Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
untuk balas dendam
Meski sudah berusaha sekuat tenaga untuk tegar dan mencoba ikhlas, tetap saja air matanya sulit untuk ia kendalikan, beberapa kali ia mengusap sudut matanya agar air matanya itu tak kembali merusak riasannya.
Si penata rias kembali menghela napas nya, mungkin dia kesal harus memperbaiki riasan matanya berulang kali.
" kamu kenapa sih mbak, dinikahi suami tampan dan mapan malah nangis bombay kayak gini, banyak loh yang berharap ada di posisi mu mbak."
Kalau kamu mau ya gantiin aku aja, andai saja bisa lari meski sangat kecil kemungkinannya, mungkin aku sudah membawa ayah ku kabur jauh-jauh dari pria psikopat itu! Pekik nya dalam hati
Tapi ia memilih untuk diam agar semuanya tidak semakin rumit.
Dug dug dug,
Arina yang baru selesai mengenakan piyama tidur nya terlonjak kaget mendengar pintu kamar nya nyaris di dobrak malam itu.
Ia tidak tau siapa yang melakukannya, tapi ia sudah menduga nya, seperti dugaan nya, saat ia membuka pintu, ia menemukan Alvian menjulang di depannya.
" kamu bisa ketuk baik-baik nggak! Katanya orang kaya tapi kok attitude nya minus!" sarkas nya membuat Alvian melotot karena kesal.
" apa kamu baru saja mengatai ku?" meski suaranya tak melebihi teriakan nya barusan, tapi nada serta tatapan nya sangat mengintimidasi. Arina sampai kesusahan menelan saliva nya.
" Sekarang kamu siap-siap, lalu ikut aku!" perintah nya lalu melenggang pergi.
Arina bergedik ngeri, ia seperti melihat sosok lain di balik kalem nya wajah Alvian, sembari menerka-nerka ia mempersiapkan diri. Sengaja ia lama-lamain karena otak nya sibuk berspekulasi buruk.
Bagaimana kalau ternyata Alvian mengikuti sekte aliran sesat, makanya dia ngotot banget menikahinya karena ia akan di jadikan tumbal.
Di tengah-tengah pikirannya yang sudah jauh melanglang buana, suara pintu kembali di gedor. Sial! Dia terjingkat untuk kedua kalinya.
" nggak usah dandan! Mau di apa-apain juga wajah mu nggak akan berubah jadi Cinderella!" semprot nya saat ia membuka pintu. Siapa yang dandan, masa orang yang mau di jadikan tumbal dandan dulu, pekik nya dalam hati, namun beberapa saat kemudian ketakutan mendera nya.
Bagaimana kalau dugaan nya benar, kalau dugaan nya benar, ia harus menyusun strategi untuk lepas dari psikopat ini lalu membawa lari Ayahnya kemanapun asal jauh dari Alvian.
" heh! Malah bengong! Ayo cepetan."
Dengan bibir mencebik, Arina mengikuti Alvian menuju parkiran, ia sibuk menggerutui pria aneh itu.
" kita mau kemana?" Arina gelisah karena sedari tadi Alvian diam saja, dugaan nya yang tak berdasar membuat nya ketakutan.
" katanya mau tau alasan ku menikahi mu" Arina menelan saliva nya dengan susah payah. Tubuh nya tremor seketika, otak nya dengan cepat memikirkan segala cara terbaik untuk melarikan diri.
Bayangan kalau ia akan di bawa ke tanah lapang di tengah hutan terpatahkan saat pria itu membunyikan klaksonnya di depan gerbang sebuah rumah yang tak kalah besar dari rumah nya.
Seorang satpam berlari untuk membukakan gerbang untuk Alvian.
" apa ritual nya akan dilakukan di dalam." lirih nya yang masih bisa di tangkap oleh telinga Alvian.
" ritual apa?" Arina terlonjak mendengar sautan Alvian, bibirnya memucat , kalau Alvian tau dia sudah tau niat buruknya, kemungkinan peluang untuk ia melarikan diri semakin sulit.
Alvian menyeringai saat melihat wajah nya yang kian memucat." cepat keluar! Kita akan melewatkan waktu baik nya kalau kamu lelet seperti ini." pria itu keluar lebih dulu. Melihat Alvian yang menunggunya sembari menunduk melihat ponselnya, ia rasa ini waktu yang tepat untuk lari karena gerbang masih belum di tutup, satpam masih berada di dalam pos nya.
Dengan cepat ia berlari keluar setelah keluar dari mobil. " heh! Kemana kamu! Cepat tangkap wanita itu" teriak Alvian murka, Arina kalang kabut saat dua orang satpam mengejarnya, langkah nya yang pendek karena tubuh mungil nya membuat nya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
" tidaaak! Lepasin gue Anjing!" pekik nya mencoba berontak sekuat tenaga saat ia berhasil di tangkap oleh dua satpam itu.
