*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 - "Kami Bukan Bandit"
"Apa yang... apa yang kau lakukan di sini?" bisik Ewan, matanya melirik cemas ke arah penjaga di luar.
"Aku yang seharusnya bertanya!" balas Fiora, suaranya bergetar, campuran antara bingung dan kecewa.
"Surat terakhirmu bilang pekerjaanmu dipindahkan ke Bregen!"
Ewan tidak menjawab. Rahangnya mengeras, penuh dengan konflik yang tak terucapkan. Ia menggeleng pelan, seolah tak sanggup menatap mata sepupunya, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan sel kami sebelum percakapan itu menarik perhatian bandit lain.
Malam merayap lambat dan dingin menggigit tulang.
Para pedagang akhirnya menyerah pada lelah dan tertidur diatas tanah dingin, tapi aku tetap terjaga. Sepertinya hari baru sudah dimulai dengan terbitnya Fajar.
Dalam posisi dudukku yang terikat, aku memejamkan mata, dan menggumamkan bait-bait doa dalam hati—sebuah ritual yang kulakukan sebisanya karena terikat, untuk mencari ketenangan di tengah kekacauan. Setidaknya ini membuatku jauh lebih logis dalam setiap pengambilan keputusan.
Setelahnya aku juga mencoba merasakan keberadaan batonku, memfokuskan Daya-ku ke luar, mencari getaran Sigil-ku. Tapi tidak ada apa-apa.
Setelah aku membuka mata, kembali pada realitas penjara dingin dan lembap.
Kulihat Fiora menatap kearahku, dengan mata coklat madunya yang sembap, tapi penuh rasa ingin tahu.
“Kau selalu melakukannya Zane? Berdoa seperti tadi?”
Tampaknya ia memperhatikan ritual doa yang kulakukan tadi, meskipun terbatas dengan tangan terikat dan hanya isyarat mata.
“Ya, lima kali sehari” jawabku datar.
“Oh ya? Bahkan di kondisi seperti ini? apa itu tidak terlalu banyak?” tanyanya penasaran.
“Ditengah dunia yang kacau ini? Harusnya lebih banyak lagi.” Jawabku sambil tersenyum miring.
Pikiranku masih terasa sedikit terganggu. Kehadiran pria tadi—Ewan—adalah sebuah anomali. Ia bukan sekadar bandit; ada hubungan personal di sini. Ini adalah informasi, dan informasi adalah kunci untuk bertahan hidup.
"Pria kemarin," tanyaku mencoba mencari tahu, "Dia mengenalmu."
Fiora menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke lantai tanah. "Dia Ewan... kakak sepupuku," bisiknya dengan suara parau. "Kami tumbuh bersama di Paleside. Dia bilang di pindah tugas ke ibu kota, upahnya cukup besar dan bisa untuk membantu pengobatan Ibu."
Suaranya mulai pecah. "Surat-suratnya selalu berisi kabar baik. Ia bercerita tentang hiruk pikuk Bregen, tentang pekerjaannya di toko kelontong. Semuanya terdengar baik-baik saja." Ia menatapku nanar. "Dia bukan jahat, Zane. Dia membenci kekerasan. Aku tidak mengerti... aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi padanya."
Suaranya pecah di akhir kalimat, penuh dengan kekecewaan.
Aku hanya bisa diam, membiarkan pertanyaan itu menggantung.
.... . ....
Matahari semakin tinggi. Aktivitas di kamp mulai terlihat. Sembari mencoba merasakan keberadaan batonku lewat koneksi Sigil—yang sayangnya nihil—aku mengamati dinamika kamp ini.
Perpecahan di dalam kamp menjadi semakin jelas.
Kelompok Ewan, yang jumlahnya lebih sedikit, cenderung berkumpul di dengan sesamanya. Mereka berbicara dengan suara pelan, berbagi makanan mereka yang tampak sedikit, dan wajah mereka lebih menunjukkan kelelahan daripada kekejaman.
Di sisi lain, kelompok si Gora mendominasi area bekas api unggun utama. Mereka lebih berisik, tertawa kasar, dan sesekali aku melihat mereka bertaruh dengan kartu-kartu Shiftd yang sudah usang. Tatapan mereka pada kelompok Ewan penuh cemoohan.
Namun, mataku menangkap detail lain yang kontradiktif di kandang hewan.
