapi hewan tunggangan diberi makan kenyang. Kelompok ini memiliki tenaga yang cukup untuk menyerang sebuah desa kecil, kurasa mereka sedang merencanakan pergerakan besar.

Perpecahan, kelaparan dan kemungkinan pergerakan, ini adalah saat genting bagi kelompok bandit ini.

Beberapa jam kemudian, saat sebagian besar bandit sedang keluar—kurasa pergi berburu— terdengar suara berbisik dari sisi belakang sel yang tidak tampak dari depan.

Itu suara Ewan.

Aku melihat tatapan Fiora yang terkejut dan penuh harapan saat ia menoleh ke sumber suara. Aku menggeser tubuhku sedikit, memalingkan wajah ke dinding untuk memberi ilusi privasi, namun telingaku terbuka lebar menangkap setiap frekuensi suara.

"Fiora," bisiknya pelan, memastikan tidak ada bandit lain yang mendengarnya.

“Kak Ewan... jelaskan padaku," desak Fiora. "Apa yang terjadi?"

"Ssshhh.. kecilkan suaramu.” Potong Ewan gugup.

“Bregen... tidak seperti yang kubayangkan," ia memulai, suaranya parau. " Pekerjaanku tidak berlangsung lama. Aku dipecat, karena difitnah orang desa tidak kompeten. Aku mencoba segalanya, menjadi kuli angkut, pembersih selokan... tapi semua uangku habis hanya untuk bertahan hidup.”

Suaranya bergetar menahan malu. "Aku gagal, Fiora. Dan aku terlalu pengecut untuk pulang dan mengakui aku pecundang."

"Lalu... menjadi bandit lebih baik daripada menjadi pecundang?" tembak Fiora tajam, suaranya bergetar.

"Kau salah paham," potong Ewan cepat, nada suaranya sedikit meninggi membela diri.

"Aku bertemu kelompok ini saat nyaris mati kelaparan di jalanan, saat mencoba peruntungan di Cragspire. Waktu itu... kami punya pemimpin. Di bawah ‘Ketua’, kami berbeda. Kami hanya mengambil dari karavan pajak pemerintah yang korup—uang yang mereka peras dari desa tapi tak pernah kembali ke rakyat. Kami tidak pernah menyentuh warga biasa.”

Ewan mendekatkan wajahnya ke celah kayu, suaranya penuh penekanan.

"Kami bukan bandit. Kami lebih dari apa yang kau lihat, Fiora. Kami tahu apa yang salah dengan keadaan ini. Bagi kami saat itu, ini adalah perlawanan. Cara bertahan hidup tanpa harus menjadi monster."

Ia berhenti sejenak, bahunya merosot. Suaranya berubah getir.

“Tapi kemudian, Ketua tertangkap. Kawanan kami berubah. Sekarang... sekarang aku tidak tahu lagi siapa kami." Ewan mengakhiri ceritanya, suaranya terdengar lirih dan getir.

"Kalau begitu ayo pulang," pinta Fiora, matanya berkaca-kaca. "Kau selalu punya kamar di rumah Kak. Kita lupakan tempat ini. Pulang ke Paleside."

“Tidak semudah itu Fiora.” Ewan menelan ludah, melirik ke sekitar. “Aku akan mencoba mengeluarkanmu.”

Suara langkah kakinya terdengar menjauh.

Aku tetap diam, memproses informasi baru itu.

Jadi, ini bukan satu kelompok, tapi dua: sisa-sisa pengikut 'Ketua' yang naif, dan gerombolan si Gora yang brutal. Janji Ewan untuk membantu hanyalah harapan kelompok yang lebih lemah.

Aku tidak akan mempertaruhkan nyawaku pada janji itu.

Tapi satu hal yang pasti: saat dua predator bertarung memperebutkan teritori, mangsa yang cerdas tidak hanya lari. Mangsa yang cerdas akan mengadu domba mereka.

Perlahan tapi pasti, Daya-ku mulai kembali terisi. Dan aku menemukan kunci untuk memicu kericuhan di luar sana: Kuda Batu.

