NovelToon NovelToon
Gema Di Langit Verona

Gema Di Langit Verona

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Duniahiburan / Mafia / Cintapertama
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: SHEENA My

Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
​Namun, Verona tidak pernah melupakan.
​Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
​Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

labirin Pengkhianatan

​Udara di ruang bawah tanah itu seolah membeku. Cahaya lampu darurat yang merah berdenyut seperti detak jantung yang sekarat, menyinari foto tua di tangan Elena. Di dalam foto itu, senyum Isabella muda tampak begitu tulus—sesuatu yang mustahil ditemukan pada wanita yang kini berdiri dengan napas memburu di depan Matteo.

​Elena merasakan jemarinya mendingin. Foto itu adalah bukti dari sebuah dunia yang tidak pernah ia ketahui. "Kenapa ayahku... ada di foto ini bersamamu, Isabella?" suara Elena nyaris tidak terdengar, namun setiap kata terasa seperti hantaman palu di ruangan sunyi itu.

​Isabella memperbaiki posisi berdirinya, meskipun punggungnya pasti terasa sakit akibat benturan tadi. Wanita tua itu merapikan rambutnya yang berantakan dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah ia tidak baru saja mencoba membunuh putranya sendiri.

​"Dunia ini tidak seputih yang kau bayangkan, Gadis Moretti," Isabella berkata dengan nada sinis. "Ayahmu adalah pria yang penuh gairah, namun pengecut. Kami mencintai satu sama lain jauh sebelum keluarga Valenti dan Moretti memutuskan untuk saling menghancurkan. Namun, demi kekuasaan, dia memilih ibumu, Marcella, dan membiarkanku menjadi tawanan dalam pernikahan tanpa cinta dengan ayah Matteo."

​Matteo mundur selangkah, matanya menatap foto itu dengan kebencian yang baru. "Jadi, perang ini... semua darah yang tumpah selama sepuluh tahun terakhir... hanya karena kecemburuan seorang wanita?"

​"Bukan hanya kecemburuan, Matteo! Ini tentang pengkhianatan!" Isabella berteriak, suaranya menggema di lorong-lorong perpustakaan. "Daftar Gema Verona itu bukan dibuat oleh Moretti untuk keadilan. Itu dibuat oleh ayahmu dan ayah Elena bersama-sama untuk memeras seluruh pejabat Italia! Mereka adalah mitra kriminal sebelum mereka menjadi musuh!"

​Di luar, suara sirine polisi kini terdengar sangat dekat. Suara sepatu bot para petugas yang menyerbu gedung mulai terdengar dari lantai atas.

​"Kita harus pergi sekarang!" Luca muncul di pintu tangga, wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sangat tegang. "D'Angelo telah melaporkan adanya pencurian dokumen negara. Polisi Verona tidak akan mendengarkan penjelasan kita, mereka diperintah untuk menembak di tempat."

​Matteo segera merampas buku Gema Verona dari tangan Elena dan menyelipkannya ke balik jasnya. Pria itu menyambar pergelangan tangan Elena, menariknya dengan kasar agar wanita itu tersadar dari keterpakuannya.

​"Lepaskan aku!" Elena mencoba berontak. "Aku harus membawa ibuku! Matteo, kau berjanji!"

​"Jika kita tertangkap sekarang, ibumu akan benar-benar mati dalam sel itu tanpa ada yang tahu!" Matteo menatap mata Elena dengan intensitas yang melumpuhkan. "Ikuti aku jika kau ingin dia selamat. Kita harus keluar melalui jalur air sebelum mereka mengepung dermaga."

​Matteo menoleh ke arah ibunya yang masih berdiri di sana. "Ini terakhir kalinya aku menyebutmu sebagai Ibu. Jangan muncul lagi di hadapanku, atau aku akan memastikan namamu adalah yang pertama kuhancurkan dengan daftar ini."

​Tanpa menunggu jawaban, Matteo menarik Elena berlari menyusuri lorong bawah tanah yang mengarah ke pintu keluar darurat di tepi kanal. Luca mengawal di belakang, senjatanya sudah terkokang, siap menghadapi apa pun yang menghalangi jalan mereka.

​Langkah kaki mereka bergema di atas lantai yang basah. Elena berlari dengan gaun biru yang kini compang-camping, tangannya masih mencengkeram erat sapu tangan ibunya. Di kepalanya, gema suara Isabella terus berputar. Jika ayahnya memang seorang pemeras, maka seluruh perjuangannya selama ini didasarkan pada kebohongan.

​Mereka sampai di sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik dinding lumut. Saat Matteo membukanya, angin malam yang basah dari kanal langsung menyapu wajah mereka. Sebuah perahu motor hitam tanpa lampu sudah menunggu di sana.

​"Masuk!" perintah Matteo.

​Saat motor perahu itu menyala dengan suara halus, Elena menatap ke arah gedung perpustakaan yang kini dikepung lampu-lampu biru dan merah polisi. Di sana, di balik tembok batu yang dingin, ibunya masih tertahan. Dan di sampingnya, pria yang paling ia benci di dunia adalah satu-satunya pelindungnya.

​"Ke mana kita akan pergi?" tanya Elena saat perahu itu melesat membelah air kanal yang gelap.

​Matteo tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan, ke arah Danau Garda yang luas di kejauhan. "Ke tempat di mana gema Verona tidak bisa menjangkau kita. Untuk sementara."