Puluhan ekor Kuda Batu terikat di sana. Anehnya, hewan-hewan itu terlihat bugar dan terawat.
Aku menyipitkan mata. Manusia di sini kelaparan sampai tulang rusuknya menonjol, tapi hewan tunggangan diberi makan kenyang. Kelompok ini memiliki tenaga yang cukup untuk menyerang sebuah desa kecil, kurasa mereka sedang merencanakan pergerakan besar.
Perpecahan, kelaparan dan kemungkinan pergerakan, ini adalah saat genting bagi kelompok bandit ini.
Beberapa jam kemudian, saat sebagian besar bandit sedang keluar—kurasa pergi berburu— terdengar suara berbisik dari sisi belakang sel yang tidak tampak dari depan.
Itu suara Ewan.
Aku melihat tatapan Fiora yang terkejut dan penuh harapan saat ia menoleh ke sumber suara. Aku menggeser tubuhku sedikit, memalingkan wajah ke dinding untuk memberi ilusi privasi, namun telingaku terbuka lebar menangkap setiap frekuensi suara.
"Fiora," bisiknya pelan, memastikan tidak ada bandit lain yang mendengarnya.
“Kak Ewan... jelaskan padaku," desak Fiora. "Apa yang terjadi?"
"Ssshhh.. kecilkan suaramu.” Potong Ewan gugup.
“Bregen... tidak seperti yang kubayangkan," ia memulai, suaranya parau. " Pekerjaanku tidak berlangsung lama. Aku dipecat, karena difitnah orang desa tidak kompeten. Aku mencoba segalanya, menjadi kuli angkut, pembersih selokan... tapi semua uangku habis hanya untuk bertahan hidup.”
Suaranya bergetar menahan malu. "Aku gagal, Fiora. Dan aku terlalu pengecut untuk pulang dan mengakui aku pecundang."
"Lalu... menjadi bandit lebih baik daripada menjadi pecundang?" tembak Fiora tajam, suaranya bergetar.
"Kau salah paham," potong Ewan cepat, nada suaranya sedikit meninggi membela diri.
"Aku bertemu kelompok ini saat nyaris mati kelaparan di jalanan, saat mencoba peruntungan di Cragspire. Waktu itu... kami punya pemimpin. Di bawah ‘Ketua’, kami berbeda. Kami hanya mengambil dari karavan pajak pemerintah yang korup—uang yang mereka peras dari desa tapi tak pernah kembali ke rakyat. Kami tidak pernah menyentuh warga biasa.”
Ewan mendekatkan wajahnya ke celah kayu, suaranya penuh penekanan.
"Kami bukan bandit. Kami lebih dari apa yang kau lihat, Fiora. Kami tahu apa yang salah dengan keadaan ini. Bagi kami saat itu, ini adalah perlawanan. Cara bertahan hidup tanpa harus menjadi monster."
Ia berhenti sejenak, bahunya merosot. Suaranya berubah getir.
“Tapi kemudian, Ketua tertangkap. Kawanan kami berubah. Sekarang... sekarang aku tidak tahu lagi siapa kami." Ewan mengakhiri ceritanya, suaranya terdengar lirih dan getir.
"Kalau begitu ayo pulang," pinta Fiora, matanya berkaca-kaca. "Kau selalu punya kamar di rumah Kak. Kita lupakan tempat ini. Pulang ke Paleside."
“Tidak semudah itu Fiora.” Ewan menelan ludah, melirik ke sekitar. “Aku akan mencoba mengeluarkanmu.”
Suara langkah kakinya terdengar menjauh.
Aku tetap diam, memproses informasi baru itu.
Jadi, ini bukan satu kelompok, tapi dua: sisa-sisa pengikut 'Ketua' yang naif, dan gerombolan si Gora yang brutal. Janji Ewan untuk membantu hanyalah harapan kelompok yang lebih lemah.
Aku tidak akan mempertaruhkan nyawaku pada janji itu.
Tapi satu hal yang pasti: saat dua predator bertarung memperebutkan teritori, mangsa yang cerdas tidak hanya lari. Mangsa yang cerdas akan mengadu domba mereka.
Perlahan tapi pasti, Daya-ku mulai kembali terisi. Dan aku menemukan kunci untuk memicu kericuhan di luar sana: Kuda Batu.
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