karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panti Asuhan
__________________________________
Hari ini, tepat hari Minggu, hari yang selalu Annelise nantikan. Hampir setiap minggu, di hari liburnya, Annelise mengunjungi Panti Asuhan Harapan, tempat ia dibesarkan. Biasanya, ia mengunjungi Ibu Panti dan adik-adik panti sendirian, namun minggu ini berbeda karena Reynard, suaminya, ikut menemaninya.
Reynard berjalan di samping Annelise di dalam mall, langkahnya tegap namun matanya penuh rasa ingin tahu. Selama bertahun-tahun ia mengira notifikasi transaksi mingguan di ponselnya hanyalah belanja pribadi Annelise pakaian, perhiasan, atau hal-hal sepele. Betapa salahnya ia. Uang yang selama ini ia berikan ternyata digunakan untuk kebutuhan panti. Kesadaran itu membuat dadanya sesak oleh kekaguman sekaligus rasa bersalah.
“Jadi… setiap minggu kau melakukan ini?” Reynard bertanya pelan, matanya menatap keranjang belanja yang mulai penuh dengan beras, minyak goreng, susu bubuk, dan biskuit.
Annelise mengangguk, senyumnya lembut. “Iya. Mereka bergantung pada bantuan kecil ini. Aku tidak bisa membiarkan mereka kekurangan.”
Reynard terdiam. Ia menatap tangan Annelise yang cekatan memilih barang, wajahnya yang tenang, dan sorot matanya yang penuh kasih. Dalam hati ia bergumam ‘’Seandainya dulu aku tidak buta, mungkin aku sudah melihat betapa berharganya wanita ini.’’
Di toko mainan, Reynard berdiri kikuk di depan rak boneka. Tangannya meraih sebuah boneka beruang besar berwarna pink. “Anak-anak pasti suka ini,” katanya yakin.
Annelise tersenyum kecil, lalu menggeleng. “Mereka lebih suka buku cerita atau alat gambar. Boneka memang lucu, tapi mereka butuh sesuatu yang bisa mengasah imajinasi.”
Reynard menatapnya, lalu menaruh kembali boneka itu. Ada rasa malu yang menyelinap, tapi juga kekaguman. Ia merasa seperti murid yang baru belajar dari gurunya. “Baiklah. Kau yang tahu lebih baik.”
Di toko alat tulis, Annelise memilih krayon, pensil warna, dan buku gambar. Reynard memperhatikan dengan seksama, lalu menambahkan beberapa set puzzle edukatif. “Aku ingin mereka belajar berpikir, bukan hanya bermain,” katanya.
Annelise menoleh, matanya berbinar. “Itu ide bagus, Reynard.”
Percakapan sederhana itu membuat Reynard merasakan sesuatu yang asing namun hangat penuh kebersamaan. Selama tiga tahun pernikahan, ia tidak pernah benar-benar berbagi aktivitas dengan Annelise. Kini, belanja kebutuhan panti menjadi pengalaman yang membuka matanya.
Setelah belanja selesai, mobil hitam Reynard melaju menuju panti asuhan. Di kursi samping, Annelise duduk dengan tenang, tangannya menggenggam tas kecil berisi catatan kebutuhan panti. Reynard duduk di sampingnya, sesekali melirik wajah istrinya yang tampak damai.
Ia teringat kehidupan pertamanya malam ulang tahun Annelise yang ke-25, darah yang mengalir, pengakuan cinta terakhir, dan janin dua bulan yang ikut terenggut. Bayangan itu menghantamnya seperti badai. Namun kini, melihat Annelise hidup di sampingnya, ia merasa diberi kesempatan untuk menebus segalanya.
“Annelise,” Reynard berbisik, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin. “Aku kagum padamu. Selama ini aku tidak tahu… semua yang kau lakukan.”
Annelise menoleh, sedikit terkejut. “Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar.”
Reynard menatapnya lama. ‘’Kau melakukan apa yang benar, sementara aku sibuk mengejar bayangan palsu.’’
Gerbang panti asuhan terbuka, menyambut mobil mereka. Anak-anak berlari keluar, wajah mereka berseri-seri. “Kak Annelise!” teriak mereka serempak, berlari memeluknya begitu ia turun dari mobil.
Reynard terpaku. Ia menyaksikan bagaimana Annelise dikerubungi anak-anak, dipeluk dengan penuh cinta, seolah ia adalah cahaya yang selalu mereka tunggu. Seorang ibu pengurus panti, Bu Marissa, keluar dengan senyum hangat. “Annelise, kau datang lagi. Dan kali ini… bersama suamimu.”
