Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Emang Pernah?
Bab 20
“Resep dokter Agus lanjut aja, pantau diare dan demamnya. Kalau sore ini masih tinggi, lakukan tes lab,” tutur Asoka sambil menuliskan catatan pada rekam medik Asep.
Rama yang paham, mengangguk dan meng-oke-kan. “Pasien satunya dok?”
“Pantau juga sampai sore ini, kalau tidak ada keluhan pulangkan saja.” Rama lagi-lagi mengangguk.
“Eh, dokter Oka sudah di sini lagi.” Yuli yang baru datang langsung bergabung berdiri di depan nurse station.
Hari ini minggu, biasanya dia akan bangun terlambat jika libur. Nyatanya rumah sepi hanya ada Sapri yang beberes karena jadwal piket kebersihan rumah. Rama, Lisa dan Beni sibuk sejak tadi malam tepatnya tengah malam. Daripada gabut, dia pun menyusul ke puskes dengan penampilan santai membawa ransel kecil milik Lisa yang biasa dibawa saat bekerja.
Asoka menoleh sekilas dan kembali menulis di rekam medik.
“Ngapain kesini, orang gue mau balik gantian sama Lisa.”
“Ck, ya udah gue temenin Lisa,” tukas Yuli lalu meletakan ransel di atas meja. “Dia pasti butuh ini,” ujarnya lagi sambil bertopang dagu.
“Ya jangan-lah, gimana sih.” Rama memberi tanda dengan lirikan matanya ke arah Asoka. “Lo temenin gue aja.”
“Biar saya yang jaga, Lisa masih tidur. Kalian boleh pulang.”
Rama mencebik. “Curiga nih, kita diusir terus mau pada ngapain.” Rama terkekeh sendiri membayangkan Asoka dan Lisa mungkin akan berdua di pojokan atau saling lempar paracetamol mirip lempar jumroh.
“Ck, justru gue curiga sama lo, ngajak pulang mau ngapain,” cetus Yuli.
“Ya gimana dong, mata gue tern0da lihat adegan 17 ke atas. Jadi kepengen, mana tahu bisa ikutan praktekin.”
Asoka melirik tajam lalu tersenyum paham, rupanya adegan tadi ada yang menyaksikan. “Kalian sudah sarapan?”
“Belum dok, tadi subuh kopi doang sama pop mie.”
“Gue beli sarapan ya, mau makan apa?”
“Sapri nggak ada?” tanya Asoka merogoh saku belakang dan mengeluarkan dompet, membukanya dan mengambil dua lembar rupiah berwarna merah lalu diletakan di hadapan Yuli dan Rama.
“Sapri lagi beres-beres, biar saya aja dok. Terus ini beli apa?”
“Bebas,” seru Asoka lalu fokus dengan ponselnya.
“Beliin juga untuk A Ujang sama istrinya, Beni sekalian. Nanti bangun pasti panik cari makanan. Heran gue, tidur udah kayak orang m4ti.”
“Oke. Kunci,” pinta Yuli mengulurkan telapak tangannya.
Rama menepuk-nepuk kantong celana, sepertinya tidak ada lalu mencari di sekeliling meja. “Oh, ini. Baek-baek, motornya gede kaki lo nyampe gak?”
“Ck, bawel.”
“Dikasih tahu kok ngeyel, pengen dicip0k kali.” Asoka tidak terpengaruh oleh perdebatan dari pasangan itu. sepertinya sudah terbiasa dan sudah kebal, masih fokus dengan ponsel.
“Ma, udah siang ya.” Lisa baru terjaga dan berdiri di tengah pintu. Menguap lebar sambil mengucek mata.
“Astaga Sa, tampang lo mengenaskan. Nggak malu gitu sama dokter Oka.”
Asoka mengarahkan pandangan lalu tersenyum, Lisa yang terkejut sampai terbelalak gegas menutup mulut dengan tangannya. Rama berdecak sambil menggeleng pelan.
“Dokter Oka, kapan datang?”
“Dari lo masih ileran dan ngorok,” seru Rama dan Asoka masih menatap dengan senyumnya.
“Kang Rama, ini cairan infusnya gak netes ya.” A Ujang datang menginterupsi, Rama pun menuju kamar pasien.