​Dinding-dinding lorong bawah tanah itu seolah bergerak mendekat, menghimpit sisa-sisa kewarasan Elena. Foto tua yang tadi digenggamnya kini telah berpindah ke saku jas Matteo, namun bayangan wajah ayahnya dan Isabella yang tersenyum masih tercetak jelas di balik kelopak matanya. Setiap langkah pelarian ini terasa seperti berjalan di atas bara api. Sepatu tumit tingginya telah lama dilepaskan, membiarkan telapak kakinya yang halus bersentuhan langsung dengan lantai batu yang dingin, tajam, dan basah.

​"Cepat, Elena! Jangan kehilangan fokus sekarang!" suara Matteo terdengar seperti perintah dari dimensi lain.

​Pria itu mencengkeram jemari Elena begitu kuat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, wanita itu akan lenyap ditelan kegelapan. Mereka melewati deretan rak-rak arsip tua yang dipenuhi sarang laba-laba. Luca berada beberapa meter di depan, bergerak dengan kelincahan predator, memeriksa setiap tikungan lorong dengan moncong senjatanya yang mengarah ke depan.

​Di atas mereka, dentuman sepatu bot polisi terdengar semakin masif, bergetar melalui langit-langit batu. Suara teriakan dalam bahasa Italia yang tegas memerintahkan untuk menyisir setiap sudut gedung.

​"Mereka sudah di atas kepala kita!" Luca berbisik sambil memberi isyarat agar mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu yang lapuk.

​Matteo tidak menjawab. Ia menarik Elena masuk ke dalam celah kecil di balik pintu tersebut. Ruangannya sempit, berbau apak dan penuh dengan peralatan pembersih yang sudah berkarat. Di sini, dalam jarak yang begitu intim, Elena bisa mendengar deru napas Matteo yang berat namun terkendali. Mata pria itu berkilat dalam kegelapan, mencari jalan keluar di balik dinding yang tampak buntu.

​"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Elena akhirnya bicara, suaranya gemetar oleh kemarahan yang tertahan. "Tentang ibumu. Tentang ayahku. Kau tahu segalanya, bukan?"

​Matteo berhenti sejenak, tangannya masih meraba dinding batu untuk mencari tuas rahasia. Ia menoleh, menatap Elena dengan intensitas yang menyakitkan. "Aku baru tahu tentang foto itu saat kau membukanya tadi, Elena. Tapi tentang hubungan mereka... aku sudah lama mencurigainya. Itulah sebabnya aku merahasiakan ibumu dari Isabella. Aku tahu kebencian wanita itu bukan karena bisnis, tapi karena cinta yang dikhianati."

​"Dan sekarang kita lari seperti tikus?" Elena tertawa sinis, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Kau penguasa Verona, Matteo. Di mana harga dirimu sekarang?"

​"Harga diri tidak ada gunanya jika kau berakhir di balik jeruji besi atau dengan peluru di kepala," sahut Matteo dingin. Klik. Sebuah bagian dari dinding batu bergeser, menyingkap tangga menurun yang menuju langsung ke permukaan air kanal. "Masuk ke perahu. Sekarang."

​Mereka menuruni tangga yang licin. Di bawah, sebuah perahu motor hitam berdesain aerodinamis sudah menunggu di dalam ceruk gelap yang terhubung langsung dengan kanal luar. Luca melompat masuk ke posisi kemudi, sementara Matteo membantu Elena duduk di kursi belakang yang rendah agar tidak terlihat dari bibir kanal.

​Motor perahu itu menyala dengan suara dengung halus yang nyaris tak terdengar—sebuah mesin yang telah dimodifikasi khusus untuk operasi senyap. Saat perahu itu meluncur keluar dari persembunyian, cahaya biru dan merah dari mobil polisi yang terparkir di jembatan Ponte Pietra tampak memantul di permukaan air yang gelap.

​Elena memeluk tubuhnya sendiri, menggigil bukan karena dinginnya angin malam, melainkan karena kenyataan yang baru saja ia telan. Verona, kota yang ia anggap sebagai rumah, kini terasa seperti panggung sandiwara besar di mana semua orang mengenakan topeng.

​Matteo duduk di sampingnya, membuka buku kulit Gema Verona yang berhasil mereka ambil. Pria itu menyalakan senter kecil, cahaya putihnya menerangi halaman pertama yang penuh dengan nama dan angka-angka kriptik.

​"Lihat ini," Matteo menunjukkan sebuah nama yang digarisbawahi dengan tinta merah.

​Elena mendekat, matanya menyipit membaca tulisan tangan ayahnya yang rapi. Nama itu bukan milik keluarga D'Angelo, melainkan milik seorang jenderal kepolisian yang malam ini memimpin pengepungan di perpustakaan.

​"Ayahku tidak hanya memeras keluarga mafia," Elena berbisik, menyadari skala bahaya yang mereka hadapi. "Dia memegang leher para penegak hukum kota ini."

​"Itulah sebabnya mereka sangat ingin kita mati malam ini, Elena," Matteo menutup buku itu kembali dan menatap ke arah depan, di mana kanal mulai melebar menuju arah luar kota. "Bukan untuk keadilan, tapi untuk memastikan rahasia mereka tetap terkubur bersama Moretti terakhir."

​Perahu motor itu melaju semakin cepat, membelah air kanal yang tenang menjadi buih-buih putih. Di belakang mereka, siluet bangunan kuno Verona perlahan mengecil, namun gema pengkhianatannya terasa semakin keras mengikuti setiap putaran mesin.

1
May Tales
waw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!