" nyonya mohon kerjasamanya agar anda tidak terluka." Arina berusaha menahan tubuhnya saat tangan nya di tarik oleh kedua orang berbadan besar itu, mulut nya sibuk berteriak minta tolong.
Tapi sial! Beberapa kendaraan yang lewat mengabaikan nya, mungkin karena mereka berpikir kalau Arina telah melakukan kriminal sehingga ia di tangkap oleh keamanan setempat.
" beraninya kamu kabur dari ku."
Arina terkesiap saat pipinya di tampar oleh Alvian dengan keras, dada pria itu naik turun, wajah nya memerah karena murka yang menguasai nya.
Arina yang tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik sedari kecil menangis tersedu-sedu, pipinya terasa sangat panas.
" lo gila ya! " teriak nya seraya memegangi sebelah pipinya, matanya menatap nyalang.
" aku akan lebih gila lagi kalau kamu berani kabur lagi dari ku!" desisnya penuh intimidasi seraya menarik paksa tangannya, entah iblis seperti apa yang menikahi nya ini, mereka tidak kenal tapi dengan teganya ia di jadikan tumbal sekte aliran sesat.
Alvian menyeret nya menuju sebuah kamar, lalu mendorong nya hingga ia tersungkur di sebelah ranjang, di atas nya ada seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahunan tengah tidur lelap, seakan keributan yang di ciptakan oleh nya dan juga Alvian bukanlah apa-apa.
Arina seperti tidak asing dengan wajah anak itu, tapi ia lupa dimana mereka sempat bertemu.
" kau lihat gadis kecil itu?" tunjuk Alvian dengan tangan bergetar, matanya memerah, wajah nya mengeras menahan amarah.
Arina kesusahan menelan saliva nya sehingga ia belum sempat menjawab pertanyaan Alvian, ia terkesiap saat merasa rambut nya di tarik dengan kuat hingga wajah nya mendongak ke atas.
" kamu lihat gadis itu, dia kehilangan masa depannya karena ulah ayah mu! dan kau yang harus mempertanggungjawabkan nya."
Seketika ia paham dengan apa yang terjadi, kenapa Alvian diam saja saat mereka di gerebek massa, saat alvian ngotot untuk mempertahankan rumah tangga nya, bahkan berencana melakukan isbat nikah, saat muka Alvian tiba-tiba mendadak keruh selepas ia melakukan video call dengan ayahnya.
Pria itu akan menjadikan nya tempat untuk membalaskan dendam nya, dan itu jauh lebih horor daripada di jadikan tumbal seperti dugaan nya.
" jangan pernah mencoba kabur dari ku, karena seberapa jauh kamu lari, dengan koneksi dan kekuasaan ku aku pasti akan menemukan mu, dan kalau sampai itu terjadi, itu artinya kamu siap menukar posisi mu dengan Ayahmu!" bisik nya penuh penekanan tepat di samping telinga nya.
" jadi kau akan melampiaskan dendam mu pada ku?" ucap nya di tengah-tengah air mata nya yang membasahi kedua pipinya, rasa sakit dari kepalanya karena Alvian semakin memperkuat tarikan nya hampir tidak bisa ia tahan.
" pintar, kaki di balas kaki, nyawa di balas nyawa. Sebelum itu kamu harus merasakan penderitaan yang lebih besar dari penderitaan yang akan adik ku alami kedepannya!" Alvian mendorong kepalanya dengan kuat, lalu menepuk pipinya dengan seringai yang menakutkan.
Ini seperti mimpi, ia tidak pernah sekalipun membayangkan akan berada dalam posisi sesulit ini, apa kalau dia tidak mengupayakan untuk menelpon ayah nya kemarin ia tidak akan mengalami ini?
Pintu terbuka, membuyarkan lamunan panjang nya, muncul Ayah nya di kursi roda dengan mbak sarah yang mendorong nya.
Arina berusaha tersenyum, ia tidak mau Ayah nya melihat penderitaan nya, karena kalau sampai itu terjadi, pengorbanan nya akan sia-sia.
" Ayah sudah datang?" memang setelah ayahnya mengalami stroke, ia mendapatkan penangguhan tahanan, tapi saat ini hal itu masih dalam proses.
" kamu cantik sekali Arina, kamu pasti akan bahagia karena suami kamu sangat tampan dan mapan, seperti nya dia juga sangat baik, wajah nya kalem banget." celoteh mbak sarah membuat nya tersenyum kecut, hal itu tidak akan pernah ada dalam bayangan nya karena ia sudah tau neraka seperti apa yang akan menemani hari-hari nya setelah hari ini.