Lisa merapikan rambutnya yang mungkin sudah mirip singa dengan jari tangan, Asoka menghampiri lalu menyentuh helaian rambut itu.
“Kamu kehujanan?”
“Iya, semalam.”
“Sudah mandi?”
Lisa menggeleng. Mendadak bibirnya keluar karena tangan dokter ganteng berpindah mengusap pipinya.
“Boro-boro mandi, dingin banget. Kecuali ada pemanas air, pasti langsung mandi. Jam berapa sampai sini?”
“Setengah 6, kayaknya.”
Lisa mengangguk. Teringat sesuatu lalu dahinya mengernyit. “Ck, padahal aku mau marah malah lupa.”
“Marah kenapa?” Asoka bersedekap menatap Lisa, wajahnya masih tersenyum. Gadis ini tampak menggemaskan, bahkan ia menahan untuk tidak merengkuh tubuh itu. Jika saja bukan sedang bekerja mungkin akan dia geret keluar dan masuk ke mobil. 2 hari, hanya 2 hari tidak bertemu rindunya sudah ke ubun-ubun.
“Itu … nanti ajalah.” Mendapati ransel miliknya ada di sana, ia keluarkan pouch berisi facial wash lalu menuju toilet.
***
Pukul 4 sore, suasana puskes begitu sepi. Satu pasien sudah pulang tadi siang. Tinggal anak A Ujang yang masih dalam perawatan, dengan Lisa dan Asoka yang bertugas. Asoka berusaha profesional, meski ingin cepat malam dan gantian Rama yang berjaga agar bisa mengajak Lisa pulang dan bicara. Berada di ruangannya fokus dengan laptop.
“Dok.” Lisa berdiri di tengah pintu.
“Ya.” Asoka mengalihkan pandangan dan menatap langsung.
“Asep nangis aja kayaknya nggak betah. Udah boleh pulang? Orang tuanya tanya.”
Asoka pun beranjak dari kursi kerjanya. “Kita pastikan dulu.” Berjalan bersisian menuju kamar perawatan. “Kita makan di luar ya,” ajak Asoka.
“Dimana?”
“Dimana aja, yang penting sama kamu.”
Lisa mencibir. Jujur ia masih ingin marah. Bisa-bisanya bilang kangen, tapi kirim kabar timbul tenggelam. Sebenarnya hubungan mereka itu apa, ia pun bingung. Namun, perhatian yang diberikan cukup membuat hati kebat kebit dan jantung jedag jedug serta wajah merona. Apalagi wajah Asoka yang penuh senyuman, ish rasanya nggak rela bagi-bagi.
Kondisi Asep yang memang sudah membaik, bahkan demamnya sudah turun sejak tadi siang.
“Obatnya pastikan diminum. Kalau nanti malam demamnya tinggi lagi, langsung bawa kemari,” seru Asoka.
“Iya dok, siap.”
Lisa melepas jarum infusan dengan perlahan sambil mengajak Asep bicara, meski dibalas dengan tangisan.
“Oke, sudah selesai ganteng. Boleh pulang, istirahat di rumah ya.”
“Makasih ya teh, pak dokter,” ujar Istri Ujang langsung menggendong putranya.
Lisa dan Asoka bahkan mengantar sampai parkiran, sempat menawarkan diantar dengan mobil tapi Ujang menolak.
“A ujang nggak usah balik ke sini, ada Rama yang jaga,” seru Lisa dan dijawab dengan ucapan terima kasih.
“Ayo,” ajak Asoka.
“Dih, kemana?”
“Kencan. Memang kamu nggak kangen aku? Kalau aku sih kangen banget. Kalau nggak lihat tempat udah pengen ….”
“Pengen apa? Jangan mesum,” sentak Lisa menatap tajam Asoka bahkan sambil menaikan dagunya. “Memang hubungan kita apa pake kangen segala.”
“Jangan begitu, makin menggemaskan tau.” Hidung Lisa pun dicubit pelan. “Jadi pengen cium lagi.”
“Hah, lagi? Emang pernah?”
Asoka terkekeh lalu berbalik kembali ke dalam, Lisa langsung mengejar sambil berteriak. “Dok, ish, jangan rese deh. Emang pernah ya, perasaan nggak deh.”
“Coba tanya Rama, dia saksinya.”
“Hah!”
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