Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Auditor Bayangan
Gedung Mahardika Group menjulang tinggi sebagai monumen kesuksesan di jantung Jakarta, namun bagi Baskara, setiap lantai bangunan ini dibangun di atas pondasi pengkhianatan. Pagi itu, ia berdiri di lobi utama, menatap pantulan dirinya di dinding kaca—seorang pria yang tampak tenang, patuh, dan telah "insaf" dari pemberontakannya sepuluh tahun lalu.
Di ruang kerja ayahnya, suasana terasa lebih hangat dari biasanya. Baskoro duduk di balik meja mahagoni besarnya, memberikan senyum bangga yang jarang terlihat.
"Aku sudah menyiapkan kursi Direktur Operasional untukmu, Baskara. Kau punya kuasa penuh untuk merestrukturisasi manajemen dari sana," ujar Baskoro.
Sarah, yang duduk di sofa panjang sambil menyesap teh, menatap Baskara dengan mata menyipit. "Itu posisi yang sangat strategis, Baskara. Ibu harap kau bisa menjaga stabilitas yang sudah susah payah kami bangun."
Baskara tersenyum tipis, sebuah topeng yang sempurna. "Terima kasih, Ayah. Tapi aku tidak ingin posisi yang membuatku hanya duduk di balik meja eksekutif. Aku ingin berada di tempat di mana aku bisa melihat kesehatan perusahaan ini dari akarnya."
Baskoro mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Aku ingin memimpin Divisi Audit Internal," jawab Baskara tegas.
Hening sejenak. Sarah meletakkan cangkir tehnya dengan denting kecil yang tajam. Divisi Audit adalah wilayah yang "kering" bagi mereka yang mengejar kekuasaan, namun merupakan ancaman mematikan bagi siapa pun yang menyembunyikan bangkai dalam laporan keuangan.
"Audit?" Sarah tertawa kecil, meskipun matanya tidak ikut tertawa. "Itu pekerjaan yang membosankan, Baskara. Isinya hanya tumpukan kertas dan angka-angka yang memusingkan."
"Justru itu tempat terbaik untuk belajar, Sarah," sahut Baskara tanpa melepaskan kontak mata. "Aku ingin memastikan tidak ada kebocoran aset di kapal sebesar ini. Bukankah itu demi kebaikan kita semua?"
Baskoro tertawa bangga, menepuk meja. "Luar biasa! Kau memang memiliki visi yang tajam. Baiklah, Audit Internal di bawah kendalimu mulai hari ini."
Pertemuan di Sarang Serigala
Lantai tujuh, Divisi Audit Internal, terasa jauh lebih sunyi dibandingkan lantai eksekutif. Baskara melangkah masuk ke ruang kerjanya yang baru, sebuah ruangan dengan partisi kaca yang memungkinkannya mengawasi seluruh staf.
Namun, kejutan pertama sudah menunggu di sana.
Seorang gadis berdiri di samping meja kerjanya, sedang merapikan tumpukan map. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam, rambutnya diikat rapi. Wajahnya tetap menunjukkan ketenangan yang kaku, namun Baskara bisa melihat sedikit kegelisahan di jemarinya.
"Alea?" Baskara mengangkat alisnya.
Gadis itu mendongak, sedikit tersentak namun segera membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak Baskara. Nyonya Sarah menugaskan saya untuk diperbantukan di sini sebagai asisten pribadi Anda. Nyonya bilang, Anda mungkin butuh seseorang yang sudah paham alur administrasi pusat."
Baskara menyandarkan tubuhnya di ambang pintu, bersedekap. Ia tahu betul maksud Sarah. Alea bukan dikirim untuk membantunya, melainkan untuk menjadi mata-mata yang akan melaporkan setiap dokumen yang ia buka dan setiap nama yang ia selidiki.
"Begitu ya? Sarah memang sangat perhatian," gumam Baskara. Ia melangkah mendekati Alea, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma lembut melati dari rambut gadis itu—aroma yang terasa terlalu murni untuk tempat yang penuh intrik ini.
Alea mundur satu langkah, wajahnya tetap menunduk. "Saya sudah menyiapkan daftar aset yang sedang diaudit tahun ini, Pak."
"Jangan panggil aku 'Pak' jika kita hanya berdua, Alea," bisik Baskara, suaranya kini terdengar lebih rendah dan bersahabat, mulai meluncurkan fase infiltrasinya. "Di rumah, kita adalah keluarga. Di sini... aku butuh seseorang yang bisa kupercayai lebih dari siapa pun. Apakah aku bisa mempercayaimu?"
Alea mendongak, matanya bertemu dengan mata tajam Baskara. Untuk sesaat, ia tampak bingung dengan perubahan nada bicara pria itu. "Saya... saya akan menjalankan tugas saya dengan baik, Baskara."
Baskara tersenyum, kali ini senyum yang tampak tulus namun menyembunyikan niat yang mematikan. "Bagus. Karena aku punya banyak pekerjaan besar untukmu."
Langkah Pertama di Papan Catur
Malam harinya, Baskara duduk di sebuah kafe tersembunyi, menunggu seseorang. Tak lama kemudian, Reno muncul dengan topi bisbol yang ditarik rendah.
"Audit Internal? Langkah cerdas, Baskara," ujar Reno sambil menggeser sebuah laptop ke arah temannya. "Aku sudah berhasil menanam backdoor di server keuangan pusat melalui ID aksesmu. Tapi ada satu masalah."
"Apa?"
"Semua transaksi di atas lima miliar membutuhkan otorisasi biometrik ganda. Salah satunya adalah Sarah, dan yang lainnya adalah sekretaris pribadinya—gadis bernama Alea itu."
Baskara tertegun sejenak. Ia baru menyadari bahwa Alea bukan sekadar asisten, tapi kunci hidup. Sarah telah membangun benteng yang sangat cerdik; ia melibatkan Alea dalam lapisan keamanan tertinggi sehingga jika terjadi sesuatu, Alea-lah yang akan terseret paling dalam sebagai tameng hukum.
"Alea adalah kuncinya," bisik Baskara. "Aku tidak hanya harus mendekatinya untuk mencari informasi, tapi aku harus membuatnya menyerahkan kunci itu padaku secara sukarela."
Baskara menatap ke luar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Target utamanya tetap Sarah, tapi Alea kini menjadi bidak paling krusial di papan caturnya. Ia akan berpura-pura menjadi pelindung bagi gadis itu, sementara di balik layar, ia akan menggunakan setiap inci kepercayaan Alea untuk menghancurkan wanita yang selama ini dipuja Alea sebagai dewi penyelamat.