1
CACASTAR
ini cerita tentang pemburu hewan sejenis predator, kan ya...
Greta Ela🦋🌺
Mungkin mereka lebih sayang sama peliharaannya kali🤭
Indira Mr
apakah kulit hewan buas dijual belikan
Murdoc H Guydons: Bisa dong Kak.. d olah jadi pakaian biasanya..😬
total 1 replies
Indira Mr
benar lebih baik memikirkan sol sepatu daripada memikirkan hal hal yang beratin pikiran🚀🚀🚀
Murdoc H Guydons: haha.. ga nyampe mikir jauh",, kalo yang urusan yang deket msih bermasalah Kak..😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
mirip anime 👍 genre fantasi petualang
Murdoc H Guydons: Ya.. betul Kak.. rata" anime petualangan mirip sih settingny Kak.. 🤭
total 1 replies
Jing_Jing22
ada visualnya pasti lebih seru/Chuckle/
Murdoc H Guydons: Ada sih.. tapi belum rampung.. kalau udah jadi nanti d posting y Kak.. 😬
total 1 replies
Jing_Jing22
apakah tarker itu detektip??
Jing_Jing22: Ooh, jadi lebih ke arah penjelajah dan peneliti ya Kak?
total 2 replies
Serena Khanza
ini tarker macam kek forum atau organisasi atau kelompok gitu ya
Serena Khanza: oh kayak di game gitu ya aliansi gitu ya
total 2 replies
Wida_Ast Jcy
Lah adiknya hilang ya thor
Murdoc H Guydons: Iya Kak.. emang premis utamanya nyari adeknya yang hilang Kak.. slow pace banget ya Kak? hehe.. 😅
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
seram amat sich thor gak kebayang wujudnya giman🤔🤔🤔
Murdoc H Guydons: hehe.. iya.. gitu deh Kak.. 🙏🏻
total 1 replies
studibivalvia
kalo domba harusnya lebih lembut lagi ga sih? apalagi kalo domba muda
Murdoc H Guydons: wah saya juga belum riset tentang tekstur daging dombanya sih Kak.. ntar d riset dulu yak.. habis itu kita buat deskripsi detailny d buki 3.. 🤭😀
total 3 replies
studibivalvia
rendang adalah fav akuu 😭
Murdoc H Guydons: d buku 3 nanti, kita bikin deskripsi yg lebih sedap ya...hahaha..
total 1 replies
studibivalvia
blum dijelasin yaa tarker itu apaan
Murdoc H Guydons: Lanjut Kak.. ada di episode 3.. 😀
total 1 replies
Fra
Yah, begitulah masalah
Pas kita lari, dia datang
Murdoc H Guydons: kaya angkot.. 🤭
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Serem banget mereka berdua ini thor
Mau betumbuk kah mereka?😭
Murdoc H Guydons: Ada di episode selanjutnya Kak.. 👍🏻😀
total 1 replies
Murdoc H Guydons
Iya Kak.. Premis utamanya memang Zane mencari adiknya.. 😬
🍾⃝ ʀɪͩɪᷞᴀͧʟᷡᴢͣ
baca cerita ini jadi inget film Avatar
Murdoc H Guydons: Hehe.. Post apocalyptic tipis tipis Kak.. 😬
total 1 replies
Hunk
Ceritanya disampaikan dari sudut pandang orang pertama, jadi terasa lebih dekat seolah kita ikut masuk ke dalam ceritanya. Bagus banget!
Hunk
Jadi solo leveling susah banget apalagi kalau salah sedikit udah nyawamu melayang
Murdoc H Guydons: Iya Kak.. tapi d setting dunia ini,, semua Tarker awal pasti pada nge solo dulu,, makanya misi yang diambil juga yang ringan-ringan aja..

Kantor juga ga bakal ngijinin kerjaan yang berat Kak.. 😬😅
total 1 replies
Indira Mr
adiknya hilang..???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!