Annelise tersenyum malu. “Iya, Bu. Aku ingin memperkenalkan Reynard.”
Reynard menunduk hormat. “Senang bertemu dengan Anda, Bu Marissa.”
Bu Marissa menatapnya dengan mata penuh arti. “Akhirnya Tuan Muda Aethelred datang juga.Annelise sering datang kesini hampir setiap minggu. Dia seperti ibu bagi anak-anak di sini.”
Kata-kata itu menusuk hati Reynard. Ibu… Ia membayangkan seandainya di kehidupan pertama Annelise dan anak mereka tidak meninggal, mungkin inilah gambaran yang akan ia lihat. Annelise dikelilingi anak-anak, penuh kasih, sementara ia berdiri di sampingnya sebagai ayah.
Di ruang bermain, Annelise duduk di lantai bersama anak-anak, membagikan krayon dan buku gambar. “Ayo, gambar apa saja yang kalian suka,” katanya lembut.
Seorang anak kecil menggambar matahari besar dengan senyum lebar. Annelise tertawa kecil, memuji hasilnya. Reynard berdiri di dekat pintu, matanya berkaca-kaca. Ia melihat Annelise bukan hanya sebagai istrinya, tapi sebagai sosok ibu yang penuh cinta.
Seorang anak laki-laki mendekati Reynard, menarik ujung bajunya. “Om, mau main puzzle sama aku?”
Reynard tertegun. Ia jarang berinteraksi dengan anak-anak. Namun tatapan polos itu membuatnya tak kuasa menolak. Ia duduk di lantai, membantu anak itu menyusun puzzle. Saat potongan terakhir terpasang, anak itu bersorak gembira. Reynard tersenyum tulus yang jarang muncul di wajahnya.
Annelise memperhatikan dari jauh, hatinya bergetar. Ia melihat sisi lain dari Reynard, sisi yang selama ini tersembunyi di balik arogansi dan dinginnya.
Siang itu, setelah makan bersama anak-anak panti, Reynard duduk di taman kecil panti. Ia menatap Annelise yang sedang berbicara dengan Bu Marissa, wajahnya bersinar oleh kebahagiaan.
‘’Inilah hidup yang seharusnya aku jalani. Bersama Annelise, membangun keluarga, memberi cinta, bukan mengejar ambisi kosong bersama Seraphina.’’
Ia teringat sumpahnya sebelum mati di kehidupan pertama ‘’Jika ada kesempatan lagi, aku akan memilihmu, Annelise. Hanya kau." Kini, kesempatan itu nyata di hadapannya.
Namun, di balik ketenangan hari itu, bayangan ancaman masih ada. Reynard tahu Seraphina dan Victor sedang di luar negeri,karena Seraphina seorang model ia sibuk dengan pemotretan dan di temani oleh Victor. Tapi ia juga tahu mereka tidak akan diam. Rencana perebutan aset Aethelred Group pasti masih berjalan.
Saat menatap anak-anak panti, Reynard bertekad ‘’Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang. Aku akan melindungi Annelise, apapun yang terjadi.’’
Ketika matahari mulai condong ke barat, Annelise berpamitan pada anak-anak. Mereka melambaikan tangan, beberapa bahkan menangis karena berat melepasnya. Reynard berdiri di samping Annelise, merangkul bahunya dengan lembut.
“Terima kasih sudah membawaku ke sini,” bisik Reynard. “Aku merasa… seolah melihat masa depan yang seharusnya kita miliki.”
Annelise menoleh, matanya berkaca-kaca. “Masa depan itu masih bisa kita wujudkan, Reynard.”
Reynard menggenggam tangannya erat. “Ya. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.”
Mobil Reynard melaju pelan meninggalkan panti asuhan. Di samping, Annelise duduk dengan senyum lembut, matanya masih menyimpan cahaya kebahagiaan dari pertemuan dengan anak-anak. Reynard di sampingnya terdiam, namun pikirannya bergemuruh.
Ia menoleh, memperhatikan wajah istrinya yang tenang. Ada sesuatu yang berbeda dalam sorot mata Annelise ketulusan yang tak pernah ia lihat pada Seraphina. Ketulusan itu bukan sekadar kasih, melainkan pengabdian. Annelise tidak pernah meminta imbalan, tidak pernah mengeluh. Ia memberi karena hatinya memang penuh cinta.
Reynard menarik napas panjang. ‘’Inilah wanita yang seharusnya aku pilih sejak awal. Wanita yang rela mengorbankan dirinya demi orang lain, bahkan demi diriku. Aku bodoh karena baru menyadarinya setelah kehilangan segalanya.’’
orang kaya mereka harus membusuk