NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Menolak Permintaan Nadia dan Hazel

"Jadi kamu?" tanya Maira ragu, matanya bergantian menatap Hazel dan wanita di hadapannya.

"Saya Nadia, istrinya Hazel Dinata!" jawab Nadia dengan senyum sumringah yang terlihat terlalu sempurna.

"Nadia... kenapa kamu enggak bilang kalau ada..." Hazel tampak sedikit terkejut. Wajahnya berubah tegang karena tak menyangka Maira ada di sana.

"Sayang, aku juga enggak sengaja ketemu Maira di dalam sana," jelas Nadia ringan, seolah pertemuan itu benar-benar tanpa rencana.

Suasana mendadak terasa canggung. Maira hanya membalas dengan senyum tipis sambil mengamati Nadia, yang menurutnya terlihat terlalu dibuat-buat.

"Maira, ayo duduk," ucap Nadia sambil menarik kursi.

Maira menurut dan kembali duduk, meski tubuhnya terasa kaku.

"Jadi wanita ini istri Anda, Pak Hazel? Wanita yang pernah Anda ceritakan waktu itu?" tanya Maira, suaranya terdengar tenang walau dadanya berdesir tak nyaman.

"Benar. Nadia istri saya. Dan dia..." Hazel menggantung kalimatnya, terlihat ragu.

"Meminta Anda untuk menjadikan saya madu Anda?" potong Maira langsung, menatap Hazel tanpa berkedip.

"Maira, maaf. Bukan maksud Hazel seperti itu," Nadia cepat-cepat menyela.

"Memang saya yang memaksa dia untuk bertemu kamu dan menawarkan hal itu."

Maira mengangkat alisnya tipis, menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Kamu tahu, aku butuh keturunan," ucap Nadia akhirnya.

Hazel menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah.

"Dan aku tidak mampu memberikannya untuk Hazel," lanjut Nadia lirih.

"Aku sudah tidak memiliki rahim."

Sorot matanya meredup, kesedihan tampak jelas di sana.

"Bukankah kalian bisa mengadopsi anak?" Maira mencoba memberi pilihan lain, suaranya melembut.

"Tapi aku ingin anak dari darah daging Hazel, Maira," jawab Nadia cepat.

 "Meski dia tidak lahir dari rahimku, setidaknya dia lahir dari benihnya Hazel."

"Nadia," tegur Hazel, nadanya tak suka dengan arah pembicaraan ini.

"Tapi maaf," ujar Maira sambil menggeleng pelan.

 "Saya tidak bisa memenuhi keinginan kalian. Lebih baik kalian mencari wanita lain yang memang wanita baik-baik saja."

"Kamu tahu kenapa aku memilih kamu?" Nadia tetap bersikeras.

 "Karena kamu ambisius, Maira. Karena bagi kamu uang adalah segalanya. Jadi aku yakin, setelah anak itu lahir, kamu tidak akan meminta lebih atau berusaha merebut Hazel. Itu tidak akan terjadi jika wanita lain."

"Bagaimana kamu bisa yakin kalau suatu hari nanti aku tidak akan merebut Pak Hazel dari kamu?" tanya Maira penasaran, suaranya terdengar datar.

"Karena yang kamu gilai hanyalah uang, bukan pria," jawab Nadia tanpa ragu.

Ucapan itu membuat Maira terdiam. Tangannya mengepal di atas meja, napasnya sedikit tertahan.

"Nadia!" tegur Hazel lagi, kali ini lebih keras.

"Haruskah kamu bicara seperti itu padanya?" lanjut Hazel kesal.

"Kalau dia tidak mau, kenapa kamu harus memaksa?"

Maira memijat pelipisnya pelan, lalu berdiri dari kursinya.

"Saya rasa jawaban saya tetap sama," ucapnya tegas.

"Saya menolak permintaan kalian."

Tanpa menunggu jawaban, Maira melangkah pergi meninggalkan Hazel dan Nadia, yang masih terlibat perdebatan kecil di dalam kafe, sementara suasana di meja itu semakin dingin dan tak nyaman.

***

Sementara itu, Maira terus berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan yang jelas. Ucapan Nadia barusan masih terngiang di kepalanya, menusuk harga dirinya tanpa ampun. Dadanya terasa sesak, tetapi ia memilih mengabaikannya dan mempercepat langkah, seolah ingin menjauh dari semuanya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Maira menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.

"Maira, ini aku, Nadia."

Maira langsung berhenti melangkah. Rahangnya mengeras.

"Ada apa lagi? Bukankah tadi jawaban saya sudah kamu dengar?" jawab Maira, suaranya mulai dipenuhi kekesalan.

"Aku akan membayar semua pengobatan papa kamu," ucap Nadia tanpa basa-basi.

"Aku juga akan melunasi semua hutang piutang kamu dengan Mami Rose, kalau kamu mau menerima tawaran aku."

Maira terdiam, langkah kakinya terasa berat.

"Aku mohon," lanjut Nadia dengan nada memohon.

"Hanya sampai kamu melahirkan keturunan untuk kami. Setelah itu kamu bebas, Maira. Bahkan aku akan membiayai hidup kamu setelah itu, ke mana pun kamu pergi."

"Kalau aku tetap enggak mau?" tanya Maira pelan, tapi tegas.

Di seberang sana, suara Nadia berubah dingin.

"Maaf, aku akan mengungkapkan siapa papa kamu ke semua orang," ancamnya.

"Ingat, kasus papa kamu itu tidak sesederhana yang kamu kira. Dia sudah menghilangkan nyawa seseorang."

Ancaman itu membuat Maira langsung bungkam. Tangannya bergetar saat menggenggam ponsel.

"Aku tunggu kabar baik dari kamu dalam dua puluh empat jam," ucap Nadia sebelum menutup telepon begitu saja.

Nada sambung terputus terdengar panjang di telinga Maira.

Maira panik. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Bagaimana bisa Nadia mengetahui masa kelam papanya? Padahal kejadian itu sudah sangat lama berlalu. Ia bahkan sudah mengganti identitas sang ayah agar tak ada seorang pun tahu bahwa papanya adalah Gunawan Sanjaya, pengusaha yang dulu terseret kasus kebakaran pabrik yang menewaskan puluhan karyawannya.

Saat ini, papanya bahkan menderita penyakit Alzheimer dan dirawat di salah satu rumah sakit. Selama ini, keberadaannya benar-benar dirahasiakan. Tak ada yang tahu di mana dia berada.

Justru itulah yang membuat Maira semakin gelisah. Semua ini terasa janggal. Bagaimana mungkin Nadia bisa mengetahui siapa papanya, bahkan sampai tahu di mana dia berada.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!